NovelToon NovelToon
Jadi Simpanan Ceo

Jadi Simpanan Ceo

Status: tamat
Genre:Obsesi / CEO / Selingkuh / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Celyzia Putri

Nadia mengira melarikan diri adalah jalan keluar setelah ia terbangun di hotel mewah, hamil, dan membawa benih dari Bramantyo Dirgantara—seorang CEO berkuasa yang sudah beristri. Ia menolak uang bayaran pria itu, tetapi ia tidak bisa menolak takdir yang tumbuh di rahimnya.
Saat kabar kehamilan itu bocor, Bramantyo tidak ragu. Ia menculik Nadia, mengurungnya di sebuah rumah terpencil di tengah hutan, mengubahnya menjadi simpanan yang terpenjara demi mengamankan ahli warisnya.
Ketika Bramantyo dihadapkan pada ancaman perceraian dan kehancuran reputasi, ia mengajukan keputusan dingin: ia akan menceraikan istrinya dan menikahi Nadia. Pernikahan ini bukanlah cinta, melainkan kontrak kejam yang mengangkat Nadia .

‼️warning‼️
jangan mengcopy saya cape mikir soalnya heheh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Kepergian Nadia dan Arka meninggalkan lubang besar yang tak kasat mata di kediaman Dirgantara. Namun, bagi Bramantyo yang masih terjebak dalam delusi rasa bersalah, ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa inilah "ketenangan" yang ia cari.

Tanpa adanya Nadia yang menghalangi, Larasati tidak lagi perlu bersandiwara terlalu keras sebagai pasien yang sekarat. Meskipun di depan Bramantyo ia tetap tampak rapuh, kekuasaannya di dalam rumah mulai terasa.

Ia memecat hampir seluruh pelayan lama yang setia kepada Nadia dengan alasan "mereka membuatku tidak nyaman". Kini, rumah itu diisi oleh orang-orang baru yang hanya melapor padanya.

"Bram, Sayang," ucap Larasati suatu pagi, sambil menyisir rambut Bramantyo yang kini tampak lebih kusut. "Kenapa kau masih menyimpan botol susu anak itu di meja kerjamu? Itu hanya akan membuatmu sedih. Lebih baik kita fokus pada masa depan kita."

Bramantyo hanya diam, matanya menatap kosong ke arah taman tempat Arka biasanya bermain. "Aku hanya merasa... rumah ini menjadi terlalu sunyi, Laras."

Larasati mulai memaksa Bramantyo untuk kembali aktif di lingkungan sosial elit, meskipun Bramantyo masih di kursi roda. Ia ingin memamerkan bahwa "Ratu yang Asli" telah kembali.

Dalam sebuah jamuan makan malam privat, Larasati meminum wine mahalnya dengan anggun. "Bram, aku sudah bicara dengan pengacara keluarga. Karena Nadia pergi tanpa mengambil hak warisnya, bukankah sebaiknya posisi Direktur Utama dipegang oleh sepupuku? Kau tahu sendiri, kondisimu sekarang tidak memungkinkan untuk ke kantor setiap hari."

Bramantyo mendongak, kilatan "Naga" di matanya muncul sesaat. "Bisnis Dirgantara bukan barang yang bisa kau bagikan pada sepupumu begitu saja, Laras."

"Aku hanya ingin membantumu, Bram! Kau pikir siapa yang akan menjagamu jika aku tidak ada? Nadia sudah membuangmu!" Larasati mulai menggunakan senjatanya—tangisan manipulatif. Dan seperti biasa, Bramantyo kembali luluh.

Meskipun Larasati berusaha memenuhi rumah dengan musik dan kemewahan, Bramantyo mulai mengalami insomnia akut. Setiap kali ia memejamkan mata, ia mendengar tawa Arka atau suara tegas Nadia yang menyebutnya "menjijikkan".

Suatu malam, Bramantyo menyeret kursi rodanya menuju kamar pelayan di lantai bawah—tempat terakhir Nadia dan Arka tidur sebelum pergi.

Di sana, di bawah tempat tidur yang sempit, ia menemukan sebuah krayon kecil berwarna biru milik Arka yang tertinggal. Bramantyo memegang krayon itu, dan tiba-tiba dadanya terasa sesak luar biasa. Ia teringat kata-kata Nadia tentang racun.

Bramantyo memanggil asisten kepercayaannya yang paling setia secara diam-diam—satu-satunya yang belum sempat dipecat Larasati.

"Bawa botol susu yang ada di ruang kerjaku ke lab independen. Jangan sampai Larasati tahu," perintah Bramantyo dengan suara rendah. "Dan satu lagi... cari tahu di mana Dokter Julian tinggal."

"Tapi Tuan, Nyonya Larasati bilang Anda tidak boleh berhubungan dengan siapa pun dari masa lalu Nadia," bisik asisten itu ketakutan.

"Lakukan saja!" bentak Bramantyo.

Larasati, yang memantau melalui CCTV rahasia yang ia pasang di kamar Bramantyo, melihat suaminya sedang memegang krayon itu. Wajahnya yang cantik berubah menjadi sangat menyeramkan.

Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Dia mulai curiga. Kirimkan dosis yang lebih kuat untuk minumannya malam ini. Aku tidak ingin dia bangun dengan ingatan yang terlalu jernih esok pagi."

Bramantyo tidak sadar, bahwa di dalam rumahnya sendiri, ia kini bukan lagi sang penguasa, melainkan tawanan dari wanita yang ia selamatkan dengan air mata darah.

1
Thecel Put
udah tamat ya
Meyliana Rembonan
lanjutkan donk
Meyliana Rembonan
lanjutkan donk
Thecel Put
karya menarik
membuat saya ingin terus membacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!