Demi meraih mimpinya menjadi arsitek, Bunga, 18 tahun, terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan pria yang ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Mereka setuju untuk hidup sebagai "teman serumah" selama empat tahun, namun perjanjian logis mereka mulai goyah saat kebiasaan dan perhatian tulus menumbuhkan cinta yang tak pernah mereka rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faza Hira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Part 1
Bibirnya menyentuh bibir Bunga.
Itu bukanlah ciuman yang menuntut atau tergesa-gesa. Itu adalah sentuhan yang penuh keraguan, seolah Arga sendiri terkejut dengan tindakannya. Bibirnya hangat, lembut, dan terasa seperti kopi dan penyesalan. Untuk sesaat, hanya itu yang terjadi—sebuah sentuhan bibir yang membekukan waktu.
Bunga membeku. Seluruh pikirannya menjadi kosong. Dunia menyusut menjadi satu titik: kehangatan bibir Arga di bibirnya. Ini bukan bagian dari latihan. Ini tidak ada dalam naskah. Ini nyata. Sangat nyata.
Lalu, Arga bergerak. Sangat pelan. Ciuman itu berubah dari sekadar sentuhan menjadi sebuah pertanyaan. Sebuah permohonan tanpa kata. Bunga bisa merasakan semua emosi yang Arga sembunyikan di balik topeng datarnya—rasa frustrasi, kelelahan karena berpura-pura, dan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang terasa seperti... kerinduan.
Dan yang paling menakutkan adalah... Bunga tidak menarik diri.
Sebaliknya, tanpa diperintah oleh otaknya, ia membalas. Sangat samar. Hanya sebuah gerakan kecil dari bibirnya. Tapi itu sudah cukup.
Bagi Arga, balasan kecil itu adalah sebuah izin.
Ciuman itu menjadi lebih dalam. Tetap lembut, tapi kini ada sensualitas yang tak terbantahkan. Tangan Arga yang tadi mengusap pipinya, kini bergerak ke belakang leher Bunga, jari-jarinya terselip di antara helai rambutnya yang tergerai. Sentuhan itu membuat seluruh tubuh Bunga meremang. Tangan Bunga yang tadinya terkepal di sisi tubuhnya, kini rileks dan secara refleks mencengkeram kaus oblong yang dikenakan Arga.
Ia bisa merasakan detak jantung Arga yang cepat di dadanya, atau mungkin itu detak jantungnya sendiri. Ia tidak tahu. Semuanya luluh menjadi satu. Aroma sabun Arga, kehangatan napasnya, rasa bibirnya.
Ini seratus kali lebih mendebarkan daripada fantasi mana pun yang pernah ia bayangkan tentang Reza. Reza adalah percikan kembang api. Arga... Arga adalah bara api yang diam-diam telah membakar pertahanannya hingga menjadi abu.
Berapa lama mereka berciuman? Sepuluh detik? Satu menit? Bunga tidak tahu. Waktu tidak lagi relevan.
Lalu, secepat ciuman itu dimulai, secepat itu pula berakhir.
Arga menarik dirinya.
Terdengar suara napas mereka yang terengah-engah di dalam kegelapan kamar. Mereka masih berhadapan, sangat dekat. Bunga bisa melihat kilatan samar di mata Arga. Itu bukan lagi mata seorang sutradara atau wali galak. Itu adalah mata seorang pria yang baru saja melintasi batas yang ia buat sendiri.
"Mas..." bisik Bunga, suaranya nyaris hilang. Hanya itu kata yang bisa ia keluarkan.
Arga tidak menjawab. Bunga merasakan jari-jari Arga gemetar di tengkuknya. Laki-laki itu... juga terguncang.
Perlahan, Arga melepaskan tangannya dari leher Bunga. Ia menarik diri, menciptakan kembali jarak di antara mereka. Jarak itu kini terasa dingin dan menyakitkan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Arga berbalik badan, memunggungi Bunga. Ia berbaring kaku, punggungnya menghadap ke arah Bunga.
Hening.
Keheningan setelah ciuman itu seribu kali lebih berat daripada keheningan sebelum-sebelumnya. Bunga berbaring di sana, bibirnya masih terasa hangat dan kesemutan. Pikirannya kacau balau.
Apa itu tadi?
Kenapa dia melakukannya?
Kenapa... kenapa aku membalasnya?
Itu bukan akting. Bunga tahu itu. Dan Arga juga tahu. Mereka baru saja menghancurkan perjanjian mereka dengan cara yang paling fundamental.
"Maaf," akhirnya Arga berbisik ke dinding, suaranya rendah dan penuh penyesalan. "Mas... kelepasan."
Bunga tidak menjawab. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya dan mencoba bernapas. Malam itu, ia tidak tidur sama sekali. Ia hanya berbaring, memutar ulang ciuman itu di kepalanya, mencoba mencari makna di antara debaran jantungnya yang tak kunjung reda.
Pagi harinya adalah sebuah neraka kecanggungan.
Bunga terbangun pukul lima pagi oleh getaran alarm di sisi ranjang Arga. Ia membuka matanya. Sisi ranjang di sebelahnya kosong dan sudah dingin. Seprai-nya rapi. Seolah tidak pernah ada yang tidur di sana.
Ia terduduk dengan panik. Kemana Arga?
Ia melompat dari tempat tidur dan keluar kamar. Dan ia menemukannya. Arga tertidur di sofa ruang tamu. Tanpa bantal, tanpa selimut. Ia hanya meringkuk, mengenakan pakaian yang sama seperti semalam, memeluk satu bantal sofa.
Hati Bunga mencelos.
Jadi begitu. Setelah menciumnya, Arga melarikan diri. Ia menghukum dirinya sendiri dengan tidur di sofa yang tidak nyaman, seolah ingin membangun kembali tembok yang telah ia runtuhkan.
Bunga berdiri di sana, menatapnya. Wajah Arga terlihat damai dalam tidurnya, tapi ada kerutan samar di antara alisnya. Kerutan lelah. Bunga merasakan dorongan aneh untuk mengambil selimut dan menyelimutinya. Tapi ia menahan diri.
Ia berjalan ke dapur dengan langkah pelan. Ia butuh melakukan sesuatu. Ia melihat sisa bahan opor di kulkas. Dengan tangan gemetar, ia memutuskan untuk membuat nasi goreng bumbu opor.
Saat aroma tumisan bumbu mulai memenuhi ruangan, ia mendengar suara gerakan dari ruang tamu.
Arga terbangun. Ia duduk, mengusap wajahnya, terlihat bingung sejenak. Matanya bertemu dengan mata Bunga dari seberang pantry.
Wajah Bunga langsung memerah. Ia cepat-cepat memalingkan muka, fokus pada wajannya.
Arga bangkit dari sofa. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berjalan lurus ke kamarnya dan menutup pintu.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar tamu terbuka. Ibu Arga keluar, sudah rapi dengan daster batiknya, senyumnya segar.
"Pagi, Nduk," sapanya. "Wah, rajin sekali menantu Ibu. Pagi-pagi sudah di dapur. Masak apa?"
"Pagi, Bu," jawab Bunga, berusaha tersenyum. "Ini... nasi goreng bumbu opor."
"Baunya enak sekali." Ibu Arga berjalan ke ruang tamu. Matanya yang jeli langsung menangkap sesuatu yang aneh. "Lho? Kok bantal sofanya berantakan? Kayak ada yang habis tidur di sini?"
Jantung Bunga serasa berhenti. Ketahuan!
Tepat saat itu, pintu kamar Arga terbuka. Arga keluar, sudah rapi dengan kaus polo dan celana pendek, rambutnya basah. Jelas ia baru saja mandi kilat.
"Pagi, Bu," sapanya, suaranya tenang.
"Pagi, Le," balas Ibunya. "Kamu semalam tidur di sofa, ya? Kenapa? Bertengkar sama Bunga?"
Pertanyaan itu langsung menohok.
Bunga menahan napas, menunggu jawaban Arga.
Arga tertawa pelan, tawa yang terdengar sangat meyakinkan. "Bukan bertengkar, Bu," katanya sambil berjalan ke dapur dan menuang air putih. "Semalam Arga nonton siaran ulang bola sampai ketiduran. Nggak enak bangunin Bunga buat masuk kamar."
Alibi yang sempurna. Cerdas. Dan lagi-lagi, Bunga hanya bisa mengagumi kemampuan Arga berimprovisasi.
"Halah, alasan," goda Ibunya. "Bilang saja kalau lagi ngambek. Bunga, kamu apain suamimu ini sampai tidurnya di luar?"
"Nggak Bunga apa-apain kok, Bu," kata Bunga sambil tertawa kaku.
Sarapan pagi itu adalah sebuah pertunjukan akrobatik emosional. Ayah Arga bergabung dengan mereka. Bunga dan Arga harus duduk bersebelahan, berpura-pura menjadi pasangan yang mesra, padahal di antara mereka ada jurang kecanggungan yang sangat lebar.
Arga akan dengan santai mengambilkan kerupuk untuk Bunga. Bunga akan dengan refleks menuangkan teh untuk Arga. Gerakan-gerakan mereka sudah terlatih. Tapi mata mereka... mata mereka tidak pernah bertemu.
Ibu Arga, dengan insting seorang ibu, sepertinya merasakan ada sesuatu yang berbeda. "Kalian berdua kok diam-diaman pagi ini?" tanyanya.
"Lagi sariawan, Bu. Malas ngomong," jawab Arga enteng.
Bohong. Selalu ada kebohongan baru.