Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.
Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.
#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: MONEY SEX, KESEPIAN, DAN TEMAN MAIN BARU
Disclaimer: Bab ini mengandung bokep yang salah tonton, kebosanan seksual di antara jadwal sibuk, dan percobaan receh yang berakhir bikin malu-maluin.
---
Kenyataan hidup bersama yang nggak pernah dibahas di timeline orang: seks itu bisa jadi... jadwal. Dan ketika jadwal ketemu stres, dompet tipis, dan ruangan yang sumpek, dia bisa berubah jadi tugas yang bikin sebel.
Awal-awal di Jogja masih malam-malam honeymoon phase. Meski capek pindahan, semangat "kita punya privasi sendiri!" bikin mereka kayak anak kos nakal yang baru bebas. Tapi setelah sebulan, rutinitas kerja dan cari duit bikin energi ludes. Ardi pulang malem ngelatih band anak SMA, Kinan kecapekan habis ngurusin orderan desain. Mereka ketemu di kasur, lebih pengen tidur daripada apa-apa.
"Sekali seminggu aja kok kayaknya sekarang," gerutu Kinan suatu pagi sambil gosok mata.
"Kapan? Lo sibuk, gue sibuk," sahut Ardi yang lagi nyari kaos kaki.
"Jadwalin kayak meeting aja gitu?"
"Gile, romantis banget. 'Meeting: Intimacy. Time: 21.00. Agenda: You know lah.'"
Tapi mereka coba. Malam Jumat, mereka sepakat "date night". Tapi pas waktunya, Kinan dapat email revisi klien, Ardi harus ngerjain mixing. "Meeting"nya molor, dan akhirnya mereka ketiduran di sofa sebelum sempat mulai.
---
Masalah kedua: ekonomi vs fantasi. Uang tipis. Kondom aja mereka pilih yang merk biasa, bukan yang ada rasa-rasanya. Lotion? Beli yang seadanya di minimarket. Lingkungan? Loteng itu panas siang, dingin malem, dan temboknya tipis banget. Suara mereka bisa kedengeran sampai bawah, kata mbak pemilik rumah yang baik itu dengan senyum diplomatis suatu pagi.
"Kita kekurangan variety," bisik Kinan di suatu malam yang gerah.
"Variety apa? Posisi? Tempat?"
"Semuanya. Rasanya kayak... kita lagi nge-putar lagu yang itu-itu aja. Udah hafal polanya."
Mereka coba explore. Buka situs-situs "how to spice things up". Tapi kebanyakan isinya butuh alat-alat atau tempat yang mereka nggak punya. "Gue nggak mau pake mainan yang bentuknya kayak alat penyedot WC," protes Ardi.
"GUE JUGA!"
Lalu, suatu malam, di tengah kebuntuan, Ardi iseng buka folder tersembunyi di laptopnya—folder "References" yang isinya video-video lawas yang dia kumpulin dulu buat "belajar". Kebanyakan video indie lokal yang alur ceritanya aneh dan aktingnya kaku.
"Liat ini," goda Ardi. "Plot twist-nya, yang di mobil ternyata adiknya."
Kinan nyender, liat. Lalu mereka berdua ketawa ngakak. Adegan yang mestinya panas malah jadi lucu gara-gara akting yang kayak orang kesurupan.
"Ini mah bokep gagal," celetuk Kinan.
"Tapi jujur, lebih relatable. Kayak kita, cuma kita nggak pake lighting sekeren ini."
Dan dari situ, mereka nemu hiburan baru: nonton bokep yang jelek sambil kritisin akting, lighting, dan alur ceritanya yang ngaco. Itu jadi foreplay mereka yang aneh: ketawa bareng, lalu pelan-pelan suasana jadi hangat, dan mereka bikin versi mereka sendiri—yang pasti lebih jelek, tapi lebih jujur.
---
Masalah ketiga: kesepian yang nggak bisa diselesaiin di ranjang.
Di tengah tekanan cari duit dan adaptasi kota baru, kadang yang mereka butuh bukan seks, tapi pelukan panjang yang nggak ada ekspektasi apapun. Tapi seringkali, mereka nggak bisa bedain mana kebutuhan fisik buat lepas stres, mana kebutuhan emosional buat didengerin.
Suatu kali, Kinan nangis gegara desainnya ditolak klien untuk kelima kalinya. Ardi coba hibur, lalu tanpa sadar tangannya mulai merambat. Kinan nolak halus. "Bukan sekarang, Ard. Gue cuma pengin dipeluk."
Ardi tersinggung. "Oh, jadi gue cuma tukang peluk ya?"
"Bukan gitu! Tapi lo selalu default-nya ke fisik kalo gue sedih!"
"Karena gue nggak tahu lagi gimana bikin lo keluar dari bad mood!"
"GAPAPA NGGAK USAH BUAT GUE KELUAR! GAPAPA GUE SEDIH! JADIIN AJA TEMPAT YANG AMAN BUAT GUE SEDIH!"
Pertengkaran itu intinya: seks bukan solusi universal. Dan mereka harus belajar baca bahasa tubuh satu sama lain lebih baik.
---
Eksperimen yang berujung malu-maluin.
Terinspirasi dari artikel soal "kinky cheap date", mereka nyoba roleplay. Scenario-nya sederhana: strangers yang ketemu di angkringan. Kinan pake dress agak seksi, Ardi pake kemeja agak rapi. Mereka janji ketemu di angkringan langganan.
Tapi yang terjadi: mereka dikenalin sama mas-mas angkringan.
"Loh, mas Ardi sama mbak Kinan kok malem-malem ke sini? Bareng tapi kayak nggak kenal gitu?" sapa mas-nya sambil sodorin teh anget.
Mereka cengar-cengir kaku. Roleplay-nya langsung hancur. Akhirnya mereka pesan wedang ronde dan ngobrol biasa, sambil sesekali senyum-senyum getir karena skenario yang gagal total.
Pulangnya, mereka ketawa geli.
"Gue nggak akan lupa muka lo waktu mas-nya manggil 'mbak Kinan'," kata Ardi.
"Lo juga! Kaku banget!"
"Yaudah, kita emang nggak cocok jadi aktor bokep. Mending jadi penonton aja."
---
Keputusan akhir tentang "money sex".
Mereka akhirnya duduk, ngobrol serius bukan di ranjang, tapi di meja makan soal kehidupan seks mereka.
"Gue nggak mau kita kayak mesin yang cuma nyala pas weekend," kata Kinan.
"Gue juga. Tapi gue nggak selalu bisa baca lo lagi butuh apa."
"Mungkin kita bikin... kode? Kaya dulu. Tapi buat ini."
"Kode apa? Kalo lo pengin dipeluk aja, lo kirim stiker kelinci. Kalo pengin yang lebih... lo kirim stiker dragon?"
"BISA!"
Dan mereka beneran lakuin itu. Sistem kode receh tapi efektif. Stiker kelinci \= pelukan doang. Stiker naga \= pengin lebih. Stiker kucing ngantuk \= cuma mau tidur bareng. Nggak harus dibalas langsung. Tapi jadi penanda yang jelas, mengurangi salah paham.
Mereka juga sepakat alokasiin dana khusus buat "improvisasi": beli sprei baru yang lebih adem, beli minyak pijat yang wanginya enak, bahkan sekali-kali sewa hotel budget buat ganti suasana. Uang bukan buat beli cinta, tapi buat investasi di kenyamanan bersama.
---
LAST LINE: Di suatu Sabtu sore, mereka lagi di kasur, laptop di depan, nonton video bokep indie yang aktingnya jelek lagi. Kinan kirim stiker naga di chat Ardi padahal mereka cuma berjarak 30 cm. Ardi bales stiker naga yang lagi api-api. Mereka ketawa, lalu pelan-pelan laptop ditutup, dan mereka bikin adegan mereka sendiri dengan lighting seadanya dari lampu tidur, alur cerita yang nggak jelas, dan akting yang pasti masih kaku. Tapi yang penting, mereka sutradara sekaligus pemainnya. Dan review-nya cuma ada di antara mereka berdua: "5/10 for technique, but 10/10 for effort and laughter." Karena bercinta di dunia nyata itu nggak seperti di film kadang awkward, kadang lucu, sering kehabisan napas, tapi yang pasti, nggak ada take dua. Jadi, mending nikmatin aja take pertama dan satu-satunya itu, sekalipun kamera nggak merekam. 📵🔥