Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21: Mesin
Beberapa hari setelah melihat Ko Kevin di taman, Keira mulai memahami satu hal.
Di Kediaman Ciu, setiap orang punya cara sendiri untuk bersembunyi.
Kevin bersembunyi di balik suara pahat dan bau kayu cendana. Stephanie bersembunyi di balik kamar tertutup sebelum akhirnya berani membuka tirai. Chenny dulu bersembunyi di balik suara lembut. Dan Ko Ethan, mungkin, bersembunyi di balik aturan.
Aturan itu terasa paling kuat di lantai satu.
Area kantor rumah tidak seramai aula utama, tetapi tekanannya lebih pekat. Di sana, staf tidak berjalan dengan nampan teh atau linen bersih. Mereka membawa map, tablet, paket dokumen, dan wajah yang selalu tampak lima menit terlambat meski jam di dinding belum bergerak.
Siang itu Keira turun ke area tersebut karena Bi Sari memintanya menyerahkan catatan perkembangan Stephanie ke ruang administrasi rumah. Ia tidak masuk ke wilayah kerja Ko Ethan. Ia hanya mengikuti jalur staf yang sudah ditandai Bi Sari, melewati koridor samping yang berujung ke ruang arsip.
Namun saat melewati pilar marmer dekat pintu ruang kerja lantai satu, ia mendengar suara laki-laki tua yang gemetar.
"Ko Ethan, saya benar-benar minta maaf."
Langkah Keira berhenti.
Pintu ruang kerja tidak tertutup penuh.
Dari celahnya, Keira melihat seorang pria berusia lebih dari lima puluh tahun berdiri di depan meja besar. Seragam stafnya rapi, tetapi lutut celananya kotor oleh debu cokelat. Satu telapak tangannya dibalut sapu tangan, mungkin tergores. Bahunya sedikit bungkuk, bukan karena kurang hormat, melainkan karena terlalu lama hidup dalam posisi siap dimarahi.
Di lencana seragamnya tertulis Darto.
Pak Darto.
Keira pernah melihatnya dua kali di dapur belakang. Ia tidak banyak bicara. Staf lain memanggilnya dengan nada hormat karena ia sudah lama bekerja di Kediaman Ciu.
Di belakang meja, Ethan Ciu duduk dengan jas hitam dan kemeja putih sempurna. Di depannya ada tiga layar menyala, dua map terbuka, dan sebuah tablet yang menampilkan jadwal pengiriman.
Ia tidak mengangkat kepala.
"Dokumen itu dijadwalkan tiba pukul sebelas empat puluh," kata Ethan.
Pak Darto menelan ludah. "Saya jatuh di dekat gerbang samping, Ko. Ada genangan air setelah penyiraman taman. Dokumennya tetap aman, saya pastikan tidak basah. Saya hanya terlambat sepuluh menit."
Jari Ethan berhenti di atas tablet.
Udara di koridor terasa ikut membeku.
"Hanya sepuluh menit," ulang Ethan pelan.
Pak Darto langsung menunduk lebih dalam. "Saya salah, Ko Ethan. Tapi saya sudah dua belas tahun di sini. Saya tidak pernah menghilangkan dokumen, tidak pernah membocorkan informasi, tidak pernah..."
"Keterlambatan sepuluh menit di rumah ini bisa menyebabkan kerugian sepuluh miliar."
Kalimat itu jatuh rata.
Tidak keras. Tidak marah. Justru karena itu, terdengar lebih kejam.
Keira mencengkeram map catatan Stephanie di dadanya.
Sepuluh miliar.
Di kepala Keira, angka itu terlalu besar untuk punya bentuk. Untuknya, Rp 50 ribu bisa menentukan apakah ia dan Kiara makan lauk ayam atau hanya tempe. Rp 20 juta bisa membuat ia bernapas seminggu lebih panjang. Rp 50 juta bisa membuka pintu rumah sakit swasta.
Namun bagi rumah ini, sepuluh menit bisa berubah menjadi sepuluh miliar.
Pak Darto membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.
Ethan akhirnya mengangkat wajah.
Matanya tidak memerah. Tidak menyala. Tidak ada kepuasan melihat orang lain hancur. Yang ada hanya dingin yang sudah terlalu terlatih.
"Apakah Anda tahu isi dokumen yang Anda bawa?"
Pak Darto menggeleng cepat. "Tidak, Ko. Saya hanya menjalankan tugas."
"Itu draft perjanjian tambahan dengan mitra luar negeri. Jadwal pengiriman disesuaikan dengan panggilan konferensi pukul dua belas. Karena Anda terlambat, tim hukum harus memakai salinan digital yang belum diberi tanda tangan basah. Jika pihak sana menjadikan itu celah, yang menanggung bukan hanya Anda."
Pak Darto gemetar.
Keira ingin membenci Ethan saat itu.
Ingin sekali.
Karena pria di depan meja itu sudah tua. Karena lututnya kotor. Karena tangannya berdarah sedikit. Karena dua belas tahun kerja seharusnya berarti sesuatu.
Tetapi kalimat Ethan tidak salah.
Di rumah ini, manusia dipasang seperti roda gigi. Satu roda terlambat, roda lain bisa pecah, lalu seluruh mesin menelan siapa pun yang berdiri di dekatnya.
Masalahnya, Ethan tidak hanya menjalankan mesin itu.
Ia terlihat seperti mesin itu sendiri.
"Ko Ethan," suara Pak Darto makin kecil, "istri saya masih sakit. Kalau saya keluar hari ini..."
Ethan menatapnya.
Untuk sepersekian detik, Keira melihat sesuatu bergerak di wajahnya.
Bukan iba yang cukup untuk menyelamatkan.
Hanya bayangan kecil, lalu hilang.
"Jefri."
Pintu samping terbuka. Jefri Tan masuk dengan tablet di tangan. "Ya, Ko Ethan."
"Proses pemutusan kerja Pak Darto. Sesuai kontrak. Beri pesangon penuh, tambahan tiga bulan gaji dari rekening operasional pribadi saya. Pastikan kartu aksesnya dinonaktifkan sebelum pukul dua belas tiga puluh."
Pak Darto mengangkat wajah, bingung antara hancur dan lega.
"Ko Ethan..."
"Anda tidak lagi bekerja di Kediaman Ciu mulai hari ini."
Tidak ada ruang untuk memohon.
Jefri menunduk kepada Pak Darto dengan sopan. "Pak, mari ikut saya. Kita selesaikan administrasinya di ruang HR."
Pak Darto memegang topi seragamnya dengan kedua tangan. Bibirnya bergerak, mungkin ingin mengucapkan terima kasih, mungkin ingin memaki, mungkin tidak tahu harus menjadi orang seperti apa saat seseorang memecatnya dengan dingin tetapi tetap memberi tambahan uang dari rekening pribadi.
Akhirnya ia hanya membungkuk.
"Baik, Ko Ethan."
Saat Pak Darto keluar, Keira mundur setengah langkah ke balik pilar.
Pria tua itu lewat di depannya tanpa melihatnya. Dari dekat, Keira melihat debu di lutut celananya dan luka tipis di telapak tangan. Ia juga melihat bagaimana punggungnya tetap berusaha tegak meski langkahnya kosong.
Jefri mengikuti di belakangnya.
Sebelum benar-benar pergi, Jefri sempat menoleh ke dalam ruang kerja. "Ko Ethan, rapat pukul dua belas lima belas dimajukan ke dua belas sepuluh."
"Saya tahu."
Pintu ditutup sebagian.
Koridor kembali sepi.
Keira seharusnya pergi.
Ia tahu itu. Sejak hari ia melihat tangan Ethan bergetar di lantai tiga, ia sudah dilarang naik ke sana. Setelah itu, ia menjaga jarak dari wilayah Ethan sebisa mungkin. Ia tidak punya urusan dengan keputusan bisnis, apalagi pemecatan staf.
Namun kakinya tidak segera bergerak.
Dari celah pintu, ia melihat Ethan duduk sendirian di belakang meja.
Layar-layar masih menyala. Angka-angka masih bergerak. Notifikasi rapat muncul di tablet. Semua hal di sekitarnya menuntut jalan terus, seolah Pak Darto tidak baru saja kehilangan pekerjaan, seolah satu manusia bisa dicabut dari rumah ini tanpa meninggalkan suara.
Ethan menunduk.
Tangan kanannya bergerak ke tangan kiri.
Ia menekan punggung tangan kirinya dengan ibu jari, tepat di atas ruas-ruas jari.
Jari-jari itu bergetar.
Keira menahan napas.
Getarannya halus, tetapi nyata. Sama seperti yang ia lihat di lantai tiga, saat sarapan dingin dan kopi setengah habis menemani laki-laki itu semalaman.
Kali ini Ethan tidak membuang pena.
Ia menekan tangannya lebih keras, sampai buku jarinya memucat.
Wajahnya tetap datar.
Mesin tidak boleh rusak di depan orang lain.
Kalimat itu muncul di kepala Keira tanpa ia undang.
Rasa marahnya pada Ethan belum hilang. Ia masih melihat lutut kotor Pak Darto. Masih mendengar suara tua yang meminta kesempatan.
Namun di depan matanya, pria yang memecat orang tanpa berkedip itu sedang berusaha memaksa tubuhnya sendiri berhenti gemetar.
Keira pelan-pelan mundur.
Sol sepatunya hampir tidak bersuara di karpet, tetapi mungkin napasnya terlalu berat. Mungkin Ethan sudah tahu sejak tadi. Mungkin di rumah ini, bahkan diam pun punya gema.
Sebelum Keira sempat berbalik penuh, suara Ethan terdengar dari dalam ruang kerja.
"Sudah lama berdiri di situ?"
Ia tidak menoleh.
Darah Keira seperti berhenti mengalir.