Felix yang kecewa karena kekasihnya berselingkuh dengan orang lain, menghabiskan malam penuh gairah bersama seorang gadis penyanyi bar.
Syerly adalah seorang penyanyi bar yang cantik. Suara Syerly membuat Felix terpesona.
tetapi, semuanya berubah ketika Felix mengetahui kebenarannya.
Syerly ternyata sudah memiliki kekasih, dan kekasih Syerly adalah orang yang berselingkuh dengan pacarnya sendiri.
"Mengapa kau pura-pura tidak mengenaliku? Apa kau takut, pacarmu tahu?" Felix mendorong tubuh Syerly ke dinding.
Syerly hanya tertawa kecil, sambil menatap Felix.
"Kita hanya cinta satu malam. Mengapa kau menganggap serius? Atau... "
Syerly menarik kerah Felix dan wajah mereka sangat dekat.
"Kau mulai ketagihan denganku." Senyum kecil dari bibir Syerly membuat jantung Felix berdetak kencang.
"Ya." Felix tidak menyangkal. dia berbisik didekat telinga Syerly.
"Bahkan suara desahanmu masih aku ingat dengan jelas."
Hubungan mereka makin rumit dan berbahaya. Dan menja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti yulia Saroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Lapangan basket sore itu ramai. Cahaya matahari hampir tenggelam, membuat suasananya terlihat cantik.
Felix sedang bermain basket bersama Ivan dan Gio. Bola memantul keras di lantai, dan keringat mulai terlihat di pelipis mereka.
Tidak jauh dari lapangan, beberapa gadis berkumpul. Mereka berteriak memberikan semangat setiap Felix memasukkan bola didalam ring.
Permainan akhirnya berakhir. Ketiganya terengah-engah dan berkeringat.
Ivan langsung duduk di lantai sambil memegang dadanya. Dan Gio hanya tertawa kecil melihatnya.
Dari kejauhan Gio melihat seseorang mendekat. Ia melihat gadis itu berdiri didepan Felix.
"Ini adalah naskah yang sudah perbaiki, dan tidak ada lagi pengeditan lagi. Kau bisa membacanya sekarang." Kata Poppy sambil menyerahkan naskah itu kepada Felix.
Felix sedang mengusap lehernya dengan handuk.
"Baiklah." Lalu Felix mengambil naskah itu dan menatap Poppy didepannya.
"Lalu... kapan mulai latihannya?" Tanya Felix.
"Nanti aku akan memberitahumu lagi, karena kami masih harus mendiskusikan lebih lanjut."
"Aku mengerti." Felix sedikit mengangguk.
"Kalau begitu, aku akan permisi untuk pergi mandi." Lanjut Felix dan langsung pergi meninggalkan gadis dari klub drama itu.
Ivan dan Gio juga mengikuti Felix dibelakang. Beberapa langkah kemudian Ivan mendekati Felix.
"Apa kau serius ikut dalam klub drama?" Tanya Ivan.
"Aku hanya sedikit membantu mereka." Kata Felix dengan tenang. Sambil membuka pintu ruang ganti.
"Mereka terus menghubungiku, jadi aku berpikir, tidak ada salahnya untuk mencoba." lanjutnya.
---
Didalam Bar yang tampak elegan dengan lampu kristal yang menggantung dengan cahaya lembut memantul ke seluruh ruangan.
Di belakang bartender, rak tinggi penuh botol minuman premium tersusun rapi, diterangi lampu hangat yang membuatnya terlihat mahal.
Kursi bar berlapis beludru merah dengan desain modern memberikan kenyamanan sekaligus kesan berkelas.
Musik jazz pelan mengalun, membuat suasana terasa tenang namun tetap hidup.
Didalam sebuah ruangan VIP dengan tirai tipis, Felix memeluk seorang gadis cantik disampingnya, sambil menikmati suasana Bar.
"Ada apa denganmu, Felix? Mengapa kamu tidak terlihat bahagia?"
Rose gadis cantik didalam Bar berbicara dengan suara lembut sambil memeluk lengan Felix. Dengan mata yang berkedip dengan penuh perhatian, Rose menatap Felix dengan mata penuh kerinduan.
Dengan pakaiannya yang terbuka, memamerkan dada besarnya yang putih. Rose terus menyandarkan tubuhnya didepan Felix, seolah gadis itu tidak mempunyai tulang belakang. Dadanya terus menerus menyentuh tubuh Felix, meminta laki-laki itu untuk menyentuhnya.
Tapi, hari ini Felix dalam suasana hati yang buruk. Ia tidak tergoda sedikitpun dengan kecantikan didepannya.
"Ambilkan aku sebotol anggur lagi!" Kata Felix kepada Rose dengan suara datar.
Rose yang sejak awal sudah berusaha menggoda Felix mendapatkan perlakuan dingin dari laki-laki itu hanya terpaku sejenak. Lalu akhirnya berdiri.
Felix akhirnya bebas dari gangguan. Jika biasanya ia tidak terganggu dengan pelukan dari Rose, tapi kali ini, ia tidak tahu mengapa, setiap sentuhan Rose sangat menjijikkan. Bahkan aroma parfum dari Rose yang sangat kuat membuat Felix jengkel.
Felix kembali lagi membandingkan semuanya dengan Syerly. Aroma tubuh gadis itu yang lembut dan memikat, masih ia ingat dengan jelas. Bahkan sentuhan jari-jari lentiknya yang ketika membuka kancing bajunya...
Sialan!!!
Felix memaki lagi dalam hati.
Ia mengambil gelasnya dan meminum anggurnya lagi, mencoba menghilangkan setiap bayangan menggoda dari gadis itu.
Tapi, tiba-tiba saja ia melihat seorang gadis yang sangat akrab. Gadis yang selalu mengganggu pikirannya setiap saat.
Syerly berjalan didepannya dengan tenang tanpa menyadari keberadaan Felix.
Felix yang melihatnya langsung berdiri dan langsung mengejarnya.
Syerly keluar dari kamar mandi dan berjalan melewati lorong, ia menemukan Felix yang berdiri bersandar di dinding menunggunya.
"Kau..." Syerly menatap tenang kearah Felix, senyum tipis menghiasi bibir merahnya. Ia berhenti beberapa langkah didepan Felix.
"Kau juga berada ditempat-tempat seperti ini?" Tanya Syerly.
"Tentu saja. Aku adalah member di Bar ini." Kata Felix dengan suara datar.
"Kau sangat kaya." ada senyum kecil dibibir Syerly seolah mengejek. Lalu Syerly mendesah pelan.
"Aku hanya dapat datang ditempat ini, ketika ada seseorang yang mengundangku." Lanjutnya dengan tenang.
Sambil tersenyum ringan, Felix berjalan mendekat kearah Syerly. Felix menatap Syerly seolah tidak ingin melepaskannya.
"Aku pikir, aku tidak dapat berbicara lagi denganmu." Kata Felix dengan suara lirih.
Setelah diabaikan oleh Syerly seperti orang asing, Felix sangat sulit menemukan Syerly. Tapi, ia tidak menyangka akan bertemu dengan Syerly ditempat ini.
"Apa kau sering datang ditempat ini, Syer?" tanya Felix.
Syerly menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak." Suaranya lembut.
"Aku tidak akan datang ditempat ini jika tidak ada teman yang mengundang. Dan juga..."
Syerly menatap dekorasi Bar yang terlihat mewah.
"Aku tidak suka tempat-tempat yang mewah." Jawabnya pelan. Lalu Syerly menatap Felix didepannya.
"Tunggu! Kau tahu namaku?"
Felix tidak menjawab. Tapi ia membalas tatapan Syerly.
Jarak diantara mereka hanya tinggal satu langkah saja. Dengan suara rendah Felix berbicara.
"Ketika kau tertarik dengan seseorang, kau akan memberikan perhatian khusus untuknya. Bahkan untuk sekedar mencari informasi tentangmu, bukanlah masalah besar. Bukankah itu benar?"
Wajah Felix mendekat, bahkan Syerly dapat merasakan hembusan setiap nafas laki-laki tampan didepannya.
"Kenapa?" Syerly tidak takut dengan pendekatan Felix. Meski ia didorong sampai menempel pada dinding. Syerly masih menatap Felix dengan mata berani.
"Apa malam itu, aku membuatmu kecanduan?" bisik Syerly.
Felix tersenyum kecil, ia menundukkan kepalanya dan menatap gadis didepannya.
"Jangan bilang kau tidak ketagihan denganku!"
Felix terus mendekat dan berbisik ditelinga Syerly.
"Desahanmu, masih teringat jelas dikepalaku."
Felix mendengar tawa kecil dari gadis didepannya, lalu ia sedikit menarik wajahnya, tapi masih mempertahankan jaraknya.
"Semua itu hanya cinta satu malam." Kata Syerly seolah-olah kata-kata Felix adalah lelucon yang sangat lucu.
"Aku mendesah seperti itu... untuk semua orang." Kata Syerly dengan tenang kepada Felix.
"Dan kau juga... tidak lebih baik dari siapapun." Syerly masih berbicara dengan lembut, tapi kalimat itu berhasil menyentuh harga diri Felix.
Syerly mendorong Felix dan berjalan pergi. Tapi Felix menahan lengan Syerly dan menariknya lagi. Felix menatap Syerly dan menguncinya.
"Kalau begitu, beri aku kesempatan untuk membuktikannya lagi." kata Felix dan langsung mencium Syerly. Felix tidak membiarkan Syerly melawan.
Syerly menyentuh harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Felix akan memberikan sedikit pelajaran kepada Syerly.
Felix yang melampiaskan kekesalannya dengan ciuman yang panas, berhasil membuat Syerly hampir terhanyut oleh sentuhan bibir diantara mereka yang membuat mereka kehilangan akal.
Syerly yang terbuai mempertahankan sedikit kewarasannya untuk mendorong Felix.
Akhirnya ia terbebas, kesemutan diantara bibirnya masih dapat ia rasakan. Syerly tanpa sadar menyentuh bibirnya dengan ringan.
Dengan tatapan dingin, perlahan Syerly menatap Felix didepannya.
Syerly berjalan mendekat kearah Felix, menyempitkan jarak diantara mereka. Dengan sedikit senyum yang menggoda, jari-jari Syerly menyentuh kerah baju Felix dan merapikannya dengan hati-hati.
"Teknik ciumanmu memang sangat bagus." Kata Syerly pelan dan tenang.
Tangannya masih disana tidak pergi. Menyelusuri setiap kancing kemeja Felix dari atas sampai bawah. Dan jari-jari lentik itu berhenti didepan celana hitam Felix.
Disana Syerly dapat merasakan hasrat laki-laki itu yang sedang berkobar panas.
Syerly perlahan membuka resleting celana Felix, lalu membantu tangan Felix untuk masuk kedalamnya.
"Jika kau begitu terangsang..." bisik Syerly lembut. Membuat Felix berdebar kencang.
"Kalau begitu, bantu dirimu sendiri." Kata Syerly dingin, lalu berbalik tanpa menoleh kebelakang.
"..." Felix.