NovelToon NovelToon
Don`t Sleep With Dhamphyr!

Don`t Sleep With Dhamphyr!

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Kutukan / Horor / Tumbal / Hantu / Iblis
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.

Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.

Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasien Baru Paragon

...୨ৎ T O R V A L D જ⁀➴...

Aku cuma pakai celana boxer ketat waktu sedang berdansa sama Vinna di kamarku. Jari-jariku pelan menyentuh pipinya, merasakan tekstur kulitnya yang menempel bersama kulitku.

Ya meskipun dia bukan pasangan dansa yang romantis, tapi ya aku maklumi saja, soalnya Vinna kan sudah jadi mayat. Jadi aku harus menggerakkan tubuhnya secara manual.

Waktu itu sudah hampir jam sarapan di Paragon, yang artinya jam malam buat makhluk seperti kami baru saja dimulai. Di tempat ini semuanya terbalik, beberapa pasien beraktifitas di malam hari dan tidur pulas saat siang yang terang benderang. Sebentar lagi mereka akan datang, buka pintu kamar, terus memisahkan kita semua.

“Mari semua dansa denganku. Dekap aku dan hanyutkanku. Dengan irama yang menggoda. Melepaskan hasrat dirimu ... wooo hooo!!" pekikku.

“DIAM!” teriak Zergan dari balik tembok.

Bukannya membalas sapaan pagi dari tetanggaku, aku malah lanjut bernyanyi. Memang sudah rutinitas aku selalu membangunkan dia pakai nyanyianku.

Dari balik besi dan kawat kasa, aku melihat sebuah van putih berhenti di depan gedung. Vinna langsung lepas dari peganganku dan jatuh ke lantai. Aku injak wajahnya biar aku bisa menempelkan pipi ke jendela. Vinna enggak keberatan.

Soalnya aku satu-satunya orang di tempat ini yang kamarnya memiliki jendela, aku tahu aku juga satu-satunya pasien yang bisa melihat apa yang terjadi di luar sana. Salah satu dari sekian banyak keuntungan menjadi orang paling berbahaya di gedung sialan ini, mendapat fasilitas-fasilitas yang pasien lain enggak punya.

Pintu belakang van terbuka, dan dua perawat mendorong keluar seorang cewek yang enggak sadarkan diri. Tubuhnya diikat pakai tali pengaman dan dipasang ke troli barang.

Penampilannya mirip banget sama Hannibal Lecter. Apalagi karena mereka benar-benar memasang itu di mulutnya.

Jari-jari aku mencengkeram jeruji. Mataku membelalak. Cewek itu pasti pasien baru. Hampir enggak pernah ada pasien baru di sini. Dia punya rambut merah tua panjang yang terurai sampai ke pinggulnya.

Aku tarik napas dalam-dalam lalu mengumpet di balik jendela.

Sial.

Rambut itu …

“Mirip punya Mama kamu kan?” kata Vinna.

Dengan gerakan cepat, aku menyambar Vinna dan mendorongnya masuk ke lemari baju.

“Aku tahu, kamu benci ada di sini,” kataku ke dia.

“Iya lah ... Aku enggak bisa ngumpet di bawah tempat tidur bareng Peony!” desisnya.

Aku mendesah kesal dengar permintaannya untuk ditaruh di bawah ranjang bersama mayat lain.

“Peony enggak mau tidur bareng kamu,” gumamku sambil taruh Vinna di balik gantungan baju. Aku menyumpal beberapa syal yang digulung ke tiang lemari, menutupi wajahnya.

“Aku enggak mau di lemariiiii!”

Aku menyengir. “Diam, deh.”

Aku tutup lemari dan mulai pakai baju. Jeans hitam ketat, kaus, hoodie, kaus kaki, sarung tangan. Dan aku ambil satu dari sekian banyak masker yang aku punya.

Pasien baru.

Cewek.

Rambut merah itu memenuhi kepalaku.

Begitu aku selesai me-resletingkan sepatu bot kulit hitam setinggi lutut, para perawat sudah mulai membuka kunci kamar-kamar pasien. Aku buka pintu, melangkah ke koridor sambil melirik sekeliling, mencari siapa saja yang sudah bergerak untuk jam sarapan. Aku tutup pintu dan menuju bangsal.

Biasanya aku enggak pernah buru-buru gabung sama yang lain. Tapi kali ini beda, kegembiraan itu membara di dadaku. Aku merasa pasien baru ini akan berbeda.

Cewek petugas kebersihan itu melihatku datang dan langsung panik. Dia menempel ke dinding, berusaha sejauh mungkin dari aku, seperti ingin menyatu sama tembok.

Napasnya ditarik dalam-dalam lewat hidung, gugup, saat aku lewat. Reaksi yang umum. Biasanya aku enggak peduli, tapi hari ini aku sedang mood. Semua gara-gara cewek baru itu.

“Selamat pagi,” kataku ceria sambil melambaikan tangan.

Seorang pasien di depan menengok ke belakang, melihatku, dan matanya langsung membelalak ketakutan.

“Aaargggghhh. Torvald!” teriaknya, air liur muncrat dari mulutnya, urat lehernya tampak jelas. Aku dengar suara itu.

Bangsal langsung ribut. Ratusan pasien bergerak, suara perabot digeser ke sana-sini. Saat aku sampai, semua pasien sudah menjauh dari antrean sarapan, enggak ada yang mau dekat-dekat aku. Para perawat dan asisten perawat berkumpul di sudut ruangan, menjaga jarak, mereka tahu kalau salah satu langkah saja bisa berarti mati.

Kaki membawaku ke rak menu. Aku mengambil semacam bubur yang sama sekali enggak ingin aku makan. Saat aku menengok lagi ke ruangan, aku lihat satu meja kosong yang jelas-jelas disiapkan khusus untuk aku.

Aku meringis dan mengabaikannya, lalu jalan ke meja lain, meja tempat Sharvani duduk. Cewek India yang biasanya tertawa mulu. Sekarang dia enggak tertawa.

Tangannya gemetar saat aku duduk, sampai buburnya tumpah dari sendok dan jatuh lagi ke nampan. Matanya melotot, menatapku dengan ekspresi ketakutan.

“Pagi yang indah, ya, Sharvani?” tanyaku.

Lucunya, pasien-pasien lain enggak tahu kalau beberapa dari kita hidup di malam hari.

1
Adellia❤
ampuun deh darcel👻👻
Adellia❤
sikopat itu serius rupanya..
Adellia❤
hiii merinding sebadan" tuh orang bener" sikopat eh bukan orang dink👻
Adellia❤
km di cap pasien gila rowena tapi dokter terapi km dy orang gila yg sebenernya👻👻
Adellia❤
serruu karna gak cuman gairah pingin di tindih tapi juga gairah pingin minun darah👻👻👻
Adellia❤
hhhh rowenaaa🤦‍♀️🤦‍♀️
Adellia❤
hah... menguntit??? berati ilmu dr darcel buat menghapus ingatan itu enggak mempan??? 😱😱
DityaR: kan yg di hapus ingatan hari itu aja kak 🙏
total 1 replies
Adellia❤
sereem tapi seruu sekaligus menegangkan semangaatt thorr tulisanmu bagusss💪💪
Adellia❤
sama" senyum tapi beda arti.. hati" rowena dy vampir berbulu dombaa🤗🤗
Adellia❤
dr darcel bolehkah q bertemu km q ingin menghapus ingatanku sama seseorang😭😭
Adellia❤: boleh gak kasih no wa dr darcel thorr pliiisss🙏🙏
total 2 replies
Adellia❤
Torvald... heyyy emang km punya mental🤣🤣 kalo punya mah km enggak bakal tinggal di paragon ✌
Adellia❤
palingan km bakal di gigit sama darcel ..
Adellia❤: itu apa anu😱
total 4 replies
Adellia❤
astaga.. ngegantung🤔
Adellia❤: ciyuuss???
total 14 replies
Adellia❤
ya ampun pak dokter chat mulu... sugardady 😍
Rainn Dirgantara
Beuhh!
Rainn Dirgantara
Pelit kali 👀
Atelier
hi Rowenaaa
Atelier
🤭 memang mempesona
Adellia❤
karna pak dokter juga sama kayak km rowena 👻👻👻
Adellia❤: itu lho kak rowena sama pak dokter di kasih bodrex ..
total 6 replies
Dewi kunti
kok ngeri siiiiich🙈🙈🙈
Adellia❤: wlee😋😋😋
total 14 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!