NovelToon NovelToon
Istriku, Bidadari Yang Ku Ingkari

Istriku, Bidadari Yang Ku Ingkari

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Kriminal dan Bidadari / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ricca Rosmalinda26

Alya, gadis sederhana dan salehah yang dijodohkan dengan Arga, lelaki kaya raya, arogan, dan tak mengenal Tuhan.
Pernikahan mereka bukan karena cinta, tapi karena perjanjian bisnis dua keluarga besar.

Bagi Arga, wanita berhijab seperti Alya hanyalah simbol kaku yang menjemukan.
Namun bagi Alya, suaminya adalah ladang ujian, tempatnya belajar sabar, ikhlas, dan tawakal.

Hingga satu hari, ketika kesabaran Alya mulai retak, Arga justru merasakan kehilangan yang tak pernah ia pahami.
Dalam perjalanan panjang penuh luka dan doa, dua hati yang bertolak belakang itu akhirnya belajar satu hal:
bahwa cinta sejati lahir bukan dari kata manis… tapi dari iman yang bertahan di tengah ujian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senja di Dua Rumah

Siang yang terik ketika mobil mewah berwarna abu metalik berhenti di halaman rumah besar bergaya kolonial di kawasan Menteng. Dinda membuka pintu mobilnya dengan gerakan cepat. Tumit sepatunya beradu dengan lantai marmer halaman, suaranya terdengar tajam seperti hatinya sore itu.

Ia menahan napas panjang, lalu masuk ke dalam rumah tanpa menyapa siapa pun. Begitu pintu tertutup, suasana hening berubah menjadi sunyi yang menekan. Hanya derap langkahnya yang terdengar ketika ia menuruni tangga menuju ruang keluarga.

“Kamu ini…”

Suara lembut tapi berwibawa terdengar dari sofa panjang di ruang tengah. “Baru juga pulang, wajah udah menekuk begitu. Ada apa, Din?”

Dinda berhenti di anak tangga terakhir. Mamanya, Bu Marisa, sedang duduk santai sambil membaca majalah. Wanita paruh baya itu masih tampak anggun dengan balutan daster sutra berwarna ungu muda dan rambut yang tersanggul rapi.

“Nggak apa-apa, Ma.” Suara Dinda berat, datar, tapi jelas tidak meyakinkan.

“‘Nggak apa-apa’ tapi muka kamu udah kayak mendung sore hari.”

Dinda menghela napas, lalu meletakkan tas tangannya di meja. Ia duduk di sofa berseberangan dengan ibunya. “Aku cuma… kesel aja.”

Bu Marisa menutup majalahnya, menatap putrinya dengan pandangan lembut tapi tajam. “Kesel sama siapa?”

Butuh waktu beberapa detik sebelum Dinda menjawab. Matanya menatap lantai marmer, suaranya kecil tapi penuh emosi.

“Sama Arga, Ma.”

Nama itu membuat Bu Marisa menegakkan tubuhnya sedikit. “Arga Maheswara? Bukannya kamu udah lama putus sama dia?”

Dinda tertawa kecut. “ Aku nggak pernah ngerasa bener-bener selesai sama dia, Ma. Aku cuma pergi waktu itu karena aku harus ke luar negeri. Aku pikir dia akan nunggu. Tapi begitu aku pulang, dia malah udah nikah sama… perempuan itu.”

“Perempuan itu?” tanya Bu Marisa, menaikkan satu alis.

“Alya,” jawab Dinda pelan tapi tegas. “Perempuan berhijab yang katanya lulusan pesantren. Dia yang jadi istrinya sekarang.”

Nada bicaranya mengeras di akhir kalimat. “Dan tadi siang aku liat sendiri di kantor. Arga… berubah.”

“Berubah gimana?”

“Dia nggak kayak dulu, Ma. Dulu dia dingin, keras kepala, tapi gampang aku kendalikan. Sekarang dia tenang… tapi jauh. Bahkan waktu aku ngomong pun dia nggak benar-benar dengar. Seolah… seolah aku cuma bayangan masa lalu.”

Dinda menggigit bibir bawahnya, matanya memerah.

“Dia dulu janji, Ma. Dia yang janji bakal nunggu aku balik. Tapi sekarang… dia bahkan nggak mau lihat aku lebih dari sekadar rekan kerja.”

Bu Marisa terdiam sejenak, menatap wajah putrinya yang mulai menahan air mata. “Sayang,” katanya lembut, “kadang orang berubah bukan karena mereka ingin melupakan, tapi karena mereka menemukan sesuatu yang membuat mereka ingin jadi lebih baik.”

“Jadi Mama berpihak ke dia?”

“Tidak. Mama hanya bilang, mungkin Arga menemukan kedamaian yang tidak dia temukan waktu sama kamu.”

Dinda menatap ibunya tak percaya. “Mama pikir aku nggak bisa kasih dia itu? Aku yang nemenin dia waktu Maheswara Grup hampir bangkrut, waktu dia stres sama proyeknya, waktu semua orang ninggalin dia. Aku yang tahu semua sisi Arga, Ma! Bukan perempuan itu!”

Tangannya mengepal di pangkuan.

“Dia cuma… gadis polos yang datang di waktu yang salah.”

Bu Marisa menatap putrinya lama. “Mungkin justru itu yang Arga butuh, Dinda. Bukan seseorang yang bisa menyainginya, tapi seseorang yang bisa membuatnya tenang. Lagian kamu juga yang ninggalin Arga waktu dia kehilangan banyak hal. ”

Dinda bangkit berdiri, matanya tajam. “Aku nggak akan tinggal diam, Ma. Aku akan dapetin dia lagi. Aku yakin, Arga cuma lagi lupa siapa yang dia cintai sebenarnya.”

Bu Marisa hanya menghela napas. Ia mengenal betul ambisi putrinya, jika Dinda menginginkan sesuatu, ia akan kejar, bahkan jika itu berarti melawan arah takdir.

“Dinda…” panggilnya lembut. Tapi gadis itu sudah lebih dulu berjalan menuju tangga.

“Doakan aja, Ma,” katanya tanpa menoleh. “Aku nggak akan kalah dari perempuan itu.”

Pintu kamar di lantai dua tertutup keras, meninggalkan gema yang samar di rumah besar itu.

"Mama gak merestui kamu jadi pelakor ya, Dinda." Ucap Bu Marisa.

---

Sementara itu, di rumah keluarga Maheswara, sore hari terasa damai. Udara hangat berhembus lembut, membawa aroma melati dari taman belakang. Di sana, Bu Retno duduk santai di bangku taman, mengenakan daster hijau tua dan kerudung segi empat sederhana. Di sebelahnya, Mbok Dharmi, wanita tua yang setia mengurus keluarga Maheswara sejak Arga kecil sedang mengupas buah mangga muda.

Burung-burung kecil beterbangan di pepohonan, sementara suara gemericik air dari kolam ikan menambah kesan tenteram sore itu.

“Mbok…” panggil Bu Retno pelan. “Mbok kan baru balik dari rumah Arga, ya? Gimana keadaan mereka? Apa masih kayak dulu?”

Mbok Dharmi berhenti sejenak, tersenyum samar. “Kalau dulu yang Ibu maksud waktu pertama mereka nikah, ya, memang beda, Bu.”

“Beda gimana maksudnya?”

“Waktu awal-awal, Tuan Arga itu masih sering pulang larut malam. Kadang juga bau alkohol, matanya merah. Saya sampe kasian liat Non Alya, nunggu di ruang tamu tapi nggak pernah marah.”

Bu Retno menghela napas panjang, wajahnya menampakkan kesedihan yang lama. “Aku sudah khawatir itu, Mbok. Anak itu keras kepala. Kukira dia akan berubah setelah menikah, tapi…”

“Tapi ternyata berubah beneran, Bu.”

Suara Mbok Dharmi lembut tapi yakin. “Lambat laun, Tuan Arga mulai beda. Sekarang dia pulang tepat waktu. Nggak pernah lagi pulang pagi atau mabuk. Malah kemarin malam sebelum saya ke sini, saya liat mereka berdua keluar rumah bareng.”

“Keluar bareng?” tanya Bu Retno, matanya membulat.

“Iya, Bu. Katanya mau dinner. Tuan Arga yang ngajak, loh. Saya sampe kaget. Biasanya cuma liat Non Alya sendirian di rumah, nyiapin makanan atau baca Qur’an di ruang tengah.”

Bu Retno terdiam sejenak. Senyum kecil muncul di wajahnya yang berkerut halus. “Syukurlah…” katanya lirih. “Akhirnya anak itu nemu arah juga.”

“Iya, Bu. Non Alya itu sabar banget. Orangnya lembut, nggak pernah bantah, tapi hatinya kuat. Saya yakin itu yang bikin Tuan Arga berubah.”

Bu Retno menatap langit sore yang mulai keemasan. “Dulu aku takut pernikahan mereka cuma formalitas. Tapi kalau benar seperti yang kamu bilang, aku bersyukur. Aku cuma pengen Arga punya rumah yang tenang. Bukan rumah yang penuh suara bentakan seperti dulu.”

Mbok Dharmi tertawa kecil. “Sekarang malah kebalik, Bu. Rumahnya adem. Kalau Tuan Arga pulang, langsung nyari Non Alya. Saya liat sendiri caranya mandang istri sekarang beda banget.”

Bu Retno ikut tertawa pelan, matanya berbinar. “Mbok yakin mereka baik-baik aja?”

“Yakin, Bu. InsyaAllah. Saya rasa rumah tangga mereka bakal kuat. Non Alya bukan cuma istri yang baik, tapi juga guru buat Tuan Arga. Tanpa nguliahi, tanpa mengatur, tapi bisa bikin Tuan Arga sadar sendiri.”

Bu Retno menggenggam tangan Mbok Dharmi lembut. “Makasih, Mbok. Mbok bikin aku tenang. Aku pengen besok ke rumah Arga, tapi kayaknya nggak usah dulu. Biar mereka nikmatin masa-masa berdua.”

“Betul, Bu. Lagi manis-manisnya itu,” ujar Mbok Dharmi sambil tertawa kecil.

“Ah, mbok ada-ada aja,” balas Bu Retno sambil tersenyum malu-malu. Tapi senyum itu tulus, hangat, senyum seorang ibu yang akhirnya melihat buah hatinya menemukan arah pulang.

Angin sore berhembus lembut, menggoyangkan dedaunan. Dari jauh, matahari mulai turun, menebar cahaya oranye di langit barat.

Di dua rumah yang berbeda, dua perempuan, Dinda dan Alya, sama-sama menjadi pusat dari perubahan besar dalam hidup Arga Maheswara.

Yang satu mencoba menahannya dalam masa lalu,

yang lain mengajaknya menatap masa depan.

1
Ma Em
Semoga Alya dan Arga selalu bahagia semakin cinta dan dijauhkan dari pelakor seperti si Dinda .
Ma Em
Dinda sdh nyerah saja kamu tdk akan bisa menang melawan Alya dia itu istri yg Solehah dan sangat penyabar Arga tdk akan berpaling lagi .
Ma Em
Dasar pelakor sdh tdk diajak malah maksa .
Ma Em
Bima iri tuh Arga dapetin istri yg Solehah seperti Alya .
Ma Em
Arga jgn sampai kamu tergoda lagi dgn Dinda kalau tdk ingin menyesal biarkan masa lalu jgn di ingat lagi dan lbh fokus pada istrimu Alya , karena tdk ada kesempatan dua kali kalau Alya dikecewakan pasti Alya akan pergi meninggalkan mu
Ma Em
Semoga Alya selalu bahagia bersama Arga walau akan ada ulat bulu yg akan nempel pada Arga semoga tdk akan mengganggu hubungan Arga dgn Alya serta langgeng pernikahan nya .
Rosvita Sari Sari
alya mah ngomong ceramah ngomong ceramah, malah bikin emosi
aku aja klo ngomong diceramahi emosi apalagi modelan arga 🤣🤣
Randa kencana
ceritanya sangat menarik
Ma Em
Dengan kesabaran Alya dan keteguhan hatinya akhirnya Arga sadar dgn segala tingkah perlakuannya yg selalu kasar pada Alya seorang istri yg sangat baik berhati malaikat
Ma Em
Semoga Alya bisa meluluhkan hati Arga yg keras menjadi lembut dan rumah tangganya sakinah mawadah warohmah serta dipenuhi dgn kebahagiaan 🤲🤲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!