"Tanda tangan surat ini!" ucapan tegas itu membuat Velyn yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi tertegun sejenak saat Valdo memberikan padanya secari kertas.
Malam ini adalah malam pertamanya, gadis cantik yang kini masih terdiam itu meraih kertas yang disodorkan oleh sang suami padanya. Ia membaca dengan seksama surat tersebut. Matanya membulat sempurna, apa yang ia baca adalah sebuah surat perjanjian kontrak pernikahan.
Velyn tak menyangka, dimalam pertamanya ia akan mendapatkan kejutan sebesar ini. Rumah tangga yang seharusnya ia bina dan memulai dari awal, kini hanyalah seharga secarik kertas.
"Aku akan ceraikan kamu setelah pernikahan kita udah satu tahun" tambahnya membuat hati Velyn tambah hancur mendengarnya. Meskipun begitu Velyn masih terdiam, ia bahkan enggan mengatakan apapun. Kenapa jadi seperti ini? padahal sebelumnya Velyn dan Valdo tidak mempunyai masalah apapun. Mereka bahkan semakin dekat menjelang hari pernikahan. Tapi Velyn tak pernah menyangka, jika Valdo tidak pernah berubah selama ini.
"Kasih aku alasannya kak" ucap datar Velyn membuat Valdo mengacak rambutnya.
"Karena aku masih cinta sama mantan istri aku" Velyn mengangguk, ia tersenyum miring meskipun hatinya amat sakit mendengar penuturan dari Valdo yang terang-terangan itu.
"Oke, ada satu syarat lagi yang harus ditambah" kata Velyn tegas seraya mengembalikan kertas itu lagi pada Valdo yang kini tampak menatap datar gadis dihadapannya.
"Apa?"
"Aku mau, baik aku maupun kamu, jangan ada cinta diantara kita!" mata Valdo membulat mendengarnya. Entah mengapa hatinya merasa ngilu ketika Velyn mengatakannya. Bahkan ia merasa jika perkataannya tidak terlalu menyakitkan jika dibanding dengan perkataan Velyn barusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanila Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hiburan malam
Velyn keluar dari kamar mandinya yang tepat berada di kamar. Gadis itu melepaskan handuk yang melilit rambutnya, Velyn menyisir rambutnya perlahan. Terlihat rambutnya yang begitu banyak rontok dan sebagian jatuh ke lantai. Velyn memejamkan matanya, mungkin saja dirinya banyak fikiran hari-hari ini makanya banyak sekali rambutnya yang rontok.
Velyn menyentuh pipinya yang terlihat pucat, entah mengapa kepalanya juga sedikit pening kali ini. Velyn buru-buru mengambil obat dari laci kamarnya, ia segera meneguk air bersamaan dengan beberapa pil itu.
Velyn menghela nafasnya, ia melirik meja belajarnya yang kini terpampang jelas beberapa tumpuk buku dan juga lampu belajar. Ada juga kotak musik indah yang pernah diberikan Andra untuknya.
Velyn melangkahkan kakinya, ia mengibaskan rambutnya yang basah kebelakang. Rasanya baru kemarin ia bisa merasakan bahagia, tapi Velyn tak bisa memungkiri bahwa takdir tak sesederhana itu. Velyn menahan dagunya di atas meja, ia memperhatikan setiap fotonya bersama dengan Andra yang sengaja ia gantung disana.
"Andra, aku pikir kamu juga bakal perjuangin aku. Aku pikir bukan cuma aku yang berharap buat bisa balikan sama kamu. Tapi aku salah Ndra, mungkin dari awal kamu nggak perlu kagum apalagi jatuh cinta sama aku, dengan gitu aku nggak harus sesakit ini" Velyn menahan air matanya, ia mengambil foto-foto yang menggantung itu termasuk frame yang ia letakkan di atas meja belajarnya. Velyn mengambil sebuah kardus, ia meletakkan semua foto itu termasuk kotak musik yang pernah Andra berikan padanya. Velyn hampir melupakan satu hal, ia mengambil buku tebal berwarna putih itu dan meletakkannya di dalam kardus bersama kenang-kenangannya yang tersisa.
"Makasih Andra, aku minta maaf nggak bisa menuhin apa yang kamu mau. Aku cuma berharap semoga jalan yang kita lewati nggak akan rumit lagi, meskipun Velyn bukan lagi miliknya Andra" Velyn segera menutup kardus itu. Ia buru-buru memeluk lututnya seraya terisak. Mungkin inilah garis Tuhan yang sudah dituliskan untuknya. Lagipula Angelita dan Andra cocok, yang satu bunga kampus yang satu dosen paling diidolakan.
Entah mengapa mengingat cerita Angelita di toilet rumah sakit tadi membuat ia tak bisa berhenti membayangkan betapa sakitnya hatinya saat ini. Velyn sangat mencintai Andra, tapi rasanya ia tidak bisa berbuat apa-apa. Isakannya terhenti seketika kala darah tiba-tiba menetes di lantai kamar Vely Gadis itu menyentuh hidungnya. Tak disangkanya ternyata ia mimisan.
Velyn tak menggubrisnya, biar saja darah bercucuran. Ia masih bertahan menangis sejadi-jadinya.
***
"Velyn sayang" suara ketukan pintu bersamaan dengan panggilan dari bunda yang memanggil Velyn dari balik pintu kamar yang tertutup membuat Velyn menggeliat seraya masih melanjutkan tidurnya.
Bunda semakin khawatir saja, fikirannya dari tadi tak karuan mengingat telfon dari Valdo yang mengatakan jika Velyn sedang tidak enak badan dan minta diantar kerumah.
Perlahan Malia membuka pintu kamar Velyn yang memang tidak terkunci. Wanita setengah baya itu menatap Velyn penuh dengan arti. Malia melangkah mendekat, ia duduk di sisi ranjang Velyn dan menyentuh dahi putrinya dengan lembut. Terlihat wajah Velyn yang begitu nyaman terlelap, namun begitu pucat.
Sedikit lega Malia rasakan tatakala putrinya bisa istirahat seperti sekarang. Malia mencium kening Velyn dan menaikkan selimutnya untuk memberikan kehangatan lebih.
"Bunda sayang sama kamu nak" ujarnya seraya melangkah keluar dan membiarkan Velyn terlelap dalam mimpinya.
***
Angelita memijit pelipisnya, ia kini tengah minum di bar dengan salah satu temannya. Pakaiannya yang begitu mini dengan hanya memakai kaos berbelahan dada rendah membuat lelaki mana saja menahan salivanya.
"Kenapa lo? biasanya minum satu botol juga kuat aja, masa cuma abis lima gelas udah nyerah" ujar gadis yang kini meneguk alkohol dihadapannya dengan satu kali tegukan. Angelita pun tak mengerti, seperti bukan dirinya yang biasa. Ia menggeleng seraya menatap himpunan banyak orang yang menari-nari dibelakangnya, serta musik yang berdengung dengan kencang ditelinganya. Rasanya ia ingin muntah saja kali ini, tapi Angelita hanya bisa menahannya.
Tiba-tiba saja seorang pria mengisyaratkan untuk mengusir teman Angelita yang kini mengisyaratkan untuk menjauh. Gadis itu hanya mengangguk seraya tersenyum sinis.
"Ayo, ikut gue" ujar pria itu membuat kesadaran Angelita kembali dan menatap Andra yang kini menarik lengannya secara paksa. Angelita menggeleng, raganya benar-benar tak kuasa saat ini untuk meladeni pria yang selalu meminta jatah padanya tiap malam minggu.
Tanpa basa-basi lagi Andra yang setengah dipengaruhi minuman keras kini menarik lengan Angelita secara paksa. Ia benar-benar tak berdaya, gadis itu menurut saja pada Andra yang kini menariknya kedalam ruangan VIP yang sudah disiapkan oleh Andra.
"Ndra, gue nggak kuat Ndra" mohon Angelita membuat Andra semakin menjadi, ia menutup pintu kamar itu seraya melepas kemejanya. Matanya memerah dengan tatapannya yang menjurus pada Angelita yang kini berbaring lemah diatas ranjang.
Namun belum sempat pria itu mendekat dan menindih tubuh Angelita, pria itu mendapat sebuah telfon. Buru-buru ia mematikan panggilannya, dan tak sengaja menelfon seseorang. Andra menarik baju Angelita membuat gadis itu menggeliat, hendak menolak namun tenaganya kalah oleh Andra yang begitu kuat.
Rasanya tubuh Angelita begitu sakit, entah mengapa. Mungkinkah karena hormon dalam tubuhnya yang membuat dirinya tak berdaya sedari tadi. Angelita memohon agar Andra menghentikan aktivitasnya yang begitu liar, ia bahkan secara paksa menikmati tubuh Angelita tanpa perasaan.
"Velyn, aku cinta sama kamu Lyn, panggil aku sayang ah!" teriak Andra ditengah permainannya membuat Angelita mengerang kesakitan seraya berteriak memohon pada Andra yang kini masih melanjutkan permainannya tanpa ampun.
"Ah, Andra udah Ndra, lepasin gue, ini sakit Ndra ah!" teriak Angelita ditengah permainan Andra yang begitu kasar. Tangis Angelita pecah ditengah pelepasannya, namun Andra tak menggubris, ia terus saja menyalurkan nafsunya yang semakin menggelora.