NovelToon NovelToon
V.I.P (KILL YOU)

V.I.P (KILL YOU)

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Mata-mata/Agen / TKP / Psikopat itu cintaku / Agen Wanita
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dae_Hwa

“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”

Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?

Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VIP18

DOR!

DOR!

DOR!

Baku tembak terjadi antara Abirama dan dua anggota organisasi. Timah panas menembus dada salah satu lawan, menyebabkan pria berambut cepak ala anak punk ambruk seketika. Sementara satunya tertembak di pergelangan tangan, pistol dalam genggaman pun terlempar ke genangan becek.

“Anjiang! Kasiko ang, mati ang den buek!” Jari telunjuk berlumur darah bergerak-gerak, menantang Abirama maju.

Kening Abirama sontak berkerut, kepalanya miring mendengar bahasa yang asing di indera pendengarannya.

“Ngomong apaan lo?!” Abirama semakin mengeratkan pistol di tangannya.

Dinda yang bersembunyi di balik semak, menyembulkan kepala. “Dia nantang kamu maju, Maspol. Mau dibikin mati.”

Melihat rahang Abirama mengeras, gadis cantik berdarah Minang itu kembali bersembunyi di balik rimbunnya daun.

“Hahaha, bongak, itu ajo indak mangaroti,” cibir sang lawan. “Kasikolah jo, tangan kosong kalau tolok!”

Abirama menoleh ke arah semak, menunggu sang penerjemah berbicara.

“Dia ngatain kamu bodoh, Maspol!” Kepala Dinda kembali menyembul. “Ditantangin tuh, kalau berani tangan kosong.”

Abirama sebenarnya enggan meladeni. Hanya saja, dikatai bodoh, ditantang duel tangan kosong di depan seorang gadis — harga dirinya langsung terhempas. Ia pun memilih meladeni dan melempar senjatanya ke arah Dinda, gadis itu sigap menyambar pistol jenis glock 19.

Tangan dua pria itu sama-sama mengepal, kaki siaga dengan langkah kuda-kuda. Abirama dan pria itu serentak maju dan saling menerjang. Pukulan pertama beradu, bahu menghantam dada, tinju berdesing di udara. Abirama melayangkan bogem mentah tepat di dada, memaksa lawan mundur setapak.

Cuih!

Sang lawan meludah darah.

Abirama kembali maju, menarik kerah sang lawan, bersiap melayangkan satu pukulan lagi. Namun, tiba-tiba senyum licik tersungging di bibir sang lawan.

Pria dengan hidung bertindik itu meraba sebilah pisau yang disembunyikan di balik pinggang, memang itu tujuannya — menyerang Abirama dari dekat sebab ia sadar sudah kalah soal senjata. Maka ia menantang ego sesama pria, dan Abirama terpancing.

“Kenak kau, Bongak!” desisnya sambil bersiap menghunus.

Namun Abirama menyadari hal itu — ia lekas melepas cengkraman dan menghindar.

Jleb!

Namun sayangnya, ia kalah cepat. Ujung pisau itu tetap berhasil menancap di lengan Abirama, merobek kulit hingga darah merembes. Abirama meringis.

BUGH!

BUGH!

Dinda menyerang dari belakang. Tongkat besi di tangannya mendarat brutal di kepala pria itu, berulang kali, seperti orang kesurupan. Sejak tadi, gadis itu memang mencuri-cari kesempatan.

“Maspol, are you okay?” tanyanya panik.

“Okay gundul mu,” dengus Abirama menahan nyeri.

Dinda tersenyum canggung sambil menyerahkan pistol pada sang pemilik. Namun sedetik kemudian, senyum itu lenyap, berganti panik.

Pria tadi kembali bangkit. Kepalanya berlumur darah, tubuhnya terhuyung—dan yang membuat jantung Dinda hampir copot, sang lawan memegang pistol, hampir teracung ke arah Abirama.

“Maspol, awaaaas!” jerit Dinda sambil mendorong Abirama.

Dorongan Dinda membuat Abirama oleng setengah langkah. Namun refleksnya lebih cepat, ia langsung menarik tubuh Dinda ke dalam dekapannya, memutar posisi mereka dalam satu gerakan singkat.

Tangannya terangkat. Pistol dalam genggaman terkunci lurus ke depan, ke arah kepala sang lawan.

DOR!

Tembakan meletus di bawah rintik hujan, peluru menembus kepala sang lawan, tepat di antara alis. Tubuh pria itu terhempas ke belakang, pistol terlepas dari genggaman, lalu ambruk tak bergerak di tanah becek.

‘Keren ...,’ batin Dinda. Gadis itu terpesona.

Abirama masih memeluk Dinda, napas mereka sama-sama terengah, jantung berdebar-debar. Entah karena tadi nyaris di ambang maut, atau karena suhu di antara keduanya mendadak panas—padahal hujan masih turun deras.

“Jangan pernah dorong aku lagi tanpa aba-aba,” gumam Abirama tanpa berani melirik Dinda.

Dinda menelan ludah, ia pun sama, tak berani menatap. “Siap, Maspol ....”

Abirama melepaskan dekapannya. Namun saat Dinda baru melangkah satu tapak, kakinya tergelincir oleh lumut. Abirama sigap menangkapnya, tapi keduanya justru terjerembab. Abirama refleks melindungi kepala Dinda, sementara tubuhnya jatuh menindih tubuh gadis itu.

Wajah mereka berhadapan, bibir mereka nyaris bersentuhan. Dada Abirama berdegup kencang, dan di kepalanya, entah sejak kapan, tiba-tiba terputar sebuah lagu romantis ....

Will you marry me~ Oh kiss meeeee~

Cup!

Entah setan mana yang merasuki pria polos yang rajin ibadah serta rajin menabung itu, hingga ia lancang mengecup bibir Dinda.

Mata mereka sama-sama membulat.

“M-maaf,” ucap Abirama kemudian.

Pandangan pria itu menyusuri helaian rambut Dinda yang basah oleh hujan. Entah kenapa, kini gadis itu tampak begitu menawan di matanya. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Hingga akhirnya, Dinda menarik kerah Abirama, lalu mencumbu bibir pria itu dengan perasaan yang bahkan sulit ia jabarkan sendiri.

Abirama balas mencumbu, melumat dengan gaya kikuk. Tubuh jomblo abadi itu tampak tegang, bulu tengkuknya pun meremang. Ciuman mereka kian panas, sama-sama enggan melepas.

Hingga jemari Dinda tak sengaja menyentuh luka di lengan pria berpundak lebar itu. Abirama pun meringis.

“A-Awwhh ....”

“Maspol ....” Pagutan bibir mereka terlepas. “K-kamu berdarah, tanganmu ....”

Dinda tampak cemas, lalu melempar pandang ke arah jasad sang lawan dengan sorot mematikan.

“Dasar pecundang! Beraninya main curang!” umpat nya garang.

Abirama tersenyum tipis mendengar kalimat itu.

Mereka akhirnya bangkit dan duduk bersebelahan di atas tanah basah, hujan masih menitik pelan. Tatapan mereka sempat bertaut, lalu sama-sama buru-buru berpaling—canggung, kikuk, dan belum sepenuhnya pulih dari adrenalin barusan.

“Eh ... tasku di mana, Din?” tanya Abirama, suaranya rendah.

Dinda tersentak. “Tas? Oh—iya!” Ia langsung bangkit, bergegas ke balik semak tempat mereka bersembunyi tadi. Beberapa detik kemudian, ia kembali sambil menenteng tas hitam yang sudah belepotan lumpur, lalu menyerahkannya ke tangan pemiliknya.

Abirama meraih tasnya yang baru saja dibawa Dinda. Dari dalam, ia mengeluarkan sebuah alat logam kecil—staples medis dan sebotol cairan NaCl 0.9%.

Dinda langsung menegang. “Maspol ... itu apa?”

“Penutup luka darurat,” jawab pria itu singkat.

Abirama merobek lengan kaosnya tanpa ragu. Kain tipis itu terbelah, menyingkap lengan berotot dengan urat-urat yang menonjol—jejak tubuh yang terbiasa kerja keras dan baku hantam. Dinda sampai meneguk ludah melihatnya, tapi begitu tatapannya turun ke arah luka robek menganga — ia segera membuang wajah, benar-benar tak tega.

Abirama mendesis ketika menyiram NaCl 0.9% ke lukanya. Bibirnya terkatup rapat ketika ia mengarahkan staples medis ke daging yang menganga.

Klik.

Tubuhnya tersentak ketika klip logam kecil menjepit tepi kulit agar luka cepat menyatu. Napasnya tercekat sesaat, peluh dingin langsung membasahi pelipis. Namun ia tak bersuara.

Klik.

Darah masih merembes, tapi luka itu mulai menyatu secara paksa. Dinda sempat menoleh penasaran, tetapi lekas memalingkan wajah kembali. Jemarinya mencengkeram celana sendiri, tak sanggup menatap lebih lama.

Klik.

Abirama akhirnya mengembuskan napas panjang, bahunya turun perlahan.

“Kelar juga,” gumamnya.

Ia merapikan kembali peralatannya, lalu menyelipkannya ke dalam tas. Ritsleting ditarik pelan. Setelah itu, pandangannya beralih pada Dinda.

“Kamu ... kapan selesai kuliah, Din?”

Dinda berkedip, agak kaget dengan arah pertanyaan itu. “Nggak lama lagi. Kenapa, Maspol?”

Abirama terdiam sepersekian detik, lalu tersenyum tipis—senyum yang jarang sekali ia perlihatkan kecuali pada Bella. “Aku mau langsung lamar kamu.”

Wajah Dinda seketika merona. Ia menunduk, bibirnya tertarik ke atas tanpa sadar.

Namun Abirama kembali bersuara, nada suaranya kali ini tegas. Ia bangkit berdiri dan mengulurkan tangan ke arah Dinda. “Tapi sebelum itu terjadi, kita harus keluar dulu dari pulau terkutuk ini. Hidup-hidup.”

Dinda menatap tangan itu, lalu menggenggamnya. Abirama menariknya berdiri. Di tengah hujan yang nyaris reda, keduanya saling pandang—dengan percikan cinta yang perlahan menyebar.

“Buktiin, ya,” sahut Dinda seraya tersenyum.

...***...

“Dindaaaaaaaa!”

*

*

*

1
Sriwahyuu
cepat sembuh author kesayangan kami😍
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
amiinnnn
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
jadi sedih otor. semoga ga ada yang bahaya yah. cepat sembuh dan pulih.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
belum taaauuuuu dia
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
izzz jabir kalilah kau babang.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
dasar si babang, masih aja nakal
Anna
Cepet pulih mentor terbaikk kuhhhh, mau selama apapun Anda hiastus. Saya akan tetap setia menunggu 🫶
Anna
Dinda heyyyy tolong. Bahkan Mas Edwin saja di bikin semapot tanpa menyentuh ama Mbak Bella. 🤣
Anna
Definisi peduli tapi gengsi🫢🤣
jay naomi
semoga cepat sembuh semangat othor q.
Wenty Lucia Wardhani
cepat sehat author kesayangan....🥰🥰🥰
youyouen Rahayu
syafakillah kak semg ALLAH mengangkat segala penyakit kak author,diberikan kesehatan seperti semua dn bisa berkarya lagi,love you kak author semngtt sellu yaaa akn ku nanti setiap upnya,dengan sesabar mungkn,maaf ya kak author kalau aku sellu mengintip trs🙈🙈 di cerita ini.
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
😂😂
CallmeArin
semoga segera di angkat penyakitnya Thor 🤲🏻
Sayuri
aamiin ya Allah 🥺
Sayuri
y Allah kget q :(
k dehwa lekas sembuh 😩
Sayuri
kmu blm tw ja bu bella gmn din.. klo tau, bs trcngang
Sayuri
yg hcker kpal selam itu y tor?
Sayuri
/Joyful/
Sayuri
ber berbagi apa papa ed?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!