Judul : LUNARA
Genre : Romantic/Comedy
Sedari kecil selalu dikelilingi oleh empat orang pria yang sangat menyayangi dan melindunginya, ternyata tak membuat kisah cintanya seberuntung itu.
Kisah cinta pertamanya, berakhir bahkan sebelum dimulai. Kisah cinta selanjutnya dan seterusnya, penuh dengan penghianatan.
Gadis itu bernama Lunara, yang berarti Putri Bunga. Mempunyai kulit putih mulus, berparas cantik dan berhati baik. Bisa diibaratkan Lunara seperti malaikat. Kekayaan orangtua yang melimpah, tidak membuatnya tumbuh menjadi gadis angkuh dan sombong.
Lunara gadis yang selalu terlihat ceria dimata dunia, namun memendam banyak luka.
© 2020, Maya Asviana
Kisah ini merupakan lanjutan dari Novel saya sebelumnya yang berjudul Paman Yoo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 32
Seminggu pun berlalu, pagi ini Yohan mengadakan meeting dadakan dengan seluruh Manajer di PT. Putra Erl serta seluruh staf Divisi Strategi Pemasaran.
"Hari ini kalian semua saya kumpulkan disini, untuk mengucapkan selamat kepada Lunara dan Reinaldo, karena berhasil memenangkan tender raksasa Melbourne Project" ucap Yohan.
Seluruh peserta rapat bersorak dan bertepuk tangan mendengar pemberitahuan dari CEO mereka.
Sementara itu Reinaldo yang memang baru mengetahui hal itu terperangah mendengarnya. Sedangkan Lunara terkekeh melihat ekspresi Reinaldo saat ini.
"Ini benar Lun?" tanya Reinaldo kepada Lunara yang masih terkekeh.
"Nih Visa Kak Rein sudah diurus Om Nic. Besok lusa kita berangkat ke Australia dan menetap selama tiga bulan" ucap Lunara sambil menyerahkan beberapa dokumen yang dibutuhkan Reinaldo untuk berangkat ke Australia bersama Lunara tiga hari lagi.
"Serius?" tanya Reinaldo yang masih tidak mempercayainya.
Reinaldo memeriksa dokumen yang diserahkan oleh Lunara. Sengaja Lunara pagi-pagi sekali ke ruangan Nico untuk mengambil dokumen itu, hanya untuk melihat wajah kaget Reinaldo pagi ini.
"Au ah. Tuh dipanggil Pak Yohan, disuruh kedepan, buruan sana!" ucap Lunara pada Reinaldo yang duduk disamping dirinya.
Mendengar ucapan Lunara, Reinaldo pun bergegas dan melangkahkan kakinya menuju Yohan yang sedang berdiri didepan.
"Mau ngapain kamu Rein?" tanya Yohan bingung.
"Loh, bukannya Bapak menyuruh saya kedepan ya?" tanya Reinaldo yang tak kalah bingung.
Sementara itu, Lunara tertawa terbahak-bahak di kursinya. Yohan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat aksi putrinya yang tidak tau tempat itu. Sedangkan Para peserta rapat lainnya hanya bisa menahan tawa mereka, karena takut akan ditegur oleh Yohan Erlangga.
"Parah lu Sis" ujar Rio yang juga ikut terkekeh pelan.
"Lunara! Ini di kantor, jangan bermain terus!" ucap Yohan, saat Reinaldo tengah berjalan kembali ke kursinya.
"Takutnya kalau Luna terlalu serius, perusahaan ini terlalu maju Dad!" ucap Lunara dengan angkuhnya. Yohan hanya bisa menghela nafas mendengar jawaban anaknya itu.
Dan Reinaldo langsung mengacak rambut Lunara begitu dia sampai di kursinya.
"Kak Rein ah!" ucap Lunara sambil memukul lengan Reinaldo kemudian merapikan kembali rambutnya. Reinaldo pun tersenyum melihat Lunara yang kesal kepadanya.
Begitu selesai meeting, Reinaldo kembali mengacak rambut Lunara kemudian berjalan cepat meninggalkan Lunara yang sedang menyusun dokumennya.
"Mpok Reinaaaa!" ucap Lunara kesal, karena Rambutnya benar-benar berantakan dibuat Reinaldo.
Reinaldo pun terkekeh mendengar teriakan Lunara. Hana yang melihat kejadian itu, hanya bisa menatap sendu punggung Reinaldo yang telah berjalan meninggalkan semua staffnya.
"Dasar Mpok Reina, gak ada manis-manisnya sama wanita. Dia ngacak rambut gue sampai benar-benar acak-acakan begini!" ucap Lunara kesal, sambil berjalan bersama Dwi, Tiara dan Rizal menuju ruangan Divisi Strategi Pemasaran.
"Awas naksir Sis" sindir Tiara.
"Dih, Lunara Erlangga itu ya ..."
"PANTANG NAKSIR PRIA DULUAN!" ucap Dwi, Tiara dan Rizal serempak. Lunara pun terkekeh mendengar paduan suara dari teman-temannya.
"Wuih sudah pada pintar kalian ya" ucap Lunara sambil manggut-manggut, hingga membuat ketiga rekannya itu terkekeh dibuatnya.
Ketika memasuki ruangan Divisi Strategi Pemasaran, Reinaldo langsung menghampiri Lunara.
"Kita meeting dulu sama seluruh team kali ya Lun" ucap Reinaldo. Namun Lunara hanya diam dan menatap tajam pada Reinaldo.
"Eh masih marah ya?" ucap Reinaldo sambil menahan tawa.
"Menurut lo?" ucap Lunara sambil berdecak pinggang.
"Lah kan lu duluan yang ngerjain gue" ucap Reinaldo gak mau kalah.
"Ya setidaknya jangan ngacak rambut gue sampai segitunya lah. Bang Jun aja kalau ngacak rambut gue gak sampai berantakan banget kayak gini!" ucap Lunara kesal.
"Beda dong. Jun ngacak rambut lu pakai rasa kasih dan sayang. Gue ngacaknya pakai rasa kesal" jawab Reinaldo santai.
"Ooh udah berani nantangin Lunara nih. Naksir dengan Lunara Erlangga ya!" ucap Lunara sambil berjalan satu langkah lebih dekat kepada Reinaldo.
Reinaldo langsung pun terperangah mendengar ucapan Lunara. Bukan hanya Reinaldo, Hana yang berdiri tidak jauh dari Reinaldo pun terperangah mendengar ucapan Lunara itu. Sedangkan para staff team dua hanya bisa menahan senyuman mereka.
"Pfftt ... Masih serius aja sama Luna" ucap Lunara sambil menahan tawanya.
"Yuk guys meeting" ucap Lunara kemudian menginjak kaki Reinaldo sekuat tenaga dan langsung berlari menuju ruang meeting team dua.
"Aawww ..." teriak Reinaldo ketika Lunara menginjak kakinya.
Reinaldo hanya tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya menatap Lunara yang tengah berlari menuju ruang meeting team dua.
"Dasar bocah" ucapnya sambil menyunggingkan senyuman.
"Apa hati kakak sudah berubah? Sudah tidak menunggu Hana lagi" gumam Hana dalam hati sambil memperhatikan sikap Reinaldo.
"Tambah belagu aja tuh Luna!" ucap Lidya yang berdiri disamping Hana.
Hana sama sekali tidak menggubris ucapan Lidya itu. Karena dia tengah sibuk dengan banyak pertanyaan dikepalanya mengenai Reinaldo. Terlebih lagi Reinaldo akan pergi selama tiga bulan bersama Lunara ke Melbourne.
"Yuk Han, kita meeting dulu" ucap Reinaldo lembut. Hana pun membalas ucapan itu dengan senyuman.
"Yuk Lidya, Rio" ajak Reinaldo.
Mereka semua mengikuti Lunara dan berjalan menuju ruang meeting team dua.
.
.
.
"Kak Rein aja yang pimpin rapatnya" ucap Lunara saat Reinaldo memasuki ruang meeting team dua.
"Di proyek ini kan lu leader nya Lun" ucap Reinaldo yang langsung menduduki kursi disamping Lunara.
Lunara pun mendengus, mau tidak mau dia yang akan memimpin rapat internal divisi strategi pemasaran.
"Oke semua, seperti yang kita ketahui bersama. Tiga hari lagi, gue dan Kak Rein akan meninggalkan divisi ini selama tiga bulan. Sehingga proyek kedepannya harus kalian kerjakan sendiri tanpa kami" ucap Lunara memulai meeting.
"Apa kalian siap?" tanya Lunara.
Serempak mereka semua menjawab dengan kata siap, terkecuali Lidya yang hanya menatap malas pada Lunara.
"Lu gak siap Lid!" Cecar Lunara.
"Iya Siap" jawab Lidya malas.
"Sebenarnya gue udah tau dari satu minggu yang lalu kalau tender itu akan kita menangkan" lanjut Lunara.
"Pak Yohan, Pak Chicko dan gue sudah membicarakan hal ini. Jadi untuk proyek yang sudah berjalan, silahkan diteruskan dengan team masing-masing. Untuk team dua saya memilih Bro Rizal yang menggantikan saya. Untuk team satu itu nanti terserah Kak Rein" jelas Lunara. Reinaldo pun terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Lunara.
"Untuk tender kedepannya, Pak Yohan Inginnya kalian mengerjakannya bersama-sama. Jadi tidak ada lagi team satu dan team dua untuk proyek terbaru"
"Dan sebagai manajer sementara di Divisi Strategi Pemasaran, gue dan Kak Rein diskusikan setelah ini. Kalau pendapat Kak Rein gimana?" tanya Lunara.
"Gue setuju dengan sarannya. Untuk team satu gue mengajukan Rio sebagai pengganti gue" ucap Reinaldo sambil menatap Rio. Rio pun mengangguk.
"Kalau untuk tender kedepan, gue rasa diantara Rizal dan Rio, lebih baik Rizal yang menjadi leadernya. Lu gak keberatan kan Rio?" tanya Reinaldo. Rio pun tidak merasa keberatan jika harus bekerja dengan Rizal sebagai leader.
Akhirnya di meeting internal ini mereka sudah mencapai kesepakatan. Lunara pun membubarkan seluruh rekan-rekannya agar kembali bekerja.
Sementara Lunara dan Reinaldo sibuk menyiapkan berkas Melbourne Project yang akan mereka bawa ke Melbourne, Australia.
.
.
.
Tiga hari pun berlalu, kini keempat orang tua Lunara, beserta Junior dan Keitaro mengantarkan Lunara ke bandara. Junior sedari tadi terus menggenggam jemari Lunara.
"Tumben banget sih Bang genggam tangan Luna. Biasanya merangkul pundak Luna" tanya Lunara heran. Keitaro yang berjalan disebelah kiri Lunara hanya bisa menahan tawa mendengar pertanyaan kakaknya itu.
"Gak tau kenapa, kali ini Abang takut ditinggal Luna" ucap Junior sendu.
Lunara langsung melepaskan genggaman tangan Junior.
"Jangan aneh-aneh deh Bang. Jangan bilang ini firasat kalau Luna bakalan meninggal dalam kecelakaan pesawat" ucap Lunara.
Keitaro dan Junior secara bersama menyentil dahi Lunara.
"Iihhh sakit tau!" dengus Lunara.
"Lagian lu bicara aneh-aneh aja sih!" ucap Keitaro kesal.
"Lah kan Abang yang bicaranya aneh-aneh. Takut ditinggal gue lah. Memangnya gue mau mati apa?" ucap Lunara sambil mengusap-usap dahinya.
"Setelah diingat-ingat, ini pertama kalinya Luna meninggalkan Abang. Biasanya kan Abang yang meninggalkan Luna. Makanya Abang merasa takut" jawab Junior yang kembali menggenggam jemari Lunara.
Mereka kembali berjalan menuju boarding gate dan ternyata sudah ada Reinaldo yang sudah menunggu Lunara disana. Melihat Reinaldo yang tersenyum dan saling melambaikan tangan dengan Lunara, hati Junior kembali gelisah.
Ketika Lunara hendak melakukan check-in, dia pun berpamitan kepada keluarganya. Junior yang pertama kali memeluk Lunara. Dia memeluk Lunara erat sekali.
"Udah deh Jun gantian. Yang mau memeluk Luna bukan kamu aja!" Cecar Gea.
"Tau nih, berasa pemiliknya Lunara lu ya?" sindir Keitaro.
Mendengar sindiran Keitaro, Junior pun langsung melepaskan pelukannya. Mereka pun bergantian satu per satu memeluk Lunara.
Saat Lunara akan melakukan check-in, Junior menarik tangan Lunara.
"Bang, Luna sudah mau check-in nih" ucap Lunara menahan tarikan tangan Junior.
"Abang mau bicara sebentar aja, Dek" ucap Junior dengan wajah resah.
Lunara pun akhirnya mengikuti Junior yang berjalan ke salah satu sudut yang tidak terlalu ramai orang berlalu lalang.
Chicko dan Gea yang melihatnya, kemudian tersenyum lebar.
"Berani gak dia tuh?" bisik Gea penasaran.
"Mudah-mudahan, biar gak galau terus hidupnya, hehe" jawab Chicko yang masih menatap Junior dan Lunara yang sedang berbicara sambil saling menggenggam tangan.
"Jun mau menyatakan cinta ya?" bisik Keitaro yang tiba-tiba muncul diantara Gea dan Chicko.
"Anak kecil diam saja, jangan banyak komentar" ucap Gea ketus.
Terlihat kemudian Junior memeluk Lunara dan mencium dahinya. Setelah itu Junior mengantarkan Lunara kembali ke boarding gate kemudian mereka saling melambaikan tangan dan tersenyum.
Hal itu membuat Chicko dan Gea serta Keitaro tentu saja, mereka merasa sangat penasaran. Mereka bertiga langsung menghampiri Junior.
"Gimana?" tanya Chicko penasaran.
.
-----------------------------------------
Hmmmm gimana yaaaaa
Kasi tau gak ya 😆
.
.
.
Terimakasih sudah membaca 💕
Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE, tuliskan KOMENTAR kamu dan beri VOTE yaaa ...
Jangan lupa juga untuk memberikan RATE
⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan
mau ke laundry bang (L)
😂😂😂
tdk monoton ke dalam romantisan saja...
lanjut author💪💪💪
ntar keenakan dia bikin kacau ditempat kerja.. 🤦♀️🤦♀️
kalau gk boleh dekat ma orang lain....
jangan muna. weww.. 😁😁