BERAWAL DARI SALAH KIRIM NOMOR, BERAKHIR DI PELAMINAN?!
Demi tes kesetiaan pacar sahabatnya, Dara (22) nekat kirim foto seksi sambil ngajak "kawin". Sayangnya, nomor yang dia goda itu BUKAN nomor pacar sahabatnya, tapi Antonio (32), Oom-nya Acha yang dingin, mapan, tapi... diam-diam sudah lama suka sama Dara!
Dara kabur ke pelosok desa, tapi Nio justru mengejar. Dara mencoba membatalkan, tapi Nio justru malah semakin serius.
Mampukah Dara menolak Om-om yang terlalu tampan, terlalu dewasa, dan terlalu bucin karena salah chat darinya ini?
Novel komedi tentang cinta yang beda usia 10 tahun. Yuk, gas dibaca. Biar tahu keseruan hidup Dara-Nio yang serba gedabak-gedebuk ini 🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ame_Rain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Helm-nya Bocor?
Mata Dara melotot mendengar itu, syok.
"Hamil?! enggak mungkin, lah. Oom lo selalu pake helm kalau kami begituan," ujar Dara.
Acha mengerutkan dahi.
"Lah, ngapain pake helm?"
"Helm disitu, loh."
Dara mengode bagian bawah. Membuat Acha ber-oh ria, baru paham.
"Tapi kan bisa aja gagal, Dar. Gue pernah denger ada kasus orang tetep bunting meskipun pake itu. Lagian biasanya lo suka banget sama seafood, aneh banget tiba-tiba malah mual begitu." komentarnya, "Datang bulan lo gimana, lancar?"
Ucapan Acha membuat Dara semakin panik. Dipikir-pikir, datang bulan Dara memang terlambat kali ini. Tapi Dara yakin sekali kalau Nio selalu pakai helm—kecuali saat mereka baru menikah itu. Itupun sudah lama, dan Dara sempat datang bulan juga. Masa sekarang, dimana suaminya selalu memakai helm, dia malah hamil?
"Masa hamil beneran, sih? ah, gimana dong Cha?" panik Dara.
"Ya enggak gimana-gimana. Bapaknya ada, kok. Oom juga kayaknya seneng kalau punya dedek bayi."
"Ya tapi gue nya yang belum siap, Jir. Wisuda kita aja bulan depan, masa gue bunting sekarang?"
Acha berpikir sejenak.
"Mending kita makan dulu. Entar, kita mampir ke apotek untuk beli testpack. Gimana?" tawar Acha.
Dara masih merasa tidak nyaman dengan hal ini, tapi akhirnya dia mengangguk. Mereka pun segera menyelesaikan acara makan mereka, lalu pergi ke apotek untuk membeli testpack seperti apa yang Acha bilang.
Sementara Acha menunggu di mobil, Dara mendatangi penjaga apotek sendirian. Dia agak ragu-ragu saat hendak memesan benda itu. Merasa aneh, meski dia sudah menikah. Mungkin karena ini pengalaman pertamanya dalam membeli benda itu.
"Mbak, testpack nya satu." pinta Dara dengan suara mencicit.
Setelah membeli testpack, dia segera kembali ke mobil Acha. Dara bahkan tak berani menoleh ke kanan dan kiri—malu jika ada orang lain yang tahu.
"Langsung balik ke rumah, kan?" tanya Acha.
Dara mengangguk. Dia ingin segera pulang, ingin mengecek apakah dia benar-benar hamil dengan menggunakan alat itu.
"Malu banget gue tadi, beli ginian." ujar Dara.
Acha terkekeh.
"Ngapain malu? Kan lu udah jadi bini orang. Wajar kalau bunting."
"Ya tapi kan tetep aja, aneh. Gue yang cewek aja malu beli ginian. Apalagi kalau Oom lo yang gue suruh."
Dara tiba-tiba teringat sesuatu.
"Oh iya, anjir. Oom lo pernah beliin gue testpack buat jaga-jaga. Ngapain lagi gue beli ginian tadi? Malu-maluin aja."
Acha tertawa.
"Biasalah, karena panik." katanya.
Perjalanan kemudian dilalui dengan banyak diam. Dara pusing, belum apa-apa sudah kepikiran ini dan itu. Dia merasa belum siap kalau punya anak sekarang. Tapi...
Sama seperti pernikahannya dulu yang dipaksakan, pada akhirnya dia bisa melakukannya dengan baik. Jadi jika dia hamil sekarang, apakah dia bisa melakukannya dengan baik juga?
'Duh, tapi kalau iya—kok bisa? helm nya bocor, gitu? ah, enggak tahu deh. Pening gue,' batinnya.
Mereka akhirnya sampai di rumah yang ditinggali oleh Dara dan Nio. Keduanya segera masuk. Dara mengajak Acha untuk pergi ke kamar mereka—karena dia akan mencoba benda itu di kamar mandi yang ada di kamar itu.
"Gue ke kamar mandi dulu, bentar."
Acha mengangguk.
Selama Dara berada di kamar mandi, Acha melihat-lihat sekeliling kamar itu. Meski dulu dia pernah tinggal di rumah itu selama beberapa tahun, Acha tak pernah masuk ke kamar utama—kamarnya Nio. Lagipula kamar itu, kan, privasinya Nio.
Tapi, Acha pernah mendengar bahwa Nio katanya punya satu ruangan yang tak boleh disentuh—bahkan Bi Ijah sekalipun dilarang membersihkannya. Nio sendirilah yang membersihkan ruangan itu di sela-sela waktu senggangnya.
Dan karena sekarang dia berada di kamar mereka... Acha jadi penasaran. Dia memindai sekeliling kamar, lalu menemukan sebuah pintu aneh yang berada di kamar itu.
"Mungkin kamar itu maksudnya, ya?"
Acha mendekati pintu itu, penasaran dengan isi di dalamnya. Dia mencoba menariknya, tapi sayangnya pintu itu tidak bisa dibuka. Sepertinya Nio sengaja menguncinya agar tidak ada seorang pun yang bisa membuka ruangan itu.
Dara keluar dari kamar mandi tak lama kemudian.
"Ngapain, Cha?" tanyanya.
Acha segera menatap sahabatnya lagi.
"Enggak ada apa-apa." katanya, "Jadi, gimana hasilnya? Beneran positif?"
Dara menggigit bibir bawahnya.
Belum sempat dia bicara, tiba-tiba saja Nio berlari masuk ke dalam kamar. Dia mencari istrinya, lalu segera mendekati Dara yang tampak gugup saat melihatnya.
"Sayang, kamu hamil?" tanyanya.
Mata Dara melebar. Dia bahkan belum mengatakan hal itu pada Nio, lalu bagaimana pria itu tiba-tiba—
Ah, pasti Acha yang melapor pada Oomnya.
***
Halo halooo 🤤
Masih pada nungguin Dara-Nio kan ya? Hahaha.
Maaf ya, author nongolnya lebih telat 2 hari ini. Up dikit pula kemaren. Efek bad mood liat retensi, wkwk 😂
Author usahakan hari ini up nya 2, ya. Jangan lupa like, komen, subscribe nya kakak-kakak semua.
See you~