Cinta bisa datang dimana saja, termasuk di tempat bencana sekalipun. Itulah yang terjadi dengan Keyza, seorang mahasiswi sekaligus aktivis sosial yang bertemu dengan Sang Letnan ketika dia menjadi relawan di daerah bencana.
Cinta hadir di keduanya, tetapi tugas negara membuat mereka terpisah jarak, ruang dan waktu...
kepercayaan yang mulai terkikis, merasa terabaikan juga terkhianati merasuki keduanya, tapi mereka tak bisa melupakan cinta yang telah mengakar, sampai akhirnya masalah besar pun munghadang mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alana Kanaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Arga membawaku ke daerah Dago dan berhenti di taman hutan IR. H. Djuanda. Udara sejuk dan dingin langsung menyambut kami yang kini berjalan menyusuri jalanan setapak diantara pohon-pohon menjulang yang seolah melindungi kami dari hiruk pikuk perkotaan.
“Dia yang mulai duluan, Ga.” Aku berkata memecah keheningan karena ku tahu Arga masih marah melihatku yang tadi bertengkar dengan Wina.
“Tahu,” jawab Arga masih terus berjalan.
“Terus kenapa marah?”
Arga tak menjawab pertanyaanku dia malah terus berjalan semakin memasuki hutan kota.
“Ga! Arga!” aku berteriak memanggilnya dan akhirnya dia berhenti berjalan dan berbalik menatapku.
“Aku marah karena aku tak ada di sana saat itu!” Geram Arga sambil menatapku tajam.
“Kamukan ada kelas, Ga,” ucapku berusaha menenangkannya.
“Seharusnya aku bolos, seharusnya aku tahu kalau sekarang kamu sedang menjadi perhatian semua orang, seharusnya aku tahu kalau bisa aja mereka melukaimu.”
Aku menatapnya yang terlihat begitu menyesal. Aku berusaha tersenyum sambil berjalan mendekat kepadanya.
“Bukan aku yang terluka, Ga, tapi dia… aku menyiramnya 2x.”
“Apa?” tanya Arga tak percaya.
“Aku menyiramnya 2x hehe.. yang pertama sama es teh, yang kedua sama es jeruk.” Aku berkata sambil tersenyum berusaha mencairkan keadaan dimana Arga masih terlihat tegang tapi perlahan kini dia tersenyum.
“Jadi kamu menyiramnya?”
“Iya… 2x hehehe.”
“Jadi karena itu dia mau menamparmu?”
“Iya, tapi dia yang mulai, Ga, dia ngata-ngatain aku sok cantik pura-pura polos padahal tukang ngembat cowok orang, trus akhirnya berantem sama Mira, dia ngatain an***g terus pe****r, aku gak bisa nahan diri lagi waktu dengar itu jadi langsung aja aku siram biar dia diam.”
“Bentar! Dia ngatain kamu apa?”
“An***g.”
“Terus?”
“Pe****r.”
“Kurang ajar! Seharusnya kamu bilang dari tadi, Key, aku akan menyobek mulutnya kalau tahu dia berani ngatain kamu kaya gitu.” Arga kembali telihat emosi, napasnya memburu sambil berkacak pinggang, sampai akhirnya ia mengacak-acak rambutnya untuk menyalurkan emosi.
“Tenang aja, Ga, kita sudah sukup memberinya pelajaran hari ini, dan aku yakin dia tak akan berani lagi untuk macam-macam padaku.”
“Masih belum cukup, seharusnya tadi aku ikut nyiram dia!”
“Pakai air apa?”
“Pakai air apa aja!”
“Air bekas pel?”
“Iya! Aku akan menyiramnya pake air bekas pel!”
“Tapi gak ada.”
“Apa yang gak ada?” Arga bertanya sambi mengerutkan alis bingung.
“Air bekas pelnya.” Jawabku sambil tersenyum berusaha kembali membuat Arga tenang, dan itu berhasil ketika ku lihat dia membuang napas panjang dan bibirnya berkedut sedikit tersenyum.
“Kalau gitu pakai air es seember biar kepalanya adem gak ngajak ribut orang mulu.”
“Seember?”
“Iya, seember.”
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Kasian ibu kantin harus ngepel.”
“Hehehe.. biar dia yang ngepel sekalian.”
“Hehehe… terus air bekas pel-annya kita siramin lagi ke dia.”
“Terus dia marah karena harus ngepel lagi.”
“Terus ngajak berantem lagi deh.”
“Terus kamu siram lagi pakai es teh.”
“Terus akhirnya kita yang disiram sama ibu kantin karena sudah bikin kantinnya berantakan.”
“Terus kita basah.”
“Terus pulang ke rumah.”
“Terus Ibu bilang, astagfirullahaldzim kalian ini sudah besar masih aja main siram-siraman.”
“Hahahaha, terus Ayah teriak nyuruh kita masuk buat mandi air panas.”
“Hahahaha… tapi, kali ini kamu jangan sampai sakit lagi ya, Key,” ucap Arga sambil menatapku lembut membuatku tersenyum kemudian mengangguk.
Kini ku lihat Arga sudah tak lagi emosi, kami kembali berjalan sampai akhirnya duduk di pinggir air terjun. Suara air yang mengalir bersatu dengan angin yang berhembus seolah menenangkan jiwa kami yang terbakar api emosi hari itu. Kami terdiam beberapa saat menikmati pemandangan alam itu sambil berusaha menenangkan amarah kami, sampai akhirnya Arga memecah keheningan.
“Mas Yudha sudah ngehubungi kamu?”
“Sudah, dia sedang berusah membereskannya.”
Arga mengangguk dengan mata masih menatap air terjun, “Yang kalian hadapi itu seorang publik pigur, bukan Wina atau siapapun yang tadi berusaha menyakitimu. Tidak gampang untuk menghadapinya, Key, publik sudah termakan berita yang dia karang dan media mengemasnya dengan sangat apik yang akhirnya akan merugikan kalian.”
“Aku tahu, tapi aku percaya padanya, dia akan mencari jalan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini walaupun mungkin tidak akan gampang.”
Arga kembali mengangguk.
“Aku rasa salah satu jalan yang harus ditempuh adalah lewat sosial media juga, seperti yang Leona lakukan.”
“Maksudmu, aku perlu melakukan klarifikasi kalau berita itu tidak benar?”
“Bukan kamu, tapi Mas Yudha… dia yang harus melakukan itu."
“Tanpa bukti apapun? Itu hanya akan dianggap sebagai pembelaan diri tanpa dasar apapun, karena Leona sudah pasti akan membantah itu semua yang membuat fans-nya kembali mencaci maki kami, dan para wartawan akan mendapat berita baru untuk menjatuhkan kami. Mas Yudha akan tetap menjadi seorang playboy, dan aku akan menjadi perebut cowok orang.”
Arga mendengarkan penjelasanku terlihat berpikir, “Kau benar… jadi apa yang akan kalian lakukan?”
Aku membuang napas berat kemudian menggeleng, “Tidak tahu… jujur saja aku sempat berpikiran yang sama sepertimu, tapi Mas Yudha bilang dia sedang mengumpulkan semua bukti yang akan menguatkan argumennya.”
“Bagaimana dengan Bang Eddy?”
“Itu sama saja nyuruh dia untuk bunuh diri, Ga, dulu aja dia gak mau ngaku dan lebih baik mengorbankan temannya daripada harus ketahuan. Apalagi sekarang katanya sih mereka dah gak berhubungan lagi, tapi gak tahu deh.”
“Dia pengecut.”
“Iya.”
“Tapi jujur saja aku menyukai Mas Yudha yang memiliki sifat setia kepada temannya seperti itu.”
“Iyalah, sama temannya aja setia apalagi sama ceweknya.”
“Hahaha… woi, kalian belum resmi pacaran.”
“Oh iya ya, hahaha.”
Ponselku berbunyi, aku melihatnya dan aku menerima pesan di grup Oasis yang menanyakan kabarku, sepertinya Mira dan Mas Juna telah menceritakan kejadian tadi di kampus. Aku membalas mereka kalau aku baik-baik saja dan sekarang lagi sama Arga.
Kak Yoan memberi tahuku berita terbaru kalau Leona baru saja melakukan wawancara eksklusif secara live disalah satu televisi dengan pembawa acara gosip yang terkenal dengan gaya bahasanya ketika membawakan acara. Di acara itu Leona mengatakan kalau dia tak menyangka kalau dia akan dikhianati, dan dia bilang kalau saat di Musi Rawas aku bahkan pdkt dengan Ben!
Tanpa sadar aku memaki membuat Arga menatapku kemudian merebut ponselku dan bisa dilihat Arga ikut marah.
“Bukan aku yang pdkt sama Ben, tapi dia yang berusaha mendekatiku! Semua orang yang ada di sana juga tahu bagaimana aku menolak Ben saat itu!”
“Apa sih maunya tuh cewek!” geram Arga sambil berdiri.
Bagaimana kami tidak marah mendengar pernyataan Leona itu yang akan semakin menyudutkanku, sekarang semua orang akan menganggapku sebagai perempuan penggoda. Dan bisa dipastikan bukan hanya fans Leona yang menyerangku tapi kini fansnya Ben-pun akan berlaku sama.
“Jangan pernah buka sosmed dulu, paham!”
Aku mengangguk mengerti, tentu saja aku tak ingin membaca caci maki yang hanya membuat darahku mendidiih karena emosi.
“Jangan pernah pergi sendiri, karena aku yakin kini foto-fotomu sudah tersebar.”
Aku kembali mengangguk, ada perasaan takut mendera dadaku ketika membayangkan semua orang kini mengenaliku sebagai perempuan perebut laki orang dan juga sebagai wanita penggoda. Ponselku kembali berbunyi, Arga yang membacanya pertama.
“Agus bilang, sepertinya Mas Yudha sudah punya rencana, dia meminta semua video dan foto saat di Ciwidey dan Sumatera.”
Aku terdiam memikirkan apa yang menjadi rencana sang Letnan, dan aku memutuskan akan memercayai apapun rencananya itu. Karena aku yakin dia melakukan yang terbaik untuk melindungiku. Arga kemudian mengajakku pulang sebelum orang-orang yang semakin sore semakin banyak yang datang, dan mungkin salah satunya ada yang mengenaliku.
Aku turun dari motor Arga dan bingung ketika melihat sebuah mobil Mercy hitam terparkir di depan rumah, seorang pria paruh baya terlihat duduk di dalamnya yang kaca mobilnya di turunkan. Dia mengangguk seolah memberi hormat yang membuatku dan Arga balas mengangguk.
“Siapa?”
“Gak tahu,” aku menjawab sambil mengangkat bahu dan berjalan memasuki rumah yang pintu depannya terbuka menandakan ada tamu di dalam.
“Assalamualaikum.” Aku masuk sambil memberi salam diikuti Arga yang juga memberi salam.
Ibu sedang berbicara dengan seorang perempuan paruh baya yang terlihat cantik dengan hijabnya, seperti biasa aku langsung sun tangan pada ibu diikuti oleh Arga yang juga sun tangan.
“Ini pasti Keyza,” sapa perempuan itu dengan senyum ramah khas seorang ibu.
“Iya… Keyza, Tante.” Walaupun bingun karena tak mengenalinya aku sun tangan juga kepada perempuan paruh baya yang tersenyum sambil mengelus rambutku penuh kasih sayang.
“Persis seperti yang dibilang anak nakal itu, kamu sangat cantik.”
“Anak nakal?” aku bertambah bingung mendengar ucapannya.
“Key, kenalin ini Mamahnya Yudha.”
Seketika aku terbelalak mendengar ibu mengenalkan perempuan paruh baya itu sebagai ibu dari sang Letnan.
“Mamah Mas Yudha?” tanyaku tak percaya.
“Iya… calon mertua kamu,” jawab ibu sang Letnan dengan senyum lebar, membuatku semakin terbelalak dengan mulut menganga.
******
Teh Alana...bikin kelanjutan nya atuh...
cerita Sang Letnan dan Keyza stelah berumah tangga
Tidak kebayang jadi Keyza.. terlanjur cinta tapi dihianati🙄🙄
tertatih menata hati.. 😢😢
otw balikan apa gimana ini?ishhh aku masih sakit hati sama yudha...
bayangkan camer dan tunangannya terlihat lebih perhatian ke cewek lain...run widy run
masih mending gagal nikah drpd dah nikah harus cerai karena suami dan keluarganya gagal move on