NovelToon NovelToon
Fragmen Yang Tertinggal

Fragmen Yang Tertinggal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers / Cintapertama / Cinta Murni / Berbaikan / Tamat
Popularitas:345
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

​Di antara debu masa lalu dan dinginnya Jakarta, ada satu bangunan yang paling sulit direnovasi: Hati yang pernah patah.
​Lima tahun lalu, Kaluna Ayunindya melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya: meninggalkan Bara Adhitama—pria yang memujanya—dan cincin janji mereka di atas meja nakas tanpa sepatah kata pun penjelasan. Ia lari ke London, membawa rasa bersalah karena merasa tak pantas bersanding dengan pewaris tunggal Adhitama Group.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Bunga yang Layu di Meja Reservasi

​Lampu indikator telepon di meja kerja Bara berkedip merah tanpa henti, seirama dengan denyut nyeri di kepalanya.

​"Pak Bara! Laporan masuk dari Site Manager di Ubud!" teriak salah satu staf operasional, menerobos masuk tanpa mengetuk. Wajahnya pucat pasi.

​Bara menyambar gagang telepon, mengaktifkan speaker. "Laporan situasi. Cepat."

​"Pak, ini gawat," suara Pak Wayan, manajer proyek di Bali, terdengar panik di sela-sela suara sirine samar. "Setengah jam yang lalu, sekelompok orang tak dikenal—pakai pakaian adat tapi bawa pentungan besi—menyerbu pos keamanan Sektor 3. Mereka membakar pos jaga dan memecahkan kaca dua ekskavator kita."

​Bara menggebrak meja, membuat Zara yang sedang duduk di sofa sambil memeriksa berkas sontak menoleh.

​"Ada korban?" tanya Bara, suaranya bergetar menahan amarah.

​"Dua satpam kita luka ringan, Pak. Sudah dibawa ke klinik. Tapi masalahnya, para pekerja sekarang ketakutan. Mandor mengancam mogok kerja kalau tidak ada jaminan keamanan. Mereka bilang tanah ini 'panas' dan dikutuk."

​"Itu bukan kutukan, itu teror!" geram Bara. "Dengar, Pak Wayan. Saya akan kirim tim keamanan swasta dari Jakarta malam ini juga. Gandakan gaji semua pekerja yang mau tetap tinggal. Bilang pada mereka, Adhitama tidak akan mundur hanya karena digertak preman kampung."

​Bara mematikan sambungan telepon dengan kasar. Napasnya memburu.

​"Elang..." desis Bara. "Dia benar-benar main fisik."

​Zara menutup map di tangannya. Wajahnya yang biasanya santai kini terlihat serius. "Ini taktik klasik sengketa tanah, Bar. Dia mau ciptakan fear factor. Kalau pekerja kabur, proyek mangkrak. Kalau proyek mangkrak, lo kehabisan uang operasional."

​"Gue harus ke sana," Bara berdiri, menyambar jasnya. "Gue harus lihat sendiri."

​"Jangan bodoh," potong Zara tajam. "Kalau lo ke sana sekarang, lo cuma bakal jadi sasaran empuk provokasi. Biar Julian dan tim legal gue yang urus polisi di sana besok pagi. Lo di sini, amankan investor. Kalau Pak Hamengku dengar ada pembakaran aset, dia bisa cabut dukungan."

​Bara terdiam, menatap jendela kaca yang menampilkan langit Jakarta yang mulai jingga. Zara benar. Dia tidak boleh gegabah.

​Julian masuk ke ruangan, membawa tablet. "Bar, media lokal Bali mulai mencium berita ini. Ada headline: 'Resort Mewah Jakarta Picu Konflik Warga'. Kita perlu rilis pers untuk counter narasi ini sekarang juga."

​"Siapkan drafnya, Jul. Kita rapat strategi media sekarang," perintah Bara, kembali duduk dan menggulung lengan kemejanya.

​Dia lupa melihat jam.

Dia lupa melihat kalender.

Dan yang paling fatal, dia lupa melihat notifikasi pesan yang masuk ke ponselnya sejak dua jam lalu.

​Pukul 19.30 WIB. Amuz Gourmet Restaurant, SCBD.

​Suasana restoran Prancis itu temaram, romantis, dan tenang. Alunan musik jazz lembut mengiringi denting gelas kristal dan percakapan lirih pasangan-pasangan yang sedang dimabuk cinta.

​Di salah satu meja sudut terbaik dekat jendela, Kaluna duduk sendirian.

​Malam ini dia tampil memukau. Ia mengenakan gaun sutra midi berwarna maroon—warna yang dulu ia benci tapi kini menjadi warna keberuntungan Adhitama. Rambutnya digelung rapi, menyisakan leher jenjangnya yang dihiasi kalung berlian hadiah kelahiran Luna.

​Di hadapannya, dua set peralatan makan tertata rapi. Sebuah lilin menyala di tengah meja, apinya menari-nari kecil.

​Kaluna melirik ponselnya untuk kesekian kali.

​Kaluna:

Sayang, aku sudah sampai. Jangan ngebut ya. I love you. (Sent 18.00)

​Kaluna:

Kamu masih di jalan? Makanannya aku pending dulu ya keluarnya. (Sent 19.00)

​Kedua pesan itu hanya centang dua abu-abu. Belum dibaca.

​Seorang pelayan pria mendekat dengan sopan. "Maaf, Ibu Adhitama. Apakah Bapak sudah dekat? Chef bertanya apakah appetizer-nya mau disajikan sekarang?"

​Kaluna tersenyum tipis, menyembunyikan rasa malunya. "Sebentar lagi ya, Mas. Suami saya terjebak macet. Jakarta kan biasa begini."

​"Baik, Bu. Saya akan tuangkan air mineralnya lagi."

​Kaluna mengangguk terima kasih. Ia menyesap air dingin itu, mencoba mendinginkan hatinya yang mulai gelisah.

​Ini adalah Ulang Tahun Pernikahan ke-6 mereka.

Enam tahun lalu, mereka menikah di rooftop Hotel Menteng dengan sederhana tapi penuh haru. Bara berjanji, sesibuk apa pun dia, tanggal ini adalah tanggal sakral.

​"Kamu pasti datang, Bar," bisik Kaluna pada dirinya sendiri. "Kamu nggak pernah lupa."

​Tiba-tiba ponselnya bergetar. Kaluna menyambarnya cepat, berharap itu Bara.

​Tapi bukan.

Nama Elang Pradipta muncul di layar.

​Elang:

Saya lihat postingan IG story restoran Amuz. Masakan Prancis malam ini? Pilihan bagus.

Tapi... kok di foto orang lain, di background-nya kamu duduk sendirian?

​Kaluna meremas ponselnya. Elang mengawasinya? Atau kebetulan?

Rasa panas menjalar di wajah Kaluna. Ia merasa diawasi. Ia merasa menyedihkan.

​Kaluna tidak membalas. Ia meletakkan ponselnya terbalik.

​Pukul 20.30 WIB.

​Lilin di meja sudah meleleh separuh. Restoran mulai sepi. Pasangan di meja sebelah yang tadi baru datang, kini sudah selesai makan dessert dan beranjak pergi sambil bergandengan tangan mesra.

​Kaluna masih sendirian.

​Air matanya mendesak keluar, tapi ia menahannya sekuat tenaga. Ia Kaluna Ayunindya. Dia wanita kuat. Dia tidak akan menangis di restoran mahal hanya karena suaminya telat.

​Kaluna memberanikan diri menelepon Bara.

​Tut... Tut... Tut...

​"Nomor yang Anda tuju sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi."

​Direject.

Panggilan itu ditolak.

​Pertahanan Kaluna runtuh. Satu tetes air mata jatuh ke pipinya, merusak foundation sempurnanya.

​Bara tidak lupa. Bara memilih untuk mengabaikannya.

​Kaluna mengangkat tangan, memanggil pelayan.

​"Ibu? Bapak sudah sampai?" tanya pelayan itu penuh harap.

​"Tidak," suara Kaluna bergetar, tapi ia mengangkat dagunya tinggi. "Tolong bungkus semua makanannya. Dan bawakan tagihannya."

​"Ta-tapi Bu, Foie Gras-nya lebih enak dimakan hangat..."

​"Bungkus saja," potong Kaluna tegas. "Suami saya sepertinya lebih suka makan makanan dingin malam ini."

​Pukul 22.00 WIB. Kantor Adhitama.

​"Oke, rilis pers sudah naik. Tim keamanan tambahan sudah berangkat ke bandara," Julian menghempaskan tubuhnya ke kursi, melonggarkan dasinya. "Gila. Hari yang panjang."

​Bara mengusap wajahnya kasar. "Terima kasih, semuanya. Zara, makasih idenya soal celah hukum di izin amdal Elang."

​"Sama-sama. Jangan lupa janji lo soal kursi rapat," sahut Zara sambil menguap, merapikan lipstick-nya. "Gue balik dulu. Butuh tidur di kasur beneran."

​Zara dan Julian keluar ruangan, meninggalkan Bara sendirian dalam keheningan kantor yang mendadak terasa mencekam.

​Adrenalin Bara perlahan surut. Otaknya mulai jernih kembali.

Ia merasa melupakan sesuatu. Sesuatu yang penting.

​Bara mengambil ponselnya yang sejak tadi ia silent dan ia letakkan tertelungkup di meja agar tidak mengganggu rapat.

​Ia menyalakan layar.

​15 Missed Calls from Kaluna.

3 Unread Messages.

​Mata Bara membelalak. Ia membuka pesan terakhir Kaluna.

​Kaluna (21.00):

Happy Anniversary yang ke-6, Bara. Makanannya sudah aku bungkus. Semoga proyek Balimu lebih hangat daripada hatimu malam ini.

​"Sial!" umpat Bara keras.

​Darah di wajahnya surut seketika. Ia melihat tanggal di sudut ponsel.

24 Oktober.

​"Mati aku," desis Bara. Ia menyambar jas dan kunci mobilnya, berlari keluar kantor seperti orang kesetan.

​Ia melupakan hari itu.

Di tengah usahanya menyelamatkan masa depan perusahaan demi keluarganya, ia justru menghancurkan hati pusat keluarganya itu sendiri.

​Pukul 23.00 WIB. Penthouse Adhitama.

​Bara masuk ke dalam apartemen dengan napas tersengal. Lampu ruang tengah sudah padam, hanya lampu dapur yang menyala redup.

​Di atas meja makan marmer yang dingin, tergeletak sebuah paper bag mewah berlogo Amuz. Di sebelahnya, ada sebuah kotak kado kecil berpita biru.

​Bara mendekat dengan langkah berat.

​Ia membuka kotak kado itu.

Isinya sebuah jam tangan smartwatch edisi khusus arsitek—yang bisa mengukur tingkat stres dan kualitas tidur. Ada kartu ucapan kecil di dalamnya.

​Untuk suamiku yang paling sibuk. Tolong jaga kesehatanmu, karena kami masih butuh kamu. Love, Kaluna & Anak-anak.

​Bara meremas kartu itu. Rasa bersalah menghantam dadanya seperti palu godam. Hadiah ini... Kaluna memikirkan kesehatannya, sementara dia bahkan tidak memikirkan perasaan istrinya.

​Bara berjalan pelan menuju kamar tidur utama.

​Pintu tidak dikunci. Ia membukanya hati-hati.

​Di balik selimut, Kaluna tidur memunggunginya. Tubuhnya meringkuk. Suara napasnya teratur, tapi Bara tahu istrinya belum tidur. Ada isak tertahan yang sangat samar.

​Bara duduk di tepi kasur. Ia ingin menyentuh bahu Kaluna, meminta maaf, menjelaskan soal preman dan kebakaran di Bali.

​Tapi tangannya berhenti di udara.

​Apa gunanya penjelasan?

Bagi Kaluna yang menunggu sendirian selama tiga jam di restoran, alasan hanyalah pembenaran.

​Bara menarik tangannya kembali. Ia melepaskan sepatu, lalu berbaring di sisi kosong kasur, memunggungi Kaluna.

​Malam itu, di ranjang King Size yang luas, jarak antara punggung mereka hanya beberapa sentimeter, namun rasanya terbentang samudra yang memisahkan dua benua.

​Di luar jendela, kilat menyambar. Badai di Bali mungkin sedang ditangani, tapi badai di dalam kamar ini baru saja dimulai.

...****************...

Bersambung...

Terima kasih telah membaca📖

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!