Embun Nadhira Putri, 28 tahun, terjebak antara tuntutan pekerjaan dan desakan keluarganya untuk segera menikah. Ketika akhirnya mencoba aplikasi kencan, sebuah kesalahan kecil mengubah arah hidupnya—ia salah menyimpan nomor pria yang ia kenal.
Pesan yang seharusnya untuk orang lain justru terkirim kepada Langit Mahendra Atmaja, pria matang dan dewasa yang tidak pernah ia pikirkan akan ia temui. Yang awalnya salah nomor berubah menjadi percakapan hangat, lalu perlahan menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti.
Di tengah tekanan keluarga terutama sang Mama, rutinitas yang melelahkan, dan rasa takut membuka hati, Embun menemukan seseorang yang hadir tanpa diminta.
Dan Langit menemukan seseorang yang membuatnya ingin tinggal lebih lama.
Terkadang takdir tidak datang mengetuk.
Kadang ia tersesat.
Kadang ia salah alamat.
Dan kali ini…
takdir menemukan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lacataya_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 – Awal Baru
Langit pagi Jakarta masih menyisakan dingin tipis ketika Embun berdiri di depan gedung Atmaja Group, menengadah sejenak sebelum melangkah masuk dengan tas kerja yang ia genggam lebih erat dari biasanya. Gedung itu tetap sama—tinggi, megah, dan terasa asing—namun hari ini ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuat dadanya berdebar bukan karena gugup semata, melainkan karena perasaan seperti sedang berdiri di ambang hidup yang baru.
Tanpa banyak menunda, Embun langsung menuju lift dan menekan tombol lantai sepuluh, tempat ruang Manager HRD berada, mencoba menata napas sambil mengulang-ulang dalam kepalanya kalimat perkenalan yang sudah ia siapkan sejak semalam. Namun begitu pintu lift terbuka dan ia melangkah masuk ke ruang HR, langkahnya langsung tertahan.
Pria yang berdiri di balik meja itu bukan Pak Sofyan. Bukan wajah yang ia temui Jumat kemarin. Bukan suara yang mengajukan pertanyaan dingin itu.
Pria paruh baya dengan rambut sedikit memutih di pelipis menoleh dan tersenyum ramah, senyum yang terlalu tenang untuk seorang pengganti dadakan.
“Selamat pagi,” katanya hangat. “Mbak Embun, ya?”
Embun mengangguk refleks, meski di kepalanya pertanyaan mulai bertumpuk tanpa antrean. 'Kemana Pak Sofyan? Kenapa bukan beliau yang ada di sini? Ada apa sebenarnya?'
“Saya Tomi,” lanjut pria itu sambil mengulurkan tangan. “Manager HRD yang baru.”
Kalimat itu membuat Embun membeku sepersekian detik, cukup lama untuk disadari Pak Tomi, yang lalu tersenyum lebih lebar seolah mengerti kebingungan yang belum sempat diucapkan.
“Kamu bingung, ya?” katanya ringan namun bermakna, “kamu bisa tanya Pak Reno… atau sama Pak Langit sekalian.”
Nama itu jatuh begitu saja, namun efeknya membuat jantung Embun berdetak sedikit lebih cepat dari seharusnya.
“I-iya, Pak,” jawab Embun akhirnya, berusaha tetap profesional meski kepalanya penuh tanda tanya.
Pak Tomi tidak menjelaskan apa pun lagi. Ia hanya mengambil map tipis dan mengisyaratkan Embun untuk mengikutinya menuju lift kembali, kali ini dengan tujuan yang jauh lebih tinggi.
Lantai empat puluh tujuh.
Pintu lift terbuka dengan suara halus, dan Embun langsung disambut suasana yang berbeda dari kantor mana pun yang pernah ia masuki sebelumnya. Tidak ada cubicle. Tidak ada sekat. Yang ada hanyalah meja-meja besar berjajar rapi, dipenuhi komputer dengan konfigurasi yang membuat matanya refleks mengamati—dua monitor dan satu laptop di beberapa meja, satu monitor besar dengan laptop docking di meja lain, kabel tertata rapi seperti sistem saraf yang hidup.
Udara di lantai itu sunyi, bukan karena kosong, melainkan karena fokus.
“Selamat datang di lantai empat puluh tujuh,” ucap Pak Tomi pelan. “Divisi programmer inti.”
Embun mengangguk, jantungnya berdetak lebih cepat saat menyadari satu hal lain, semua orang di ruangan itu tampak… senior. Dan di tengah suasana yang terasa canggung itu, satu suara menyapanya dari samping.
“Hai, Embun. Kita ketemu lagi.”
Embun menoleh dan mendapati Ardan berdiri santai di dekat salah satu meja karyawan yang berada tak jauh darinya, kedua tangannya diselipkan ke saku celana, senyum ramah terukir di wajahnya—sebuah kontras yang cukup mencolok dengan atmosfer ruangan yang sejak tadi dipenuhi ketegangan dan keseriusan.
Ardan merupakan bagian dari tim inti, namun posisinya berada sedikit di luar hirarki harian tim. Ia dipercaya menduduki jabatan CIO—Chief Information Officer—sehingga keterlibatannya tidak berkutat pada pekerjaan teknis rutin. Perannya lebih strategis dan tajam: menguji kelayakan kandidat pegawai baru, melakukan audit menyeluruh terhadap sistem pemrograman, serta memastikan setiap produk digital yang akan dipasarkan benar-benar aman, stabil, dan siap dipertanggungjawabkan.
“Halo, Pak,” jawab Embun sambil mengangguk sopan, merasa sedikit lebih tenang karena ada wajah yang dikenalnya.
Pak Tomi lalu menjelaskan kepada Embun tentang tim inti yang berada di lantai empat puluh tujuh ini, tim yang ternyata bernama The Hive—Tim TH—sebuah tim kecil berisi tujuh belas orang, termasuk dirinya, yang bertugas mengembangkan antivirus dan sistem keamanan inti Atmaja Group. Embun mencatat cepat dalam pikirannya: ia yang termuda, dua perempuan termasuk dirinya, dan lima belas pria lain dengan usia rata-rata di atas tiga puluh tahun, aura mereka tenang, tajam, dan jelas tidak mudah terkesan.
Begitu Pak Tomi selesai memperkenalkan secara umum, ia tidak langsung mempersilakan Embun duduk. Ia justru menepuk tangan pelan—bukan untuk menarik perhatian, melainkan sekadar memberi tanda halus.
“Teman-teman,” ujarnya dengan suara tenang, “ini Embun. Mulai hari ini bergabung dengan The Hive.”
Tidak ada tepuk tangan meriah. Tidak ada sorak. Namun satu per satu kepala terangkat dari layar.
Beberapa pasang mata menoleh, menilai tanpa menghakimi, seperti kebiasaan orang-orang yang terbiasa membaca log dan pola sebelum menarik kesimpulan. Lalu—nyaris bersamaan—terjadi sesuatu yang membuat Embun sedikit terkejut.
Seorang pria berkacamata dengan hoodie abu-abu mengangguk kecil ke arahnya.
Pria lain yang duduk di ujung meja mengangkat tangan sebentar, bukan melambaikan, hanya isyarat singkat. Dari sudut ruangan, terdengar suara datar tapi ramah, “Welcome to The Hive.”
“Kalau butuh apa-apa soal environment, tanya gue,” sambung yang lain tanpa menoleh dari monitornya, jari-jarinya tetap bergerak di keyboard.
“Dokumentasi internal ada di drive utama,” kata suara berbeda lagi, kali ini sambil sedikit memutar kursi.
“Dan… jangan sungkan,” tambah seorang perempuan yang duduk beberapa meja dari Embun, tersenyum kecil, “kami jarang ngobrol, tapi bukan berarti gak peduli.”
Kalimat itu membuat Embun tersenyum tanpa sadar. Hangat. Tidak ribut. Tidak mengintimidasi. Rasanya seperti masuk ke keluarga yang tidak banyak bicara, tapi selalu memastikan kursi kosong di meja makan.
Embun mengangguk sopan ke arah mereka semua. “Terima kasih… saya senang bisa bergabung. Dan mohon kerja samanya”
Tidak ada balasan panjang. Hanya beberapa anggukan kecil. Senyum tipis. Dan satu kalimat pendek yang terasa paling jujur.
“Kerja santai aja. Fokus.”
Pak Tomi menoleh ke Embun, menangkap perubahan halus di wajahnya, lalu menunjuk ke arah meja di tengah ruangan yang sudah disiapkan rapi.
“Ini meja kamu,” katanya. “Posisi tengah. Biar gampang koordinasi.”
Baru setelah itu Embun melangkah ke sana dan duduk, meletakkan tas perlahan, menyentuh permukaan meja dengan ujung jari, sambil menarik napas pelan—napas seseorang yang akhirnya merasa tidak sendirian di tempat asing.
Beberapa menit setelah perkenalan selesai dan tim kembali tenggelam dalam layar masing-masing, suasana kembali sunyi, hanya diisi bunyi halus keyboard dan kipas pendingin komputer. Embun mencoba menyesuaikan diri, membuka laptop, menata posisi duduk—hingga tanpa sengaja ia mengangkat kepala.
**
Langit melangkah keluar dari lift dengan langkah yang tenang dan terukur, jasnya masih tersampir rapi, ekspresinya netral seperti biasa, namun begitu matanya terangkat, pandangannya sempat tertahan sepersekian detik pada satu titik di tengah ruangan.
Embun.
Ia sedang duduk tegak di mejanya, kedua monitor menyala, baris-baris kode sudah mulai memenuhi salah satu layar, sementara layar lain menampilkan dokumentasi sistem internal. Rambutnya terikat rapi, bahunya sedikit condong ke depan—postur seseorang yang sudah mulai tenggelam dalam fokus.
Tatapan mereka bertemu.
Hanya sebentar. Cukup singkat untuk terlihat profesional. Cukup lama untuk terasa personal.
Langit tidak berhenti. Ia hanya mengangguk kecil—nyaris tak terlihat—lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangan kaca di sudut lantai itu, ruangan dengan satu meja, dua monitor, dan satu kursi yang sejak tadi kosong.
Reno mengikuti dari belakang, membuka tablet begitu pintu ruang kerja Langit tertutup.
“Pak,” ujarnya dengan suara rendah namun jelas, “laporan ke kepolisian sudah kami serahkan semalam, dan pagi ini saya dapat konfirmasi—Pak Sofyan sudah diamankan.”
Langit mengangguk pelan, tangannya melepas jas dan menggantungkannya di sandaran kursi, lalu berdiri menghadap kaca yang membatasi ruangannya dengan area kerja The Hive.
“Prosesnya?” tanyanya singkat.
“Masuk tahap pemeriksaan awal,” jawab Reno cepat. “Indikasi pelanggaran administrasi dan pidana berjalan paralel.”
Langit menyimak, namun matanya—tanpa ia sadari—melirik keluar ruangan, menangkap kembali sosok Embun yang kini tengah mengetik dengan ritme mantap, jarinya bergerak cepat namun terkontrol, sesekali berhenti untuk membaca, lalu melanjutkan dengan keputusan yang tampak yakin.
“Baik,” kata Langit akhirnya, suaranya tetap datar. “Pastikan semua dokumen pendukung lengkap.”
“Siap, Pak,” jawab Reno sambil mencatat, lalu ikut menoleh sekilas ke arah luar ruangan, mengikuti arah pandang Langit. “Tim TH kelihatannya langsung menerima dia.”
Langit tidak langsung menjawab. Ia hanya memperhatikan lebih lama, memperhatikan cara Embun tidak canggung bertanya pada senior di sebelahnya, cara ia mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa memotong, lalu kembali ke layar dengan pemahaman yang terlihat jelas dari ekspresi kecil di wajahnya.
“Dia cepat menyesuaikan,” gumam Langit pelan, lebih seperti catatan untuk dirinya sendiri.
Di luar ruangan kaca itu, Embun mulai menyadari sesuatu.
Tidak ada yang mondar-mandir tanpa tujuan. Tidak ada yang membuka media sosial diam-diam.
Tidak ada obrolan basa-basi yang mengulur waktu.
Di lantai empat puluh tujuh itu, semua orang tenggelam. Bukan tenggelam dalam kesibukan palsu, melainkan dalam alur kerja yang nyata—kode ditulis, diuji, dibaca ulang, diperbaiki, lalu diuji lagi, seperti denyut jantung yang konsisten dan teratur.
Embun menggeser kursinya sedikit, memperhatikan sekeliling dengan sudut matanya, lalu kembali ke layar, menyadari bahwa ritme di tempat ini menuntut lebih dari sekadar pintar—ia menuntut kehadiran penuh.
**
Darren (salah satu senior di tim TH) tidak sedang sengaja memperhatikan Embun. Ia hanya terbiasa membaca pola—dan pola baru selalu menarik perhatiannya, bahkan ketika ia tidak berniat mencari.
Dari balik dua monitornya, Darren melihat Embun duduk dengan posisi yang rapi namun tidak kaku, bahunya sedikit condong ke depan, jarinya bergerak cepat tapi tidak tergesa, seperti seseorang yang tidak sedang mencoba terlihat pintar, melainkan sedang benar-benar bekerja. Tidak ada gestur panik. Tidak ada jeda ragu yang panjang. Setiap kali ia berhenti mengetik, itu bukan karena bingung, melainkan karena sedang berpikir.
Menarik.
Beberapa menit kemudian, Darren menyadari satu hal lain yang membuat alisnya terangkat tipis. Embun tidak langsung menyentuh repository utama.
Ia membuka direktori lokal terlebih dahulu, menjalankan satu script kecil—nyaris tak terlihat—lalu membuka dashboard yang tidak tercantum di onboarding umum The Hive. Darren mengenali pola itu. Bukan tool bawaan. Bukan pula template perusahaan.
“Itu… custom,” gumamnya dalam hati.
Darren memperlambat gerakan jarinya sendiri, berpura-pura fokus pada kodenya, sambil diam-diam mengamati layar Embun lewat pantulan kaca monitor. Di sana, ia melihat struktur aplikasi ringan yang bekerja di background, melakukan pemantauan anomali lalu lintas data, bukan dengan cara agresif, melainkan dengan pola pencegahan halus—seperti penjaga yang berdiri di ambang pintu tanpa perlu menutupnya.
Embun menanamkannya dengan tenang. Tanpa pengumuman. Tanpa minta izin. Bukan karena sembrono—melainkan karena ia tahu persis apa yang ia pasang.
Darren berdehem kecil, lalu memutar kursinya sedikit. “Kamu pasang layer proteksi tambahan?”
Embun menoleh, tampak sedikit terkejut, lalu mengangguk jujur. “Iya. Mas, Preventif. Aku biasa pasang ini di environment baru.”
“Bukan tool internal,” sambung Darren, nadanya netral, bukan menghakimi.
Embun tersenyum kecil. “Bukan. Aku bikin sendiri. Lightweight. Gak ganggu sistem utama. Kalau gak kepake, bisa dicabut kapan aja.”
Darren mengangguk pelan, lalu kembali ke layarnya tanpa komentar lanjutan. Namun di dalam kepalanya, satu kesimpulan sudah terbentuk dengan rapi.
She’s not reckless. She’s prepared.
Di balik kaca ruangannya, Langit berdiri tanpa suara, menyaksikan interaksi singkat itu dengan perhatian penuh yang tidak ia sembunyikan dari dirinya sendiri. Ia melihat Darren—programmer senior yang jarang berbicara—memilih untuk bertanya, bukan menegur, dan ia melihat Embun menjawab dengan tenang tanpa defensif, tanpa kebutuhan untuk membuktikan apa pun.
Ada kekaguman di sana. Dan ada penyangkalan juga.
Langit menyilangkan tangan, menahan diri agar tidak terlalu lama menatap, seolah dengan begitu ia bisa menjaga jarak yang mulai terasa rapuh. Ia mengingat lagi semua yang telah dibereskan demi lantai ini, demi sistem ini, dan demi satu orang yang bahkan belum tahu apa yang telah terjadi.
Fokus, katanya lagi pada dirinya sendiri.
Namun fokus itu mulai terasa berbeda.
Beberapa saat kemudian, notifikasi kecil muncul di kanal internal The Hive—bukan alarm, melainkan laporan ringan: anomali kecil terdeteksi di gateway simulasi, nyaris tak signifikan, tapi cukup untuk menguji respons sistem.
Darren melihat Embun mengangkat kepala, membaca laporan itu, lalu—tanpa diminta—bergerak.
Ia tidak mengambil alih. Ia tidak mengubah struktur.
Embun hanya membuka jendela kecil, menyesuaikan parameter di aplikasi buatannya, lalu menjalankan uji singkat. Tidak sampai dua menit, notifikasi itu mereda, berubah status menjadi resolved.
“Siapa yang sentuh gateway?” tanya salah satu anggota tim dari ujung meja.
Embun mengangkat tangan sedikit, ragu tapi jujur. “Aku. Tapi cuma simulasi ringan. Aku balikin ke kondisi awal.”
Tidak ada yang marah. Tidak ada yang menyela.
Darren menatap layar log, membaca cepat, lalu mengangguk kecil. “Clean. Gak ada residu.”
Seseorang yang lain menimpali, datar tapi penuh makna, “Good call.”
Itu saja. Namun bagi The Hive, kalimat itu bukan basa-basi. Itu pengakuan.
Langit menutup matanya sejenak, lalu membukanya kembali, dadanya terasa hangat dengan cara yang tidak ia rencanakan. Di depan matanya, sistem bekerja. Tim bekerja. Dan Embun—tanpa perlu diperkenalkan ulang—sudah menjadi bagian dari ritme itu.
Tidak ada pengumuman resmi. Tidak ada briefing panjang. Di The Hive, ujian selalu datang dengan cara paling tenang.
Darren mengirimkan satu pesan singkat ke kanal internal, nada bahasanya datar seperti biasa, namun isinya cukup untuk membuat siapa pun yang baru masuk berhenti bernapas sepersekian detik.
Darren : “Embun, bisa cek modul anomaly detection di gateway simulasi? Ada latency kecil sejak update terakhir.”
Embun membaca pesan itu dengan saksama, tidak langsung menjawab, melainkan membuka log, membaca histori perubahan, lalu membandingkannya dengan konfigurasi awal yang ia pelajari beberapa menit lalu. Ia tahu, ini bukan sekadar soal menemukan bug—ini soal cara berpikir, cara menyentuh sistem yang bukan miliknya, dan cara tidak meninggalkan jejak berantakan.
“Aku cek,” balasnya singkat, lalu mulai bekerja.
Ia tidak mengubah struktur besar. Ia tidak menyentuh core.
Embun hanya menelusuri satu jalur kecil, mengikuti aliran data seperti mengikuti aliran sungai, sampai ia menemukan satu simpul yang terlalu sering melakukan retry—bukan karena error besar, melainkan karena asumsi kecil yang luput dari perhatian.
“Found it,” gumamnya pelan.
Ia menulis ulang satu fungsi kecil, mengubah cara sistem membaca threshold anomali, lalu menjalankan simulasi ulang dengan beban yang sama. Grafik yang tadinya bergerigi kini melandai, latency turun tanpa harus mematikan apa pun.
Embun berhenti sejenak, membaca ulang hasilnya, lalu baru menekan enter terakhir.
Resolved.
Darren memperhatikan hasilnya dari mejanya tanpa berkata apa-apa, membaca log satu per satu, memastikan tidak ada efek samping. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia mengetik satu kalimat pendek yang terasa lebih berat dari pidato panjang.
“Clean fix. Nice.”
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada pujian berlebihan. Namun di The Hive, itu artinya satu hal: she belongs here.
**
tbc
apalgi pas critanya dgantung setinggi harapan readernya.. byuhh sensasinya... wkwkwkkkkk,..
tp jgn lambat2 bgt jg yg Thor biar smkin byk yg baca krn kebanyakn reader baru suka alur cerita yg sat set.. cemungutttt author... 💪❤