Padmini, mahasiswi kedokteran – dipaksa menikah oleh sang Bibi, di hadapan raga tak bernyawa kedua orang tuanya, dengan dalih amanah terakhir sebelum ayah dan ibunya meninggal dunia.
Banyak kejanggalan yang hinggap dihati Padmini, tapi demi menghargai orang tuanya, ia setuju menikah dengan pria berprofesi sebagai Mantri di puskesmas. Dia pun terpaksa melepaskan cintanya pergi begitu saja.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Benarkah orang tua Padmini memberikan amanah demikian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 : Mirna
“Selamat datang di hunian yang kalian ciptakan untukku, Mirna.” Padmini berdiri tepat di tepi sungai berjarak dekat dengan tempat sosok yang dulu dianggap teman.
Pikiran Mirna tercerai-berai, dia kesulitan menyusun kata apalagi meluncurkannya. Suaranya tersangkut di kerongkongan “Kau belum mati?”
“Saat ini belum, lain waktu tak tahu. Yang pasti sebelum ajal itu tiba merenggut nyawaku – kalian para manusia durjana harus mati, Mati!” Kakinya masuk ke dalam air, lalu melangkah tenang seperti hewan predator.
Mirna meronta-ronta berusaha keras menggerakkan tubuhnya yang terasa seperti diikat dan ditahan sesuatu sangat berat.
“Aku bisa jelaskan, Padmi. Diriku dipaksa oleh Rinda dan Sundari! Kalau tak menuruti bakalan dijauhi dan dimusuhi,” ia mengiba.
Padmini tidak menggubris, dia naik ke atas batu dari sisi berlawanan dengan posisi Mirna. Sangat mudah tubuhnya sudah berdiri di sana, berjarak dua meter dengan gadis munafik dan manipulatif.
“Kau harus percaya padaku, Padmi! Sedari awal yang memiliki niat tak baik, merencanakan skenario penjebakan, sampai membayar tujuh orang pemuda agar menyebarkan fitnah, ya mereka. Aku terpaksa ikut, sungguh!” Kakinya mundur sampai menyentuh tepi batu.
Dengusan terdengar kasar. Padmini menyeringai angkuh, memandang hina. “Harga dirimu terlalu murah, disumpal lembaran uang dua puluh ribu langsung bungkam! Diberi tumpukan pakaian baru bergegas mengiyakan semua kata mereka. Kau bilang dipaksa, lantas busana pesta yang kau kenakan dengn membusungkan dada pertanda bangga ini bukankah telah menunjukkan dimana dirimu berada?”
Tenggorokan Mirna tercekat, air sungai yang dia minum tadi seakan berubah menjadi duri Ikan menusuk kerongkongannya. “Aku hanya ingin terlihat cantik di depan mata kang Sarman, apa itu salah?”
Suara tawa muak seperti memantul. Membuat Mirna mengusap-usap lengannya.
“Dasarnya jelek, mau dipermak bagaimanapun tetap saja buruk. Ditambah hatimu pun menghitam penuh rasa iri dengki. Kau paket lengkap sosok manusia tidak tahu diri, tak tahu malu, dan gatal!” sedikitpun dia enggan memberi celah bagi Mirna mengelak mencari alasan.
“Mulutmu terlalu jahat, Padmi. Tanpa hati menghina fisikku, aku _ akhh!” Bibirnya menggigit lidah sampai terasa asin dan masam. Wajahnya tertoleh ke kiri kala pipi kanan ditampar.
Dia terbelalak, tadi matanya tidak berkedip mengapa seolah tidak melihat gerakan cepat Padmini.
Mirna menyentuh bekas tamparan di pipi. Netranya bergerak liar tapi dia tetap ingin selamat dari sini dengan menjadi seorang penjilat.
“Padmini, kita sudah berteman sedari kecil. Dulu pun aku sering membantumu meminta izin agar diperbolehkan mandi di sungai oleh orang tuamu. Seharusnya kau mempertimbangkan, beri aku kesempatan menjelaskan fakta _ ARGHH!!”
Pekikan itu disertai bunyi berdebam. Keseimbangan Mirna oleng ketika pipi kanannya ditinju sekuat-kuatnya. Dia tersungkur, kening menghantam batu. Susah payah berusaha duduk, sekujur tubuh seperti disetrum.
“Pad mi ….” air matanya bercucuran, rasa takut kian bertambah. Jemarinya gemetaran meraba mulut yang tidak lagi berbentuk sama. Darah keluar dari gusi dan sela-sela gigi, meluncur membasahi dagu.
Tulang rahang bagian bawah Mirna patah, mulutnya miring ke kiri.
Padmini masih berdiri angkuh dengan sorot mata keji menatap gadis menyedihkan.
Bau amis tapi manis bagi makhluk tak kasat mata membangkitkan Iblis peminum darah bersemayam di dalam gua.
Suara seperti air mendidih membuat Mirna menoleh. Tak jauh dari tempatnya terkapar, air menyembur seperti kejatuhan sesuatu dari atas.
Kabut tampak kian tebal, semilir angin terasa lebih dingin. Mirna menahan kesakitan luar biasa, darah masih terus menetes walaupun mulutnya telah ditutup telapak tangan.
Padmini menekuk sebelah kaki kanan, kepalanya menunduk.
Keempat Tuyul yang baru saja tiba ditepi sungai langsung bersimpuh.
Nyanyian burung serta Jangkrik mengerik seketika terhenti.
Mirna menahan napas saat wujud wanita berkaki busuk dimakan Belatung berdiri lalu membungkuk disamping Padmini.
Dapat dirasakan olehnya, hawa disana lebih horor dari sebelumnya. Matanya tak berkedip sewaktu melihat rambut panjang terurai mengambang di permukaan air sungai. Berenang ke arahnya yang duduk dekat tepi batu.
'Padmini tolong aku! Padmi aku takut!’ batinnya berteriak, tubuh kaku dan netra tidak mau terpejam.
Kuku jari hitam setajam mata pisau naik keatas batu, kepala berambut nan panjang menyembul menampakkan wajah retak seperti garis halilintar.
Grrwrrr!
Kaki Mirna ditarik, rambutnya dijambak sampai kepala terseret dan sebagian menggantung di tepian. Tidak, ti_dak!”
Jeritan tidak jelas itu dibalas dengan taring menancap pada pelipis sampai terdengar sesuatu meretakkan tulang.
Mirna kejang-kejang, rasa sakit tak tertahankan nyaris membuatnya tak sadarkan diri sampai napas menjadi pendek-pendek.
Sang Iblis telah menyantap sesaji tumbal kedua dari Padmini. Sosoknya kembali menyelam dan menghilang.
Padmini berdiri, dan yang lainnya pun melakukan hal sama.
“Rukmi, aku tak mau dia mati kehabisan darah. Cara itu sangat cepat, dan diri ini tidak menyukainya. Tolong lakukan sesuatu!”
Tanpa mengangguk ataupun menolak – Rukmi melakukan sesuatu seperti sihir, kabut tebal mengelilingi sosok Mirna.
“Biarkan dulu dia di sana! Beri waktu bagi tubuhnya mengembalikan tenaga,” tuturnya tenang.
Padmini tersenyum puas, lalu menoleh ke empat Tuyul berwajah murung. “Jaga sumber makanan kalian! Kalau dia siuman, bergegaslah menyusu sepuasnya! Jangan sampai membuatnya mati, kalau sekadar sekarat tak mengapa, paham?!”
“Mengerti!” seruan mereka bergema, kembali bergembira dan menuruti titah tanpa sedikitpun terlihat raut enggan.
‘Kau harus merasakan apa itu namanya putus asa sampai nekat bunuh diri. Sama seperti yang kulakukan sewaktu kekasihmu hendak melakukan hal menjijikan Mirna!’
***
“Kita ini bertetangga, seharusnya saling tolong menolong! Aku pun tak meminta bantuan gratis tapi membayar pakai uang!” Sumi meradang, para tetangganya tidak mau membantu membersihkan kotoran yang baunya berkali-kali lipat menyengat.
“Maaf ya bu Sumi. Kali ini kami angkat tangan!” Kedua tangannya terangkat tinggi-tinggi tanda menyerah. “Sudah cukup kami semalam mabok tai, ditambah dikejar Kuntilanak sampai beberapa warga terkilir, badan meriang bahkan puskesmas sesak dengan orang berobat. Tobat kami, tobat betul! Nggak lagi-lagi lah. Layar tancap pun ditayangkan, tak bakal aku nonton!”
Lainnya pun ikut menolak. “Capek fisik, lelah hati, sekarat mental – kurang dikit lagi langsung gila kami. Ini saja sudah setengah tak waras! Kapok aku udahan!”
Sumi berbalik kembali ke hunian yang dibanggakan sekarang jadi lautan tinja. Bertumpuk-tumpuk dimana saja bahkan batang pohon tahunan terlihat berwarna gelap.
“Setan betul memang!” Kedua tangannya mengepal. Hidungnya sampai lecet dikarenakan dijepit menggunakan jepitan baju.
“Bagaimana, Mak? Mereka mau tidak membantu?” Sundari menatap sang ibu dengan ekspresi berharap. Dia sendiri sudah mandi dan terlihat segar – membersihkan diri di rumah ibu mertua. Tak peduli kala dilarang oleh kakak iparnya.
“Tak ada yang mau membantu. Uang kita pun tidak laku!”
“Lantas macam mana dengan semua ini?!” Dia menunjuk kain-kain tenda yang sebagian koyak dan berwarna coklat kehitaman. Belum lagi karpet pelaminan, dekorasi pesta lainnya.
Tanah dipenuhi oleh tumpukan yang mulai dikerubungi Lalat hijau.
“Bang! Abang! Urus semua ini! Cari orang sana!” Sumi meneriaki suaminya. Belum juga terkatup bibirnya, terdengar teriakan membahana.
“Ada orang mati disungai! Mengambang!”
.
.
Bersambung.
ngeri ngeri sedap 😁😁😁
thorr
sdh sembuh
apa masih sakit
di bawa ke dokter Korea aja thor.biar ganteng kembali sperti dlu
angkat 1 1
blm cukup sampai di situ bambangg
itu baru pembalasan Padmini
yg buat kang Adi mana padmi
ayok rapel sekalian hutang nya Bambang sdh banyak itu
bentar kita jait pakai benang knor yaa tapi jadi beda letak, ...
sabar bentar lagi kau jadi makhluk paling unik dan tiada dua nya....
pulang dari "KLINIK PADMINI" kau masih punya nafas hanya saja semua akan aneh dan raib keangkuhanmu ...
rasa percaya diri lenyap ...dan rupamu layaknya gelandangan compang camping ,dengan tangan kerinting gagal bonding