Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Terakhir di Kaelmont
“Yang keterlaluan adalah mempermalukan seseorang di depan umum.”
Elara menatap Marquis dengan mata berkilau, menahan air mata yang nyaris jatuh. Tanpa pikir panjang, Marquis meraih pergelangan tangan Elara.
“Pergilah denganku,” ucapnya pelan namun tegas.
Marquis menarik tangan Elara hingga keluar dari rumah utama. Namun Elara dengan cepat menarik tangannya kembali, menepis genggaman Marquis.
“Aku tidak ingin membuat masalah lagi, Tuan Marquis.”
Elara menunduk. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya.
“Ini bukan salahmu,” kata Marquis.
“Elara, dengarkan aku—”
“Justru ini karena Anda,” potong Elara. Matanya merah menatap Marquis.
“Setiap kali Anda mendekat, setiap kali Anda membelaku, aku yang akan semakin disakiti.” Napasnya tersengal.
“Aku lelah, Tuan. Aku hanya ingin hidup tenang seperti dulu, saat Anda tidak mengenalku.”
“Dan menurutmu, saat mereka menginjak-injakmu, itu adalah ketenangan?” balas Marquis.
Elara terdiam. Air matanya jatuh begitu saja.
“Aku… aku hanya gadis yatim yang hidup dari belas kasihan. Lantas mengapa aku harus peduli dengan itu…”
“Jangan merendahkan dirimu seperti itu. Kau lebih berharga dari yang kau kira.”
Elara tersenyum tipis.
“Berharga tidak cukup untuk mengubah kenyataan.”
“Dunia kita berbeda. Kau tidak akan mengerti.”
Marquis mengepalkan tangannya.
“Lalu bagaimana dengan perasaanmu sendiri?” tanyanya serius.
“Apakah kau menerima saat mereka merendahkanmu seperti itu?”
“Aku…” Suaranya gemetar.
“Kau bisa berbohong, tapi matamu tidak,” kata Marquis. “Aku melihatnya. Ada rasa sakit yang tidak bisa kau jelaskan.”
Elara terdiam, tak lagi berkata apa-apa.
Kepalanya tertunduk.
Air mata yang jatuh ia biarkan begitu saja, membasahi ujung gaunnya.
Marquis menatapnya beberapa detik lebih lama.
Seolah ingin memastikan gadis itu masih berdiri.
Masih bernapas.
Namun akhirnya, ia memilih berpaling.
Langkahnya berat saat meninggalkan halaman rumah utama.
Tidak ada lagi kata.
Tidak ada lagi penjelasan.
Elara mengangkat wajahnya perlahan.Punggung Marquis semakin menjauh.Hingga akhirnya menghilang.
Elara menutup matanya, air matanya mengalir tanpa permisi.
Tanpa berfikir lagi Elara berbalik meninggalkan rumah utama menuju pondok. sesampainya disana, Elara duduk didepan perapian. Foto-foto dirinya dan Alden terpajang rapi. Lagi-lagi Elara meneteskan airmata. Sejak kepergian Alden hidup Elara terasa berat.
Namun renungan itu tiba-tiba pudar saat suara ketukan pintu terdengar. Elara beranjak dari tempatnya membuka pintu rumah.
Deg!
Elara terkejut melihat lady Seraphina dan nyonya marianne.
"Lady, nyonya." Lirih Elara.
"Kau tidak perlu banyak bicara," kata marianne.
"Nyonya marianne, tenanglah." kata lady Seraphina.
Perempuan dengan gaun biru itu terlihat cantik dan tenang.
“Aku mengerti kau tidak berniat melampaui batas,” kata Lady Seraphina tenang.
Lady Seraphina melangkah satu tapak ke depan. Senyum di bibirnya tenang, hampir ramah.
"Tapi Kau harus memahami satu hal, kaelmont adalah tempat yang menjunjung tinggi keteraturan.”
Lady Seraphina menoleh sedikit, lalu kembali menatap Elara.
“Kau telah tinggal di sini cukup lama,” katanya halus.
“Dan kami menghargai segala jasa kecil yang pernah kau berikan.”
Kata kecil itu jatuh pelan, namun menghantam.
“Tapubdemi ketenangan Kaelmont, kami memutuskan sudah waktunya kau melanjutkan hidupmu… di tempat lain.”
Jantung Elara berdegup keras.
"Aku diusir?"
Lady Seraphina mengangguk pelan.
“Kau akan diberi waktu hingga pagi,” sahut nyonya marianne tegas.
“Ambil barang-barangmu. Setelah itu, pondok ini tidak lagi menjadi milikmu.”
Elara memejamkan mata sejenak.
Sejak kepergian Alden, ia telah kehilangan banyak hal.
Namun ia tidak pernah membayangkan… akan meninggalkan kaelmont dengan cara seperti ini.
“Saya mengerti,” ucap Elara akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar.
“Terima kasih atas… kebaikan Anda.”
Lady Seraphina mengangguk puas.