Warning!!
***
Mawar datang ke keluarga terpandang itu sebagai menantu yang sempurna.
Cantik, lembut, dan tampak penuh bakti.
Namun di balik senyumnya yang manis, tersimpan dendam yang telah ia rawat selama bertahun-tahun.
Pernikahannya bukan tentang cinta.
Melainkan jalan untuk menghancurkan keluarga Black dari dalam.
Semua berjalan sesuai rencana… hingga satu hal mulai menggoyahkan tekadnya.
Suaminya.
Arestio Black mencintainya dengan tulus. Tanpa curiga. Tanpa syarat.
Tetapi ketika kebenaran akhirnya terungkap, cinta berubah menjadi luka paling dalam.
***
“Apa selama ini… kamu hanya memanfaatkan ku, sayang ?” bisik Arestio, suaranya retak.
Mawar tersenyum tipis, mata-nya berkabut. “Jika iya… apa kamu masih ingin memeluk ku, suamiku ?”
Di antara hasrat, tipu daya, dan rahasia masa lalu,
balas dendam berubah menjadi permainan perasaan yang mematikan.
Karena terkadang… racun paling berbahaya bukanlah kebencian. Melainkan cinta yang tumbuh di tempat yang sala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna Nellys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Terbakar
0o0__0o0
Sore menjelang malam saat Mawar kembali ke hotel tempatnya bekerja.
Bangunan megah itu berdiri elegan, di penuhi tamu-tamu kelas atas yang tidak pernah tahu—bahwa di balik senyum para stafnya, tersimpan banyak cerita.
Langkah Mawar anggun seperti biasa. Seragam-nya rapi, wajahnya kembali pada topeng profesional—ramah, sopan, tanpa cela.
“Selamat sore, Mbak Mawar.”
Mawar hanya membalas dengan senyum tipis. “Sore.”
Tak ada yang mencurigakan. Tak ada yang tahu… apa yang baru saja terjadi beberapa jam lalu.
Klek.
Pintu ruang staf khusus tamu VIP tertutup rapat.
Sunyi.
Mawar berdiri beberapa detik di sana, memastikan tidak ada siapa pun. Lalu perlahan, ia melangkah ke meja kerjanya.
Tasnya di letakkan.
Dan tanpa terburu-buru, ia mengeluarkan satu per satu kotak beludru itu.
Klik.
Kotak pertama terbuka.
Kilauan berlian langsung memantul ke wajahnya.
Klik.
Kotak kedua. Ketiga dan seterusnya.
Gelang, kalung, cincin dan anting yang tadi melingkar di anggota tubuhnya kini di lepas, lalu di letakkan perlahan di kotaknya masing-masing.
Satu per satu.
Semuanya tersusun rapi.
Ruangan itu dipenuhi cahaya dingin dari kilau perhiasan berlian mahal.
Mawar duduk perlahan di kursinya. Menatap. Diam. Namun kali ini… tidak ada lagi senyum lembut. Tidak ada lagi wajah menantu yang lemah lembut. Yang ada hanyalah tatapan tajam.
Dingin.
Penuh sesuatu yang jauh lebih dalam.
“Hadiah pernikahan…” gumam-nya pelan, nyaris seperti ejekan.
Ujung jarinya menyentuh kalung itu. Mengusap berlian yang berkilau sempurna.
“Seharusnya… ini milik mama mertua, Bukan ?” Guman'nya mengejek. "Tapi lihat sekarang ? Suaminya malah lebih memilih memberikan padaku."
Nada suaranya berubah.
Lebih berat.
Lebih kelam.
Bayangan masa lalu seolah berkelebat di matanya—penghinaan, penolakan, tatapan sinis dari seorang wanita yang tak pernah mau mengakuinya sebagai bagian dari keluarga.
Mama mertuanya.
Mawar tersenyum tipis. Namun senyum itu… sama sekali tidak hangat.
“Sebenarnya aku tidak Sudi harus merendahkan diri pada perempuan tua itu…” bisiknya lirih. "Demi membalaskan dendam bunda, aku bahkan tidak peduli jika harus mengorbankan hidup ku."
Tangannya mengepal perlahan di atas meja. Lalu ia menutup kembali kotak-kotak beludru itu. Mengangkat lalu menatapnya tajam, layaknya menatap musuh bebuyutan.
“Tidak apa-apa Mawar…” Nada suaranya lembut. Terlalu lembut untuk sesuatu yang berbahaya. “Pelan-pelan saja…”
Ia bersandar di kursi, menatap seluruh perhiasan itu seperti seorang pemain yang sedang menghitung langkah di papan catur.
“Papa mertua… sudah mulai berpihak padaku.”
Hening.
Lalu, dengan sangat pelan, Mawar tertawa kecil. Tawa yang tidak mengandung kebahagiaan.
“Kendali utama ada di tangan Rison dan aku harus bisa mengontrolnya dengan tangan ku sendiri…”
Matanya menyipit. Kilatan dendam itu semakin jelas.
“Lalu.. Boom!.” Ia melempar kotak dengan tegas. “Karena aku sendiri yang akan menghancurkan semuanya… sampai hancur lebur.”
Sunyi kembali memenuhi ruangan.
Namun kali ini… terasa lebih dingin. Lebih berbahaya.
Dan Mawar sudah tidak lagi bermain sebagai menantu yang baik.
0o0__0o0
Suasana ruang staf VIP itu masih dingin saat gangggang pintu tiba-tiba terdengar berputar.
Mawar tidak sempat membereskan semua kotak-kotak perhiasan itu.
Ceklek!
Pintu terbuka.
“Ares…”
Suara itu terhenti di tenggorokan Mawar saat sosok suaminya berdiri di ambang pintu.
Wajahnya tegang, rahang-nya mengeras, napasnya sedikit berat seolah menahan sesuatu sejak lama.
“Aku chat dari siang. Telepon juga nggak di angkat.” Suaranya rendah, tapi jelas menyimpan emosi. “Kamu dari mana saja, Mawar ?”
Mawar tidak langsung menjawab. Ia masih duduk di kursinya. Menatap wajah suami'nya. "Maaf sayang! Tadi aku ada urusan dadakan. Dan aku lupa tidak membawa hp."
Tatapan Ares langsung jatuh ke meja. Kotak-kotak beludru terserakan. Alisnya mengernyit tajam.
“Urusan apa, Mawar ?" Tanyanya dengan suara rendah. "Lalu Itu… apa ?”
Hening.
Sepersekian detik.
Mawar akhirnya bergerak. Ia merapikan kotak itu dengan tenang, lalu mengangkat wajahnya.
Ekspresi-nya sudah berubah lagi. Lembut. Tenang. Seolah tidak terjadi apa-apa.
“Tadi papa tiba-tiba ngajak makan siang, aku tidak enak jika harus menolak." Jelasnya. "Dan ini Hadiah,”
Ares melangkah masuk.
Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi pelan, tapi terasa tidak rapat.
“Hadiah ?”
Mawar berdiri perlahan. Tangan-nya mengambil salah satu kotak, lalu menunjukkan ke Ares.
“Untuk Mama. Aku tadi minta tolong papa untuk memilihkan saat ke toko berlian… Aku hanya mau coba ambil hati mama pelan-pelan.”
Ia berjalan mendekat, nada suaranya di buat setulus mungkin.
Namun Ares tidak sepenuhnya percaya. Tatapan-nya kembali ke meja.
“Terus yang tiga kotak itu apa ?”
Mawar refleks melihat ke belakang. Ia meletakan kotak di tangan-nya ke atas meja. Lalu tersenyum kecil.
“Ini ?” ia menunjuk tiga kotak itu dengan tangan-nya sedikit. “Papa yang kasih. Katanya… Untuk hadiah pernikahan kita.”
Kalimat itu ringan. Terlalu ringan. Namun dampak-nya, Ares langsung tersulut.
“Papa ?” ulangnya pelan.
Ada sesuatu di nada suaranya. Bukan sekadar kaget. Lebih ke… tidak nyaman.
“Kenapa Papa yang belikan ?” tanya Ares lagi, kali ini lebih tajam. “Aku masih hidup, Mawar.”
Hening.
Udara di ruangan itu tiba-tiba terasa berat.
Mawar menatap Ares beberapa detik. Lalu… ia mendekat. Sangat pelan.
“Aku tidak minta, sayang…” bisiknya lembut. “Papa sendiri yang maksa. Aku juga sudah menolak.”
Nada suaranya merendah. Seolah menjelaskan. Seolah tidak ingin memperbesar masalah.
Namun matanya diam-diam mengamati reaksi Ares.
Mengukur.
Menghitung.
Ares menghela napas kasar. Tangan-nya masuk ke saku celana, berusaha menenangkan diri.
“Aku cuma nggak suka… kamu terlalu dekat dengan Papa.”
Kalimat itu keluar jujur. Dan di situlah sebuah celah terbuka.
Mawar menunduk perlahan. “Maaf…” ucapnya lirih. Ia terlihat… bersalah. Rapuh. Padahal itu hanya lapisan. “Kalau kamu tidak suka… nanti kita kembalikan sama-sama ke papa, ya ?"
Tangan-nya mulai memasukkan kotak perhiasan itu ke dalam paper bag.
Gerakan-nya pelan.
Namun sebelum benar-benar selesai, Ares menahan tangan-nya.
“Sudahlah.”
Mawar mengangkat wajah.
Tatapan mereka bertemu.
Ares menghela napas panjang. “Nggak usah di kembalikan. Kamu simpan saja, tapi lain kali kamu harus ijin aku dulu sebelum memutuskan sesuatu.”
Nada suaranya melembut.
Pertahanan-nya… sedikit runtuh. Saat melihat wajah sedih dan bersalah istrinya.
Mawar diam. Lalu perlahan… mengangguk.
“Baiklah… tapi kamu tidak marah lagi kan, Yank ?”
Namun di balik mata yang tampak patuh itu, terselip kilatan halus.
Rencana yang mulai berjalan.
Satu langkah lagi berhasil.
Dan kini bukan hanya Rison yang mulai terikat. Tapi juga Ares… mulai terseret masuk ke dalam permainan yang bahkan belum dia sadari.
0o0__0o0
Ares masih berdiri di sana, napasnya berat, rahangnya sesekali mengeras.
Jelas sekali ada sesuatu yang mengganggu pikirannya—bukan hanya tentang Mawar, tapi juga hal lain yang ia pendam.
Mawar memperhatikan-nya dalam diam. Matanya menajam sesaat. Lalu… melembut kembali.
Ia melangkah pelan mendekat.
“Ares…” panggilnya lirih. "Kamu masih marah sama aku, Hem ?"
Ares tidak langsung menjawab. Hanya menggelengkan kepalanya sedikit, ekspresinya masih kaku.
Mawar berhenti tepat di depannya.
Jarak mereka… sangat dekat.
“Kamu lagi banyak pikiran, ya ?” suaranya halus, penuh perhatian.
Ares menghela napas. “Sedikit.”
Mawar tidak bertanya lebih jauh.
Sebaliknya, ia mengangkat tangan-nya perlahan… menyentuh dada Ares, merapikan kerah kemejanya yang sedikit berantakan.
Sentuhan kecil. Tapi cukup untuk mengubah suasana.
“Kamu terlalu tegang…” bisiknya pelan. "Mau aku kasih sedikit amunisi...?"
Ares menatap-nya.
Ada sesuatu di cara Mawar menatap—hangat, menenangkan, tapi juga… menariknya masuk lebih dalam.
Mawar sedikit berjinjit.
Jarak mereka semakin menipis.
“Diamnya kamu… Berati setuju.” suaranya nyaris tak terdengar.
Lalu tanpa banyak kata, ia menarik wajah suaminya sedikit… dan menempelkan bibirnya. Lalu melumat-nya perlahan.
Awalnya lembut.
Pelan.
Seolah hanya ingin menenangkan.
Namun detik berikutnya… sedikit lebih dalam. Lebih hangat.
Ares sempat terdiam. Terkejut. Namun hanya sesaat.
Tangan-nya refleks menahan pinggang Mawar, menariknya lebih dekat. Membalas ciuman istrinya lebih tegas, seolah melampiaskan semua emosi yang sejak tadi dia tahan.
Ruangan itu kembali hening.
Namun kali ini… di penuhi napas yang saling beradu.
Beberapa detik. Atau mungkin lebih lama.
Hingga akhirnya Mawar perlahan menjauh. Namun tidak sepenuh-nya.
Kening mereka hampir bersentuhan. Napas masih terasa hangat di antara keduanya.
“ Sudah Lebih baik, Sayang ?” bisik Mawar, senyum tipis terukir di bibirnya.
Ares menatapnya dalam. Emosinya yang tadi kusut… perlahan mereda.
“Iya…” jawabnya pelan.
Tangan-nya masih berada di pinggang Mawar. Enggan melepas.
"Tapi aku masih butuh lebih banyak amunisi lagi, Istriku."
Mawar tersenyum lembut. Tampak seperti istri yang hanya ingin menenangkan suaminya.
"Kalau begitu... Kamu bebas mengambil amunisi sebanyak yang kamu butuhkan, Suamiku."
Namun di balik tatapan itu, ada sesuatu yang lebih dalam. Lebih terencana.
Ares langsung melahap kembali bibir istrinya. Bibir yang selalu menjadi candu sekaligus obat mujarab di tengah gelisahnya yang saat ini ia rasakan.
Sedangkan Mawar diam. Menerima. Mengimbangi ciuman Ares yang kini berubah lebih liar dan agresif.
Karena bagi Mawar… sentuhan, perhatian, bahkan ciuman bukan hanya perasaan.
Tapi juga… cara paling halus untuk mengikat seseorang tanpa mereka sadari.
Pintu ruang itu tidak benar-benar tertutup rapat.
Ada celah kecil.
Dan di sanalah… seseorang berdiri. Menyaksikan apa yang ada di dalam sana.
0o0__0o0
soalnya diumpetin sama papa mertua 🤣🤣🤣🤣