NovelToon NovelToon
The Mysterious Rose

The Mysterious Rose

Status: tamat
Genre:Teen / Misteri / Detektif / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 5
Nama Author: Minnie Harissa

A Mystery Thriller Novel

Hansel hanyalah biang onar di sekolah lamanya. Predikat cowok tampan yang suka menebar cinta sana-sini melekat kuat. Namun saat terpaksa pindah sekolah, semuanya berubah. Hansel dihadapkan pada perkara sulit. Tepatnya saat seorang gadis misterius dengan tatapan kosong mengatakan, "Aku bisa membuat hidupmu lebih menarik dibanding kisah dari novel thriller."

Anehnya, gadis itu benar. Kasus-kasus bunuh diri marak terjadi di SMA Gajah Mada. Yang mengherankan: kenapa si gadis misterius ikut menjadi korban?

Teror tak berhenti sampai di situ. Setelah kasus bunuh diri, dilaporkan ada seorang gadis yang menginjak mata manusia di depan gerbang.

Hansel tentu tak tinggal diam, mendadak ia berubah menjadi Detektif Holmes-Poirot. Dibantu dengan rekan sejawat, Ali dan Grisel, ia akan mengungkap siapa dalang di balik semua ini. Namun yang tidak Hansel tahu, akan ada luka besar yang menunggunya di akhir permainan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minnie Harissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Puluh Satu: Hanselio Kaban

"Kita mulai cari dari mana dulu nih, Bos?"

"Kita cari di lantai dua aja dulu."

"Kenapa? Tau dari mana di lantai satu gak ada?" Wajah kepo Tengku yang polos tampak sangat jelas begitu aku menyorotkan senter ke wajahnya. "Apaan sih, Bos. Silau, man."

"Tadi gue udah periksa ruangan-ruangan di lantai ini, tapi semuanya terkunci."

Tengku mengangguk-anggukkan kepala seperti boneka di dasbor mobil. "Tapi gimana kalo suratnya ada di ruangan yang terkunci itu."

Aku memutar otak mendengar pertanyaan itu. Aku juga sudah memikirkannya tadi, tapi belum mendapatkan jalan keluar. Jika aku harus mencari kunci-kunci ruangan ini di ruangan penjaga sekolah, itu pasti akan memakan waktu sangat lama dan belum tentu suratnya ada di ruangan yang terkunci. Makanya aku ingin periksa ruangan di lantai dua lebih dulu. Baru jika ternyata semuanya dikunci, aku terpaksa harus membobol ruangan orang yang pernah menyelamatkan hidupku dan Grisel di gudang waktu itu.

Aku pun mengutarakan pikiranku itu pada Tengku dan ia hanya mengangguk menyetujui.

Kami melangkah, menaiki satu per satu undakan tanpa berbicara sepatah kata pun. Begitu sampai di lantai dua, semuanya terasa hampa, ada kekosongan yang amat sangat di dadaku saat melihat koridor gelap di depan. Begitu menyesakkan sampai-sampai aku berpikir ingin segera pulang dan melupakan semua ini.

"Kok hawanya gini banget ya, Bos." Suara Tengku tercekat saat berbicara. Tapi aku berusaha untuk terdengar optimis saat mengatakan, "Gak pa-pa. Ayo kita periksa semuanya."

Kami mulai berjalan kembali, menghampiri pintu pertama. Terkunci.

"Jangan-jangan semuanya emang dikunci, Bos."

"Entahlah. Kita periksa aja dulu."

"Oke deh." Tengku berpindah ke sisi kanan, dan memeriksa pintu di sana.

Namun di lantai dua pun sama dengan lantai satu. Akhirnya kami memutuskan untuk berpindah ke lantai tiga. Ruangan pertama yang kuperiksa adalah perpustakaan, yang merupakan TKP pertama dari semua ini. Sementara kulihat Tengku tengah berdiri di depan ruang IT, tak jauh dari tempatku.

Aku memutar hendel dan pintu pun terbuka. Aku meneguk ludah saat mengingat semua kengerian sewaktu menatap tubuh Nixie yang tergantung di tempat ini. Dengan lidah menjulur dan semua cairan menjijikkan yang menemaninya sepanjang malam. Lalu mendadak wajah Nixie yang lehernya terjerat tali putih seperti di-zoom di depan wajahku, membuatku ragu sejenak untuk mendorong pintu lebih jauh.

Kembali aku meneguk ludah saat melihat meja besar yang dulu di atasnya...

Sial. Sial. Kenapa di saat-saat begini bayangan wajah dan tubuh Nixie tidak bisa hilang dari benakku? Semakin aku mencoba, yang ada mukanya malah semakin jelas terlihat.

Aku memanggil Tengku, "Ku." Astaga, suaraku terdengar menyedihkan sekali. Sekarang pasti aku kelihatan pengecut banget. Untung Grisel tak ada di sini untuk melihat muka cemenku ini. Astaga (2), bisa-bisanya aku memikirkan pandangan gadis itu di saat-saat begini.

Tengku datang mendekat. "Perpustakaan gak dikunci." Ia keheranan sendiri melihat ruangan tersebut. "Apa waktu pembunuhan Nixie juga begini, makanya dia bisa masuk."

Memikirkan itu, bulu kudukku merinding seketika.

"Pintu sama sekali gak terkunci, terus tanpa tau apa-apa dia masuk ke ruangan yang di dalamnya terdapat penjahat yang berniat mengakhiri hidupnya."

"Ah, lo jangan berpikiran negatif gitu," omelku sok berani. Padahal seluruh rambut di tubuhku sudah berdiri semua. "Gak apa-apa kok." Ah, omong kosong!

"Bos emang berani banget ya," puji Tengku tidak pada tempatnya.

"Biasa aja. Ayo masuk."

Kami masuk ke dalam. Menyusuri rak demi rak, memerhatikan setiap meja, menatap awas setiap sudut, dan sesekali mengarahkan senter ke belakang secara tiba-tiba jika merasa ada yang menguntit dari belakang. Aku serius. Terkadang aku merasa ada sosok yang terus menatapku dengan begitu intens. Sangat mencekam, tapi tak pernah ada apa-apa ketika aku berbalik ke belakang. Ya, anggap saja itu hanya perasaanku. Pasti begitu. Namun, saat aku hendak melanjutkan langkah, dari depanku, pada sebuah bingkai kaca besar, aku melihat sosok tinggi besar yang tengah berdiri mengintaiku. Dia bergeming di salah satu sudut. Tak bergerak sama sekali, namun aura mengancamnya malah terasa begitu jelas. Dengan kepala yang menunduk, sosok hitam itu perlahan menghilang ditelan kegelapan saat cahaya bulan menghilang ditimpa awan di luar sana.

Gelap gulita.

Sial. Aku hendak berlari menjauh. Namun sosok hitam itu seakan menahanku dengan kekuatan yang dimilikinya. Meski tak bisa melihatnya lagi di bingkai, aku dapat mendengar langkah kaki mendekat. Tap. Tap. Tap. Ia mendekat. Terus mendekat. Semakin dekat. Dan sebuah tangan dingin menyentuh pundakku yang menegang ketakutan.

"Bos kok termenung?"

Argh. Aku berbalik sembari menahan kesal. "Lo kok tiba-tiba ada di belakang gue?" Kupelototi Tengku yang mengernyit heran mendengar semburanku yang agak berlebihan.

"Ya, gue lagi meriksa rak-rak di sinilah, Bos. Terus pas gue belok, lo malah berdiri diem kayak orang kesambet. Gue takut tau Bos lo kenapa-napa. Sempat waktu gue tanya tadi tiba-tiba lo ketawa, udah deh, gue tonjok lo Bos terus lari pontang-panting."

"Jangan bilang tangan lo dingin karna takut."

"Hehe, kerasa banget ya. Abis tempat ini nyeremin sih."

"Tapi..." Kata-kataku terhenti, tak yakin apa aku harus mengatakan ini pada Tengku. Aku tahu itu bisa saja orang. Bahkan mungkin orang yang katanya ingin mengambil surat yang kami cari-cari itu. Tapi... Entah mengapa aku tak yakin untuk mengungkapkannya. Salah-salah Tengku juga akan ikut ketakutan saat aku menceritakan tentang sosok hitam yang berdiri mengintai itu. Uh, membayangkannya saja sudah seram. "Udah deh. Ayo kita cari lagi."

"Oke." Tengku bergerak untuk memeriksa kembali ruangan ini.

"Lo gak mau kita meriksanya bareng-bareng aja?" ucapku saat ia menjauh.

Tengku berbalik. "Buat apa? Kan makin lama."

"Iya sih. Ya udah gue juga nyari lagi."

Brengsek. Tengku tak terlihat terganggu sama sekali. Malah aku yang pengecut banget di sini. Tidak boleh. Aku tidak boleh lemah begini. Harus berani.

Kami kembali mencari. Namun jika tak tahu jelas benda yang dicari di mana. Aku rasa mustahil untuk kami mendapatkannya. Maksudku. Surat itu pasti bisa disembunyikan di mana saja. Bisa saja diselipkan di salah satu buku di perpustakaan ini. Atau berada di bawah salah satu keyboard komputer di ruang IT. Siapa yang tahu. Jika tak ada petunjuk. Mustahil kami bisa menemukannya. Kecuali sedang hoki lalu tiba-tiba ketemu. Itu lain cerita.

"Ini gak mungkin berhasil," kataku pada Tengku begitu kami keluar dari perpustakaan.

"Aku juga mikir gitu sih, Bos. Tapi tadi aku berharap mungkin, seenggaknya, kita bisa nemuin petunjuk gitu."

Aku mendesah. Lagi-lagi aku teringat kata-kata orang yang menyebutku goblok. Apa memang aku begitu ya. Huh.

"Coba tanya si King-King, Bos."

Si King-King. Ya ampun, namanya jadi jelek banget.

Sebenarnya aku sudah bertanya mengenai petunjuk kemarin. Namun si King-King itu pelit sekali. Dia hanya menyuruhku datang dan mencari. Aku merasa seperti dilempar ke padang pasir lalu disuruh untuk mencari sebutir pasir berwarna merah muda di antara pasir-pasir yang lain.

Tapi tak ada salahnya untuk mencoba bertanya lagi kan.

***

Sincerely,

Dark Pappermint

1
Ira Resdiana
"ya udah, cium deh tu taneman" .. wkekwkek mau²nya loh si Ali .. bukannya bareng² nyari aroma pesing sama²..
Erni Sasa
pantes aja sh di bunuh si nixie
puas juga gk apa"x dia mati😏
Erni Sasa
lebih enak dn elegant kaya gini thor bacanya❤❤pokoke
Erni Sasa
kalw menurutku sih ini novel ter epic terkeren dalam segi bahasa,dalm segi pov aah entahlah gk bisa di jabarkan dan seakan qt tuh ikut main di dalam,y🥰🥰❤❤
PENGGILA NOVEL
bagus banget
Nur Mutmainna Patta
in hp Tengku d hack bgtu yachhh
Ryoka2
😭
Ryoka2
😭😂
Ryoka2
Wkwkwk😂
zkdlinmy
emang ya cerita ini baguss banget, menarik. aku udah baca tentang Hansel, Grisel, Tengku dkk bener bener seruu, seremnya dapet, tegang apalagi. dari wp jadi kesini gara-gara penasaran lanjutan ceritanya. good job thor^^
Rani nay
ekstrim bgt berasa lagi ditempat kejadian 😭
Rani nay
nah benar kan si Jared
Rani nay
berarti pelakunya ada 3.
apa mungkin Gisel, Seno dan si mantannya Gisel arghh... bingung aku
Rani nay
fiks pelakunya Gisel sama Tengku.
Rani nay
akhirnya setelah berabad-abad nyari novel yg sesuai kriteria ku akhirnya dapat juga
Adinda
serem dan menegangkan
Febiana Safitri
ali tuh yg mencurigakan.. sok akting
Febiana Safitri
kayanya albino deh
atmaranii
Mr grey mah udh psti Dieter...aplg cm Dy yg blm ktngkep
atmaranii
mungkin dah janji ma grissel klo Dy GK bkl SMPe bnuh hansel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!