NovelToon NovelToon
Meraih Bintang

Meraih Bintang

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Bunga Lestari bukan siapa-siapa.

Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.

Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.

Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.

"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.

Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?

🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 002

Suara di Dalam Kepala

Bunga tetap berteriak.

Tentu saja ia berteriak.

Siapa pun yang baru bangun di ranjang rumah sakit, dengan kepala seperti dipukul palu dan suara laki-laki asing berbicara dari dalam kepala, pasti akan berteriak. Bunga bahkan merasa teriakannya masih kurang keras untuk ukuran kejadian tidak masuk akal seperti ini.

"Mbak! Mbak, tenang!" Seorang perawat membuka tirai dengan cepat. "Jangan banyak bergerak. Kepalanya baru dijahit."

Bunga menarik selimut sampai ke dada. "Ada orang ngomong!"

Perawat itu menoleh ke kursi kosong, lalu ke bawah ranjang. "Di mana?"

"Di sini!" Bunga menunjuk kepalanya sendiri. "Di dalam sini!"

Wajah perawat berubah satu garis lebih kaku.

"Mbak, coba tarik napas dulu, ya."

"Jangan lihat gue kayak orang gila."

"Saya tidak bilang begitu."

"Muka Mbak bilang begitu."

Suara laki-laki itu kembali terdengar, tenang sampai menyebalkan. "Secara teknis, reaksimu memang membuat mereka sulit menyimpulkan hal lain."

Bunga membeku lagi. Matanya membelalak. "Lu diam!"

Perawat ikut membelalak. "Saya?"

"Bukan Mbak."

"Lalu siapa?"

Bunga membuka mulut, lalu menutupnya. Bagaimana caranya menjelaskan bahwa ada pria berjas mahal yang tadi mungkin mati di atas tubuhnya, sekarang pindah jadi penyiar pribadi di kepalanya?

Ia menekan kedua pelipisnya. "Aduh, rek... gue dipukul atau dikutuk, sih?"

"Tidak ada indikasi kutukan," kata suara itu. "Kemungkinan besar ada anomali neurologis atau sesuatu yang belum bisa saya jelaskan."

"Bahasanya jangan kayak brosur obat!"

Perawat mundur satu langkah. "Saya panggil dokter dulu."

"Jangan!"

Terlambat. Perawat itu sudah keluar dengan langkah cepat.

Bunga menyandarkan punggung ke bantal, napasnya memburu. Ruang gawat darurat itu berbau antiseptik dan obat. Tirai hijau tipis membuat bayangan orang berlalu-lalang terlihat seperti hantu lewat. Di tangan kirinya tertancap infus. Di pergelangan kanannya ada gelang pasien tanpa nama lengkap, hanya tulisan `Perempuan, sekitar 20-an`.

Sekitar 20-an. Bahkan rumah sakit pun tidak yakin dia siapa.

"Kamu bisa mendengar saya?" tanya suara itu.

Bunga menatap langit-langit. "Kalau gue jawab, gue makin kelihatan gila."

"Kamu sudah menjawab sejak tadi."

"Diam."

"Saya perlu memastikan beberapa hal."

"Gue perlu memastikan lu bukan efek obat."

"Kalau saya efek obat, saya tidak akan tahu bahwa di balik tirai sebelah kanan ada petugas administrasi membawa formulir pembayaran."

Bunga spontan menoleh ke kanan. Tirai masih tertutup. Dua detik kemudian, seorang petugas perempuan menyingkapnya sambil membawa papan jalan.

"Mbak, sudah sadar, ya? Kami perlu data pasien. Namanya siapa?"

Bunga menelan ludah. Suara di kepalanya tidak berbohong.

"Bunga," jawabnya pelan. "Bunga Lestari."

"KTP-nya ada?"

Bunga meraba saku celana. Kosong. Celananya bahkan bukan celana yang ia pakai tadi. Rumah sakit memberinya celana pasien longgar. Tas kecilnya entah di mana. Ponsel murahnya hilang. Uang dua puluh ribu yang ia simpan di balik casing ponsel ikut lenyap.

"Gak ada."

"Nomor BPJS?"

"Gak punya."

Petugas itu menghela napas dengan sopan yang dipaksakan. "Keluarga yang bisa dihubungi?"

Bunga menatap selimut.

Tidak ada.

Nenek Ratna sudah lama tidak bisa dihubungi, karena tanah makam tidak punya sinyal. Kak Sari entah di mana, nomor lamanya sudah tidak aktif sejak Bunga datang ke Jakarta. Teman kos? Mereka bahkan tidak tahu nama lengkap Bunga.

"Tidak ada," jawab Bunga.

Petugas menulis sesuatu. "Nanti bagian administrasi akan bicara lagi. Untuk sementara Mbak jangan pergi dulu."

Kalimat `jangan pergi dulu` terdengar seperti pintu besi dikunci dari luar.

Begitu petugas itu pergi, Bunga langsung menurunkan kaki dari ranjang.

"Apa yang kamu lakukan?" suara itu bertanya.

"Kabur."

"Kamu baru saja dijahit."

"Lebih baik dijahit daripada dijual buat bayar tagihan rumah sakit."

"Rumah sakit tidak menjual pasien."

"Lu anak orang kaya, ya?"

Hening sebentar.

Bunga tersenyum miring meski kepalanya berdenyut. "Nah. Ketahuan."

"Saya tidak mengatakan apa pun."

"Justru itu. Orang miskin kalau dengar kata tagihan, refleksnya langsung paham. Lu malah bahas prosedur."

Ia mencabut plester infus dengan gigi.

"Jangan mencabut itu sembarangan," suara itu menajam.

"Kalau lu mau ngatur, muncul sini. Bantu bayar."

"Saya sedang tidak bisa muncul."

"Tentu. Suara kepala memang biasanya gak punya dompet."

Bunga meringis saat jarum infus keluar. Darah kecil muncul di punggung tangannya. Pada detik yang sama, suara laki-laki itu terhenti. Bunga merasakan sesuatu yang aneh, seperti ada orang lain ikut menahan napas di dalam dadanya.

"Kamu merasakannya?" tanyanya curiga.

"Ya."

Nada pria itu berubah. Untuk pertama kalinya, ketenangannya retak tipis.

Bunga menekan bekas infus dengan kapas. "Lu ngerasain sakit gue?"

"Tampaknya begitu."

"Bagus." Bunga menarik napas, lalu mencubit lengannya sendiri keras-keras.

"Akh!" suara itu tertahan.

Bunga hampir tertawa. "Oh, ini menarik."

"Jangan lakukan itu lagi."

"Lu jangan sok jadi bos di kepala gue."

"Kita perlu bekerja sama."

"Kita? Gue belum setuju ada kontrakan gratis di otak gue."

Langkah beberapa orang terdengar dari luar tirai. Dokter dan perawat mungkin kembali, mungkin bersama petugas keamanan kalau mereka menganggapnya pasien bermasalah. Bunga melihat sekeliling. Sandal tidak ada. Tas tidak ada. Pakaian aslinya juga tidak ada.

"Lihat ke kiri," kata suara itu.

"Apa?"

"Kiri. Rak linen."

Bunga menoleh. Di sudut ruangan ada rak berisi selimut bersih, masker, dan beberapa kantong plastik transparan berlabel barang pasien. Salah satunya berisi kaus lusuh, celana jeans, dan sendal jepit merah miliknya.

"Kok lu tahu?"

"Saya melihat ketika perawat masuk tadi. Kamu terlalu sibuk panik."

"Lu bisa lihat yang gue lihat?"

"Sepertinya demikian."

Bunga merinding, bukan karena dingin. Ia merasa telanjang dengan cara yang lebih buruk daripada tubuh tanpa baju. Matanya, telinganya, rasa sakitnya, semua bisa disentuh pria asing ini.

"Jangan lihat sembarangan," katanya pelan.

Suara itu ikut pelan. "Saya akan berusaha menjaga batas."

Jawaban itu terlalu sopan untuk situasi seabsurd ini. Bunga tidak tahu harus percaya atau menendang dinding.

Tirai terbuka sedikit. Sebelum dokter masuk, Bunga menyambar kantong barangnya, merunduk ke balik ranjang sebelah, lalu menyelinap keluar dari celah tirai lain. Tubuhnya limbung. Jahitan di kepala menarik kulitnya setiap kali ia bergerak.

"Jalan biasa," suara itu menginstruksikan. "Jangan seperti orang kabur."

"Gue memang kabur."

"Maka jangan terlihat seperti itu."

Bunga menggigit bibir. Ia menegakkan punggung dan berjalan melewati koridor. Seorang perawat menatapnya.

"Mbak, mau ke mana?"

Bunga hampir berlari.

"Jawab," kata suara itu cepat. "Katakan mau ke toilet. Tunjuk arah yang salah agar dia mengoreksi."

Bunga mengangkat tangan ke kiri. "Toilet sebelah sana, ya?"

"Sebelah kanan, Mbak," jawab perawat otomatis.

"Makasih."

Begitu melewati belokan, Bunga masuk ke toilet. Ia mengganti baju secepat mungkin, menahan nyeri, lalu keluar lewat pintu samping yang menuju lorong staf. Suara itu terus memberi arahan, mengingat posisi kamera, jam pergantian satpam, dan pintu darurat yang tidak dijaga karena dipakai kurir makanan.

"Kamu terlalu pintar buat suara gentayangan," gumam Bunga.

"Saya bukan suara gentayangan."

"Terus siapa?"

Hening.

Bunga berhenti di dekat pintu darurat. Di baliknya, suara jalan raya terdengar samar. "Nama lu siapa?"

"Untuk saat ini, sebut saja saya Tuan Misterius."

Bunga melongo. "Serius? Itu nama pilihan lu?"

"Lebih baik daripada kamu memanggil saya suara kepala."

"Tuan Misterius," ulang Bunga, lalu mendengus. "Norak banget, tapi cocok. Sok mahal."

Ia mendorong pintu darurat dan keluar ke gang samping rumah sakit. Udara malam Jakarta menampar wajahnya, lembap, bau knalpot, gorengan, dan selokan. Kepalanya masih sakit, perutnya kosong, tapi ia bebas dari meja administrasi.

Setidaknya untuk sementara.

Dua puluh menit kemudian, Bunga duduk jongkok di tepi trotoar dekat warung kaki lima. Ia berhasil menukar anting imitasi kecilnya dengan sebungkus nasi, telur dadar, sambal, dan sedikit ayam suwir. Bukan transaksi paling adil dalam hidupnya, tetapi malam ini ia tidak punya tenaga untuk tawar-menawar.

Ia membuka bungkus kertas minyak itu. Uap hangat naik ke wajahnya.

"Kamu yakin itu aman dimakan?" tanya Tuan Misterius.

"Kalau mati karena nasi bungkus, minimal mati kenyang."

"Standar keselamatanmu mengkhawatirkan."

"Standar hidup gue realistis."

Bunga menyuap nasi pertama. Sambal pedas menyengat lidah, telur dadar masih agak hangat, ayam suwirnya asin, dan nasi putihnya pulen di bagian tengah, sedikit keras di pinggir karena sudah lama di termos.

Di dalam kepalanya, Tuan Misterius tiba-tiba diam total.

Bunga berhenti mengunyah. "Kenapa?"

Tidak ada jawaban.

"Woi, Tuan Misterius. Lu mati?"

"Tidak."

Suaranya terdengar lebih rendah dari sebelumnya.

Bunga menyuap lagi, kali ini dengan sambal lebih banyak. Rasa pedas membuat matanya sedikit berair.

Tuan Misterius menarik napas, seolah ia yang sedang makan setelah bertahun-tahun lupa caranya.

"Ini," katanya pelan, "makanan terbaik yang pernah saya makan."

Bunga menatap nasi bungkus di tangannya, lalu tertawa kecil.

"Selamat datang di dunia orang lapar, Tuan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!