Seorang putri Adipati menikahi putra mahkota melalui dekrit pernikahan, namun kebahagiaan yang diharapkan berubah menjadi luka dan pengkhianatan. Rahasia demi rahasia terungkap, membuatnya mempertanyakan siapa yang bisa dipercaya. Di tengah kekacauan, ia mengambil langkah berani dengan meminta dekrit perceraian untuk membebaskan diri dari takdir yang mengikatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Tiba-tiba, sebuah suara yang dingin dan menusuk memecah keheningan. "Benar yang dikatakan oleh Ayahku, Putri," ujar seorang wanita yang baru muncul dengan langkah anggun namun tegas. Sosoknya tinggi semampai, dengan wajah cantik yang dingin dan mata tajam yang mengamati sekeliling. "Jangan membuat pengorbananku untuk kehidupan yang kau inginkan, menjadi sia-sia."
Suara Cheng Xiao yang tiba-tiba itu membuat semua orang terkejut, terutama Su Jing Ying. "Xiaoxiao..." panggil Su Jing Ying dengan suara bergetar, matanya sudah berkaca-kaca, melihat Cheng Xiao yang sudah lama tidak ia jumpai. Wajahnya yang dulu ceria dan penuh senyum kini tampak dingin dan tanpa ekspresi, seolah menyimpan luka yang mendalam.
"Waktu tidak bisa diulang, aku menyesalinya," ujar Cheng Xiao dengan nada datar, seolah tidak ada emosi yang tersisa dalam dirinya. "Dan kuharap, di masa depan kita tidak akan pernah bertemu lagi." Kata-kata itu bagaikan pisau yang menghunus jantung Su Jing Ying, memutus hubungan baik yang pernah terjalin di antara mereka.
"Xiaoxiao, maafkan aku," ujar Su Jing Ying dengan suara lirih, air mata mulai membasahi pipinya. "Aku benar-benar selalu merasa bersalah, aku tidak bisa hidup tenang jika kau belum memaafkanku."
Cheng Xiao mendengus sinis, bibirnya tertarik membentuk seringai yang pahit. "Maka hiduplah dalam bayang-bayang penyesalan itu," ujarnya dengan nada dingin dan tanpa ampun. Setelah mengucapkan kata-kata itu, Cheng Xiao berbalik tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkan Su Jing Ying yang terpaku di tempatnya, tak percaya dengan ucapan Cheng Xiao.
'Sakit hati membuat wanita itu benar-benar berubah kejam,' pikir Su Jing Ying dalam hati, menatap punggung Cheng Xiao yang menjauh. Ia tahu bahwa ia telah menyakiti Cheng Xiao dengan sangat dalam, dan ia tidak yakin apakah ia akan pernah bisa mendapatkan maafnya.
Cheng Xiao memejamkan matanya erat, napasnya terasa memburu saat melihat Su Jing Ying. Kilasan masa lalu seolah terbayang lagi dalam ingatannya, menghidupkan kembali luka lama yang belum sembuh.
Adipati Cheng, dengan sigap, memegangi tangan putrinya yang hampir terjatuh akibat emosi yang meluap-luap. "Ayah, mengapa dulu aku sangat bodoh," gumam Cheng Xiao lirih, suaranya bergetar menahan tangis. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Ayah," ucap Cheng Xiao dengan suara bergetar, air mata mulai membasahi pipinya. "Dulu, aku sudah merelakan Wang Yuwen untuknya. Aku pikir, kebahagiaan Yuwen adalah yang utama. Tapi ternyata, yang dia inginkan bukanlah Yuwen, melainkan Wang Jian. Apakah keputusanku memaksa Wang Yuwen menikahi aku, adalah sebuah kesalahan besar?"
Cheng Xiao menunduk, menatap tangannya yang gemetar. "Aku hanya tidak ingin dia kecewa, Ayah. Aku tidak ingin melihatnya terluka karena cintanya yang tak terbalas," lanjutnya dengan nada lirih, seolah menyalahkan diri sendiri.
Adipati Cheng terdiam, hatinya perih melihat putrinya hancur di hadapannya. Dia tahu betul betapa besar cinta Cheng Xiao pada Wang Yuwen, bahkan rela mengorbankan kebahagiaannya sendiri. "Kau hanya terlalu mencintainya, Xiao'er. Kau terlalu fokus pada kebahagiaannya, hingga lupa memikirkan dirimu sendiri," ujar Adipati Cheng dengan lembut, berusaha menenangkan putrinya.
'Pada kenyataannya, kau mengorbankan dirimu sendiri, dengan cinta yang tak pernah terbalas itu. Kau menanggung beban yang seharusnya tidak kau pikul,' gumam Adipati Cheng dalam hati, merasa bersalah karena tidak bisa melindungi putrinya dari rasa sakit ini.
"Sekarang, semuanya sudah berlalu. Kau sudah memutuskan untuk melepaskannya, dan jika kau benar-benar ingin melihatnya bahagia, maka lepaskan dia sepenuhnya. Jangan ada lagi ikatan yang menahannya," ujar Adipati Cheng dengan nada tegas namun lembut, menatap putrinya dengan penuh pengertian.
"Aku tidak pernah menggenggamnya, Ayah. Dia sudah lama bebas, bahkan dari tanggung jawabnya sebagai suamiku," jawab Cheng Xiao dengan suara datar, namun tersirat nada getir di dalamnya. Ada luka yang masih menganga di hatinya.
Cheng Xiao lalu berjalan pergi menuju Paviliunnya, langkahnya gontai dan tatapannya kosong. Wanita itu merasa sangat lelah saat ini, bukan hanya fisik, tapi juga mentalnya. Dia benar-benar ingin melupakan semua masalah yang membelitnya, namun seolah-olah masa lalu tidak ingin melepaskannya begitu saja.
Sesampainya di dalam kamarnya, Cheng Xiao melihat Lian'er tengah menemani Cheng Xiao Lin, bayi kecil yang tak berdosa. Melihat bayi itu, tiba-tiba kepala Cheng Xiao terasa berputar, dadanya terasa sesak dan sulit bernapas. Kenangan pahit kembali menyeruak, menghantuinya tanpa ampun. "Lian'er, bawa dia pergi dari sini," ujar Cheng Xiao dengan suara dingin dan tanpa ekspresi.
Mendengar perintah Cheng Xiao yang tiba-tiba, Lian'er tentu saja terkejut. Dia tahu betul betapa Cheng Xiao menyayangi putranya itu. "Baik, Nona," jawab Lian'er dengan ragu, namun dia tidak berani menolak perintah majikannya. Dengan hati-hati, wanita itu menggendong Cheng Xiao Lin pergi dari kamar Cheng Xiao, meninggalkan wanita itu seorang diri dengan kesedihannya.
Setelah Lian'er pergi, Cheng Xiao menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar, pikirannya berkecamuk dengan berbagai macam emosi. Penyesalan, kesedihan, kemarahan, dan kebingungan bercampur menjadi satu, membuatnya semakin terpuruk dalam keputusasaan.
Tiba-tiba, air mata kembali membanjiri pipinya. Cheng Xiao terisak tanpa suara, membiarkan air mata itu mengalir deras membasahi bantalnya. Dia merasa begitu lemah dan tak berdaya, seolah-olah seluruh bebannya terlalu berat untuk dipikul sendiri.
Tepat sebulan lamanya Wang Yuwen meninggalkan istana untuk menumpas pemberontak di wilayah selatan. Kini, di hari yang cerah ini, ia kembali. Senyum tak pernah luntur dari wajah sang putra mahkota, membayangkan pertemuannya kembali dengan sang istri, Cheng Xiao. Debu jalanan menempel di baju zirahnya, saksi bisu perjuangannya.
"Zhang Tian, apakah kau sudah menyiapkan hadiah untuk Cheng Xiao?" tanya Wang Yuwen, suaranya tak sabar, saat mereka menaiki kereta kuda untuk perjalanan pulang ke istana. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, membawa aroma bunga dari taman-taman yang mereka lewati.
"Sudah, Yang Mulia," jawab Zhang Tian, dengan nada hormat.
"Ah, iya. Setibanya nanti, aku ingin semua bunga di Istana Phoenix diganti dengan bunga lili," ujar Wang Yuwen, matanya berbinar membayangkan kejutan untuk Cheng Xiao.
Wang Yuwen bertekad untuk memulai lembaran baru dengan Cheng Xiao. Ia tak ingin lagi bersikap egois dan mengabaikan wanita yang telah lama mencintainya. Ia ingin menebus semua kesalahannya dan memberikan kebahagiaan yang pantas untuk Cheng Xiao. Kereta kuda itu melaju semakin cepat, seolah ikut merasakan kerinduan Wang Yuwen pada istrinya.
memberikan mahkota yg sangat berharga istrinya kepada orang lain, baru bilang cinta 🤦♀️😤
semangat up nya 💪
semangat up lagi 💪💪💪
Semangat thor 💪