Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25: Arsip yang Ditutup
Seseorang menulis ulang penderitaannya agar tampak seperti kesalahannya sendiri sepenuhnya.
Kalimat itu mengikuti Rayhan sampai keesokan malam.
Pertemuan dengan mantan perawat kepala dilakukan di sebuah rumah makan kecil di Bekasi, jauh dari jalan utama. Perempuan itu datang memakai masker dan kerudung polos, duduk dengan punggung menghadap dinding. Ia tidak memperkenalkan nama lengkap, hanya berkata ia sudah lama berhenti dari dunia klinik.
"Saya tidak ingin muncul di mana pun," katanya.
Rayhan duduk di depannya. Gio berada di sisi kiri, laptop tertutup di meja. "Saya tidak akan memaksa Anda tampil. Saya butuh kebenaran."
Perempuan itu tertawa pendek, pahit. "Kebenaran selalu mahal, Pak."
"Saya bisa membayar."
"Bukan soal uang."
Rayhan menatapnya.
"Kalau begitu soal apa?"
"Keselamatan."
Gio mengeluarkan kartu tanpa logo mencolok. "Tempat aman dan bantuan hukum bisa disiapkan. Tanpa nama Anda muncul di tahap awal."
Perempuan itu memandang kartu itu lama. Lalu ia membuka tas kecil dan mengeluarkan flashdisk hitam.
"Saya tidak punya semua berkas. Tapi saya menyimpan salinan catatan malam pertama. Dulu saya menyimpannya karena takut suatu hari catatan itu dipakai untuk menyalahkan pasien."
Rayhan tidak menyentuh flashdisk itu dulu.
"Pasien K.Y.?"
Perempuan itu mengangguk.
"Apa yang terjadi malam pertama?"
Ia menarik napas panjang. "Dia masuk setelah tengah malam. Kondisi fisiknya lemah, ada tanda baru melahirkan, tapi tidak ada bayi bersama dia. Kesadaran naik turun. Setiap kali sadar, dia bertanya, 'bayiku mana?'"
Jari Rayhan menekan tepi meja.
"Catatan resmi?"
"Diubah."
"Menjadi?"
"Pasien mengalami episode psikologis dan meyakini adanya bayi yang tidak ada."
"Catatan asli Anda menulis apa?"
Perempuan itu menatap meja. "Pasien pascapersalinan, kehilangan kontak dengan bayi, krisis trauma akut. Saya menulis begitu karena itu yang saya lihat dari kondisi fisik dan responsnya. Saya bukan dokter, jadi saya tidak menulis diagnosis final. Tapi saya menolak menulis bahwa bayi itu tidak ada."
"Lalu siapa yang mengubah?"
"Dokter penanggung jawab menandatangani versi akhir. Tapi sebelum itu, Meilan datang membawa map dari keluarga. Ada surat yang menyatakan keluarga tidak pernah menerima bayi dan pasien punya riwayat tekanan berat."
"Riwayat itu benar?"
"Saya tidak melihat bukti. Hanya surat keluarga."
Gio mencatat cepat. "Suratnya masih ada?"
"Di arsip RS Jiwa, kalau belum dimusnahkan. Salinan klinik hilang setelah audit internal."
Gio menatap flashdisk itu.
"Siapa yang meminta perubahan?"
Perempuan itu menunduk. "Keluarga yang membayar. Perempuan bernama Meilan beberapa kali datang. Dia membawa surat pernyataan keluarga. Dokter penanggung jawab menerima."
"Fengky Yanto?"
"Datang sekali untuk tanda tangan berkas administrasi lanjutan. Dia tidak masuk menemui pasien."
Rayhan bertanya dengan suara rendah, "Ada catatan bayi laki-laki?"
Perempuan itu menggeleng. "Tidak di berkas klinik. Tapi ada catatan tubuh pasien yang menunjukkan dia baru melahirkan. Itu yang saya tulis. Itu juga yang mereka minta dihapus."
Ruang makan kecil itu ramai oleh suara pelanggan lain, tetapi meja mereka terasa terpisah dari dunia.
"Kenapa pasien dipindahkan?" tanya Gio.
"Karena dia terus histeris saat sadar. Dia menyakiti dirinya sendiri beberapa kali, tidak parah, tapi cukup membuat keluarga meminta pengawasan lebih ketat. Mereka bilang pasien harus dipindahkan ke fasilitas rekanan yang lebih tertutup."
Rayhan menutup mata sebentar.
Keira yang tersenyum malu saat dipuji cantik.
Keira yang meminta maaf untuk hal yang bukan salahnya.
Keira yang tidak ingat satu tahun hidupnya.
"Ke mana dipindahkan?"
Perempuan itu menatap Rayhan. "RS Jiwa rekanan di Bogor."
Gio membuka laptop.
"Tanggal?"
Perempuan itu menyebutkan tanggal.
Tanggal itu masuk dalam rentang kosong Keira.
Tanggal itu juga terlalu dekat dengan awal keberadaan Genki di panti.
"Siapa yang mengantar?" tanya Rayhan.
"Ambulans klinik. Tapi pihak keluarga ikut sampai administrasi awal. Saya ingat karena pasien waktu itu menangis tanpa suara. Dia sudah terlalu lemah untuk teriak."
Rayhan menatap meja.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada suara keras.
Hanya keheningan yang membuat Gio duduk lebih tegak.
"Kenapa Anda baru bicara sekarang?" tanya Rayhan.
Perempuan itu menatap tangannya sendiri. "Karena dulu saya pengecut. Karena saya punya anak. Karena saya pikir pasien itu mungkin sudah tidak ada. Lalu orang Anda menunjukkan foto Keira Yanto."
Suaranya bergetar.
"Dia hidup. Kalau dia hidup, setidaknya harus ada orang yang tahu dia tidak mengarang bayi itu."
Rayhan mengambil flashdisk itu.
"Mulai malam ini, Anda juga dilindungi."
"Saya tidak mau keluarga saya tahu."
"Mereka tidak akan tahu sampai Anda siap."
Gio mengangguk. "Saya atur jalurnya."
Perempuan itu berdiri hendak pergi, tetapi berhenti. "Pak."
Rayhan menoleh.
"Kalau Anda dekat dengan perempuan itu, jangan beri tahu semua sekaligus. Waktu itu dia hancur bukan hanya karena kehilangan bayi. Dia hancur karena semua orang di sekitarnya sepakat mengatakan rasa sakitnya tidak nyata."
Kalimat itu menancap lebih dalam daripada semua data.
Rayhan tidak menjawab sampai perempuan itu pergi.
Di mobil, Gio memasukkan flashdisk ke laptop khusus tanpa koneksi internet. File yang terbuka tidak banyak. Satu scan catatan awal. Satu foto jadwal pemindahan. Satu lembar administrasi RS Jiwa yang buram di bagian atas, tetapi jelas di bagian bawah.
Sebelum membaca lebih jauh, Gio membuat salinan terenkripsi dan mencatat waktu penerimaan file. Rayhan menunggu tanpa bicara. Untuk perkara seperti ini, emosi tidak boleh merusak rantai bukti.
Nama pasien: K.Y.
Pihak pengantar: Keluarga Yanto.
Alasan pemindahan: pengawasan trauma psikologis pascapersalinan.
Gio berhenti bernapas sejenak.
Rayhan membaca baris itu berkali-kali.
Pascapersalinan.
Satu kata yang dihancurkan dari hidup Keira.
"Pak," kata Gio pelan, "ini belum membuktikan bayi itu Genki."
"Aku tahu."
"Tapi membuktikan Keira melahirkan."
Rayhan menutup laptop perlahan.
Di luar mobil, lampu jalan Bekasi tampak buram oleh kaca.
"Dan membuktikan Yanto tahu."
Gio tidak menjawab.
Rayhan mengambil ponsel. Ada pesan dari Keira, dikirim dua puluh menit lalu.
Genki hari ini menggambar rumah lagi. Katanya kali ini sudah lengkap karena ada Papa, Kak Kei, dan dia.
Di bawah pesan itu ada foto gambar anak kecil: tiga orang berdiri di depan rumah biru, satu orang besar, satu perempuan berambut panjang, satu anak kecil di tengah.
Rayhan menatap gambar itu lama.
Lalu ia menyimpan foto itu ke galeri.
"Besok," katanya kepada Gio, suara sangat rendah, "kita mulai buka arsip RS Jiwa."
Gio mengangguk. "Baik, Pak."
Rayhan menatap lagi gambar dari Genki.
Rumah itu sudah lengkap di mata anaknya.
Tetapi kebenaran yang bisa menghancurkan dan menyelamatkan rumah itu baru saja mulai terbuka.
Dan ia tidak boleh terlambat lagi, tidak untuk Keira dan Genki.