Jingga seorang gadis cantik yang hidupnya berubah drastis ketika keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang justru menjadi orang pertama yang melemparkannya keluar dari hidup mereoka. Dibuang oleh ayah kandungnya sendiri karena fitnah ibu tiri dan adik tirinya, Jingga harus belajar bertahan di dunia yang tiba-tiba terasa begitu dingin.
Awalnya, hidup Jingga penuh warna. Ia tumbuh di rumah yang hangat bersama ibu dan ayah yang penuh kasih. Namun setelah sang ibu meninggal, Ayah menikahi Ratna, wanita yang perlahan menghapus keberadaan Jingga dari kehidupan keluarga. Davin, adik tirinya, turut memperkeruh keadaan dengan sikap kasar dan iri.
Bagaimanakan kehidupan Jingga kedepannya?
Akankan badai dan hujannya reda ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu kepingan lagi ku buka!
Jingga menatap wajahnya di cermin,ingatannya kembali berputar saat obrolannya dengan Arjuna tadi malam.
Mendengar ucapan Sang Arjuna,membuat jantung berdetak semakin kencang.
Bukan karena cinta,tapi karena kehancuran akibat seorang laki-laki yang selama ini menjadi panutannya.
Jingga mengusap pelan foto usang sang bunda dan Bibi Alma.
"Bunda...Bolehkah Jingga berubah? Hanya untuk mengembalikan apa yang selama ini bukan pada tempatnya."
"Ka Arjuna ingin berusaha mengembalikan posisiku,apakag harus harus diam saja dan menerima beres? Rasanya tak pantas Bun,aku harus ikut berusaha juga."
"Bunda...." Air mata tak bisa lagi ia bendung,dadanya terasa sesak.
"Ijinkan aku berubah sekali saja,menjadi Jingga yang kuat.Jingga yang hanya akan ada tatapan tajam,bukan lagi tatapan lemah."
Ia menghela nafas kasar."Sekali ini saja.."
Jingga mencium foto sang bunda lama,ia membuka laci usang dan menyimpannya kembali.
Jingga menguncir rambut panjangnya.Kali ini ia mengganti bajunya dengan sebuah kemeja slimfit berwarna tosca,tak ada polesan makeup hanya sebuah liptint peach namun membuatnya terlihat berbeda.
Pagi itu udara kebun masih basah oleh embun. Jingga berjalan di samping Kakek Arga, langkahnya pelan tapi pasti. Jalan tanah merah yang membelah kebun sawit tampak lengang, hanya suara serangga dan burung yang menemani.
“Kita jalan jauh, Kek?” tanya Jingga sambil mengusap lengan kemejanya.
“Sebentar lagi,” jawab Kakek Arga. “Gudangnya memang agak masuk ke dalam. Dulu… istri Kakek maunya begitu. Katanya biar jauh dari hiruk-pikuk.”
Jingga mengangguk. Ia masih memikirkan kotak rahasia itu. Foto, surat, dan nama yang terus terngiang di kepalanya.
Mutiara.
Nama itu bukan sekadar nama. Ada sesuatu yang terasa sangat dekat, tapi juga menyakitkan.
Gudang itu akhirnya terlihat. Bangunan lama dari kayu dan seng, tapi masih kokoh. Di depannya terparkir satu motor tua. Seseorang sedang berdiri, membolak-balik map cokelat sambil sesekali melihat jam tangan.
“Ah, itu dia,” ujar Kakek Arga.
Orang itu menoleh. Seorang pria sekitar lima puluhan, berkemeja rapi tapi sederhana. Wajahnya ramah, tapi matanya menyimpan kehati-hatian.
“Kakek Arga?” tanyanya.
“Iya, Pak Damar,” jawab Kakek Arga sambil mengulurkan tangan. “Ini Jingga.”
Pak Damar menatap Jingga cukup lama. Bukan tatapan aneh, tapi seperti orang yang sedang mencocokkan sesuatu dalam pikirannya.
“Kamu…” ia terhenti sebentar, lalu tersenyum tipis. “Mirip sekali.”
Jingga mengernyit. “Mirip siapa, Pak?”
Pak Damar tersenyum kaku. “Seseorang yang dulu sangat saya hormati.”
Kakek Arga berdehem kecil. “Kita masuk saja.”
Di dalam gudang, udara terasa lebih dingin. Beberapa berkas tersusun rapi di rak besi. Tidak berdebu, seolah rutin dirawat. Pak Damar meletakkan map-map di atas meja kayu panjang.
“Saya jujur saja, Kek,” kata Pak Damar. “Sudah lama saya menunggu hari ini.”
Kakek Arga duduk perlahan. “Saya juga. Tapi waktu dulu tidak berpihak.”
Jingga duduk di samping Kakek, diam tapi telinganya tajam mendengar.
Pak Damar membuka salah satu map. “Semua berkas pengalihan kepemilikan kebun sawit ini sebenarnya sudah selesai bertahun-tahun lalu. Tapi… nama yang tercantum bukan nama yang dikenal publik.”
Jingga menegakkan punggungnya.
“Namanya,” lanjut Pak Damar pelan, “Mutiara.”
Jingga menelan ludah. “Apa itu bunda, Pak?”
Pak Damar menatapnya dalam. “Nama lengkapnya Mutiara Anindya. Keponakan dari almarhumah istri Kakek Arga.”
Kakek Arga menutup mata sejenak.
“Dan,” lanjut Pak Damar, “iya benar dia adalah ibu kandungmu.”
Ruangan mendadak terasa sempit.
Jingga membeku. Dadanya sesak. “Ibu… ibu saya?”
“Iya,” jawab Pak Damar pelan. “Alma—istri Kakek Arga yang meminta saya mengurus semuanya. Dari awal.”
Jingga menggenggam ujung meja. “Kenapa pakai nama itu? Kenapa bukan nama ibu saya yang sekarang Tiara Marisa…?”
Kakek Arga membuka mata, menatap Jingga dengan wajah penuh penyesalan.
“Karena Mutiara… bukan hanya disembunyikan,” ucapnya lirih. “Tapi sengaja dihapus.”
Jingga diam membeku.
Pak Damar mengeluarkan satu map lagi. “Istri Kakek Arga sangat hati-hati. Ia tahu, keluarga besar ayahnya punya kuasa. Nama Mutiara tidak boleh muncul di dokumen publik. Kalau muncul, kebun ini bisa direbut.”
Jingga terdiam. Air matanya jatuh tanpa suara.
“Jadi… semua ini,” katanya pelan, “seharusnya milik ibu saya?”
“Iya,” jawab Pak Damar tegas. “Dan sekarang… secara hukum, masih atas nama Mutiara. Karena belum pernah dialihkan.”
Jingga menggeleng pelan. “Tapi ibu saya sudah meninggal.”
Pak Damar mengangguk. “Dan sesuai surat wasiat, jika Mutiara meninggal, hak itu turun ke satu-satunya anak kandungnya.”
Jingga menatap Kakek Arga. “Itu… saya?”
Kakek Arga mengangguk. Matanya basah. “Iya, Nak.”
Jingga tertawa kecil, getir. “Lucu ya, Kek. Ayah saya menganggap saya beban. Padahal…”
“Padahal kamu adalah pewaris sah,” sambung Pak Damar.
Jingga menutup wajahnya. Tangisnya pecah, kali ini tidak bisa ditahan.Kepingan-kepingan puzle hidupnya mulai terbuka.
Beberapa menit berlalu dalam diam. Kakek Arga menepuk punggung Jingga pelan, membiarkannya menangis sampai dadanya lebih lega.
“Kenapa baru sekarang, Kek?” tanya Jingga dengan suara parau.
“Karena Kakek takut,” jawab Kakek Arga jujur. “Takut kamu disakiti lebih jauh.Takut mereka tahu kamu masih ada.”
Pak Damar menimpali, “Alma juga begitu. Dia bilang, ‘lebih baik Jingga tumbuh tanpa tahu harta, daripada tumbuh tanpa nyawa’.”
Jingga tersentak. “Sejauh itu?”
Pak Damar mengangguk. “Dunia orang dewasa kadang kejam, Nak.”
Jingga terdiam. Semua mulai masuk akal. Penolakan ayahnya. Penghapusan namanya. Kebohongan tentang sekolah di luar negeri.
"Dan kenapa ayah tidak tahu?"
"Karena Alma dan Mutiara sengaja menyembunyikannya karena takut ayahmu berusaha merebutnya."
Jingga terdiam,tangannya mengepal.
“Kalau sekarang?” tanya Jingga. “Apa yang harus saya lakukan?”
Pak Damar tersenyum tipis. “Itu pilihanmu. Tapi secara hukum… kamu berhak.”
Kakek Arga menatapnya lembut. “Kakek tidak akan memaksa. Mau kamu ambil, mau kamu biarkan Kakek tetap di pihakmu.”
Jingga menarik napas panjang. “Saya nggak mau serakah.”
“Ini bukan serakah,” kata Pak Damar. “Ini keadilan.”
Setelah selesai mereka keluar dari gudang. Jingga menatap kebun sawit yang membentang luas. Hampir satu hektar. Selama ini ia hidup merasa tidak punya apa-apa, padahal akar hidupnya tertanam kuat di tanah ini.
“Kek,” kata Jingga pelan, “kalau ayah saya tahu…?”
“Kita belum perlu memberitahu,” jawab Kakek Arga. “Belum sekarang.”
Jingga mengangguk. “Saya mau belajar dulu. Tentang kebun ini. Tentang tanggung jawabnya.”
Pak Damar tersenyum bangga. “Alma pasti bangga dengar itu.”
Jingga tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, nama ibunya terasa nyata. Bukan sekadar bayangan.
°°°°
Sore nya, Jingga duduk di teras rumah, memegang kamera. Ia memotret matahari yang perlahan turun di balik pohon sawit. Cahaya jingga menyelimuti segalanya.
Ia membuka ponsel, ragu sejenak, lalu mengirim pesan pada Arjuna.
Kak, hari ini aku tahu banyak hal. Tentang ibuku. Tentang siapa aku sebenarnya.
Aku belum siap cerita semuanya, tapi… aku baik-baik saja.
Dan untuk pertama kalinya, aku nggak merasa sendiri.
Tidak lama, balasan masuk.
Aku selalu di sini. Pelan-pelan aja. Aku bangga sama kamu,sayang.
Jingga tersenyum kecil. Dadanya hangat.
Ia menatap langit yang berwarna jingga warna yang sama dengan namanya.
Mungkin hidupnya memang berliku.
Mungkin ia pernah dibuang.
Tapi ternyata, ia tidak pernah benar-benar kehilangan tempatnya.
..."Dan dari gudang tua di tengah kebun sawit itu, aku tahu kebenaran memang lama tersembunyi,...
...tapi tidak pernah hilang."...
...🍀🍀🍀...
...🍃Langit Jingga Setelah Hujan🍃...
seiring dgn kebenaran yg coba dihapuskan.
semangat
Arjuna.. Jingga