Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.
Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.
Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.
Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.
Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang Kedua
#10
“Ibu harus bisa tenang, dan tarik nafas dalam-dalam,” kata Dokter yang menangani Ayu saat ini.
Ayu pun menarik nafas, mengikuti apa yang dokter katakan. Sesaat lalu, dadanya terasa sesak karena terlalu lama memendam amarahnya, jadi tanpa pikir panjang, Ayu meluapkan apa yang ada di pikirannya, rasanya terlalu sakit mendengar Anjani yang terang-terangan memutar balikkan fakta.
“Sudah tenang?” tanya sang dokter.
“Sudah lebih baik, Dok, terima kasih,” ucap Ayu,mencoba duduk sambil bersandar.
“Tadi itu kenapa, ya, Dok?” sambung Ayu.
“Kontraksi, Bu.”
“Berarti sebentar lagi, Bu?” tanya Ayu penasaran.
Dokter menggeleng lembut, “Belum, Bu. Hanya kontraksi ringan, bukan tanda utama persalinan, mungkin karena sesaat lalu, Ibu menahan emosi dan amarah.”
Ayu terdiam, “Bagaimana saya tidak marah, Dok. Wanita itu lidahnya sungguh berbisa seperti ular, nyatanya yang dia ucapkan hanya berisi racun yang siap mematikan hati nurani siapa saja. Memutar balikkan fakta dengan mudah, padahal dia sendiri pelakunya.”
Dokter mendengarkan keluhan Ayu dengan seksama, ia mengusap punggung tangan Ayu secara perlahan, berharap bisa memberikan respon ketenangan, serta semangat, tanpa perlu berucap.
Sementara itu, di luar ruangan pemeriksaan. “Maaf, Bu. Kami tak bisa memberi izin.” Dengan suara tegas tapi pelan, Opsir Yuni melarang siapapun masuk ke ruangan Ayu yang sedang dijaga 2 petugas lainnya.
“Saya— ingin memastikan kakak ipar saya dan kandungannya baik-baik saja, Bu. Sejak ditahan saya tak tahu bagaimana kabarnya,” mohon Karmila dengan wajah mengiba, ia juga seorang ibu, rasanya pasti berat dan penuh tekanan ketika harus menjalaninya di balik jeruji tahanan.
“Saya mengerti apa yang Anda rasakan, tapi kami harus taat pada peraturan, kalau Anda ingin menjenguk Bu Ayu. Silahkan saja langsung ke lapas.”
“Ayo kita pulang, Mila. Ibu ini benar,” tutur Ismail.
“Tapi, Bang—” kata Karmila sambil menahan isakan tangisnya.
“Besok pagi, Abang janji akan mengantarmu ke lapas. Sekarang, kita pulang, Kasihan Firza, pasti sudah haus dan lapar.”
Dengan langkah berat, Karmila pun pergi bersama Ismail, beberapa kali ia menoleh, berharap pintu ruang pemeriksaan Ayu terbuka hingga ia bisa melihat sejenak keberadaan kakak iparnya.
Sayangnya, keesokan harinya, putra Karmila dan Ismail tiba-tiba demam, jadi keduanya urung mendatangi lapas. Dan baru bisa berjumpa lagi, di sidang yang digelar 2 hari berikutnya.
Kali ini Ayu yang berkesempatan duduk di kursi saksi.
Wajah wanita itu pucat, lelah, dan ketakutan, usianya baru 20 tahun dan Lembayung sudah dicekal ketakutan, serta tatapan mematikan dari banyak pihak yang ingin mengetahui kebenaran.
“Saudara Ayu, sudah berapa lama mengenal almarhum suami Anda?” tanya Pak Gunawan, mengawali pertanyaannya.
“Kenal secara baik, sih, tidak Pak. Tapi saya hanya tahu, pria itu bernama Restu.”
“Lalu, bagaimana kalian bisa menikah?”
“Bapak mertua yang menginginkan pernikahan kami.”
“Jadi pernikahan Anda adalah buah dari perjodohan?”
“Benar.”
“Keberatan, Pak Hakim, pertanyaan saudara pengacara terlalu bertele-tele,” interupsi Pak Rudi sang jaksa.
“Diterima,” sahut Pak Hakim. “Saudara pengacara, silahkan lanjutkan ke pokok permasalahan.”
Pak Gunawan mengangguk, kemudian kembali melanjutkan pertanyaannya pada Ayu.
“Lalu, sejauh mana Anda tahu hubungan almarhum dengan mantan kekasihnya, yaitu saudari Anjani?”
“Saya tidak tahu bagaimana hubungan mereka sebelum kami menikah, tapi setelah menikah, saya menerima bagaimanapun keadaan suami saya terlepas dari bagaimana masa lalunya bersama mantan kekasihnya.”
“Tapi malam itu Anda marah, apa alasannya?” sambung Pak Gunawan.
“Yang pertama karena saya melihat semakin lama kelakuan suami saya semakin jauh dari sifat seorang pemimpin yang layak untuk saya jadikan panutan. Dia sering berkelit jika saya bertanya, lama-kelamaan saya merasa di bohongi oleh beliau.”
“Putraku bukan pembohong!” jerit Bu Halimah tak terima. Suasana sidang seketika riuh, para tetangga yang hadir, buru-buru menenangkan Bu Halimah, termasuk Rasti dan Ismail yang kali ini ikut hadir tanpa Karmila.
“Ibu mertua saya mengatakan almarhum membelikan saya perhiasan senilai 50 juta, tapi jangankan perhiasan, uang nafkah sehari-hari saja masih kurang. Hingga almarhum meminta makanan ke rumah ibu mertua, hal yang selama ini pantang saya lakukan selama menjadi menantu,” ayu mengusap air matanya.
“Jadi itu penyebabnya?”
“Bukan hanya itu, tapi karena beberapa kali suami saya pulang dalam keadaan mabuk,” imbuh Ayu.
“Beberapa kali?” ulang Pak Gunawan.
“Tepatnya dua kali, tapi kali kedua benar-benar membuat saya meledak marah atas pengkhianatan mereka.”
“Malam itu mereka mengakui bahwa hubungan mereka sudah lebih dari sekedar kekasih, lebih daripada itu, mereka sudah berbuat layaknya suami dan istri hingga Anjani hamil.”
Anjani mulai tersulut emosi, merasa posisinya tersudut bila Ayu terus mengoceh, “Saya tidak hamil! Saya bahkan bersedia diperiksa demi membuktikan kebohongan kamu, Ayu! Jangan memutar balikkan fakta, ya! Bilang saja kalau kamu cemburu karena aku lebih dicintai suami kamu, kan?!”
Tok!
Tok!
Tok!
Pak Hakim kembali mengetuk palu, untuk mengakhiri keriuhan para peserta yang hadir di ruang sidang.
“Sungguh, Pak. Bahkan wanita itu bilang menginginkan kalung milik saya, katanya sedang ngidam,” kata Ayu emosional, lupa pesan dokter bahwa ia harus tetap tenang, agar bayinya tak merasakan emosi dan rasa marah yang sedang ia rasakan.
Tak bisa berjalan mendekat, Ayu hanya bisa berteriak dari balik pagar pembatas yang ada di ruang sidang.
Wanita itu mengepalkan tangan marah, ia menatap wajah wanita yang telah menjungkir balikkan kehidupannya saat ini. Berharap suatu hari nanti ia bisa membalas perbuatan Anjani, serta membersihkan nama baiknya yang terlanjur buruk di mata masyarakat.
Ayu berbalik dan kembali menatap Hakim. “Pak Hakim yang mulia, wanita itu mengatakan bahwa anak dalam kandungannya bahwa dia menginginkan kalung saya. Bahkan mengancam ingin bunuh diri dengan pisau bila tak mendapatkan kalung itu, Bang Restu hanya menghalanginya berbuat nekat—”
Kalimat Ayu terhenti karena Anjani memotong kata-katanya. Sementara Bu Halimah semakin syok dengan apa yang baru saja ia dengar, wanita itu semakin kehilangan respek pada menantunya, karena telah tega membuka aib rumah tangganya.
“Kalung? Kalung apa, hah?! Aku lebih dari mampu membeli kalung dengan pekerjaan saya selama ini, buat apa aku menginginkan kalung kau!” kata Anjani jumawa membanggakan pekerjaannya di bar.
Tok!
Tok!
Tok!
Karena suasana semakin memanas, Hakim kembali mengetuk palu.
“Sidang ditunda, dan dilanjutkan dua hari kedepan!” pungkas Pak Hakim yang merasa suasana sidang semakin tidak kondusif.
“Pak Hakim! Saya belum selesai bicara, Pak! Pak!” jerit Ayu, namun sia-sia karena Hakim sudah meninggalkan ruangan sidang.
Ayu menangis, meraung ketika tak ada yang mau mendengarkan jeritan suaranya, padahal suaranya nyaris habis.
Jika dianalogikan, Ayu seperti tersesat di antara tebing-tebing yang menjulang, suaranya memantul keras, meminta pertolongan, tapi tak ada seorangpun yang mau mendengarkan permintaannya.
###
Note.
Othor paling pusing jika membuat narasi di ruang sidang, karena tak pernah melihat secara langsung bagaimana berjalannya sebuah sidang.
Jadi untuk kurang dan lebihnya, othor mohon maaf, ya. Ini hanya sidang fiktif, ala negeri halu wakanda. Jadi sudah pasti melenceng jauh dari yang sebenarnya 🙏🤓😜
Hari ini 1 bab dulu, ya. InsyaAllah besok 2 bab lagi, karena nulis cerita ini benar-benar memerlukan proses berpikir yang lebih menguras emosi 🤧😭
trims kak thor
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah