NovelToon NovelToon
PENGHIANATAN SANG ADIK

PENGHIANATAN SANG ADIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pelakor jahat / Mengubah Takdir
Popularitas:28.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ristha Aristha

Ariana harus menerima pukulan terberat dalam hidupnya, ketika suaminya ketahuan selingkuh dengan adiknya. Siapa yang mengira, berkas yang tertinggal suatu pagi membawa Ariana menemukan kejadian suatu perselingkuhan itu.
Berbekal sakit hati yang dalam, Ariana memutuskan untuk pergi dari rumah. Namun dibalik itu, dia secara diam-diam mengurus perceraian dan merencanakan balas dendam.

Apakah Ariana berhasil menjalankan misi balas dendamnya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristha Aristha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Salah Paham

Aku berjalan menuju ruangan Kenzi dengan jantung yang berdebar-debar. Sengaja laptop ku bawa, barangkali dia menanyaiku soal pekerjaan. Namun sebenarnya, aku butuh sesuatu yang bisa di peluk untuk sedikit mengurangi rasa gugup.

Entah sebuah keberuntungan atau sebaliknya, lantai tempat divisi kami dan ruangan Kenzi sama. Aku memang tidak perlu pindah lantai, tapi itu juga membuatku tak bisa lama-lama menenangkan diri.

Tidak masalah, Riana. Dia Kenzi, meski dia atasanmu sekarang . Mari bersikap biasa saja, layaknya bos dan karyawan.

Setelah mengangguk dan mengambil napas dalam-dalam, aku memantapkan hati dan berjalan tegak keruangan direktur yang berada disisi lain.

Itu memang yang aku katakan untuk meyakinkan diri, namun begitu sampai di depan ruangan Kenzi, kakiku mendadak lemas.

"Tenang, Riana. Kenapa kamu gugup kayak gini?" Ucapku kembali sambil menenangkan diri.

Aku berdiri mematung di depan pintu sesaat. Mengambil napas dalam, sebelum akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu. Tetapi baru saja aku mengangkat tangan, tiba-tiba pintu sudah di buka dulu dari dalam.

Ah, aku terkejut dan langsung beringsut mundur. Ternyata bukan Kenzi, tapi... Gladys.

Entah kenapa, aku merasa sedikit lega melihat gadis itu keluar. Meski saat aku ingin menyapa, Gladys terlihat melipat wajah dia seperti kesal dan bahkan sama sekali tidak tersenyum padaku.

Ya tuhan, sepertinya dia marah karena Kenzi memanggilku. Apakah aku mengganggu waktu mereka berdua? Maaf, Gladys tapi bos yang meminta ku untuk datang.

"Oh, kamu udah disini?" Tanya Kenzi, membuatku sedikit tersentak kaget. "Masuk, Riana. Jangan cuma berdiri di depan pintu saja ".

Ludah di dalam mulutku mendadak sulit di telan. Aku mengangguk, lalu berjalan masuk kedalam ruangan sambil berdoa di dalam hati, semoga Kenzi tidak memarahiku karena aku membuat kopi di saat jam kerja.

"Duduk, Ri", sambungnya.

Aku mengiyakan dan langsung duduk diatas sofa empuk yang hanya di ruangannya.

Ini pertama kalinya aku masuk keruangan direktur dan melihatnya secara langsung. Seperti yang kulihat di drama-drama, ruangan ini benar-benar luas dan mewah. Bahkan rasanya udara yang aku hirup berbeda dari yang biasanya.

"Mau minum?"

Aku segera menoleh , laku menggeleng dengan gugup. "Tidak usah... Pak?" Aku bahkan tidak tahu harus memanggil Kenzi dengan sapaan yang mana sekarang.

Saat aku gugup, Kenzi tiba-tiba tertawa. Apa ada yang lucu? Apa suaraku barusan aneh?

"Santai aja, Riana", sambungnya. Mana bisa aku santai dengan bosku sendiri? "Kamu boleh lihat-lihat aja dulu, aku mau ambilin kamu minum. Kopi? Ah, barusan baget kamu ngopi. Kalo gitu air putih aja, ya?"

Bibirku sudah terbuka ingin menolak, tapi agaknya percuma karena sifat Kenzi yang keras kepala. Akhirnya, aku hanya menurut, duduk menunggu sambil melihat-lihat ruangan itu.

Menarik, mirip sekali dengan gaya apartemen milik Kenzi. Oh, tunggu, kenapa aku baru ingat dia tiba-tiba pergi dari apartemen itu, apakah karena ini?

Namun saat aku masih memikirkan beberapa kemungkinan, Kenzi sudah kembali dan meletakkan satu botol air mineral di depanku. Hanya air mineral, Riana. Kenapa mataku membulat sempurna?

Tidak, bukan masalah airnya. Tapi Kenzi memberiku minum dengan Meri terkenal. Satu botol ini, ku dengar harganya bisa sampai ratusan ribu. Dompetku yang tipis meronta-ronta.

"Diminum, Riana. Atau kemu mau aku pesankan minuman yang lain?"

Aku buru-buru menggeleng. "Tidak usah. Ini sudah cukup untuk saya".

Entah apalagi yang lucu, tapi Kenzi terkekeh. "Riana, sudah aku bilang santai aja, kan?" Katanya.

Aku menelan ludah, menatap Kenzi dengan bola mata yang bergetar. "T__tapi.... Saya bawahan Ka__anda sekarang ", hampir saja aku kelepasan.

Kenzi tersenyum, matanya menatap dengan tenang. Ya, dia memang sedikit berbeda, tapi dia tetap Kenzi.

"Kamu karyawanku kalo lagi berkerja, tapi kalo gak, kita bisa ngobrol santai kayak biasanya ", sambungnya.

"Tapi ini masih jam kerja ".

"Tidak!" Kenzi menggeleng. "Kalo kita cuma berdua, itu gak dihitung jam kerja".

Ah, perkataan Kenzi semakin membuatku bingung. "Apa itu nanti saya harus mengganti jam kerja nanti?"

Kulihat keningnya justru mengkerut. "Kenapa kamu harus mengganti jam kerja?"

"Ya itu ..." Bola mataku menggeser kesembarang arah tanpa sadar, aku benar-benar gugup. "Kan tadi An_da bilang ini tidak dihitung jam kerja. Jadi...."

"Ah, kalo gitu aku revisi", ucap Kenzi. "Pokonya kamu boleh ngomong santai sama aku kalo cuma kita berdua, di ruangan ini. Kalo diluar walaupun berdua, kita bersikap profesional. Kamu gak perlu ganti jam kerja, mengerti?"

Tentu aku mengerti, tapi kenapa? Aku tidak masalah Kalau harus bersikap profesional selama berada di perusahaan.

Namun sekali lagi, aku akhirnya mengangguk menuruti perkataan Kenzi. Rasanya dunia benar-benar berputar seperti bola. Dulu dia yang berbicara sangat sopan padaku, dan sekarang aku yang harta bersikap profesional padanya.

"Nah, gitu dong!" Lanjutnya, membuatku semakin canggung dengan sikap santainya.

"Jadi, kenapa Anda memanggil say__"

"Ariana", Kenzi menatapku dengan intens. Seakan menyinggung jika ucapanku barusan salah.

"Ah, maaf", ucapku setelah sadar. "Jadi... Kenapa aku di panggil kesini?" Aku menyambung meskipun masih ragu-ragu.

Kulihat, Kenzi membenarkan jasnya . Alisnya naik turun sambil menatap. "Kamu gak ada yang diucapkan ke aku gitu?"

Bibirku reflek terbuka. "Selamat?" Ucapku, mencoba mengatakan hal yang paling masuk akal.

"Itu aja?" Kenzi mengernyit.

Aku berpikir keras, haruskah aku memberi selamat dengan meriah karena sudah berhasil menduduki jabatan direktur di perusahaan ini? Namun, sepertinya Kenzi bukan orang yang gila hormat seperti itu.

"Iya." Aku akhirnya mengangguk. "Tapi, ada yang mau aku tanyain, boleh?"

"Tentu saja. Tanyain semua yang ingin kamu tau, asal jangan berapa penghasilanku. Masih belum saatnya soalnya ".

Refleks aku tertawa. Kenzi tetap Kenzi, dia selalu bisa mencairkan suasana.

"Jadi, apa yang mau kamu tanyain?"

"Ah, itu ... Soal kepindahanmu y mendadak , apa karena kamu mau jadi direktur?" Tanyaku.

Kenzi bergeming, tampak berpikir sebentar. "Sebenarnya bukan itu, sih. Soalnya aku udah janji sama Mama, tinggal sendiri cuma sampai magang selesai. Jadi pas magangnya udah selesai, aku buru-buru di suruh balik ke rumah".

Aku mengangguk-angguk masuk akal, meski masih ada beberapa pertanyaan lain yang ingin aku tanyakan . Tapi nanti aja, jangan sekarang.

"Aku beneran gak nyangka, kamu bakalan jadi atasanku, Kenzi ", sambungku.

Sudut bibir Kenzi naik, dia tersenyum. "Apa kamu gak seneng? Kamu lebih nyaman jagi besti?"

"Bukan begitu ", aku segera menggeleng, meluruskan kesalahpahaman barusan. "Aku cuma kaget aja. Kamu gak ada bilang sama sekali soal itu".

"Hehe", Kenzi malah nyengir, seperti sengaja menyembunyikan hal ini dariku. "Oh iya, Ri. Gimana rekan-rekan divisi editor?"

"Mereka baik-baik ", ucapku. Benar, setidaknya tidak ada dari mereka yang jahat .

Kenzi bergeming, sorot matanya seperti penuh dengan kecurigaan. Namun belum sempat dia kembali bertanya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.

Seorang laki-laki, kalau gak salah sekretaris Kenzi? Dia masuk sambil membawa beberapa berkas yang terlihat penting.

Tak mau menganggu , aku buru-buru bangkit dan pamit. "Kalau begitu saya permisi dulu, Pak", ucapku, kembali ke mode profesional.

Aku keluar dari ruangan Kenzi dengan jantung yang masih berdebar-debar. Entah karena takut, atau ada hal lain. Yang jelas, jantungku dalam kondisi tidak aman sekarang.

Ketika aku baru tiba di ruangan divisi editor , tiba-tiba seseorang memanggil. Aku menoleh, daan ternyata itu Gladys.

"Riana, bisa kita bicara sebentar?"

Ah, benar. Aku lupa, gadis ini pasti tidak suka jika aku berduaan dengan Kenzi seperti tadi. Baik , mari kita jelaskan kalau aku dan Kenzi tidak memiliki hubungan yang patut dicurigai.

Tunggu, tapi kenapa aku masih bergetar?

1
Roro
pada benalu anak nya yang salah, malah nyalahin orang lain
Roro
jangan kan adek tiri adek angkat, adek kandunh pun mau kek gitu
Becce Ana'na Puank
Luar biasa
Kasih Bonda
next thor semangat
Kasih Bonda
next thor semangat.
Kasih Bonda
next thor semangat
Kasih Bonda
next thor semangat.
Kasih Bonda
next thor semangat
Kasih Bonda
next thor semangat.
Kasih Bonda
next thor semangat
Ma Em
Ada apa dgn papanya Riana mungkinkah Riana mau dijodohkan !
Kasih Bonda
next thor semangat.
Kasih Bonda
next thor semangat
Ma Em
Sabar Riana semoga kamu segera mendapatkan pekerjaan yg baik juga atasan yg baik juga yg bisa menghormati dan melindungi seorang wanita dari orang2 yg mau melecehkannya dan segera dapat pengganti Dimas.
Ma Em
makanya Riana kamu jgn lemah lawan Ayuna dan ibunya yg selalu menghina dan merendahkan mu Riana kalau kamu diam Ayuna dan ibunya makin menjadi tambah berani dia dan jgn dituruti kemauan mereka lebih baik cari kebahagiaanmu sendiri Riana tinggalkan orang2 yg tdk tau diri itu.
Kasih Bonda
next thor semangat
Ma Em
Semangat Riana kamu jgn patah semangat semoga kamu bisa melewati cobaan dgn legowo dan cepat lepaskan Dimas biarkan dia dgn Ayunda untuk apa Riana pertahankan lelaki mokondo yg cuma morotin uang kamu Riana, semoga Riana cepat move on dan aku berharap sih Riana berjodoh dgn Kenzi meskipun umurnya lbh muda dari Riana.
Ma Em
Bagus thor ceritanya aku langsung suka apalagi cerita perselingkuhan yg si istri yg diselingkuhin tdk bodoh dan berani melawan pada si suami dan pelakor .
Kasih Bonda
next thor semangat.
Kasih Bonda
next thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!