NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:373
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Melodi Misterius

"Dan ingat ini baik-baik di dalam kepalamu, Moana! Kau dan Helios sama sekali tidak diberikan izin untuk berenang atau mendekati wilayah tengah laut lepas! Jangan pernah sesekali coba-coba melanggar hukum pembatasan ini, apakah kau mengerti?!"

Moana hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan patuh, menelan ludah mendengarnya. Sebagai Putri dari Abyssal Trench, dia tahu ibunya sangat ketat menjaga keamanan mereka dari bahaya laut dalam jika sang ayah sedang berada di daratan.

Setelah berhasil memastikan bahwa putrinya telah memahami regulasi keselamatan tersebut, Nerissa Marine melangkah anggun menuju ke arah dapur kayu.

Tak lama kemudian, aroma harum yang teramat menggoda dari panggangan mentega dan gula cair mulai menguar keluar, memenuhi seluruh rongga ruangan kastil kayu dan memberikan sedikit stimulasi rasa nyaman bagi sistem saraf Justin yang masih menyisakan kelelahan pasca-terseret arus bawah tanah semalaman.

"Ayo Justin! Energi pagi sudah tiba, mari kita pergi bermain keluar!" seru Moana dengan nada semangat yang meledak-ledak.

Tiba-tiba, dari balik lemari kayu ruang tengah, sosok Helios Marine muncul dengan cengiran jail di wajahnya. Anak laki-laki berambut pirang madu itu rupanya sejak tadi mengintip obrolan mereka.

"Heh, Vampir daratan! Ayo kita buktikan apakah fisik lemahmu itu bisa menahan panasnya terik matahari Pesisir Azure kita!" tantang Helios Marine sembari menyambar dua buah sekop plastik dan seember kecil mainan pasir dari sudut ruangan.

Tanpa menunggu jawaban formal dari Justin, Moana dengan gerakan spontan langsung menarik jemari tangan kiri Justin, sementara Helios mendorong punggung anak vampir itu dengan ramah namun bertenaga, membawa mereka bertiga melangkah keluar menembus pintu belakang rumah, meninggalkan kepulan aroma kue hangat yang kian pekat di dapur Nerissa Marine.

Begitu sepasang telapak kaki telanjang mereka menyentuh hamparan pasir pantai putih yang terasa hangat, Moana langsung merentangkan kedua lengan mungilnya lebar-lebar ke udara, menghirup dalam-dalam sirkulasi oksigen laut yang teramat segar dan murni.

"Lihat dan rasakan ini, Justin! Kau bersumpah tidak akan pernah bisa menemukan hamparan langit yang berwarna sebiru murni ini di wilayah Luminaramu yang penuh kabut kelabu itu, kan?" tanya Moana sembari memutar tubuhnya, menatap Justin dengan seulas cengiran lebar yang memamerkan lesung pipinya.

Justin sempat terpaku membeku selama beberapa detik di atas pasir, sepasang mata hitamnya menatap takjub pada bentangan luas samudra di depannya yang berkilau benderang laksana jutaan taburan permata di bawah paparan sinar matahari pagi.

"Iya... apa yang kau katakan itu benar, Moana," gumam Justin jujur, rambut hitamnya berkibar ditiup angin pantai. "Di tempat ini... atmosfer udaranya memendam karakteristik yang teramat berbeda. Terasa lebih asin di lidah, namun anehnya sangat menenangkan jiwaku."

"Tentu saja berbeda! Wilayah klan Blue Waves ini adalah pusat tempat berkumpulnya segala bentuk keajaiban kecil dunia!" sahut Helios Marine sombong, dia menghentakkan sekop plastiknya ke pasir dengan gaya seorang ksatria kecil lautan. "Jangan biarkan isi kepalamu terus-menerus dirundung oleh memori buruk tentang Monster Nessie tua itu atau memikirkan durasi perjalanan darat lima jam yang membosankan nanti siang. Anggap saja detik ini adalah masa liburan singkat rahasiamu bersama kami. Bagaimana kalau sekarang kita mengadakan kompetisi balapan lari sampai ke batas air di tepi pantai sana? Mahluk yang paling terakhir sampai di titik air, wajib hukumnya untuk membantu Bibi Nerissa mencuci seluruh peralatan piring kotor di dapur!"

Justin sedikit terperanjat mendengar tantangan fisik yang dilontarkan oleh Helios, namun provokasi ramah dari bocah pirang madu itu sukses memancing munculnya seulas senyuman tipis di wajah pucat sang pangeran vampir. Egona sebagai Salvatore mendadak bergejolak.

"Kompetisi itu sama sekali tidak berjalan secara adil, Helios, Moana! Kalian berdua adalah mahluk penduduk asli pesisir ini yang terbiasa berlari di atas pasir!"

"Tidak ada hukum adil dalam permainan pantai! Siapa yang bergerak paling cepat, dialah yang berhak mendapatkan kemenangan!" teriak Moana ceria.

Gadis berambut merah muda itu langsung mengambil ancang-ancang, berlari kecil membelah hamparan pasir menuju ke arah bibir pantai, membiarkan helaian rambut panjangnya terbang acak ditiup embusan angin samudra.

"Hei! Kau mencuri start, Moana! Tunggu aku!" seru Helios Marine melesat mengejar sepupunya dengan kecepatan anak Mermaid yang lincah.

Sambil mengerahkan kecepatan berlarinya untuk mengejar pergerakan Moana dan Helios, Justin memanfaatkan momen itu untuk memperhatikan lanskap keindahan topografi di sekitarnya.

Dari jarak kejauhan di ujung semenanjung, dia melihat kemegahan arsitektur Mercusuar Azure yang berdiri dengan kokoh dan tegap di atas puncak tebing batu, serta jajaran deretan perahu nelayan kayu tradisional yang dicat berwarna-warni bersandar rapi di tepi air.

Pesona estetika kedamaian kota pesisir ini benar-benar perlahan-lahan sanggup mengikis dan melenyapkan seluruh sisa rasa ketakutan traumatis di dalam batinnya.

"Ayo, Justin, kerahkan kecepatan larimu! Lihat ke arah bawah sini, struktur butiran pasir di area ini terasa sangat halus dan padat! Kita bertiga bisa membuat bangunan replika megah dari Kastil Luminaramu menggunakan media pasir basah ini jika kau menginginkannya!" ajak Moana lagi sembari mengambil posisi berlutut di dekat batas pasang air laut yang mulai bergerak membasahi ujung kakinya.

Justin dan Helios langsung ikut berlutut di sampingnya, mulai membenamkan jemari mereka ke dalam pasir untuk membangun menara-menara fiktif.

Brukk!

Suara gemuruh debuman keras yang teramat kaku mendadak menggema di antara riuh deru deburan gelombang ombak samudra, saat siluet tubuh Alan mendarat dengan cara yang tidak sempurna, terhempas tak berdaya di atas hamparan permukaan batu karang raksasa yang bertekstur kasar, tajam, dan sedingin es.

Bocah berambut putih itu terengah-engah dengan sangat parah, rongga dadanya naik turun dengan ritme yang teramat cepat, memendam sisa pengerahan tenaga yang ekstrem untuk meraup oksigen sebanyak mungkin ke dalam paru-parunya.

"Hah... hah... sedikit lagi... aku harus bisa bertahan sedikit lagi," gumam Alan dengan nada suara yang teramat parau dan pecah di tenggorokan.

Alan mencoba mengerahkan sisa otot motoriknya yang mati rasa untuk menyeret tubuh kecilnya naik menuju ke bagian dataran batu karang yang posisinya lebih tinggi.

Setiap kali dia menggerakkan sendi lengannya, rasa sakit yang luar biasa dahsyat menjalar hebat, seolah-olah ada ribuan jarum perak yang sengaja ditusukkan menembus ke dalam persendian pangkal sepasang sayap putihnya yang telah mengalami kelelahan sihir tingkat akut pasca-terbang tanpa henti membelah jarak ratusan mil laut dari teritori klan malam.

Dari titik pandang elevasi batuan karang yang tinggi itu, Alan menyipitkan kelopak mata ungunya yang kian meredup, menyapu fokus pandangannya lurus ke arah garis pantai pasir putih yang membentang indah di kejauhan cakrawala.

Seketika itu juga, detak jantung di dalam dadanya mendadak berdegup kencang dengan ritme yang abnormal—bukan lagi dipicu oleh akumulasi rasa lelah fisik, melainkan karena sebuah gelombang rasa kelegaan murni yang luar biasa masif.

Di kejauhan garis pantai, di atas hamparan pasir putih yang diidentifikasi alam sebagai Pesisir Azure, indra penglihatan tajam Pegasus miliknya berhasil mendeteksi keberadaan dua sosok anak kecil dan satu anak berambut pirang yang sedang sibuk berlutut bermain pasir. Salah satunya memendam perawakan struktur anatomi tubuh dan lambaian rambut hitam yang teramat sangat dia kenali di semesta ini.

"Justin..." bisik Alan lurus, sebuah binar cahaya harapan baru kembali menyala terang di dalam sepasang manik mata ungunya yang semula sayu dan dipenuhi kabut kepasrahan. Sahabatnya masih hidup.

Namun, tepat pada detik ketika Alan sedang bersiap untuk memaksakan sisa energi magis di jantungnya agar sepasang sayap putihnya kembali mengepak membelah udara daratan, sebuah distorsi suara yang aneh mulai merambat keluar, beraura magis, menyusup dari celah-celah sempit batuan karang hitam di bagian bawah posisinya berada.

~Upon Once Summer's Morning, I carefully did stray...~

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!