Rahasia kelam membayangi hidup Kamala dan Reyna. Tanpa mereka sadari, masa lalu yang penuh konspirasi telah menuntun mereka pada kehidupan yang tak seharusnya mereka jalanin.
Saat kepingan kebenaran mulai terungkap, Kamala dan Reyna harus menghadapi kenyataan pahit yang melibatkan keluarga, kebencian, dan dendam masa lalu. Akankah mereka menemukan kembali tempat yang seharusnya? Atau justru terseret lebih dalam dalam pusaran takdir yang mengikat mereka?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, dendam, dan pencarian jati diri yang akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WikiPix, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NARASI Episode 29
Ratna masuk ke dalam rumah dengan ekspresi penuh kekhawatiran yang jarang terlihat di wajahnya. Begitu melewati pintu, seorang pembantu rumah tangga segera menyambutnya dengan sopan.
"Bu, sudah pulang?" tanya pembantu itu dengan nada ramah.
Ratna mengabaikan sapaan itu dan langsung bertanya dengan nada mendesak, "Apakah ada seorang wanita dan anak perempuan berusia lima tahun yang datang ke rumah hari ini?"
Pembantu itu tampak sedikit bingung sebelum menggeleng. "Tidak, Bu. Sejak pagi, tidak ada tamu yang datang ke rumah."
Jawaban itu membuat dada Ratna semakin sesak. Ia mengerutkan kening, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
"Apa kau yakin? Tidak ada siapa pun?" tanyanya lagi, suaranya terdengar lebih tajam.
Pembantu itu mengangguk dengan ragu. "Saya yakin, Bu. Kalau ada tamu, saya pasti memberi tahu."
Ratna terdiam sejenak, pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Reyna dan Kamala seharusnya sudah ada di rumah ini sejak kemarin. Ia sudah mengatur semuanya setelah pertemuannya dengan mereka dua hari yang lalu. Tapi sekarang, mereka menghilang begitu saja.
"Ke mana mereka?" gumamnya pelan, matanya menyipit penuh kecurigaan.
Ada sesuatu yang tidak beres.
Jika Reyna dan Kamala tidak datang seperti yang direncanakan, berarti sesuatu telah terjadi. Entah mereka berubah pikiran, atau ada seseorang yang menghalangi mereka.
Ratna menarik napas dalam, mencoba menenangkan pikirannya. Tidak mungkin ia membiarkan mereka lepas begitu saja. Jika perlu, ia akan mencari mereka sendiri.
Dengan langkah cepat, ia berjalan ke kamarnya, mengambil ponselnya dari dalam tas, setelah duduk di tepi ranjang, dan mulai menelpon seseorang.
Menunggu beberapa detik hingga seseorang di ujung sana mengangkat panggilannya.
"Ya, Bu?"
"Mereka tidak datang ke rumah. Padahal seharusnya sudah ada di sini sejak kemarin," suara Ratna terdengar tajam dan penuh tekanan.
"Aku tidak mau alasan. Aku ingin kau cari mereka. Sekarang juga!"
"Dimengerti, Bu. Saya akan segera melacak keberadaan mereka," jawab pria itu tanpa banyak tanya.
Ratna menutup telepon dan meletakkannya dengan kasar di atas meja. Matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan penuh amarah dan kecemasan.
Reyna dan Kamala tidak mungkin menghilang begitu saja. Dua hari yang lalu, ia sudah memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Kamala tampak setuju untuk ikut dengannya, dan Reyna… gadis kecil itu memang belum mengerti sepenuhnya, tapi Ratna yakin ia bisa mengendalikannya.
Jadi, apa yang terjadi?
Ratna berjalan mondar-mandir di ruangannya, mencoba mencari jawaban. Ada dua kemungkinan besar: Kamala berubah pikiran dan memutuskan untuk kabur, atau seseorang telah menghalangi mereka.
Jika benar ada orang lain yang ikut campur, siapa?
Ratna mengepalkan tangannya erat. Ia tidak akan membiarkan ini berlarut-larut.
"Aku tidak ingin hidupnya bahagia. Rencana ini harus berjalan dengan lancar, tidak boleh gagal."
Langkahnya perlahan membawanya ke arah jendela, matanya menatap keluar, melihat gemerlap dunia malam yang terasa begitu dingin setelah hujan mengguyur kota. Cahaya lampu jalan yang berpendar di genangan air mengingatkannya pada masa lalu—masa di mana segalanya berubah karena satu kesalahan besar.
Dengan napas berat, Ratna berbalik dan berjalan menuju ranjangnya. Ia duduk dengan kasar di tepinya, jari-jarinya mencengkeram sprei dengan erat.
"Kalau dulu aku dan Indira tidak menyukai pria yang sama, pasti semuanya tidak akan seperti ini," gumamnya, suaranya sarat dengan kebencian yang mendalam.
"Tapi Indira… dia sudah sangat kelewatan. Dia membuat keputusan terburuk dalam hidupnya saat mengambil Mas Bram dariku!"
Ratna meremas rambutnya dengan frustasi. Amarahnya meledak-ledak, dan ia tidak bisa menahannya lagi.
"Dasar wanita murahan, Indira!!" teriaknya, suaranya menggema di dalam kamar yang sepi.
Matanya memerah, dipenuhi dendam yang tak kunjung padam meski bertahun-tahun telah berlalu. Semua rasa sakit, semua kehilangan, semua kehancuran yang ia alami, semua karena Indira.
Dan sekarang, saat Indira mulai mendapatkan kebahagiaannya kembali, Ratna tidak akan tinggal diam. Ia akan memastikan bahwa Indira merasakan penderitaan yang jauh lebih besar daripada apa yang pernah ia alami.
Ketukan pelan terdengar di pintu kamar Ratna, diikuti suara gemetar milik pembantunya.
"Bu Ratna… Anda tidak apa-apa?"
Suara keras Ratna barusan membuat pembantu itu khawatir. Biasanya, majikannya selalu terlihat tenang dan penuh perhitungan. Tapi malam ini, ada sesuatu yang berbeda.
Ratna menutup matanya, berusaha mengendalikan emosinya. Ia tidak boleh terlihat lemah, bahkan di depan pembantunya sendiri. Dengan cepat, ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum akhirnya menjawab.
"Aku baik-baik saja! Pergi dari sini!" serunya dengan nada tajam.
Namun, pembantu itu tidak langsung pergi. Ia berdiri di balik pintu, ragu-ragu.
"Maaf, Bu, tapi saya mendengar Anda berteriak… Saya takut terjadi sesuatu."
Ratna memejamkan matanya lebih lama. Dasar pembantu bodoh! Ia tidak butuh belas kasihan atau perhatian dari siapa pun, apalagi dari seseorang yang hanya bekerja untuknya.
Ia bangkit dari ranjang, berjalan ke pintu dengan langkah cepat, lalu membukanya dengan kasar. Matanya menatap tajam ke arah pembantunya yang berdiri dengan wajah ketakutan.
"Aku bilang pergi, bukan?" katanya dingin.
Pembantu itu menelan ludah, lalu menunduk. "Maaf, Bu…" katanya sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menjauh.
Ratna menutup pintu dengan kasar dan bersandar di baliknya. Tangannya mengepal erat, rahangnya mengeras. Ia tidak bisa membiarkan emosinya meledak seperti ini. Tidak sekarang.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas meja. Ratna segera menghampirinya dan melihat nama yang tertera di layar.
Panggilan masuk dari Parman.
Tanpa ragu, ia segera mengangkatnya.
"Apa yang kau dapatkan?" tanyanya tanpa basa-basi, suaranya dingin dan tajam.
Di seberang sana, suara Parman terdengar serius. "Kami menemukan mereka. Mereka sedang berada di sebuah rumah di pinggiran kota, bersama seorang pria."
Ratna menyipitkan matanya, tubuhnya menegang. "Siapa?"
Parman terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Kami belum tahu pasti, tapi dari informasi yang saya dapat, pria itu bernama Affan."
Mendengar nama itu, Ratna langsung membatu. Rahangnya mengeras, dan matanya menyala penuh kemarahan.
"Affan…" gumamnya dengan nada penuh kebencian. Ia mengenal pria itu. Tidak menyangka bahwa Affan akan ikut campur dalam urusannya.
"Awasi mereka. Jangan biarkan mereka pergi ke mana pun," perintahnya tegas. "Aku akan segera datang ke lokasi."
Tanpa menunggu jawaban dari Parman, Ratna menutup telepon dengan kasar. Ia berjalan ke lemari, mengambil mantel panjangnya, lalu melangkah keluar dari kamar dengan penuh tekad.
Jika Affan berani ikut campur, maka ia harus bersiap menerima akibatnya.
Beberapa menit kemudian, Ratna sudah berada di dalam mobilnya, melaju dengan kecepatan tinggi menuju lokasi yang diberikan oleh Parman. Wajahnya tegang, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan tentang apa yang terjadi.
"Affan... Apa maumu sebenarnya?" gumamnya dengan nada penuh kebencian.
Ratna melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menembus jalanan malam yang sepi. Hingga tiga puluh menit kemudian, ia sampai di lokasi.
Ratna memarkir mobilnya di seberang rumah sederhana di pinggiran kota. Lampu di dalam rumah masih menyala, pertanda penghuninya belum tidur. Ia melihat dua pria berjaga di dekatnya, anak buah Parman yang sudah lebih dulu mengawasi.
Ratna keluar dari mobil, langkahnya cepat dan penuh determinasi. Parman segera menghampirinya.
"Bagaimana situasinya?" tanya Ratna tanpa membuang waktu.
Parman melirik ke arah rumah sebelum menjawab, "Mereka masih di dalam. Kami belum melihat ada pergerakan mencurigakan, dan Affan tampaknya tidak tahu kalau sedang diawasi."
Ratna menyipitkan matanya. "Apa Kamala dan Reyna terlihat baik-baik saja?"
Parman mengangguk. "Sejauh ini, ya. Tidak ada tanda-tanda mereka dalam bahaya. Tapi Bu, kalau kita ingin mengambil mereka, ini harus dilakukan dengan cepat dan bersih. Apakah Affan orang berbahaya?."
Ratna tersenyum sinis. "Aku tidak tahu itu. Tapi kita tidak boleh remehkannya, ia bisa menjadi ancaman yang berbahaya bagi kita."
Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan mendekati rumah itu, dengan percaya diri.
Ia tidak punya waktu untuk permainan kucing dan tikus. Jika perlu, ia akan menggunakan cara kasar.
Saat ia hampir mencapai pintu, tiba-tiba lampu teras menyala lebih terang, dan pintu terbuka.
Affan berdiri di ambang pintu, menatap langsung ke arah Ratna dengan ekspresi tenang, namun penuh kewaspadaan.
"Ternyata benar dugaanku," katanya dengan nada santai. "Kau akan datang ke sini sendiri."
Ratna tersenyum miring. "Tentu saja. Aku tidak suka berbasa-basi. Serahkan mereka padaku, Affan."
Affan menyilangkan tangan di dadanya. "Mereka bukan milikmu, Ratna."
"Oh, tapi mereka juga bukan milikmu!" Ratna mendekat, suaranya mulai meninggi. "Jangan ikut campur dalam urusanku, Affan!"
Affan menghela napas, lalu berkata dengan nada lebih tenang, "Aku hanya ingin memastikan mereka aman. Tidak lebih, tidak kurang."
Ratna terkekeh sinis. "Aman? Di tanganmu?" Ia melangkah lebih dekat.
"Jangan membuatku tertawa, Affan. Aku tidak tahu siapa kau dan siapa yang ada di belakangmu. Jangan berpura-pura menjadi penyelamat."
Mata Affan menajam. "Aku tidak perlu berpura-pura. Aku hanya melakukan apa yang benar."
Ratna meremas jemarinya, berusaha menahan amarah yang hampir meledak. Ia tahu negosiasi ini tidak akan berjalan mudah.
Di dalam rumah, Reyna dan Kamala sedang duduk di sofa, mendengar percakapan dari balik pintu dengan penuh ketegangan.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?