Liana adalah seorang wanita yang paling berbahagia karena ia bisa menikah dengan lelaki pujaannya, Yudistira. Hidupnya lengkap dengan fasilitas, suami mapan dan sahabat yang selalu ada untuknya, juga orang tua yang selalu mendukung.
Namun, apa yang terjadi kalau pernikahan itu harus terancam bubar saat Liana mengetahui kalau sang suami bermain api dengan sahabat baiknya, Tiara. Lebih menyakitkan lagi dia tahu Tiara ternyata hamil, sama seperti dirinya.
Tapi Yudistira sama sekali tak bergeming dan mengatakan semua adalah kebohongan dan dia lelah berpura-pura mencintai Liana.
Apa yang akan dilakukan oleh Liana ketika terjebak dalam pengkhianatan besar ini?
"Aku gak pernah cinta sama kamu! Orang yang aku cintai adalah Tiara!"
"Kenapa kalian bohong kepadaku?"
"Na, maaf tapi kami takut kamu akan...."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 : Emosi yang meluap
Berkat ucapan Sasya di luar tadi membuat perasaan Yudis tidak tenang. Dia jadi kepikiran kalau Liana bakal melakukan sesuatu. Pria itu segera menghubungi Liana, untuk memastikan posisi dan keberadaan wanita itu.
"Ada apa Mas?" Tanya Liana dari seberang setelah mengangkat telepon dari pria it. Nada suaranya terkesan datar dan biasa saja.
"Ah, enggak..., kamu lagi di mana? Pulang mau titip apa?" Tanya Yudis yang sebenarnya cuma lagi beralasan saja.
"Gak usah, Mas, Bibi sama si Mbok 'kan udah masak banyak, sayang kalau gak dimakan," jawab Liana, "aku sekarang lagi di rumah, emang kamu kira aku bakalan mau kemana?" Liana mendengus kecil. Ia tau kalau Yudis lagi curiga.
"Ya udah, gak apa-apa. Cuma mau tanya itu aja, kok..., nanti aku pulang cepat," balas Dimas merasa agak lega.
"Iya, Mas...."
Yudis menghembuskan napasnya perlahan setelah menutup telepon tersebut. Tapi, entah kenapa perasaannya masih tak tenang. Liana gak kayak biasanya. Dia terdengar santai dan tidak emosional.
Akhirnya karena merasa tak puas ia menelepon Dimas yang saat itu sedang berada di luar jam praktek. Pria itu terlihat sedang bertengkar dengan seorang wanita di jalan. Wanita yang bertengkar dengannya tak lain adalah Adelia, gadis yang sempat ditolong oleh Yudis dan melakukan aksi nekad dengan melukai dirinya sendiri.
"Kamu bisa gak sih, Del, gak cari masalah terus?" Ucap Dimas setengah membentak. Ia berusaha menjauhkan diri dari Adelia yang masih saja berusaha mencari keberadaan dirinya dan sekarang entah bagaimana dia bisa tau tempat Dimas buka praktek.
"Karena kamu gak bisa aku hubungi!" Gadis itu menjerit frustasi.
Adelia membuat kegaduhan di tengah jalan dengan suaranya yang keras. Dia udah gak peduli sekalipun saat ini dirinya sedang menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu-lalang, menjadi tontonan sekitar.
Justru gadis itu malah terlihat sengaja untuk membuat kekacauan agar Dimas terpaksa mengalah dan mengajaknya pergi berdua dari kerumunan.
Tapi dugaan Adelia salah, saat Dimas malah mengangkat telepon dari seseorang.
"Oke, kita ketemu aja buat langsung bicara," ucap pria itu singkat sesaat mengangkat ponselnya.
Dimas segera memasukkan ponselnya kembali dan berkata, "aku gak punya banyak waktu buat urusin kamu, Del. Aku harus pergi sekarang." Tanpa pikir panjang Dimas cabut dari sana, menaiki mobilnya meninggalkan Adelia yang kelihatan bingung karena salah menduga.
"Dimas, tunggu!!" Wanita itu mengejar Dimas yang sudah masuk ke mobil. "Jangan pergi, Dimas! Kamu gak peduli sama aku?" Dia memukul-mukul pintu mobil cukup keras berharap Dimas bereaksi, membukakan pintunya, tapi nihil.
Dimas gak peduli sekalipun Adelia mau memukul mobilnya dengan batu sekalipun. Hal yang ada dalam otaknya saat ini adalah pergi dari Adelia sejauh yang ia bisa.
Di dalam mobil ia menghela napas dengan lega. Jujur, dia tadi sempat kebingungan harus berbuat apa, tapi telepon dari Yudis menyelamatkan nya hari ini dari gangguan Adelia.
.
.
Akhirnya Dimas memutuskan telepon balik Yudis karena tadi ia memang terburu-buru mematikan ponsel.
"Halo, Yudis? Tadi ada masalah apa dengan Liana?" Tanyanya sambil mengingat ucapan Yudis tadi di telepon.
"Liana kayaknya merencanakan sesuatu...," balas Yudis mengungkapkan kegundahannya.
"Oh?" Dimas menautkan alis. Heran sekaligus penasaran. "Lalu?"
"Setelah melihat Adelia, kayaknya Liana bisa juga 'kan bertindak nekad?" Tanya pria itu sekedar memastikan.
"Kalau dilihat dari keadaannya sekarang, kemungkinan iya...." Jawaban Dimas malah membuat Yudis semakin khawatir. Itu berarti hal terburuk bisa saja terjadi. "Sudah bicara jujur?" Tanya Dimas kemudian.
"Aku masih memikirkan itu...," balas Yudis yang masih ragu-ragu.
"Bukankah sudah kubilang kau harus tegas?" Dimas menghela napas.
"Aku tak ingin memancingnya...." Yudis terdengar putus asa saat ini. "Apa mungkin kau bisa membantuku untuk bicara? Orangtuanya terutama Ibunya sama sekali tak peduli dan ingin sandiwara terus berjalan...?" Tanyanya penuh harap.
"Hmph..., aku sudah mencoba mengajaknya bicara tapi ia selalu tak suka kalau pembahasannya itu soal perceraian atau perpisahan darimu, terus terang saja dia seperti Adelia, kau ingat gadis itu 'kan...," jelas Dimas merasa sikap Liana pun sama keras seperti mantannya itu. "Tapi aku akan mencobanya lagi, lebih baik kau berhati-hati dan mengawasi keadaan," lanjutnya kemudian.
Dimas terdiam sejenak dan memikirkan kembali soal Liana dan Adelia. Keduanya sangat mirip, terlalu terobsesi dan ingin mengontrol serta memiliki sesuai keinginan. Mereka gak bisa terima penolakan. Dimas malah berpikir, kalau Liana saja masih seperti itu kepada Yudis yang jelas sudah menikah dengan wanita lain, bagaimana dengan Adelia? Pria itu jadi berpikir untuk cepat mencari calon dan pindah ke tempat lain.
Di sisi lain Liana yang berada di rumah sudah tak bisa menahan kemarahannya karena tau Yudis berniat kabur dengan Tiara.
Emosinya meledak, dia menghancurkan semua benda pecah-belah yang ada di dalam rumah. Membanting dan melemparkannya sembarangan, membuat kedua ART-nya ketakutan.
Tuti dan Sri, mereka sama sekali enggak berani mendekati majikannya yang seperti kesetanan. Mereka justru takut ikut terkena lemparan yang diarahkan membabi-buta oleh Liana.
"Aduh, Mbok ini gimana sih?" Sri gemetar, ia bersembunyi di belakang tubuh Tuti sambil melihat Liana yang lepas kendali.
"Mbok juga gak tau, Sri! Ini pertama kali mbok liat Nyonya marah kayak gini!" Balas Tuti sama takutnya dengan Sri. "Mending kamu telepon Pak Yudis, gih!" Ujar Tuti diam-diam berbisik takut terdengar oleh Liana yang masih berteriak-teriak di ruang tamu.
"I-iya, Mbok!" Sri dengan cepat berlari menuju kamar untuk menelpon Yudis dan memintanya pulang cepat.
Saat itu sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah. Kalau diperhatikan itu sepertinya bukan mobil Yudis.
Seorang pria asing keluar dari dalam mobil. Tuti yang berdiri dan melihat ke arah luar mencoba memperhatikan yang berjalan menuju ke arah gerbang.
Tuti gak berani bergerak karena Liana masih sangat emosional.
Pria itu sepertinya tau telah terjadi sesuatu, makanya dia buru-buru masuk ke dalam.
"Astaga, Liana!" Lelaki itu berteriak cukup lantang untuk menyadarkan Liana yang sedang menggila. "Kenapa kau melakukan semua ini?" Ujarnya saat melihat keadaan ruangan tamu yang sangat kacau, seperti habis dihantam tornado. Pecahan piring dan gelas berserakan.
Liana akhirnya menghentikan aksinya, lalu menangis.
"Aku capek! Aku gak tahan sama semua ini!!" Ia pun menjerit dan melepaskan gelas dalam genggaman tangannya.
Prang...!
Gelas itu pun pecah, berserakan di lantai.
"Sadar, Liana!" Ucap pria itu yang tak lain adalah Dimas. Dia memang sengaja mendatangi rumahnya untuk mengecek. "Kamu harus sadar dan belajar melepas, kamu paham 'kan...?" Dimas reflek memeluk wanita yang tengah menangis pilu itu.
"Sakit, rasanya sakit!" Liana meraung sambil memukul-mukul dadanya karena terasa sesak.
"Li, sadar, Yudis sejak awal bulan Suami kamu," ucap Dimas pada akhirnya, mencoba membangunkan mimpi sang putri dari tidur indahnya.
Apa yang akan terjadi setelah ini? Apa Liana pada akhirnya akan sadar dari ilusi pikirannya sendiri dan belajar ikhlas? Hanya ada dua kemungkinan Liana akan membaik atau kasus terburuk, dia berubah seperti Adelia.
.
.
Bersambung....
semakin cpt... semakin baik untuk kewarasan mentalmu liana....
beri mereka hadiah terakhir yg tak akn prnah mereka lupakan.... dan akn mnjadi penyesalan seumur hidup untuk laki" bodoh sprti yudis...
dan saat nanti trbukti liana memang hamil.... jgn lgi ada kta mnyesal yg berujung mngusik ketenangan hidup liana dan anknya....🙄🙄
dan untuk liana.... brhenti jdi perempuan bodoh jdi jdi pngemis cinta dri laki" yg g punya hati jga otak...
jgn km sia"kn air matamu untuk mnangisi yudis sialan itu..
sdh tau km tak prnah di anggp.... bhkn km matpun yudis g akn sedih liana....
justru klo yudis km buang.... yg bkalan hidup susah itu dia dan gundiknya...
yudis manusia tak tau diri.... g mau lepasin km krna dia butuh materi untuk kelangsungan hidup gundik dan calon anaknya...
jdi... jgn lm" untuk mmbuang kuman pnyakit...