NovelToon NovelToon
Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:983
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.

Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.

"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)

#CintaRomantis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Mayang terdiam sejenak. Kemudian menjawab dengan suara pelan namun tegas, "Kamu adalah kesalahan yang tidak boleh terulang."

Kalimat itu membuat senyum Bastian perlahan menghilang. Ia memandang Mayang beberapa detik sebelum akhirnya tertawa hambar. "Baiklah. Aku mengerti." Tanpa berkata apa-apa lagi, Bastian berbalik meninggalkan halaman gedung.

Sementara Mayang tetap berdiri di tempatnya. Ia tahu, mulai hari ini ia tidak hanya harus berjuang mendapatkan kembali kepercayaan Adrian. Ia juga harus memastikan tidak ada lagi satu pun jejak yang menghubungkan dirinya dengan Bastian.

***

Sejak beberapa bulan terakhir, hubungan Adrian dan Mayang berubah tanpa disadari banyak orang. Di mata publik, mereka masih terlihat sebagai pasangan harmonis. Masih sesekali menghadiri acara bersama. Masih saling menyapa dengan ramah. Namun hanya mereka yang tahu bahwa jarak di antara keduanya semakin lebar.

Adrian mulai menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Rapat yang biasanya bisa diwakilkan kini ia hadiri sendiri. Perjalanan bisnis semakin sering. Bahkan akhir pekan yang dulu sesekali ia luangkan untuk Mayang, kini dipenuhi agenda kantor. Semua itu bukan semata-mata karena kesibukan. Melainkan keputusan yang sengaja ia buat. Ia membutuhkan ruang. Ruang untuk berpikir. Ruang untuk menilai kembali hubungan mereka.

Sejak mendengar gosip mengenai kedekatan Mayang dengan pria lain, benih keraguan tumbuh di hatinya. Meski belum memiliki bukti yang cukup untuk menghakimi Mayang, Adrian juga tidak mampu mengabaikan kegelisahan itu. Baginya, kepercayaan adalah fondasi sebuah hubungan. Dan ketika fondasi itu mulai retak, ia memilih mengambil jarak daripada berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Mayang tentu menyadari perubahan tersebut. Setiap kali mengajak Adrian makan malam, jawabannya hampir selalu sama.

"Maaf, aku ada rapat."

"Maaf, aku harus ke luar kota."

"Maaf, pekerjaanku belum selesai."

Lama-kelamaan, Mayang mengerti. Kesibukan itu hanyalah tembok yang dibangun Adrian agar hubungan mereka tidak semakin dekat.

Meski begitu, Adrian belum pernah sekali pun mengucapkan kata putus. Bukan karena perasaannya masih sama. Melainkan karena ada satu alasan yang terus menahannya. Ibunya. Sejak awal, sang ibu sangat menyukai Mayang..Menurut beliau, Mayang berasal dari keluarga baik dan pastinya konglomerat, berpendidikan, dan dinilai cocok menjadi pendamping Adrian.

Beberapa kali sang ibu bahkan sudah membicarakan rencana pertunangan. Karena itulah Adrian memilih berhati-hati. Ia tidak ingin mengambil keputusan besar hanya berdasarkan gosip atau kecurigaan. Ia ingin memastikan semuanya dengan kepala dingin.

Sampai saat itu tiba, ia memilih menjaga jarak. Bukan untuk menyakiti Mayang. Melainkan agar ia tidak membohongi dirinya sendiri dengan berpura-pura bahwa semua masih baik-baik saja.

Di sisi lain, Mayang mulai merasakan waktu berpihak padanya semakin sedikit. Semakin lama Adrian menjauh, semakin besar pula kemungkinan hadirnya seseorang yang mampu mengisi ruang kosong di hati pria itu. Dan nama yang paling sering terlintas di pikirannya... Adalah Dira.

***

Malam itu, sebuah restoran mewah di pusat kota telah dipesan secara khusus. Adrian datang tepat waktu. Saat memasuki ruang VIP, ia melihat dua orang telah lebih dulu menunggunya. Mayang. Dan...bIbunya.

"Ibu?" Adrian tampak terkejut. Bukankah sang ibu masih berada di Amerika beberapa hari lalu?

Wanita paruh baya itu tersenyum hangat lalu berdiri memeluk putranya. "Ibu baru tiba siang tadi."

"Harusnya memberi kabar."

"Ibu memang sengaja ingin memberi kejutan."

Adrian tersenyum tipis, meski dalam hati ia merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Tatapannya kemudian beralih kepada Mayang. Perempuan itu hanya membalas dengan senyum yang sedikit canggung.

Setelah makanan dihidangkan, suasana sempat dipenuhi obrolan ringan. Tentang pekerjaan Adrian. Tentang perkembangan bisnis keluarga. Tentang perjalanan sang ibu di Amerika. Hingga akhirnya, sang ibu meletakkan sendoknya. Wajahnya berubah lebih serius. "Adrian."

"Iya, Bu?"

"Ibu sengaja singgah ke Indonesia karena ingin mendengar langsung dari kalian berdua."

Adrian mulai memahami arah pembicaraan itu.

Ibunya melirik Mayang yang duduk di samping. "Kalian sudah lama bersama. Lalu... Kapan kalian akan menikah?"

Suasana meja makan mendadak sunyi.bMayang menundukkan pandangan. Sementara Adrian terdiam beberapa saat sebelum menjawab. "Bu..."

"Apa ada sesuatu yang terjadi di antara kalian?" tanya ibunya lembut.

Sebelum Adrian sempat menjawab, Mayang lebih dulu berbicara. "Bu... Sebenarnya hubungan kami belakangan ini sedang kurang baik."

Wanita itu menoleh kepadanya. "Kurang baik bagaimana?"

Mayang menarik napas pelan. "Sepertinya ada salah paham. Aku merasa Adrian mulai menjaga jarak dariku. Dan..." Ia berhenti sejenak. "Aku juga mendengar ada perempuan lain yang mulai menarik perhatian Adrian."

Adrian langsung mengangkat kepalanya. "Mayang." Nada suaranya tetap tenang, tetapi terdengar tegas. "Jangan menyimpulkan sesuatu yang belum tentu benar."

Sang ibu mengernyit. "Perempuan lain?"

Mayang segera menggeleng. "Mungkin hanya perasaanku saja, Bu. Tapi aku benar-benar tidak ingin kehilangan Adrian."

Ucapan itu membuat sang ibu menggenggam tangan Mayang dengan lembut. "Tenang. Ibu mengenal Adrian. Dia bukan laki-laki yang mudah berpaling." Kemudian ia menatap putranya. "Adrian. Ibu tidak ingin hubungan kalian rusak hanya karena kesalahpahaman. Kalau memang ada masalah, selesaikan baik-baik."

Adrian mengembuskan napas pelan. "Aku juga ingin menyelesaikannya, Bu. Tapi sebuah hubungan membutuhkan kejujuran dari kedua belah pihak."

Kalimat itu membuat Mayang menegang. Ia tahu, Adrian tidak sedang membicarakan kesalahpahaman. Melainkan kepercayaan yang mulai retak.

Sang ibu memandang keduanya bergantian. Ia belum mengetahui seluruh persoalan yang sebenarnya. Yang ia tahu hanyalah satu hal. Ia ingin melihat putranya dan Mayang tetap bersama. Karena dalam pikirannya, mereka masih merupakan pasangan yang paling serasi untuk membangun masa depan bersama.

Suasana meja makan yang semula hangat mendadak berubah hening. Suara dentingan alat makan dari meja-meja lain terasa begitu samar dibanding keheningan yang menyelimuti ruang VIP itu.

Ibu Adrian mengalihkan pandangannya kepada Mayang. Tatapannya lembut, tetapi penuh ketegasan seorang ibu yang ingin mengetahui kebenaran. Ia meraih tangan Mayang dan menggenggamnya perlahan, berusaha memberi rasa tenang. "Mayang," ucapnya pelan, "Ibu ingin mendengar langsung darimu. Apa yang sebenarnya terjadi? Jangan hanya mengatakan ada salah paham. Hubungan yang sudah berjalan selama ini tidak mungkin tiba-tiba menjadi sedingin ini tanpa alasan. Katakan padaku, apa yang sedang kalian hadapi?"

Mayang menundukkan kepala. Jemarinya saling menggenggam erat di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya dipenuhi pergulatan batin. Berkali-kali ia ingin mengatakan bahwa Adrian berubah karena mulai meragukannya, tetapi ia juga tahu bahwa jika ia terlalu banyak bercerita, justru akan memancing pertanyaan yang lebih berbahaya. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya mengangkat wajahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Bu... beberapa bulan terakhir Adrian menjadi sangat sibuk. Awalnya aku pikir itu hanya karena pekerjaan. Tapi lama-kelamaan dia mulai jarang menghubungiku, menolak ajakanku makan malam, bahkan beberapa kali membatalkan rencana kami di saat-saat terakhir. Aku merasa... aku seperti dijauhkan secara perlahan."

1
Inde Hara
sepertinya Beri suka Dira🤭
Inde Hara
Ceritanya bagus
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen agar author semangat update. Terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!