Ranaya Aurora harus rela mengakhiri hubungan asmaranya dengan sang kekasih karena perselingkuhan. akibat dari itu, Naya tidak lagi percaya cinta dan pria sehingga memutuskan untuk tidak akan pernah menikah.
akan tetapi, tuntutan keluarga membuatnya harus menikah. Aero Mahendra menjadi pilihan Naya, lelaki asing dengan usia empat tahun di bawahnya. Walaupun pernikahan itu di tentang keluarga hanya karena perbedaan status sosial, Naya kekeh memilih Mahen atau tidak menikah sama sekali.
Bagaimana Naya menjalani pernikahan dan hidup bersama Mahen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mabuk
Rina pulang dengan sumringah, tentu di sambut Mahen dengan penuh keheranan apalagi di tambah seragam sales yang di pakainya itu membuat Mahen makin menggelengkan kepalanya.
"Mama habis magang lagi jadi sales di perusahaan kita? Gak ada kerjaan banget kayaknya," cetus Mahen.
"Terserah mama lah, lagi pula mama bosan di rumah terus!" jawabnya kemudian duduk di samping Mahen.
"Bukannya baru buka cabang salon yang baru? Kenapa gak di urusin?" tanya Mahen.
"Ya bosan kalau harus setiap hari ke salon. Lagi pula salon sudah banyak karyawan yang urus!" ungkap Rina.
"Terserah mama saja lah, yang penting mama senang," pasrah Mahen. Sifat keras kepalanya memang menurun dari kedua orangtuanya.
"Ah kamu tahu saja kalau mama lagi senang.
"selain mama mengecek pekerja dan penjualan, mama juga sambil cari-cari jodoh untukmu. Semalam kamu nanya soal perjodohan, mama jadi kepikiran untuk segera mencarikanmu jodoh agar kamu mau mengurus perusahaan." tuturnya begitu bersemangat dan tentu itu membuat Mahen menghela nafas begitu berat.
Mama ... Aku gak mau di jodohkan. Sudah aku bilang kalau aku akan mencari jodoh sendiri! Gak gak mau ... Aku sudah bisa menebak bagaimana jodoh pilihan mama itu. Pasti bukan tipeku!" tolak Mahen.
"Mama yakin seribu persen kalau perempuan pilihan mama ini sesuai dengan tipemu. Kalau kamu setuju, mama akan hubungi dia dan mengajaknya bertemu. Kayaknya dia juga lagi patah hati," jelas Rina.
Mahen melebarkan senyumannya dan meraih kedua tangan ibunya itu. "Sebelumnya terima kasih atas usaha mama untuk mencarikanku jodoh, tapi maaf aku menolaknya. Aku akan menemukan jodohku sendiri, oke mama ...."
"Hmmm ... Yasudahlah kalau begitu mama tidak akan memaksamu, tapi kembali lah ke rumah ini. Mama dan papa tidak akan memaksamu lagi janji ..." pinta Rina.
"Aghh kalian selalu bicara begitu, buktinya selalu memaksaku untuk mengambil alih perusahaan." Mahen bangkit dari duduknya untuk segera pergi.
"Aku ada urusan penting dulu, Ma. Jadi harus pergi sekarang. Bye mama ... Muaaaachhh ..." mengecup pipi mamanya itu kemudian berlalu dengan cepat.
"Itu anak selalu saja begitu," gerutu Rina.
Sungguh di sayangkan perempuan pilihannya langsung Mahen tolak padahal ia sudah suka pada Naya.
Di sisi lain, Naya baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, semua orang sudah pulang. Hanya tinggal dirinya yang masih berada di kantor.
Sekuat apapun melupakan Miko, ada saja yang membuat ingatan cintanya kembali hadir. Kenangan itu selalu berusaha Naya kubur, tapi tidak bisa sepenuhnya hilang begitu saja.
Apalagi kejadian siang tadi membuatnya mengingat hal yang menyakitkan. Sebelum ketahuan selingkuh, mereka sempat membahas rumah yang akan mereka tempati setelah menikah.
"Aku terlalu bodoh selama tiga tahun ini, mencintai pria yang salah dan menimbulkan luka yang begitu dalam!" gumam Naya.
Tringgg ....
Naya mendapatkan pesan di ponselnya. Ternyata Lusia yang mengirimi pesan mengatakan kalau jangan sampai lupa untuk menghadiri pesta ulang tahunnya.
"Aghhh aku sampai melupakan ulang tahun sahabatku sendiri. Mana belum beli kado!" Naya bergegas merapikan pekerjaannya dan kemudian berlalu pergi.
Di perjalanan, Naya mampir ke toko perhiasan. Untung saja masih ada yang buka. Ia membeli sebuah kalung untuk di jadikan hadiah untuk Lusia. Tanpa menunggu lama, ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju tempat pesta yang di adakan di club milik suami Lusia.
Sambil jalan sambil touch up sedikit-sedikit merapikan riasannya. Saat di lampu merah, Naya tidak sengaja melihat Mahen di pinggir jalan bersama anak-anak jalanan dan pengamen.
"Mahen lagi ngapain? Apa dia kerja sampingan jadi pengamen?" pikirnya karena melihat Mahen memegangi sebuah gitar. "Kasihan banget dia ...."
Ingin menghampiri Mahen, tapi waktunya mepet. Kemudian ia melajukan mobilnya setelah lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.
Mahen yang menyadari mobil Naya melintas menatapnya dengan tersenyum tipis.
"Abang kenapa senyum-senyum?" tanya salah satu anak.
"Tidak apa-apa. Sudah sana cepat pada makan, abang traktir kalian semua makan sepuasnya ..." ujar Mahen dan itu membuat anak-anak itu senang.
"Naya mau kemana? Perasaan arah kerumahnya bukan kesana deh," gumam Mahen penasaran.
Setelah makan malam bersama anak-anak itu, Mahen pamit untuk pulang dan sebelum motornya melaju, ia mendapatkan panggilan dari temannya yaitu Rio yang mengajaknya bertemu dan Mahen setuju.
Acara ulang tahun Lusia cukup meriah dan Naya menikmati acara itu.
"Aduh, jangan minum dong, Naya ..." larang Lusia.
"Dikit doang kok!" ujarnya seraya meneguk minuman yang di pegangnya. Di kalangan seperti mereka sudah tidak aneh jika minum-minum seperti itu apalagi kalau sedang patah hati.
"Oke ... Have fun yaaa ..." ucap Lusia meninggalkannya duduk sendirian karena dirinya harus menyapa teman lainnya.
Kemudian dua orang pria muda datang menghampiri Naya dan duduk mengapitnya. Dari gelagatnya terlihat kalau dua pria itu punya niat tidak baik.
"Kakak sendirian aja nih?"
"Butuh teman gak?"
Naya melihat mereka bergantian. "Kalian siapa? Saya gak butuh teman. Sana pergi!" katanya.
"Tidak baik wanita cantik sendirian saja, kami temani, ya?" ujarnya hendak memegang dagu Naya.
Akan tetapi, belum sempat tangan itu menyentuh dagu Naya. Mahen datang dan menarik tangan pria itu sampai menjauhinya.
"Saya pacarnya! Sana kalian pergi," usir Mahen.
Dengan cepat kedua orang itu pergi lalu Mahen duduk di samping Naya.
"Kamu siapa lagi? Jangan ganggu saya!" ucap Naya ngelantur. Matanya menyipit lalu tersenyum, "Eh ternyata Mahen. Kenapa kamu disini?" tanyanya.
Sepertinya efek alkohol itu sudah menyerang kesadaran Naya.
"Kamu mabuk lagi!" seru Mahen.
Mahen melihat sekitar dan tidak mendapati ada orang yang di kenalnya. "Kamu datang kemari bersama siapa?"
"Tuh ..." tunjuk Naya sembarang.
"Siapa?"
"Aghhh kau jangan ganggu. saya mau sendirian ... Pergi ... Pergi ..." ujar Naya.
Tidak bisa membiarkan Naya lebih lama lagi, Mahen memutuskan untuk membawa pulang mengantarkan ke rumahnya meninggalkan motor ia titipkan pada temannya yang janjian tadi.
"Tunggu dulu sebentar, nanti aku balik lagi. Aku titip motor!" kata Mahen.
"Oke. Hati-hati ...."
Mahen mengendarai mobil Naya sementara Naya duduk di kursi samping kemudi. "Aghhh kenapa cowok tuh pada jahat-jahat sih? Gak ada yang bisa di percaya, nyakitin semuanya. Makin mesra sama selingkuhan, pamer kemesraan ... Jijik banget ..." gerutu Naya ngelantur.
"Kayaknya kamu trauma banget sama cowok? Semakin sulit saja aku mendekatimu ..." gumam Mahen.
Setelah perjalanan hampir tiga puluh menit, Mahen sampai di depan rumah Naya dan pak satpam membukakan gerbang.
Mahen membangunkan Naya yang sudah tertidur, tapi tidak kunjung bangun dan akhirnya ia menggendongnya ala bridal style. Mengetuk pintunya dan pelayan yang membuka pintu.
"A–ada apa dengan Nona?" pelayan itu panik dan memanggil tuan juga nyonyanya.
"Ya ampun ... Naya ... Kamu kenapa? Tidurkan di sofa cepat!" Suci tidak kalah paniknya.
Sementara Ilham mencium bau alkohol yang menyengat dan menatap Mahen dengan tajam.
Mahen mengingat sesuatu, sebelumnya Naya juga mabuk dan temannya menyuruh mengantarkan ke hotel bukan ke rumah. Dari tatapan Ilham, ia sadar telah melakukan kesalahan besar.