Ini kisahku...
Seorang laki-laki yang mencoba mencari cinta masa SMP nya,yang selama 13 tahun hanya terpendam dihati belum sempat terungkapkan. Namun ketika takdir berpihak padaku,mempertemukan aku dan dia,aku harus menelan kekecewaan karna menerima kenyataan bahwa dia sudah menjadi milik orang lain.
Akankah ada keajaiban untukku agar bisa memilikinya?
Sementara hatiku tak mampu berpaling pada wanita lain.
Selamat menikmati kisahku yaaa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon In Gusman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Aku membukakan pintu untuk istriku,begitu di dalam kamar,mata Rahma menyapu setiap sudut kamar tidur kami yang baru.
"Subhanallah mas...kamar ini luas sekali,ini luasnya hampir dua kali lipat kamar kita di rumahku" ucap Rahma terkagum-kagum.
"Kamu suka sayang?" tanyaku sambil memeluk Rahma dari belakang...sementara Rahma menjawabku dengan anggukan.
"Siapa yang mendesain kamar ini mas? Kok cat kamarnya bisa pas dengan warna favorite ku?"
"Aku dulu cuman bilang sama papa,ketika aku datang ke sini...waktu itu rumah ini masih dalam taraf renovasi. Lalu aku meminta agar kamarku di desain sesuai mauku dan aku ingin cat temboknya berwarna hijau"
"Entah kenapa waktu itu aku ingin warna hijau yang jadi warna kamarku,padahal waktu rumah ini di renovasi,kita kan bahkan belum ketemu ya...Tapi aku nggak nyangka lho,kalo hasilnya akan seindah ini..." kenangku sambil tersenyum.
"Rahasia Alloh untuk kita itu ternyata begitu indah ya mas...walaupun terlalu banyak liku yang bahkan hingga kini belum semua terselesaikan untuk kita lalui. Tapi aku sangat bersyukur dan sangat bahagia bisa hidup bersamamu..." ucapnya dengan nada sedih.
"Iya...maafkan aku ya belum bisa memberi keindahan yang sempurna..."
Rahma mengangguk dan mencium sekilas pipi kiriku.
"Malam ini kita tidur sini ya..." bisikku di telinganya.
"Tapi aku nggak bawa baju ganti ni..." kilahnya.
"Buka saja lemari itu."
Rahma menengok ke arahku seolah meminta ijin dan kini giliran aku yang memberikan ijin Rahma dengan anggukan. Lalu dengan langkah sedikit ragu,Rahma berjalan menuju pintu lemari baju yang tinggi. Matanya terbelalak melihat beberapa baju yang sesuai dengan ukuran badannya tergantung disana,ada juga baju tidur yang lengkap dengan pakaian dalamnya.
"Mas...kapan mas siapin ini semua?" tanya nya sambil membolak balikkan beberapa baju gamis yang tergantung di sana.
"Kemarin mas beli secara online di butik tempat mas beli gamis yang kamu pakai tempo hari. Mas juga sekalian minta tolong mencarikan pakaian dalam ukuranmu,lalu aku kasih alamat sini. Kemudian aku minta tolong Mbok Sri untuk membereskannya."
"Tunggu..tunggu..emang di butik online itu,bisa gitu minta tolong di carikan pakaian dalam? Setahu Rahma yang namanya butik atau toko online,melayani jual beli ya yang barangnya dia pajang aja,tapi ini kok mau disuruh-suruh sama mas?" tanya Rahma heran.
"Ya iyalah...butiknya kan punya sepupuku Rania...mau ku jewer dia kalau nggak mau di suruh sama kakaknya...he he he...Nanti aku kenalin kamu sama dia ya..."
"Huuu...pantesan aja...Rania pintar mendesain baju,liat ini...desain bajunya bagus-bagus ya mas..."
"Kamu suka?" tanyaku sambil menghampirinya,ku cium pucuk kepalanya.
"Suka...suka banget...makasih ya mas..." ucapnya dengan girang.
Tangan Rahma sedari tadi sibuk membolak balikkan baju-baju yang ada di dalam lemari...mengamati satu per satu baju yang tergantung di situ. Tiba-tiba tangannya memegang sebuah baju tidur sexy berwarna hijau tua.
"Mas,kok ada baju kaya gini..." tanyanya.
"Baju kaya apa? Itu kan baju bagus...kamu pakai sekarang ya..." pintaku sambil tersenyum nakal.
"Idih...masak siang-siang pakai baju ginian..." elaknya.
"Penganten baru itu nggak mengenal siang atau malam...bagi penganten baru,hari-harinya itu hanya berasa bahagia...bahagia...dan bahagia...tidak ada yang lain...Sudah mandi terus pakai baju itu sana...nanti ku bikin kamar ini menjadi malam,biar kamu nggak merasa salah kostum...he he he..."
"Ih mas mesum ih..."
"Kan penganten baruuu..." bisikku di telinganya.
Wajah Rahma seketika berubah menjadi merona merah,dia pun segera menuju kamar mandi sehabis menghindar dari ciumanku.
"Awas kamu ya..." ucapku padanya.
Aku lalu beranjak dari dudukku...menutup semua gorden jendela biar terasa seperti malam,lampu utama pun tak ku nyalakan...hanya ada lampu tidur yang redup yang ku biarkan menyala. Seketika ruangan kamarku berubah menjadi seperti malam hari.
Tak berapa lama Rahma keluar dari kamar mandi dengan memakai baju tidur yang ku suruh pakai tadi. Kulitnya yang putih mulus dengan rambut hitam sebahu yang tergerai indah begitu cantik dengan balutan baju warna hijau tua,membuat mataku tak mampu berkedip melihatnya.
"Subhanallah...cantik sekali..." ku raih tubuhnya dan ku ciumi wajahnya.
"Mas...kok gelap..." tanya nya acuh dengan sanjunganku tadi.
"Kan biar nggak salah kostum...he he he..." jawabku cengengesan.
"Mas ni ada-ada aja..."
"Hmmm...harumnya...Aku juga mandi dulu deh...biar sama-sama seger..." ucapku.
"Iya ih...buru sana,bau acem..." Rahma menutup hidung mancungnya dengan jari telunjuknya.
"Wah ini penghinaan ini...udah akh...malah jadi males mandi..." kataku sambil merebahkan diri di tempat tidur.
"Ih mas,buru mandi...katanya mau mandi..."
"Cium dulu dong...habis tadi dikatain sih..." ucapku pura-pura merajuk.
"Iya deh...Pak dokter Hakim Ahmad yang ganteng...mandi dooong biar tambah ganteng...cup..."
Dari tadi ku biarkan Rahma rebahan disampingku,begitu dia mulai menciumku langsung ku tarik dan ku tindih badannya.
"Iih mas curang...sana mandi dulu..." ucapnya sambil meronta,ku cium bibirnya sekilas lalu aku bangkit untuk mandi.
"Tunggu ya...kamu sudah menggodaku,tunggu balasanku..." ancamku.
"Ih,siapa takut..." ucap Rahma sambil memonyongkan bibir dengan lucunya.
Selesai membersihkan diri,aku pun buru-buru keluar. Ku lihat Rahma sedang sibuk dengan ponselnya,sepertinya dia tengah membalas chatt. Dan saking sibuknya,dia sampai tak memperhatikan jika aku sudah keluar kamar mandi.
"Yang,bisa tolong mas nggak?"
Tak bereaksi dan masih asik sendiri.
"Yang, tolong ambilin dalemanku dong?"
Tetap tak bergerak,sepertinya dia tak mendengar dan masih membalas chatt sambil senyum-senyum sendiri.
"Yang,aku pergi dulu ya...ada janjian ma temen cewek lupa..."
Seketika di lemparnya ponsel yang dari tadi dalam genggamannya.
"Teman cewek siapa? Katanya mau istirahat..." katanya sambil menghadang aku yang ingin mengambil baju di lemari.
"Ya ada dong...kamu lanjutin aja chatting nya,mas nggak lama kok. Paling sebelum jam 7 malam udah di rumah" ucapku datar.
"Aaa...mas nggak boleh pergi" ucapnya sambil memelukku erat.
"Maafin Rahma...Rahma nggak lagi-lagi nyuekin Mas Hakim...jangan marah."
"Eehhh...siapa yang marah...mas nggak marah kok,kamu boleh chattingan lagi. Awas dulu...mas mau pake baju dulu...mas ini malah belum pake daleman lho..." godaku.
Rahma semakin salah tingkah,tangannya justru mempererat pelukannya.
"Mas nggak boleh pergi...mas nggak boleh ninggalin Rahma sendirian,apalagi mau ketemu cewek lain...hiks hiks hiks...nggak boleh..." Rahma menangis seperti anak kecil yang mau ditinggal pergi bapaknya.
"Diluar sana kan belum ada yang tau mas udah nikah,nanti kalo di godain dan mas tergoda gimana?" lanjutnya.
"Huuu...nglantur..." ku towel hidungnya dan ku balas pelukannya.
Rahma menyembunyikan wajahnya di dadaku,perlahan ku giring dia untuk ku baringkan dia di tempat tidurku yang baru,hingga akhirnya kami kembali menikmati surga dunia kami.
.
.
.
.
.
.
.
Lanjut...