Perayaan empat tahun pernikahan Laura, seorang pemimpin perusahaan muda dirayakan begitu meriah bersama suaminya yang juga yang juga temannya saat SMA. Hubungan mereka begitu harmonis, layaknya pasangan suami istri sempurna di mata publik yang melihatnya.
Namun, kebahagiaan itu seketika di rusak oleh sebuah pesan dari seseorang misterius yang seolah tak suka dengan pernikahannya.
Dia pun mencari tahu sendiri kebenarannya, dan menguak kenyataan yang lebih mencengangkan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Widia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebimbangan Andreas
Andreas tampak melamun di balkon apartemennya. Dia kini tahu keadaan Bram yang sesungguhnya, namun kekhawatirannya adalah paksaan untuk segera menikahi Laura.
"Aku sudah berusaha bahkan bertahun-tahun perasaanku tak berubah. Tapi aku juga tak ingin menikahinya karena paksaan," gumamnya sambil memikirkan kembali jawaban yang selalu Laura berikan setiap kali dia mengajak berhubungan.
"Kenapa ini semua seolah menjadi bebanku, aku harus mengerti trauma Laura tapi di sisi lain aku juga harus mengatasi kekhawatiran Tuan Bram. Keluarga Wijaya sekarang malah jadi tanggung jawabku," keluhnya yang kemudian terkekeh, menertawakan posisinya kini.
Ada rasa senang karena Bram mempercayainya tapi di sisi lain Laura pasti tak akan menerima perjodohan ini karena trauma dengan rumah tangga yang sebelumnya.
Setiap hari dia selalu berusaha mengambil hati Laura, namun tetap saja wanita itu tak mau membuka hatinya. Terkadang ada rasa lelah dan juga ingin menyerah untuk memperjuangkan perasaan yang masih bertahan.
Suara ponsel berdering, Andreas mengangkat panggilan dari seseorang yang tak dikenal. Raut wajahnya berubah menjadi cemas setelah mendengar kabar mengenai sang ibu.
"Aku harus mengabari Tuan Bram dan izin tak ke kantor selama beberapa hari."
Andreas menghubungi Bram yang tak menjawab panggilannya sama sekali. Beberapa kali dia menghubungi namun sama sekali tak ada jawaban.
Dia pun menghubungi Laura yang langsung menjawab panggilannya dengan cepat.
"Ya Andreas, kenapa malam sekali kau menghubungiku," jawab Laura yang langsung berbicara ketus pada Andreas.
"Aku juga heran kenapa malam selarut ini kau masih belum tidur. Tadi aku menghubungi papamu tapi sepertinya beliau sudah tidur."
"Aku belum mengantuk."
"Apakah kau juga terkena virus orang-orang di kantor, yang suka begadang menonton drama pendek?" Canda Andreas yang membuat Laura tergagap.
"Tidak, kenapa aku harus menonton yang seperti itu?" Elak Laura sambil menutup laptopnya.
"Aku hanya bercanda, tapi staff di kantor banyak yang kerjanya kurang fokus dan sering mengantuk karena mereka sering begadang. Bahkan komputer kantor pun mereka pakai untuk menonton drama yang ceritanya bahkan selalu sama."
Laura merasa terhibur dengan cerita Andreas dan melupakan alasan pria itu menghubunginya tengah malam.
"Kau menghubungiku tengah malam hanya untuk menceritakan hal ini?"
Andreas menepuk keningnya, melupakan alasannya menghubungi Laura.
"Sepertinya satu minggu ini aku tak akan bisa ke kantor. Ada urusan pribadi yang harus ku selesaikan," tutur Andreas yang membuat raut wajah Laura berubah.
"Ya, lagipula kau memang harus beristirahat. Akhir-akhir ini kau terlalu banyak mengurus perusahaan."
Andreas terdiam mendengar jawaban Laura, dia yakin jika memang Laura tak terlalu peduli padanya.
"Sekarang aku sadar, aku tak terlalu penting bagi hidupmu," gumamnya sambil menutup panggilannya.
"Satu minggu? Urusan pribadi? Apa jangan-jangan dia akan menikah?" Gumam Laura yang terlihat gelisah.
"Padahal aku selalu menolak ajakanmu menikah, tapi kenapa aku malah takut jika kau akan menikah dengan wanita lain."
Pagi harinya Andreas merapikan barang yang akan dia bawa. Tiket pesawat, visa dan juga paspor telah siap.
Tiba-tiba ponselnya berdering, suara isak tangis terdengar dari suara si penelepon.
"Andreas, papa...."
Terdengar suara wanita yang menangis yang membuat Andreas segera pergi meninggalkan apartemennya.
Mobilnya berhenti di parkiran rumah sakit, dan segera berlari mencari seseorang. Terlihat Laura yang sedang menangis di kursi tunggu depan ruangan ICU.
"Laura," lirihnya yang membuat wanita itu mengangkat wajah ke arahnya.
Laura segera memeluk Andreas sambil terisak menangisi keadaan Bram. Pria itu membelai rambut Laura dan menguatkannya.
***
"Dia tak menjawab panggilanmu bukan karena tidur. Tapi karena dia tak sadarkan diri," ucap Laura yang masih terisak sambi menceritakan kondisi sang ayah.
"Saat aku mengetuk pintu kamarnya, tak ada jawaban sama sekali dari papa. Lalu aku menerobos masuk dan melihat papa tak sadarkan diri di lantai."
"Aku yakin Tuan Bram akan kembali pulih, dia pasti segera sadar," harap Andreas yang akhirnya terwujud. Tangan Bram bergerak dan matanya terbuka pelan. Di hadapannya dia melihat sang putri bersama pria yang sangat ingin dia jadikan suami untuk Laura.
Laura segera menghampiri dan menggenggam tangan sang ayah, namun padangan Bram tertuju pada Andreas.
"Kau datang?" Tanya Bram pada Andreas. Andreas mengangguk lalu menghampiri pria paruh baya tersebut.
"Sayang, kau sudah dengar apa kata dokter mengenai keadaan papa? Kesehatan papa semakin menurun, dan kanker usus yang papa derita selama ini sudah mencapai stadium akhir."
Laura semakin terpuruk mendengar pengakuan yang langsung terucap dari mulut sang ayah. Walau dokter sudah menjelaskannya lebih awal.
"Ada satu permintaan papa padamu. Menikahlah dengan Andreas, agar kau tak kesepian jika aku mati... "
"Pa, jangan bicara sembarangan. Papa tak akan pergi, papa akan selalu menemaniku kan. Papa pasti tahu rasa trauma ku, kenapa harus meminta hal yang tak bisa ku penuhi?" keluh Laura yang menganggap permintaan Bram terlalu berat baginya. Menjalin pernikahan kembali hanya akan menambah trauma dari sosok yang berbeda, itulah yang Laura yakinkan selama ini. Alasannya untuk tak menerima pinangan Andreas bahkan Randi yang terang-terangan mendekatinya justru membuatnya semakin takut.
"Tuan, nona Laura selama ini sudah berhasil melewati masa trauma yang dia alami karena pernikahan. Jika tuan memaksanya, bukankah itu akan semakin menyiksanya? Meski nantinya kami tak berjodoh, aku akan bersamanya walau sekedar rekan bisnis. Aku akan jadi orang kepercayaannya yang setia dan menemaninya di mana-mana sulit," tutur Andreas yang melukai perasaan Laura. Dia sadar jika dalam penuturan pria itu, adalah kalimat menyerah untuk berhenti meminta harapan padanya.
Di penjara, Dave masih belum membuka mulutnya mengenai hasil tes DNA yang dia dapatkan. Mona tetap menjenguknya dan melayaninya sebaik mungkin. Bahkan untuk kebutuhan biologis pun dia bersedia walau hanya di kamar sempit samping penjara.
"Setelah aku keluar, lihat saja Mona. Aku akan mengusirmu dan Larissa dari apartemen. Pergilah pada ayah kandung putrimu itu, dasar wanita licik. Untuk sementara aku masih membutuhkannya untuk melayani nafsu ku. Untung saja dia naif, kalau tidak mana mau dia dengan narapidana sepertiku," guman Dave dalam hati.
"Mona, kau tahu napi di sini sangat berterima kasih padaku. Dia terus memuji masakanmu, karena seminggu ini mereka bisa makan makanan enak," puji Dave yang membuat Mona tersenyum bangga.
"Aku sangat senang mendengarnya, semoga dengan bantuan ku kau bisa mendapatkan keringanan hukuman. Aku sangat rindu menghabiskan malam di apartemen denganmu, dan Larissa sangat merindukan ayahnya."
Ponsel Mona berdering, dia pun segera mengangkatnya dan pergi menjauh dari Dave.
"Iya, akan ku kabari nanti."
Mona menutup panggilannya dan segera menghampiri Dave yang tak peduli.
"Siapa? Kenapa kau harus menjauh dariku?" Tanya Dave yang berusaha memancing Mona.
"Bu Saidah, aku memintanya menjaga Larissa setiap kali aku ke sini. Dia bilang Larissa agak cengeng dan mencariku. Aku sepertinya harus pulang," jawab Mona sambil merapikan tempat makan yang dia bawa.
Dia pun pamit kepada Dave dan segera pergi dari hadapan suaminya.
"Dasar jalang!"
🤣🤣