Elena hanya ingin menguji. Setelah terbuai kata-kata manis dari seorang duda bernama Rd. Arya Arsya yang memiliki nama asli Panji Asmara. Elena melancarkan ujian kesetiaan kecil, yaitu mengirim foto pribadinya yang tak jujur.
Namun, pengakuan tulusnya disambut dengan tindakan memblokir akun whattsaap, juga akun facebook Elena. Meskipun tindakan memblokir itu bagi Elena sia-sia karena ia tetap tahu setiap postingan dan komentar Panji di media sosial.
Bagi Panji Asmara, ketidakjujuran adalah alarm bahaya yang menyakitkan, karena dipicu oleh trauma masa lalunya yang ditinggalkan oleh istri yang menuduhnya berselingkuh dengan ibu mertua. Ia memilih Ratu Widaningsih Asmara, seorang janda anggun yang taktis dan dewasa, juga seorang dosen sebagai pelabuhan baru.
Mengetahui semua itu, luka Elena berubah menjadi bara dendam yang berkobar. Tapi apakah dendam akan terasa lebih manis dari cinta? Dan bisakah seorang janda meninggalkan jejak pembalasan di jantung duda yang traumatis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CerminYang Retak
Udara di sekitar pangkalan udara Kertajati terasa statis, seolah-olah atmosfer sendiri sedang menahan napas. Di hadapan Panji, berdiri sebuah anomali adalah dirinya sendiri. Tapi bukan bukan yang kelelahan, penuh luka, dan berbau keringat. Sosok itu adalah Panji dalam versi dewa, kulitnya porselen tanpa celah, matanya memancarkan cahaya biru safir yang dingin, dan auranya terasa seperti tegangan listrik ribuan volt.
"Kamu terlihat sangat menyedihkan, Ayah," kata klon Panji itu. Suaranya jernih, tanpa getaran emosi, namun entah bagaimana terdengar seperti penghinaan yang paling tajam.
Panji asli terengah-engah, memegangi dadanya yang sesak.
"Aku... bukan ayahmu. Kamu cuma tumpukan data yang dipaksa jadi daging."
"Aku adalah perbaikan dari kegagalanmu," balas klon itu.
Dalam sekejap, klon itu melesat. Gerakannya bukan lagi gerakan manusia, tapi seperti kedipan cahaya.
DUAK!
Panji terlempar sejauh sepuluh meter, menghantam badan pesawat tua yang berkarat. Tulang rusuknya terasa remuk. Sari menjerit, mencoba menembakkan senjatanya, tapi klon itu hanya melambaikan tangan kecil ke udara. Senjata Sari meledak berkeping-keping, logamnya berubah menjadi debu sebelum peluru sempat keluar.
"Jangan ikut campur, manusia primitif," ujar klon itu tanpa menoleh.
Di tengah rasa sakit yang membutakan, sebuah suara berbisik di telinga Panji. Bukan dari luar, tapi dari dalam memorinya yang paling dalam.
"Panji... jangan lawan dia dengan otot. Tapi lawan dia dengan apa yang tidak dia miliki."
Suara itu adalah suara Elena. Tapi bukan Elena yang dingin dari jaringan Icarus. Itu adalah Elena yang Panji kenal, wanita yang suka makan mie instan di tengah malam dan takut pada kecoak.
"Dek Anin?" batin Panji.
"Dia punya semua datamu, tapi dia nggak punya kerusakanmu. Thomas membangunnya tanpa cacat, dan itulah kelemahannya."
Panji bangkit perlahan, darah menetes dari sudut bibirnya. Dia melihat klon itu berjalan mendekat dengan pedang logam cair yang tumbuh dari lengannya.
"Kamu tahu kenapa kamu nggak akan pernah bisa menggantikanku?" tanya Panji sambil tersenyum miring, sebuah senyum yang penuh penderitaan.
Klon itu berhenti. Alisnya bertaut. "Aku punya memorimu. Aku punya kekuatanmu. Aku punya keabadian. Apa yang tidak kupunya?"
"Kamu nggak punya rasa takut kehilangan," jawab Panji. "Kamu nggak pernah tahu rasanya mencintai seseorang sampai dadamu sakit karena takut dia pergi. Kamu cuma mesin yang diprogram untuk merasa hebat."
Klon itu tertawa, suara tawa yang terdengar sangat mekanis.
"Emosi adalah kegagalan sistem. Itu yang membuatmu lemah."
"Mari kita buktikan," desis Panji.
Tiba-tiba, langit yang tadinya kelabu gelap mulai membelah. Bukan karena matahari, tapi karena sebuah objek raksasa mulai menembus awan. Itu bukan meteor. Itu adalah sebuah satelit militer kuno yang bertuliskan, ADRIAN-01.
Sari berteriak sambil menunjuk ke atas, "Panji! Lihat jam tanganku!"
Pesan teks tadi kembali berkedip "Lihat ke langit. Adrian tidak pernah mati."
Seketika, sebuah pilar cahaya putih turun dari satelit itu, menghantam langsung ke arah rahim raksasa tempat Elena sedang terbentuk. Ledakan cahaya itu menciptakan gelombang kejut yang membuat klon Panji terhuyung.
"Apa?! Satelit itu seharusnya sudah musnah!" raung Thomas melalui speaker klon tersebut.
"Adrian selalu punya rencana cadangan bagi orang yang mau bermain tuhan," kata Panji. Dia memanfaatkan momentum itu untuk menerjang klonnya.
Kali ini, Panji tidak mencoba memukul. Dia memeluk klon itu dengan erat. Dia membuka seluruh memori traumatisnya, seluruh kesedihannya, seluruh rasa cintanya yang hancur, dan menumpahkannya melalui neuro-link yang masih tersambung di antara mereka.
"Rasakan ini!" jerit Panji.
Klon itu berteriak. Matanya yang biru mulai berkedip liar. Dia mulai melihat gambaran Elena yang menangis, dia merasakan perihnya luka tembak, dia merasakan hancurnya hati saat menyadari bahwa dia hanyalah sebuah alat. Sistem saraf klon yang sempurna itu tidak didesain untuk menanggung beban emosi seberat itu.
Rahim logam cair itu mulai retak. Sosok Elena di dalamnya mulai bergerak. Tapi ada yang salah. Sebelah sayap logamnya hancur akibat serangan satelit Adrian, dan wajahnya tampak terbelah antara cahaya biru dan kulit manusia.
"Aa... tolong aku..." suara Elena terdengar nyata, memekakkan telinga karena keluar dari ribuan frekuensi secara bersamaan.
Panji melepaskan klonnya yang kini sedang meringkuk di tanah, memegangi kepalanya karena overload emosi. Panji berlari menuju rahim Elena yang mulai runtuh.
"Dek Anin! Pegang tanganku!"
Sari dan Bram mencoba memberikan perlindungan, menembaki pasukan anak-anak bermata biru yang mulai merayap mendekat seperti gerombolan serangga.
Elena mengulurkan tangannya dari dalam cairan perak. Saat ujung jari mereka bersentuhan, sebuah ledakan memori kembali terjadi. Panji melihat seluruh rencana Adrian yang sebenarnya. Adrian tidak pernah bermaksud memusnahkan Phoenix. Dia bermaksud mengubah Phoenix menjadi sesuatu yang bisa menyelamatkan manusia dari diri mereka sendiri.
Namun, di tengah momen emosional itu, sebuah bayangan besar menutupi mereka.
Pilar cahaya dari satelit Adrian-01 tiba-tiba berubah warna menjadi merah darah.
"Terima kasih, Panji," suara Thomas kembali menggema, tapi kali ini suaranya terdengar dari langit, dari satelit itu sendiri. "Kamu baru saja memberikan frekuensi emosi terakhir yang dibutuhkan untuk mengaktifkan Protokol Kerangka Tuhan. Adrian memang genius, tapi dia terlalu emosional. Dia meninggalkan pintu belakang di satelit ini yang hanya bisa dibuka dengan rasa sakit yang tulus. Dan kamu baru saja memberikannya."
Satelit Adrian-01 mulai mengeluarkan suara menderu yang sangat keras. Pilar cahaya merah itu kini mengunci posisi Elena dan Panji.
"Apa yang kamu lakukan, Thomas?!" jerit Elena dari dalam rahim.
"Aku tidak butuh bayi-bayi itu lagi. Aku tidak butuh klon itu. Aku hanya butuh kalian berdua sebagai baterai untuk menyalakan ulang seluruh bumi menjadi satu kesadaran tunggal di bawah kendaliku. Selamat tinggal, kemanusiaan."
Pilar cahaya merah itu menyusut, lalu meledak menjadi jaring-jaring energi yang mengikat Elena dan Panji dalam sebuah salib cahaya di tengah landasan pacu Kertajati. Tubuh mereka mulai terangkat ke udara, kulit mereka mulai berubah menjadi kristal bening.
Sari dan Bram mencoba berlari menolong, tapi mereka terhenti saat melihat ke arah cakrawala. Ribuan pesawat tak berawak milik Phoenix mulai muncul dari balik awan, semuanya membawa tabung-tabung berisi cairan perak yang siap dijatuhkan ke seluruh kota.
Panji menatap Elena yang berada di sampingnya, keduanya kini tak berdaya. Namun, di saat-saat terakhir sebelum kesadaran mereka benar-benar menyatu dengan mesin, panji melihat sebuah titik kecil di langit, jauh di atas satelit Adrian-01.
Sebuah objek lain sedang meluncur turun dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi. Dan kali ini, jam tangan Sari menampilkan sebuah pesan video pendek. Video itu menunjukkan seorang pria tua di dalam sebuah kapsul ruang angkasa, tersenyum sambil memegang foto Elena kecil.
"Hai, El. Maaf Ayah terlambat. Tapi Ayah membawa penghapus yang sebenarnya."
Panji tersentak. Pria itu bukan Adrian. Pria itu adalah ayah Elena yang asli, yang selama ini dikira sudah meninggal dalam kecelakaan laboratorium dua puluh tahun lalu. Dan dia baru saja menekan tombol detonasi nuklir di atas atmosfer.
Apakah pengorbanan ayah Elena akan menghancurkan segalanya, termasuk Elena dan Panji? Ataukah ini memang reset yang dibutuhkan dunia?