"Jadi kamu melangsungkan pernikahan di belakangku? Saat aku masih berada di kota lain karena urusan pekerjaan?"
"Teganya kamu mengambil keputusan sepihak!" ucap seorang wanita yang saat ini berada di depan aula, sembari melihat kekasih hatinya yang telah melangsungkan pernikahan dengan wanita lain. Bahkan dia berbicara sembari menggertakkan gigi, karena menahan amarah yang menyelimuti pikirannya saat ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi1208, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Pagi itu alarm berbunyi nyaring di sisi ranjang. Arya mengerjap pelan, matanya masih berat, kepalanya terasa sedikit pusing karena tidur yang tidak terlalu nyenyak. Tangannya meraba ke arah ponsel di atas nakas, mematikan alarm sebelum bunyinya semakin mengganggu.
Baru saja Arya hendak menyibakkan selimut dan bangun, sebuah kehangatan tiba-tiba menyergap dari belakang. Sepasang tangan melingkar di perutnya, memeluk dengan santai. Tubuh Arya menegang seketika.
“Cium kening dulu sebelum bangun,” ucap Mery dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur. Suaranya lembut, malas, tapi mengandung nada yang tidak bisa dianggap bercanda sepenuhnya.
Arya menghembuskan nafas kasar. Ia menatap langit-langit kamar, seolah mencari kesabaran yang tercecer entah di mana. “Apa harus seperti itu?” tanyanya, datar tapi jelas menunjukkan kecanggungan.
Mery mendekatkan wajahnya ke punggung Arya, dagunya hampir menyentuh bahunya. “Kalau kamu tidak mau,” katanya santai.
“Biar aku saja yang melakukan. Aku ahli kalau disuruh mencium area yang lain.”
Arya refleks menoleh. Wajahnya dan wajah Mery kini berjarak sangat dekat. Rambut Mery sedikit berantakan, matanya masih setengah terpejam, tapi senyum tipis di bibirnya tampak terlalu sadar untuk ukuran orang yang baru bangun tidur. Ada kilat nakal di sana, yang entah sejak kapan semakin sering ia perlihatkan.
Arya mematung sesaat. Detak jantungnya terasa tidak wajar, terlalu keras untuk pagi yang seharusnya tenang. Ia menelan ludah, lalu tanpa berkata apa pun, mendekatkan wajahnya dan mencium kening Mery dengan singkat, nyaris sekedar menyentuh kulit.
Namun reaksi Mery bertolak belakang dengan sikap Arya yang kaku. Senyumnya melebar, matanya terpejam sempurna seolah menikmati momen itu lebih dari yang ia akui. “Gitu dong,” ucapnya puas.
“Suami istri itu harus saling terus memberikan sentuhan lembut, biar hubungannya bisa awet.”
Arya menarik wajahnya menjauh, kembali berbaring telentang. Ia tidak menjawab. Ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Kalimat Mery terngiang di kepalanya, terasa sederhana tapi anehnya menekan.
Mery menggeliatkan tubuhnya, meregangkan tangan ke atas kepala, lalu memutar bahu dan lehernya perlahan. “Aduh, pegal,” gumamnya, seolah semua yang barusan terjadi adalah hal paling biasa di dunia.
Kemudian, tanpa memberi Arya waktu untuk memproses lebih jauh, Mery bangkit duduk. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Arya dan… dengan gerakan cepat, Mary mencium pipi Arya. Bukan kecupan singkat yang ragu, tapi sentuhan ringan yang penuh percaya diri.
“Nanti kesiangan,” katanya ringan.
Sebelum Arya sempat bereaksi, Mery sudah turun dari ranjang. Ia melangkah ke lemari, mengambil handuk, lalu berjalan menuju kamar mandi. Suara pintu kamar mandi tertutup menyisakan Arya sendirian di atas ranjang, dengan pikiran yang berantakan dan dada yang terasa hangat tapi aneh.
Arya menatap kosong ke arah pintu kamar mandi. Ia mengangkat tangannya, menyentuh pipinya sendiri, seolah ingin memastikan bahwa apa yang barusan terjadi bukan sekadar ilusi pagi. “Apa-apaan dia…” gumamnya pelan.
“Selalu saja meninggalkanku saat aku masih mencoba mencerna kejadian,” keluh Arya.
Dari balik pintu kamar mandi, terdengar suara air mulai mengalir. Bunyi itu menegaskan bahwa Mery benar-benar sudah melanjutkan harinya, meninggalkan Arya dengan keterkejutannya sendiri.
Beberapa menit kemudian, Arya akhirnya bangkit. Gerakannya lambat, pikirannya masih dipenuhi bayangan senyum Mery dan caranya berbicara, seolah kontrak pernikahan mereka memberi ruang bagi semua sentuhan itu. Ia turun ke lantai satu dan masuk ke kamar mandi tamu, mencoba menenangkan diri dengan air dingin, meski pikirannya tetap saja melayang.
Sementara itu, Mery berdiri di bawah pancuran, membiarkan air hangat mengalir di kepalanya. Ia tersenyum kecil, tanpa suara. Hukuman itu, pikirnya, mungkin bukan sekadar hukuman. Ada kepuasan tersendiri melihat Arya kebingungan, tertekan, tapi tetap menuruti.
***
Di meja makan, beberapa waktu kemudian. Mery sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ia menyiapkan sarapan sederhana dan bersenandung pelan. Arya turun dengan wajah yang masih sulit dibaca.
“Kopi?” tanya Mery santai, seolah pagi mereka tidak diwarnai kejadian yang mengguncang mental Arya.
Arya hanya mengangguk.
Beberapa saat kemudian ketika Mery menyodorkan cangkir kopi, jari mereka sempat bersentuhan. Singkat, tapi cukup membuat Arya menegakkan tubuhnya. Mery berpura-pura tidak menyadarinya, tapi sudut bibirnya terangkat tipis.
Arya menyeruput kopi seraya memainkan ponsel. “Tiba-tiba saja kopi buatannya terasa pas setelah diberi ciuman,” batin Arya yang merasa kopi pagi itu benar-benar sesuai dengan seleranya.
“Apa kamu sudah sembuh?” tanya Arya tiba-tiba.
Mery menoleh, dia mengurungkan niatnya untuk menggigit roti isi telor yang diraciknya sendiri. “Aku tidak sakit,” ucapnya.
“Biasanya kamu amnesia kalau berurusan dengan dapur. Lupa kasih gula lah, gula salah dengan garam lah, roti gosong lah, dan masih banyak lagi,” gerutu Arya.
“Oh, jadi selama ini kamu sebenarnya sedang menahan semua unek-unekmu itu,” ucap Mery yang mulai mengambil roti baru, hendak meracikkan sandwich juga untuk suaminya.
Arya pun salah tingkah. “Bukan seperti itu, aku hanya berbicara fakta saja,” ucap Arya akhirnya.
“Nih, segera makan. Biar gak terlambat,” ucap Mery mencoba mengalihkan pembicaraan, sembari menyodorkan sandwich buatannya.
“Apa ini tidak beracun?” Arya terlihat khawatir.
“Hais… ck.” Mery hanya memberikan lirikan tajam saja pada Arya.
Arya pun segera menerima sandwich tersebut dan mulai memakannya. “Ini rasanya juga enak,” gumam Arya dengan suara lirih, tapi suara itu masih bisa didengar oleh Mery, hanya saja dia memilih untuk diam dan mengulas senyum dalam hati.
Pagi itu, di dalam rumah tidak ada obrolan yang berarti saat sarapan, karena mereka harus segera bergegas. Di luar rumah, pagi juga berjalan seperti biasa. Namun bagi Arya, hari itu dimulai dengan satu kesadaran baru. Kontrak yang ia anggap aman dan tanpa emosi, perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya, karena melibatkan perasaan, sentuhan, dan kebiasaan yang semakin sulit diabaikan.
***
Di kantor, langkah Arya terdengar tergesa menyusuri lorong menuju ruangan Gavin. Wajahnya terlihat serius, seolah ada banyak hal yang mengendap di kepalanya sejak pagi. Tanpa pikir panjang, Arya langsung mendorong pintu ruangan itu.
Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Gavin yang duduk bersebelahan di sofa dengan Mery. Sesekali Mery menunjuk layar laptop dan Gavin mengangguk, juga sesekali menimpali dengan catatan tambahan.
“Tidak bisakah mengetuk pintu terlebih dahulu?” ucap Mery yang tadi menoleh dengan cepat ke arah Arya. Nada suaranya profesional, tapi jelas ada ketidaksukaan karena ritme kerja mereka tiba-tiba terputus.
Arya hanya mencebikkan bibirnya. Ia menutup pintu dengan gerakan seadanya, lalu melangkah mendekat. “Aku cuma sebentar,” katanya singkat, seolah itu cukup sebagai alasan.
Gavin mengangkat tangan, memberi isyarat pada Mery agar tenang. “Tidak apa-apa, Mery.”
“Ada apa, Arya?” tanyanya, suaranya tetap tenang seperti biasa.
Arya menarik nafas dalam sebelum berbicara. “Ayah baru saja kirim pesan,” ujarnya sambil mengeluarkan ponsel dari saku jas.
“Malam ini kita diundang makan malam.”
Mery menghentikan gerakan jarinya di layar. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan. Ia hanya mengangguk kecil, lalu menoleh pada Gavin. “Kalau begitu, jadwal rapat malam sebaiknya dikosongkan,” ucapnya lugas.
“Aku akan mengatur ulang agenda besok pagi.”
Gavin kembali mengangguk, seolah semua itu sudah diperhitungkan sejak awal. “Baik,” jawabnya singkat.
Arya memperhatikan interaksi mereka dengan tatapan datar. Ada sesuatu yang mengganjal, tapi ia memilih tidak mengomentari.
Gavin bersandar, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sepertinya dia tidak begitu terganggu dengan acara makan malam mendadak itu.
Sementara Mery, dia tetap di tempatnya, mencatat sesuatu di tablet. Dari luar, sikapnya terlihat profesional dan netral. Namun di dalam hati, pikirannya sudah melayang ke arah lain. Makan malam keluarga besar. Itu bukan sekedar acara biasa. Selalu ada pembicaraan lanjutan, tatapan penuh penilaian, dan ekspektasi yang tidak pernah diucapkan secara terang-terangan.
“Aku perlu tahu jam pastinya,” ucap Mery sambil mengangkat kepala.
“Dan siapa saja yang akan hadir.”
“Jam tujuh malam,” jawab Arya.
“Keluarga inti saja.”
“Aku juga gak tahu kenapa Ayah menyuruhku mengajak Gavin, padahal dia bukan keluarga inti,” ucap Arya tanpa sungkan, bahkan terdengar menyindir.
“Eh… jangan salah. Aku ini juga merupakan orang yang penting, makanya paman mengundangku,” sahut Gavin.
“Baik. Aku akan pastikan semuanya selesai sebelum jam enam,” sahut Mery yang tidak memperdulikan pertikaian antar saudara tersebut.
Gavin melirik Mery sejenak. “Pastikan juga pada sekretaris Arya, agar tidak ada agenda mendadak yang mengganggu Arya hari ini.”
“Siap,” jawab Mery singkat.
Arya melirik jam tangannya. Ia seharusnya sudah berada di ruang rapat lima menit yang lalu, tapi pikirannya terlalu penuh. “Kalau begitu, aku kembali ke ruanganku,” katanya.
“Aku hanya ingin memastikan kalian tahu.”
“Terima kasih sudah memberi tahu,” ucap Gavin dengan datar.
Arya berbalik, hendak membuka pintu, lalu berhenti sejenak. Ia menoleh kembali ke arah Mery. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik, terlalu singkat untuk disebut lama, tapi cukup untuk memunculkan ketegangan samar yang hanya mereka berdua rasakan.
“Lain kali,” ujar Mery dingin.
“Ketuk pintu,” tegas Mery.
Arya mendengus pelan. “Iya.”
Pintu tertutup. “Hais, seakan obrolan mereka sangat berarti saja! Memangnya apa yang tidak aku tahu tentang perusahaan ini. Bahkan hingga bagian dalam Gavin pun aku juga tahu!” Arya terus menggerutu sembari berjalan ke ruang rapat.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan Gavin.
Gavin menatap Mery, seolah ingin memastikan sesuatu. “Kamu tidak apa-apa?” tanyanya.
Mery mengangguk. “Aku profesional, Pak Gavin. Ini bagian dari pekerjaanku.”
Gavin tersenyum kecil. “Bagus.”
Namun setelah itu, saat Mery kembali fokus pada pekerjaannya, bayangan makan malam nanti kembali mengusik pikirannya lagi. Ia tahu, malam itu pasti bukan sekedar makan malam biasa.