NovelToon NovelToon
BAKTI BUTA SUAMIKU

BAKTI BUTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.

​Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.

​Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.

​Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAKTI BUTA SUAMIKU

​Pagi itu, langit di atas kota kecil tempat pelarian Adinda tampak begitu cerah. Sinar matahari hangat menerobos masuk melalui celah-celah jendela kaca kontrakan baru yang dicat dengan warna putih gading. Suasana di dalam rumah mungil ini terasa sangat jauh berbeda dibandingkan dengan rumah kontrakan lama mereka yang selalu dipenuhi ketegangan dan aroma pertengkaran.

​Di dapur barunya yang sedikit lebih luas, bau harum tumisan bawang merah, aroma kunyit, dan wangi nasi hangat yang baru saja matang memenuhi seisi ruangan. Bau khas bumbu dapur itu menciptakan atmosfer rumah tangga yang begitu ramah, damai, dan penuh dengan harapan baru. Di atas meja makan kayu yang bersih, Adinda sedang sibuk menata beberapa kotak katering. Berkat beberapa pelanggan lama yang berhasil ia hubungi kembali kemarin sore, Adinda langsung mendapatkan pesanan nasi kotak untuk acara arisan warga perumahan sebelah. Jemarinya yang terampil bergerak cepat membungkus sendok dan menata lauk pauk dengan rapi.

​"Bu, Dimas berangkat sekolah dulu, ya," pamit Dimas yang tiba-tiba muncul dari balik sekat kamar dengan seragam putih-birunya yang sudah rapi dan disetrika licin. Wajah anak laki-laki itu tampak jauh lebih segar, tidak ada lagi gurat kecemasan atau ketakutan akan mendengar bentakan ayahnya di pagi hari.

Sepeda jengki birunya sudah ia tuntun keluar ke halaman yang berpagar kayu rendah.

​Adinda menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu melangkah menghampiri putranya ke ambang pintu depan. Ia tersenyum hangat, menatap lekat-lekat mata anak semata wayangnya yang kini tampak kembali berbinar. "Iya, Nak. Hati-hati di jalan, ya. Jangan mengebut sepedanya. Belajar yang rajin di sekolah."

​"Siap, Bu! Assalamualaikum," ucap Dimas sembari menyalami dan mencium punggung tangan ibunya dengan takzim, sebelum akhirnya menggenjot sepedanya membelah jalanan gang yang masih sepi.

​Setelah memastikan bayangan tubuh Dimas menghilang di belokan gang, Adinda bersandar sejenak di kusen pintu. Ia mengembuskan napas panjang, menikmati heningnya pagi yang damai tanpa adanya rasa cemas yang biasanya selalu menghantui setiap kali ia terbangun dari tidur. Di rumah ini, tidak ada lagi suara dengkuran malas Bagas yang menuntut dibuatkan kopi instan sebelum siang, tidak ada lagi tatapan menghina, dan tidak ada lagi rasa bersalah palsu yang sengaja ditanamkan ke dalam kepalanya.

​Namun, ketenangan pagi itu tidak berlangsung lama ketika suara deru mesin mobil yang cukup tangguh terdengar mendekat dan berhenti tepat di depan pagar kayu kontrakannya.

​Adinda sedikit tersentak. Keningnya berkerut heran. Ia tidak merasa sedang menunggu kiriman bahan makanan dari pasar jam segini. Dengan rasa penasaran, Adinda melangkah keluar menuju teras kecilnya. Sebuah mobil MPV berwarna perak yang tampak bersih dan sangat ia kenal terparkir rapi di bawah rindangnya pohon mangga tetangga sebelah.

​Pintu kemudi terbuka, menampilkan sosok laki-laki berbadan tegap dengan garis wajah tegas namun memancarkan pembawaan yang tenang dan sangat berwibawa. Dia adalah Mas Danu, kakak kandung Adinda satu-satunya.

Tidak lama kemudian, dari pintu sebelah kiri, turun pula seorang wanita paruh baya dengan senyum keibuan yang sangat hangat, mengenakan jilbab lebar berwarna pastel yang senada dengan gamis anggunnyamMbak Anita, kakak ipar Adinda.

​"Mas Danu? Mbak Anita?!" Adinda berseru tidak percaya. Matanya seketika berkaca-kaca, dan rasa hangat menjalar cepat di dadanya melihat kehadiran dua sosok yang selama ini menjadi pelindung terbaik di dalam hidupnya.

​"Assalamualaikum, Dinda," sapa Mas Danu dengan suara bassnya yang dalam dan menenangkan. Tanpa membuang waktu, ia langsung melangkah lebar mendekati adiknya dan menepuk-nepuk lembut bahu Adinda, seolah menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki kepada sang adik perempuan yang telah lama menderita dalam diam.

​"Waalaikumsalam, Mas, Mbak... Ya Allah, kok ndak ada kabar sama sekali kalau mau datang ke sini? Dinda kan belum siap-siap buat menyambut Mas dan Mbak," ucap Adinda setengah terbata-bata, sembari buru-buru menyalami tangan kakak kandung dan iparnya dengan takzim dan penuh rasa hormat.

​Mbak Anita tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung maju selangkah, membuka kedua lengannya lebar-lebar, dan mendekap erat tubuh kurus Adinda ke dalam pelukannya. Tangan Mbak Anita bergerak lembut mengusap-usap punggung adik iparnya itu dengan penuh kasih sayang seorang kakak perempuan.

​"Mas Danu ini yang ndak sabar, Din. Kemarin sore begitu kamu telepon dan bilang kalau kamu sudah pegang kunci kontrakan baru dan sudah selesai memindahkan barang, Masmu langsung gelisah. Dia ndak bisa tidur nyenyak. Dia langsung minta Mbak berkemas malam-malam. Katanya, Kita harus berangkat ke kota tempat Dinda subuh-subuh sekali. Kita ndak boleh membiarkan adikku berjuang sendirian membereskan semua masalah ini. Jadi, ya di sinilah kami sekarang," jelas Mbak Anita lembut, matanya sendiri ikut berkaca-kaca merasakan penderitaan yang selama ini dipendam oleh Adinda.

​Air mata haru yang sejak tadi ditahan Adinda akhirnya tumpah juga. Pipinya basah oleh air mata yang mengalir deras, membasahi pundak Mbak Anita. Rasa syukur yang begitu tak terhingga membuncah di dalam rongga dadanya. Di saat suaminya sendiri orang yang seharusnya menjadi pelindung utama memperlakukannya layaknya keset kaki dan menumpang hidup di atas keringatnya, ia masih memiliki keluarga kandung yang rela menempuh perjalanan jauh berjam-jam hanya untuk memastikan dirinya aman dan tidak berjuang sendirian.

​"Sudah, Dinda... ndak usah menangis lagi. Sekarang Mas dan Mbak sudah ada di sini. Semua masa-masa sulit itu sudah lewat," bisik Mbak Anita menenangkan, seraya melepaskan pelukannya dan menghapus air mata di pipi Adinda dengan jemarinya yang hangat.

​"Ayo, Mas, Mbak, silakan masuk dulu. Maaf sekali rumahnya masih berantakan dan sangat sederhana," ajak Adinda dengan suara sengau, menuntun kakak dan iparnya masuk ke dalam rumah.

​Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam ruang tengah yang masih kosong, hanya beralaskan sebuah tikar anyaman plastik berwarna hijau bersih yang baru dibeli Adinda kemarin. Mas Danu dan Mbak Anita duduk bersila dengan santai, memandangi sekeliling ruangan dengan pandangan menilai yang dipenuhi oleh kelegaan mendalam.

​"Alhamdulillah, Din. Rumah ini jauh lebih layak, rapi dan bersih dibandingkan kontrakanmu yang dulu," ujar Mas Danu setelah menerima secangkir teh hangat manis yang disuguhkan oleh Adinda. Ia menyesap teh itu perlahan sebelum melanjutkan bicaranya. "Sirkulasi udaranya bagus, halamannya juga aman buat Dimas. Dapurnya di belakang sangat luas, kan? Sangat cocok buat kamu melanjutkan usaha kateringmu tanpa harus merasa sesak."

​"Iya, Mas. Alhamdulillah pemilik rumah ini sangat baik. Dan ini semua... ini semua juga berkat bantuan uang dari Mas Danu. Dinda ndak tahu harus bagaimana nasib Dinda dan Dimas kalau kemarin Mas Danu ndak mengirimkan uang untuk DP dan sewa rumah ini," ucap Adinda tulus, kepalanya tertunduk karena merasa telah merepotkan kakaknya.

​Mendengar hal itu, Mas Danu menggelengkan kepalanya dengan tegas. Sorot matanya menunjukkan ketidaksukaan jika sang adik merasa berutang budi padanya. "Dinda, dengar Mas baik-baik. Jangan pernah kamu bicara seperti itu lagi. Kamu itu adik kandung Mas satu-satunya. Sejak almarhum Bapak meninggal dunia, menjaga keselamatanmu, kehormatanmu, dan masa depan keponakan Mas, si Dimas, adalah tanggung jawab penuh Mas sebagai pengganti orang tua."

​Mas Danu menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya dengan berat saat mengingat sosok Bagas. "Selama belasan tahun ini Mas memilih diam dan ndak mau terlalu mencampuri urusan rumah tanggamu karena Mas menghargai posisimu sebagai istri. Mas selalu berharap, demi Dimas, si Bagas itu bisa sadar dan berubah menjadi laki-laki yang tahu diri. Tapi setelah apa yang dia lakukan kemarin, menuduhmu macam-macam dan membiarkan ibunya menghinamu seolah-olah kamu ndak punya keluarga... Mas ndak akan tinggal diam lagi. Mas ndak akan membiarkan adik Mas diinjak-injak oleh laki-laki ndak bertanggung jawab seperti dia."

​Mbak Anita ikut menggenggam erat tangan Adinda yang terasa agak kasar di bagian telapaknya sebuah bukti nyata betapa kerasnya wanita itu bekerja setiap hari demi menghidupi suami yang tidak tahu diuntung. "Betul apa kata Masmu, Dinda. Kami ke sini bukan cuma mau mampir atau menengok rumah barumu. Kami datang ke sini sengaja untuk membantumu membereskan semua urusan hukum dengan Bagas sampai tuntas, sebersih-bersihnya, tanpa ada sisa."

​"Maksud Mbak?" tanya Adinda, sedikit terkejut dengan keseriusan di wajah kakak iparnya.

​Mas Danu meletakkan cangkir tehnya ke atas tikar, lalu menatap Adinda dengan sangat serius. "Mas sudah menghubungi dan mengatur jadwal pertemuan dengan Pak Baskoro hari ini. Beliau adalah pengacara senior spesialis hukum keluarga yang juga merupakan teman baik Mas semasa kuliah dulu. Siang ini, kita semua akan pergi ke kantornya untuk menyerahkan berkas-berkas pendukung dan memastikan draf gugatan ceraimu sudah siap tanpa ada celah cacat hukum."

​"Apakah semua buktinya sudah cukup, Mas?" tanya Adinda cemas.

​"Lebih dari cukup," jawab Mas Danu dengan senyum dingin penuh kemenangan. "Semua foto lembar catatan keuangan dari buku agenda mika biru yang kamu simpan itu sudah Mas cetak dan Mas salin ke dalam bentuk digital. Mas sudah mengirimkan semuanya ke tim hukum Pak Baskoro tadi malam. Pak Baskoro bilang, catatan harianmu yang merinci aliran uang katering untuk membayar kontrakan, listrik, uang sekolah Dimas, hingga rincian utang-utang yang dipaksakan Bagas padamu adalah bukti otentik yang sangat kuat di mata hakim nanti."

​Mas Danu menjeda kalimatnya sejenak, memberikan penekanan pada kata-kata berikutnya. "Kita ndak cuma akan menuntut perceraian, Dinda. Kita akan menuntut hak asuh Dimas jatuh sepenuhnya ke tanganmu tanpa ada hak asuh bersama yang bisa dimanipulasi oleh Bagas. Selain itu, kita juga akan menuntut nafkah anak yang wajib dibayar oleh Bagas setiap bulannya setelah kalian resmi berpisah. Biar dia tahu kalau hidup ini ada aturannya. Dia ndak bisa seenaknya berlagak menjadi bos besar di depan ibunya, sementara seluruh biaya hidupnya selama ini disokong oleh keringat istrinya."

​Mendengar rencana yang begitu matang, taktis, dan terstruktur dari sang kakak, Adinda merasa sebuah beban raksasa yang selama belasan tahun ini menyumbat dadanya seketika runtuh dan menguap tanpa bekas. Air matanya kembali mengalir, namun kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kelegaan yang luar biasa. Ia tidak lagi berjalan meraba-raba dalam kegelapan; ia kini memiliki benteng pertahanan yang sangat kokoh di sisinya.

​"Dinda siap, Mas. Dinda sudah ndak punya keraguan atau rasa takut sedikit pun untuk menghadapi Mas Bagas," ucap Adinda dengan nada suara yang kini terdengar jauh lebih tegas dan mantap. "Kemarin malam, Mas Bagas pasti sudah pulang ke kontrakan lama dan melihat keadaan di sana. Dinda sengaja meninggalkan kunci cadangan dan sebuah surat pendek di laci kamarnya biar dia tahu kalau tempat itu sudah kosong."

​Mas Danu mendengus pelan, seulas senyum sinis tersungging di sudut bibirnya saat membayangkan bagaimana hancurnya kesombongan Bagas ketika mendapati rumah kontrakannya telah berubah menjadi ruang kosong yang berdebu. "Biar dia rasakan sendiri akibat dari keegoannya yang setinggi langit itu. Laki-laki yang hanya berani bersembunyi di balik punggung ibunya dan merasa paling hebat di dunia seperti dia, memang harus dibangunkan dengan cara dihantam oleh kenyataan hukum yang keras. Biar dia tahu kalau kesombongannya ndak ada harganya sama sekali."

​Mbak Anita mengelus lembut jemari Adinda, mencoba mengalihkan suasana ketegangan menjadi lebih hangat. "Sekarang, tugas utama kamu adalah menjaga kesehatanmu sendiri dan fokus mengurus Dimas. Lanjutkan usaha kateringmu di tempat baru ini dengan tenang, ndak usah memikirkan gangguan dari Bagas atau mertuamu lagi. Soal urusan pengadilan, biar Mas Danu-mu yang pasang badan mengurus semuanya bersama Pak Baskoro. Kami akan tinggal di kota ini selama beberapa hari ke depan, menyewa penginapan dekat sini, sampai semua berkas pendaftaran gugatan di Pengadilan Agama selesai diverifikasi."

​Di bawah atap rumah kontrakan baru yang diselimuti ketenangan pagi, Adinda memandangi wajah kakak kandung dan kakak iparnya bergantian dengan rasa syukur yang mendalam. Kehadiran Mas Danu dan Mbak Anita hari ini bukan sekadar bantuan materi atau fisik semata, melainkan sebuah penegasan spiritual yang sangat kuat bagi Adinda bahwa ia adalah seorang wanita yang berharga dan memiliki keluarga yang menyayanginya dengan tulus.

​Dengan dukungan penuh dari orang-orang tercinta yang siap melindunginya, Adinda tahu bahwa langkah kakinya menuju babak baru kehidupan yang bebas dari belenggu manipulasi Bagas kini telah dipermudah. Badai keadilan yang sesungguhnya kini telah resmi bersiap untuk berembus, dan kali ini, badai itu akan mengarah tepat ke arah Bagas, meruntuhkan seluruh istana kebohongan yang selama ini ia banggakan dengan begitu sombongnya.

1
Zhafran Althaf
mantap dindaaaa
Heni Setiyaningsih
bagus adinda 👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Zhafran Althaf
🤣🤣🤣🤣🤣
Heni Setiyaningsih
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Jetva
keren ceritax...semoga keren hingga akhir..aq suka perempuan yg mandiri dan tak takut suami dgn alasan surga ada pada suami....semangat Thor...
Jetva
istri Danu, Anik apa Anita, Thor..??🤔
blcak areng: iya kak aku keder sendiri 😄😄
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Anonim
BAGAS HALAL DARAH NYA... AYO BUNUH DIA
blcak areng: kak😁🤣🤣
total 1 replies
stela aza
q pingin nya si Bagas itu habis naik jabatan sebentar langsung khilaf trs di pecat jadi gembel biar g belagu trs sombong 🤭 ok Thor ❤️❤️❤️
Zhafran Althaf
hai kak aku mampirrrr😍😍😍
blcak areng: Hay juga kak Terima kasih 🙏
total 1 replies
stela aza
Thor ceritamu hampir mirip kaya kisahnya si abdi dan Disa ,,, yg lakinya manipulatif ,,, bodoh ,, belagu sombong trs so kaya kenyataan nya kere ,,, bergaya yg terlalu di paksakan 🤭
stela aza
rasain,,, syukurin ,,, bergaya tapi g mampu ,,, tinggal nunggu di pecat dr kantor biar jadi gembel ,,,, coba ibunya mau Nerima dia g ,,, kalau udh g kerja pasti bakalan di buang sama ibunya sendiri 🤦
Heni Setiyaningsih
💪💪💪 adinda
Lee Mba Young
bagus lanjutt
Lee Mba Young
bagus lah jng mau jd budak. anak sdh besar.
Heni Setiyaningsih
lbh baik lepaskan suami kyk gitu, hdup berdua dgn anak mu sj drpd dirong-rong terus sama suami pecundang
Heni Setiyaningsih
👍👍👍👍👍👍👍👍👍😍😍
Heni Setiyaningsih
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!