"Jika aku bisa memiliki keduanya kenapa aku harus memilih salah satu saja." Alkama Basri Widjaya.
"Cinta bukanlah yang kamu butuhkan, pilih saja ambisimu yang kamu perjuangkan mati-matian." Nirmala Janeeta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyawrite99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Kama membuka matanya, melihat Nirmala masih tidur di sampingnya. Dia berusaha untuk tidak membuat suara, lalu mengambil ponselnya dan melihat panggilan dari sekretarisnya, Dirga.
"Apa agenda pagi ini?" tanya Kama, berusaha untuk tidak membangunkan Nirmala.
"Anda memiliki pertemuan dengan Mr. Zahid pukul 9 pagi ini, kemungkinan besar akan membahas proyek baru dan juga pertunangan dengan Juwita," jawab Dirga.
Setelah mengakhiri panggilan kini Kama beralih memandangi kekasihnya. Kama tersenyum melihat Nirmala yang masih belum sepenuhnya sadar, rambutnya berantakan dan wajahnya masih terlihat sembab karena tidur. Kama merasa sangat suka melihat Nirmala dalam keadaan seperti itu, karena membuatnya merasa lebih dekat dan intim dengan kekasihnya.
"Aku suka kamu seperti ini," kata Kama, sambil memeluk Nirmala erat.
Nirmala tersenyum, "Kamu suka aku berantakan seperti ini?"
Kama mengangguk, "Ya, aku suka. Kamu terlihat sangat alami dan cantik."
Mau tidak mau Nirmala tersenyum mendengar gombalan Kama di pagi hari itu. Nirmala merasa bahagia dengan pujian Kama, dan dia tidak bisa tidak tersenyum ketika Kama memeluknya erat.
Namun keintiman keduanya harus berakhir. Ada rutinitas kerja yang harus mereka jalani.
Kama dan Nirmala harus berpisah dan pergi ke tempat kerja masing-masing. Kama harus mempersiapkan diri bertemu dengan Mr. Zahid nanti, yang kemungkinan besar akan membahas tentang pertunangan dengan Juwita.
"Aku harus pergi sekarang," kata Kama, sambil memberikan ciuman terakhir kepada Nirmala.
Nirmala mengangguk, "Ya, aku juga harus pergi. Semoga harimu lancar."
Kama tersenyum, "Semoga harimu juga lancar. Aku akan hubungi kamu nanti."
Kama dan Nirmala berpisah, masing-masing pergi ke arah yang berbeda, dengan pikiran dan perasaan yang berbeda pula.
***
Pertemuan berlangsung di ruang pertemuan yang mewah, dengan Mr. Zahid dan ayah Kama hadir di dalamnya. Mereka membahas tentang acara pertunangan Kama dan Juwita dengan sangat antusias.
"Pertunangan ini akan menjadi langkah besar bagi kedua keluarga kita," kata Mr. Zahid, sambil tersenyum.
Baskara mengangguk setuju, "Ya, saya sangat senang melihat Kama dan Juwita menjadi pasangan yang sah. Mereka sangat cocok satu sama lain."
"Benar. Satu bulan lagi kita akan menyaksikan anak anak kita saling mengikat dalam sebuah acara pertunangan yang meriah," tutur Mr. Zahid begitu senang. Ia merasa berhasil mewujudkan keinginan putri tercintanya.
Baskara meminta agar acara pertunangan Kama dan Juwita diadakan selain di Amerika juga diadakan di Indonesia, bertepatan dengan acara ulang tahun perusahaan. Ini berarti bahwa acara pertunangan akan menjadi bagian dari perayaan ulang tahun perusahaan, dan ayah Kama ingin agar acara tersebut menjadi momentum yang baik untuk perusahaan.
Kama tidak bisa menolak permintaan ayahnya, sehingga dia harus menerima keputusan tersebut. Dia hanya berharap bahwa Nirmala tidak akan mengetahui tentang rencana pertunangan sebelum waktunya.
Sementara itu, Juwita merasa senang karena acara pertunangan akan diadakan di Indonesia, negara asalnya. Dia berharap bahwa acara tersebut akan menjadi momen yang indah dan berkesan bagi keduanya.
Kama hanya diam dan mendengarkan, tidak bisa berkomentar apa-apa karena dia tahu bahwa keputusan sudah diambil dan tidak bisa diubah lagi. Dia hanya berharap bahwa semuanya akan berjalan lancar.
***
Kama memikirkan cara untuk menyembunyikan pertunangannya dari Nirmala, dia tidak ingin kekasihnya itu tahu tentang rencana pertunangan dengan Juwita.
Kama berusaha untuk menutup akses Nirmala mengetahui tentang pertunangannya dengan Juwita. Dia meminta Dirga untuk merahasiakan informasi tentang pertunangan dan memastikan bahwa tidak ada yang membocorkan informasi tersebut kepada Nirmala.
"Aku tidak ingin Nirmala tahu tentang ini semua," kata Kama kepada Dirga. "Pastikan semua berjalan dengan benar."
Dirga mengangguk setuju, "Saya akan merahasiakan ini, Boss. Saya akan berusaha menutup akses agar nona Nirmala tidak akan tahu rencana pertunangan Boss nantinya."
Dirga merasa tidak nyaman dengan situasi ini, dia tidak setuju dengan keputusan Kama untuk menyembunyikan pertunangan dari Nirmala. Dalam hati, dia mencemooh tingkah bosnya itu, merasa bahwa Kama tidak adil kepada Nirmala.
"Mengapa Pak Kama harus menyembunyikan ini dari Nona Nirmala?" pikir Dirga. "Nona Nirmala tidak pantas diperlakukan seperti ini."
Dirga merasa kasihan dengan Nirmala, dia tahu bahwa Nirmala sangat mencintai Kama dan tidak menyangka bahwa Kama bisa berlaku seperti ini. Dirga hanya bisa diam dan melakukan apa yang diperintahkan oleh bosnya, meskipun dia tidak setuju dengan keputusan itu.
***
Kama dan Juwita semakin sibuk dengan persiapan acara pertunangan mereka yang akan diadakan sebulan lagi. Selain pekerjaan, mereka juga harus mempersiapkan banyak hal untuk acara tersebut.
Kama merasa bahwa persiapannya sangat berbeda dengan apa yang dia rasakan ketika bersama Nirmala. Dia merasa bahwa dia harus memainkan peranannya sebagai calon suami Juwita, dan itu membuatnya merasa tidak nyaman.
Sementara itu, Nirmala tidak menyadari apa yang sedang terjadi, dan Kama berusaha untuk menjaga rahasia pertunangannya dengan Juwita. Tapi, semakin dekat tanggal acara, Kama semakin merasa tidak nyaman dengan kebohongannya.
Kama dan Juwita duduk di ruang pertemuan, membahas tentang detail acara pertunangan mereka.
"Aku ingin tema acara pertunangan kita yang elegan dan modern," kata Juwita.
Kama mengangguk setuju, "Baiklah, aku akan meminta Dirga untuk mencari tempat yang sesuai dengan tema itu."
Mereka terus berdiskusi, membahas tentang setiap detail acara pertunangan mereka. Kama berusaha untuk terlihat antusias, ia tahu bahwa dia tidak benar-benar mencintai Juwita, tapi dia harus memainkan peranannya sebagai pasangan yang baik.
***
Kama dan Juwita sedang memilih gaun pertunangan di sebuah butik, sementara itu Nirmala juga ada di tempat yang sama, karena butik itu juga merupakan salah satu kliennya sebagai penyedia jasa dekorasi.
Kama melihat Nirmala dari jauh dan langsung waspada, dia tidak ingin Nirmala mengetahui tentang rencana pertunangannya dengan Juwita. Kama segera meminta Juwita untuk berpindah ke ruangan lain, dan dia sendiri juga berpindah ke arah yang berbeda, sehingga mereka bisa menghindari pertemuan dengan Nirmala.
Kama berhasil menghindari Nirmala, tapi dia merasa sedikit tegang dan tidak nyaman. Dia tahu bahwa dia harus lebih berhati-hati agar Nirmala tidak mengetahui tentang rencana pertunangannya.
Juwita melihat Kama yang tiba-tiba meminta untuk berpindah ke ruangan lain, dan dia merasa sedikit bingung dengan sikap Kama.
"Apa yang terjadi, Kama?" tanya Juwita, "Mengapa kita harus berpindah ke ruangan lain?"
Kama tidak ingin memberitahu Juwita tentang Nirmala, jadi dia hanya memberikan alasan yang tidak jelas. "Aku hanya ingin melihat gaun lainnya, Juwita. Mari kita lihat yang lain."
Juwita masih terlihat bingung, tapi dia tidak mendesak Kama untuk memberitahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya mengikuti Kama ke ruangan lain.