Tak pernah terlintas di benak Casey Cloud bahwa hidupnya akan berbelok drastis. Menikah dengan Jayden Spencer, dokter senior yang terkenal galak, sinis, dan perfeksionis setengah mati. Semua gara-gara wasiat sang nenek yang tak bisa dia tolak.
"Jangan harap malam ini kita akan bersentuhan, melihatmu saja aku butuh usaha menahan mual, bahkan aku tidak mau satu ruangan denganmu." Jayden Spencer
"Apa kau pikir aku mau? Tenang saja, aku lebih bernafsu lihat satpam komplek joging tiap pagi dibanding lihat kau mandi." Casey Cloud.
Di balik janji pernikahan yang hambar, rumah sakit tempat keduanya bekerja diam-diam menjadi tempat panggung rahasia, di mana kompetisi sengit, dan kemungkinan tumbuhnya cinta yang tidak mereka duga.
Mampukah dua dokter dengan kepribadian bertolak belakang ini bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman
Jayden malah membanting pintu kamar mandi dengan sangat kuat hingga Casey pun dibuat kaget di tempat tidur sekarang.
"Kenapa sih dia?" gumam Casey, memandang ke arah pintu kamar mandi. Di mana terdengar suara air mengalir di dalam sana.
Casey bingung sekaligus kesal juga. Sebenarnya apa yang terjadi? Sampai-sampai Jayden datang dalam keadaan marah.
Karena penasaran, Casey memutuskan menunggu Jayden untuk keluar, meminta penjelasan atas tindakan Jayden barusan.
Satu menit, dua menit, tiga menit .... lima menit kemudian.
Akhirnya sosok yang ditunggu, menyembul di depan pintu kamar mandi. Dengan air mengalir perlahan-lahan di permukaan kulit Jayden. Badannya ditutup setengah saja, handuk putih pun melilit pinggangnya, otot-otot perut Jayden terpampang sangat jelas sekarang.
Menurut Casey, Jayden terlihat sangat seksi, hingga dia tak sadar, Jayden memandangnya dengan sorot mata tajam sejak tadi.
Casey menggeleng cepat. Pandangan keduanya langsung terhubung.
"Kau kenapa? Ada masalah apa kau sampai banting-banting pintu, kau nggak lihat aku mau tidur," cerocosnya.
Jayden tak menjawab, dengan muka masam malah melangkah cepat menuju walk closet.
Reaksi Jayden tentu saja membuat Casey terperangah. Netranya mengikuti pergerakkan Jayden.
"Astaga, apa kau tuli? Kau ini kenapa sih? Ada masalah apa?" Tanpa turun dari tempat tidur, Casey kembali bertanya dengan napas mulai memburu.
Casey menahan jengkel, Jayden malah diam. Di tanya bukannya menjawab, merajuk seperti wanita yang sedang menstruasi.
Masih tak ada jawaban. Casey yang malas bergerak, akhirnya beringsut dari ranjang.
"Kau dengar aku nggak!?" kata Casey saat Jayden sudah keluar dari walk closet, dengan pakaian tidur dan sorot mata masih tetap tak bersahabat.
"Dengar, justru aku yang seharusnya marah sama kau!" balas Jayden.
Casey tampak semakin kebingungan. "Memangnya aku berbuat apa sampai kau marah. Kau yang membanting pintu duluan tadi, memangnya salah pintu apa?" tanyanya sambil mengerling singkat.
Jayden tak segera menjawab. Dia pun heran, mengapa tangannya bergerak dengan enteng tadi.
Kini dia melirik ke sana kemari, sedang mencari alasan di dalam otaknya. Tak mungkin pula dia berkata jujur.
Gengsi Jayden terlalu tinggi.
Alasan Jayden marah, karena saat di rumah sakit tak sengaja mendengar gosip tentang Casey yang berpelukkan bersama seorang pria di taman. Jayden pun penasaran, lalu menguping obrolan para rekan kerjanya, meski dadanya terasa amat panas bak kobaran api unggun.
Dari informasi yang di dapatkan Jayden, katanya lelaki yang dipeluk adalah pacar Casey, ada pula yang bilang pasien Casey, lebih gilanya lagi simpanan Casey. Dan masih banyak lagi spekulasi yang beredar.
Dada Jayden makin panas, berusaha bersikap tenang, walaupun sebenarnya selama berkerja dia sangat gelisah. Apalagi ini kali pertama dia merasa cemburu pada seseorang. Dengan Dea saja, Jayden tak pernah merasakan perasaan cemburu. Jika Dea dekat dengan para lelaki, Jayden tampak biasa saja.
"Kenapa kau diam? Ayo cepat jawab, dan kau kenapa juga cepat pulang? Bukankah seharusnya kau masih kerja di klinik sekarang?" Casey bersuara lagi saat yang di beri pertanyaan, justru terdiam seribu bahasa.
Jayden menyeringai tipis. "Oh jadi kau mengusir aku, sebagai seorang istri harusnya kalau suaminya pulang cepat, dia merasa senang atau menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman, tapi kau malah ...., ah sudahlah, asal kau tahu pasien pribadiku nggak jadi berobat, jadi aku langsung pulang ke rumah saja!" serunya sambil melototkan mata.
Jawaban Jayden tentu saja membuat Casey makin kesal. Jayden sepertinya amnesia sesaat. "Jangan memutar balikkan fakta, aku nggak mengusir kau, bagaimana aku mau menyambutmu dengan senyuman, kau saja datang-datang mukanya masam, terus aku tanya malah nggak jawab, lalu kau juga banting pintu kamar mandi! Apa kau lupa wahai Tuan Jayden?" tuturnya sambil melempar senyum mengejek.
"Itu semua juga gara-gara kau! Kau harus diberi hukuman sekarang!" Entah mengapa melihat Casey tanpa kacamata, membuat gairah Jayden tiba-tiba memuncak. Ditambah lagi, matanya dapat melihat puncak dada Casey yang tidak memakai bra. Karena marah, Casey sampai lupa dengan keadaan tubuhnya sekarang.
Sekarang, Casey mengerutkan dahi dengan sangat kuat.
"Apa maksudmu? Hukuman apa–argh Jayden!"
Casey tersentak, Jayden tiba-tiba menyeretnya ke arah ranjang.
"Jayden, kau mau apa?" Casey mulai panik, berusaha memberontak tapi Jayden memegang tangannya dengan sangat kuat dan sekarang dia terjembab ke atas kasur.
Casey hendak beranjak. Namun, Jayden berhasil menindihnya dan menaruh kedua tangannya di atas kepala.
"Aku mau menghukummu!" Pembicaraan hangat di rumah sakit tadi terngiang-ngiang di kepala Jayden sejak tadi. Dia membayangkan Casey berciuman dengan pria lain.
Casey bingung sekaligus makin panik. Sebab tatapan Jayden begitu menakutkan sekarang, seolah-olah ingin melahapnya. "Hukuman apa, aku nggak, ah ...."