Tragedi menimpa Kenanga, dia yang akan ikut suaminya ke kota setelah menikah, justru mengalami kejadian mengerikan.
Kenanga mengalami pelecehan yang di lakukan tujuh orang di sebuah air terjun kampung yang bernama kampung Dara.
Setelah di lecehkan, dia di buang begitu saja ke dalam air terjun dalam keadaan sekarat bersama suaminya yang juga di tusuk di tempat itu, hingga sosoknya terus muncul untuk menuntut balas kepada para pelaku di kampung itu.
Mampukah sosok Kenanga membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengganggu baru
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Kenanga Safitri dengan maskawin yang tersebut di bayar tunai"
Tangan Sigit gemetar saat dia menjabat tangan wali hakim yang ada di kantor urusan agama yang ada di kampung Curug, semua itu di lakukan secara mendadak karena tiba tiba saja ada orang yang datang menanyakan tentang Sigit dan Kenanga ke rumah Bintang.
Orang itu adalah orang yang tidak suka dengan Bintang, dia yang tahu ada tamu di rumah Bintang langsung meminta para tetua kampung untuk menanyakan hubungan Sigit dan Kenanga, untungnya sebelum mereka ketahuan, Kasman datang untuk memberikan KTP baru milik Sigit dan Kenanga dan mengatakan kalau keduanya sedang mengurus buku nikah.
"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu
"Sah" jawab Bintang, Dimas dan teman temannya.
"Alhamdulillah"
"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri, kalian bisa menanyakan apapun yang kalian tidak tahu tentang hak dan kewajiban suami dan istri pada kami, kalau ada masalah dalam rumah tangga sebaiknya jangan sampah keluar dari rumah, selama bisa di selesaikan di dalam rumah, selesaikan" ungkap penghulu yang menikahkan Sigit dan Kenanga.
"In sya Allah pak Dani, kami akan selalu menjaga komunikasi kami" jawab Sigit
"Semoga pernikahan kalian sakinah mawadah warahmah" ucap Dani
"Aamiin ya rabbal aalamiin"
"Harusnya lusa kita menikah, tapi Alhamdulillah aku sudah menyiapkan maskawin kemarin saat aku ikut Om Bintang"
Sigit memakaikan kalung emas seberat tiga puluh gram dan menyerahkan uang tunai sebesar tiga puluh tiga juta rupiah, uang hasil peternakan yang di pegang oleh Sigit selama bekerja pada ayahnya, Sigit tadinya ingin memberikan lebih, tapi pernikahan itu terjadi secara mendadak dan uang yang ada di dalam tabungannya tidak bisa di ambil dalam jumlah yang besar di kampung itu, jadilah dia memberikan apa yang bisa dia ambil dan Kenanga ikhlas menerima itu.
"Dulu kalung Dirga yang melingkar di leherku, tapi kalung itu terlepas sama seperti cintanya padamu, tapi aku akan jamin kalau kalung ini akan melingkar di lehermu selamanya Kenanga, sama seperti cintaku yang akan selamanya tertuju padamu" ungkap Sigit mengecup kening Kenanga yang menitikkan air mata haru atas ungkapan cinta Sigit.
"Terima kasih mas, Kenanga akan menjaga kalung ini, sama seperti Kenanga menjaga hidup Kenanga sendiri" jawab Kenanga
"Hiks... So sweet sekali ya mas, padahal mereka baru beberapa hari di sini tapi sudah ada yang mengusik kehidupan mereka" ungkap Silvia
"Iya, aku tidak tahu siapa yang sudah membuat fitnah itu, tapi hikmahnya sekarang adalah mereka punya hubungan yang sah" jawab Bintang
"Mereka pasti orang yang tidak pada kita, orang orang yang mencibir hubungan Dimas dan Kania selama setahun ini" bisik Silvia
"Apa buku nikahnya sudah bisa di bawa pak?" tanya Dimas
"Karena nak Sigit sudah mengurusnya sejak tiga hari yang lalu, jadi buku nikahnya sudah jadi dan tinggal di tanda tangani saja" jawab Dani
"Alhamdulillah, terima kasih sudah membantu kami pak" ungkap Bintang
"Sama sama pak, ini memang sudah jadi tugas saya" jawab Dani
Setelah selesai melakukan ijab kabul, Bintang langsung pulang bersama keluarganya, Galuh yang ada di rumah Bintang segera menyambut besannya itu karena dia di minta untuk menjaga Kania selama Bintang dan Dimas pergi.
"Saat kalian pergi tadi, pak Endang ke sini untuk ijin ke kampung istrinya, katanya ada acara keluarga" ungkap Galuh
"Oh, memang kemarin beliau bilang mau ijin, Bintang tidak tahu kalau ijinnya secepat ini" ucap Bintang
"Dia terlihat mencurigakan" ucap Galuh
"Maksud kak Galuh?" tanya Bintang
"Entahlah, tapi dia bicara dengan gugup dan sempat menanyakan Sigit dan istrinya, aku bilang kalian sedang melihat rumah Kenanga" jawab Galuh
"Iya mas, pak Endang juga minta foto kak Sigit, aku bilang saja kalau aku tidak punya karena jarang ngobrol dengan kak Sigit" ucap Kania
"Ko aku juga jadi curiga" ucap Bintang
"Apa perlu aku kirim orang untuk mengikuti dia?" tanya Galuh
"Sebaiknya iya kak" jawab Bintang
"Di mana kampung istrinya pak Endang?" tanya Sigit
"Kampung duku" jawab Bintang
"Kampung itu di dekat kampung Dara, mungkin pak Endang mau mencari tahu tentang saya Om" ungkap Sigit membuat semua orang saling pandang.
"Bagaimana ini mas? Kalau iya, apa kita akan kabur lagi?" tanya Kenanga
"Kita sudah dewasa Kenanga, lagipula sekarang kita sudah menikah, mereka tidak akan bisa membawa kamu lagi" jawab Sigit.
"Sigit benar, kamu tidak akan pergi dari sini karena sekarang kalian adalah warga kampung Curug, bukan kampung Dara" ucap Dimas
~~
"Kasihan kak Kenanga, padahal baru juga mau bahagia malah mau ketahuan" ucap Argadana
"Iya, padahal aku senang punya pemandangan baru di bengkel papa" jawab Anggadana
Kedua anak Sahara itu sedang duduk di teras panggung rumah Kenanga yang di seberangnya langsung menghadap ke arah danau tempat kerajaan leled samak, dan di sekeliling tempat itu adalah kerajaan Gandradana.
"Tapi ngomong ngomong soal kak Kenanga, kenapa dulu neneknya punya rumah di sini? Depan sama kan taman tempat orang pacaran dan danau tempat Om leled samak, belum lagi kerajaan ayahanda ada di tempat ini juga" ucap Argadana
"Neneknya kan katanya punya ilmu putih, mungkin dulu neneknya punya kesaktian dan mampu untuk tinggal di sini" jawab Anggadana
"Begitu ya..."
Mereka kembali memakan kue nastar yang ada di dalam toples yang mereka ambil di rumah Bintang, sengaja mereka bawa ke sana dengan alasan untuk mengisi rumah Kenanga. Memang benar di isi, tapi di isi dengan toples kosong karena isinya habis oleh mereka berdua.
"Hhhrrr..."
"Apa itu?" tanya Argadana
"Ada suara mengeram, mungkin monyet" jawab Anggadana
"Monyet mana ada di sini, mereka takut dengan ayahanda" ucap Argadana
"Hhrr...."
"Nah tuh ada lagi, apa itu harimau" gumam Argadana
"Itu lebih tidak mungkin lagi, pasti semua orang akan dia makan kalau ada harimau di sini" gerutu Anggadana.
Tes. Tes.
Tiba tiba tetesan darah muncul di lantai kayu tempat mereka duduk, mereka langsung mendongak dan mendapati sosok kuyang yang di serang Kenanga muncul di sana.
"Kutang!"
plak.
"Kuyang!" gemas Argadana menggeplak kepala Anggadana
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Argadana
"Aku ingin perempuan yang tinggal di sini, dia punya tubuh yang bagus, aku ingin dia jadi wadahku yang berikutnya" jawabnya dengan suara serak
"Oh.. Jadi selama ini kamu mengincar pemilik rumah ini, jangan harap kamu bisa mendapatkan dia, dia terlalu bagus untuk kamu yang sudah peot itu" Sinai Anggadana
"Pergi atau akan aku buat tubuh kamu hancur tanpa tersentuh" ucap Anggadana
"Aku tidak mau, kuntilanak itu sudah membuat aku tidak bisa kembali ke tubuh lamaku karena tubuhnya sudah di rusak" jawabnya
aq suka suasana di kampung Dimas, selalu kompak mereka, apalagi klo ada Sahara mesti ketawa aq, lucu bin somplak sih🤣