Celine selalu menyukai Ares. Dia mengabadikan seluruh momen laki-laki itu di sebuah buku kecil. Ratusan foto. Lalu kini buku itu hilang, menyisakan perasaan khawatir yang menghantui Celine setiap malam.
Celine hanya tidak tahu, buku itu berada di tangan Ares. Di simpan baik-baik, menunggu waktu yang tepat untuk membuka kedok Celine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suziehloranda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Album Foto yang Hilang
Celine selalu menyukai Ares, hanya sekadar berada di dekat laki-laki itu mampu membuat Celine kelimpungan. Bibirnya kelu, pipinya memanas. Teman-temannya tertawa dengan mengejek, merasa geli dengan tingkah laku Celine.
Ares sudah pergi sejak sepuluh menit yang lalu, sorot mata mengejek itu tak kunjung sirna. Berlian berkata dengan nada sinis, "Kalau suka dibilang, diambil cewek lain entar nangis."
"Masa aku yang yang bilang suka duluan," kata Celine menunduk.
"Lawak banget, kalau nggak diutarakan mana tahu dia."
"Susah."
Berlian memutar bola mata malas, dia jengah. Bosan dengan sikap Celine. "Serah deh, gak aku juga yang rugi. Selamat menikmati masa-masa jadi pengagum rahasia yang rahasia banget."
"Kasar banget ngomongnya, kamu udah gak nganggap aku sahabatmu lagi?" kata Celine mengedipkan matanya berulang kali.
"Lebay amat, jijik, jangan lihat aku kayak gitu."
Celine tertawa pendek.
Berlian, satu-satunya teman dekat Celine yang begitu dipercaya. Perempuan itu tahu betapa gilanya sahabatnya menjadi seorang pengagum. Semuanya itu bermula ketika Celine duduk di bangku kelas sepuluh, hari pertama MPLS.
Celine dan Ares duduk sebangku waktu itu, berkenalan dan saling bertukar informasi mengenai sekolah baru. Celine sudah terpikat duluan dengan laki-laki itu, senyuman dengan lesung pipi yang mampu meruntuhkan pertahannya.
Celine tidak mau melewatkan satu momen pun, waktu Ares sedang makan, menerima penghargaan, memenangkan lomba basket yang mewakili sekolah. Semua potret laki-laki itu diabadikan dalam sebuah album. Dibawa ke mana-mana.
"Ke mana perginya albumku?!" pekik Celine frustasi di dalam kelas sewaktu jam istirahat. Hanya ada dia dan Berlian di dalam.
"Jangan berteriak!"
"Album foto Ares hilang, bagaimana ini? Aku sudah mengumpulkan itu sangat lama. Kemana harus kucari," tukas Celine, tak terasa bulir air mata jatuh dari pelupuk matanya.
"Gitu doang nangis, pikirin aja gimana kalo ada orang yang nemu dan dia tahu kamu yang punya." ujar Berlian, dia tampak tidak peduli dengan penderitaan Celine.
"Jahat banget, malah buat aku makin kepikiran, gimana kalau Ares tahu. Malu banget!"
Berlian menimpali, "Biarin aja dia tahu, sekalian confess, mana tahu dia juga suka balik. Daripada capek-capek ngintilin."
"Bukannya bantu malah mojokin! Kamu teman apa enggak sih?!"
Berlian menghela napas berat, memijat pelipisnya. Dia pusing mendengarkan ocehan Celine yang tidak berakhir.
"Kapan hilang?"
"Pagi tadi masih ada kok, masih aku selipkan foto yang semalam." Celine mengguncang pundak Berlian.
"Gimana ini?!"
"Tenangin diri dulu, gak bakal kelar masalahnya kalau kamu sibuk dengan risiko paling buruk," tutur Berlian. Dia menarik lengan Celine, mengajak perempuan itu duduk. "Terakhir kamu lihat di mana, waktu lagi apa?"
"Tadi pagi, sebelum ke gudang buat ambil peralatan. Ah ya, gudang!"
Celine dengan cepat berdiri, menghiraukan Berlian yang kembali berdecak kesal. Diabaikan.
"Nggak ada, ke mana sih perginya. Atau jangan-jangan jatuh di tempat lain?!" Celine mengacak-acak rambutnya, berpikir dengan sangat keras apa ada sesuatu yang dilewatkan.
"Cari pelan-pelan, selesaikan masalah dengan kepala dingin," ucap Berlian menasehati, dia melangkah semakin dalam masuk ke dalam.
"Aku udah cari di setiap sudut, emang enggak ada!"
"Bandel banget kamu dibilangin, cari sekali lagi, baru kita lihat di tempat lain. Sehabis dari gudang kau pergi ke mana? Jajan?" kata Berlian sembari mencari, dia membuka lemari kayu yang tampak berdebu.
"Beli minum tadi ke kantin, tadi kan lupa bawa minum buat bekal."
"Habislah sudah, pasti udah hilang kalau gitu," kata Celine bergumam, sayangnya masih dapat didengar oleh Celine.
"Berlian ...!" rengek Celine.
"Oke, kita cari di lorong menuju kantin, mana tahu emang beneran jatuh." putus Berlian, kemudian memimpin jalan keluar dari gudang.
Di sepanjang koridor, Celine celingak-celinguk memandang setiap jalan yang dia lalui. Berulang kali memilin bibir bawahnya dengan perasaan gundah.
"Ah, capek!" seru Berlian kemudian duduk di salah satu meja kantin. Dia menutup mata, tidak mengindahkan Celine yang melayangkan tatapan protes.
"Aku lapar Celine, beli snack dulu, ya?"
"Mana bisa gitu! Waktu kita terbatas, sebentar lagi mau masuk jam pelajaran, ngertiin aku dong!" Berlian mendengus, dia bangkit dan memilih mengantri di stan makanan. Colekan di punggungnya sama sekali tidak menggoyahkan pendirian Berlian.
"Mie ayam kamu lebih penting dari aku?!" kata Celine murka, ikut duduk dengan Berlian yang mulai mengunyah makanan yang baru dia pesan.
"Pake nanya."
"Terus ini gimana Berlian," ucap Celine, matanya kembali berkaca-kaca. Perempuan itu menenggelamkan kepalanya di lipatan tangan. "Aku gak mau kehilangan album itu."
"Makanya, duduk aja dulu. Lagian ..." kata Berlian. "kita juga udah nyari, bukannya enggak berusaha. Kalaupun kita keliling sebanyak sepuluh kali, emang ketemu. Udah lah Celine, relain aja, gak bakal ada yang tahu juga itu punya kamu."
"Gimana kalau ada yang tahu?"
"Siapa?"
Celine menjawab enteng, "Ya, gak tahu."
Hening setelahnya, Celine sibuk meratapi nasib album fotonya yang hilang. Sementara Berlian menghabiskan sisa mie ayamnya.
"Boleh enggak kami gabung, gak ada lagi bangku kosong." Seseorang berdiri di samping Celine. Perempuan itu menjawab dengan malas, "Boleh, duduk aja." Dia menoleh lantas membulatkan matanya. Sepersekian detik kemudian mengalihkan pandangannya.
Ares Pratama di depannya.
Laki-laki itu berkata dengan ramah, "Makasih."
"Wow!" Berlian telah selesai dengan sesi mie ayam. Dia memperhatikan perubahan Celine yang terlalu cepat. Perempuan itu menunduk, jelas karena Ares duduk di sampingnya. Sejenak Celine mendongak, sorot matanya seolah meminta pengertian.
Udah selesaikan, ayo pergi!
Namun, Berlian enggan untuk beranjak, betah menikmati tingkah konyol sahabatnya.
"Kenapa dengan Celine, sedang tidak enak badan?" Bian yang sedari tadi memperhatikan menoleh pada Berlian.
"Dia tantrum karena barangnya hilang, spesial banget soalnya. Anaknya bad mood." tutur Berlian.
Ares ikut menimpali, agak merasa prihatin pada teman sekelasnya yang tampak tidak bersemangat, "Apa yang hilang."
"E-Enggak ada! Dia, dia cuman bercanda. Berlian jangan buat orang salah paham, aku cuman ngerasa cuaca panas banget," kata Celine lantas berdiri, mengipasi wajahnya yang sedikit merona. "Cuaca hari ini ekstrem banget!"
Berlian tiba-tiba tertawa, dia juga ikut beranjak. Meraih tangan Celine untuk pergi dari sana. "Kami pergi dulu ya, udah kenyang!" katanya diacungi jempol oleh Bian.
"Jangan begitu lagi deh," tukas Celine kesal, dia menyikut lengan Berlian membuat perempuan itu mengaduh kesakitan.
"Seperti katamu tadi, bercanda. Lagian si Ares juga gak bakal ngeh."
"Ya, kan, tetap aja. Ah, kamu gak ngerti!" Celine berjalan cepat, tidak menghiraukan Berlian yang terus memanggilnya.
"Dasar labil, dibilang confess aja kagak mau. Giliran dibantu malah sewot."
Salut banget sih author lucu gemes