Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.
Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.
Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.
Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8. Keputusan
Sesampainya kembali di rumah, kedua orang tua Noa masih terus menggerutu di ruang tengah. Ayahnya berjalan mondar-mandir sambil memijat tengkuknya, sedangkan ibunya duduk dengan melipat tangannya, wajahnya masih masam.
“Apa-apaan itu? Mereka bahkan tidak menghargai kita sebagai keluarga!” gerutu ayah Noa, suaranya bergetar menahan kesal.
Ibu Noa menimpali, “Padahal kita datang baik-baik. Adikmu itu selalu saja menganggap dirinya lebih tinggi dari kita. Sama saja dengan istrinya.”
Namun Noa sama sekali tidak masuk dalam percakapan itu. Kepalanya dipenuhi suara lain, suara Landerik di taman belakang yang terdengar jujur namun dingin, suara Riana yang memohon dengan mata memerah, suara orang tuanya yang memaksanya memilih jalan yang tidak pernah ia inginkan.
Noa masuk ke kamarnya dan menutup pintunya rapat-rapat. Kamar kecil itu terasa seperti dunia ternyaman baginya, tempat terakhir di mana ia bisa bernapas tanpa tekanan. Noa membiarkan tubuhnya jatuh ke tempat tidur, menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Hembusan napasnya berat, seperti ada batu yang menekan dadanya.
“Kehidupan yang layak, bahkan tanpaku.” gumamnya lirih, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri.
Pikiran itu menakutkan, tapi anehnya juga memberi sedikit ruang lega. Jika ia menerima pernikahan itu, ia akan terbebas dari lingkaran kecil yang menghimpitnya selama ini. Terlepas dari orang tuanya, terlepas dari keterbatasan, namun juga terlepas dari seluruh harapan yang ia bangun sendiri.
Nolan, Nama itu muncul di pikirannya bersama rasa hangat yang langsung membuatnya meringis. Ia meraih ponselnya, layar menyala menampilkan beberapa notif pesan yang belum ia baca.
Nolan (3 pesan)
Noa, kamu baik-baik saja?
Aku tidak melihatmu pagi tadi,
Tolong balas kalau kamu sudah di rumah. Aku khawatir.
Kalimat terakhir di pesan itu membuat hati Noa terasa dijepit dari dua arah, rasa bahagia kecil karena ada seseorang yang tulus mengkhawatirkannya, dan rasa sakit karena ia tahu mungkin ia tidak akan pernah bisa meraih apa yang diinginkan hatinya.
Ia menggulir pesan-pesan dari Nolan itu beberapa kali, namun jarinya tak sanggup untuk mengetik balasan.
“Noa…” panggil ibunya dari luar kamar.
“Besok kita harus bicara lagi, ya. Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu.”
Noa memejamkan mata. Yang terbaik… untuk siapa?
Di luar, rumah masih dipenuhi suara gerutuan kesal orang tuanya. Tapi di dalam kamar, Noa terbaring tanpa bergerak, memandangi pesan-pesan Nolan sambil menahan perasaan yang semakin kusut.
Malam berjalan perlahan, seperti memberi waktu lebih untuk Noa tersesat dalam pikirannya sendiri, di antara cinta yang baru mekar, tuntutan keluarga, dan masa depan yang samar-samar terlihat seperti jalan panjang yang tidak bisa ia pilih sendiri.
...♡...
Di ke esokan paginya. Cahaya matahari yang lembut menembus tirai kamar Noa. Ia bangun lebih awal dari biasanya, matanya masih terasa berat, tapi pikirannya sudah penuh oleh keputusan yang semalam ia bentuk perlahan diam-diam, dalam sunyi yang panjang.
Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap kedua tangannya sendiri.
“Jika aku menerima pernikahan itu, aku bisa pergi dari rumah ini. Aku bisa memiliki ruangku sendiri, hidupku sendiri.”
Meski tidak ada cinta dari Landerik, ia akhirnya mengerti bahwa laki-laki itu tidak akan menghalanginya untuk melakukan apa pun. Justru itu yang Noa butuhkan, kebebasan.
Ia mengambil ponselnya. Di sana, pesan-pesan dari Nolan masih belum dibalas.
“Noa, kamu baik-baik saja?”
“Maaf kalau tadi malam aku terlalu khawatir.”
“Hubungi aku kalau kamu butuh apa pun.”
Noa menggigit bibirnya. Ada kehangatan aneh saat membaca pesan-pesan itu sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari orang-orang rumahnya.
Sementara di ruang tengah, suara langkah kaki ayah dan ibunya terdengar. Mereka sudah mulai berdebat pelan, mereka masih saja membahas sambutan buruk keluarga Riana semalam. Mereka mengomel, saling menyalahkan, tetapi Noa sudah tidak peduli lagi. Untuk pertama kalinya, ia merasa dirinya melihat hidupnya dari kejauhan seperti penonton, bukan bagian dari hiruk pikuk kecil itu.
Ia menarik napas panjang, lalu berdiri. Inilah hari di mana ia akan mengatakan keputusan besarnya.
Ketika ia berjalan ke ruang makan, kedua orang tuanya terdiam memandangnya. Ada harapan besar di mata mereka harapan yang menekan, tapi juga membuat Noa sadar bahwa mungkin satu-satunya cara membuat semuanya lebih baik adalah dengan meninggalkan sarang kecil yang selama ini menahannya.
“Noa,” panggil ibunya pelan, “bagaimana menurutmu tentang undangan makan tadi malam?”
Noa menatap keduanya wajah-wajah lelah, keras kepala, tetapi juga penuh kecemasan akan masa depan.
Noa menghela napas, mencoba tersenyum tipis.
“Aku sudah memikirkan semuanya,” Sejenak ia menggenggam erat tangannya sendiri untuk menguatkan diri.
“Aku sudah punya keputusan.” Noa berdiri tegak di depan kedua orang tuanya. Meski jantungnya berdegup kencang, wajahnya tampak tenang.
“Aku… Akan menerima tawaran Riana,” ucap Noa akhirnya.
Sejenak ruangan itu hening. Ayah dan ibunya saling bertukar pandangan, memastikan bahwa mereka tidak salah dengar. Lalu seketika wajah ibu Noa memerah karena bahagia. Senyumnya mekar luas, bahkan matanya berkaca-kaca.
“Kau, benar-benar akan menerimanya?” tanya ibunya dengan suara bergetar. Noa mengangguk pelan. “Iya, Bu. Aku sudah memikirkan semuanya. Ini, keputusan terbaik untuk kita.”
Ayahnya menghela napas lega panjang, seperti beban besar yang selama ini menindih pundaknya mendadak hilang begitu saja.
“Bagus, bagus sekali, Noa.” Suaranya terdengar jauh lebih lembut dari biasanya. “Ini bisa menjadi masa depan yang baik. Untuk kita semua.”
Ibunya mendekat, memegang kedua tangan Noa erat terlalu erat, seperti takut jika Noa berubah pikiran.
“Noa, kau tidak tahu betapa bahagianya Ibu. Ini kesempatan yang tidak akan datang dua kali. Hidupmu akan berubah, Nak. Kau akan aman. Kita semua akan aman.”
Noa menarik senyum samar, meski di dalam dadanya ada perasaan ganjil campuran lega, takut, dan sedikit hampa.
“Aku melakukannya karena aku ingin hidupku berubah,” katanya dengan lembut, tidak menyebutkan bagian bahwa ia juga ingin pergi jauh dari lingkar kecil yang selama ini menahannya.
Ayahnya menepuk bahu Noa, untuk pertama kalinya tanpa nada marah atau tuntutan.“Kau telah membuat keputusan yang tepat, nak.”
Suasana rumah terasa lebih hangat atau mungkin hanya lebih bising dengan kebahagiaan kedua orang tuanya. Mereka mulai membicarakan hal-hal praktis, pakaian apa yang harus dipersiapkan, kapan harus pergi ke rumah Riana, apa yang harus dibicarakan dengan keluarga Landerik.
Sementara itu, Noa duduk diam di kursinya, membiarkan suara-suara itu mengalir melewatinya seperti angin. Ia menatap jendela, membayangkan dunia besar yang mungkin nantinya ia masuki.
Lalu ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Nolan muncul.
“Pagi. Kau sudah lebih baik? Aku masih khawatir. Tolong balas pesanku."
Tanpa sadar, Noa menggenggam ponselnya lebih erat. Keputusan sudah ia buat. tapi ia tahu, dunia yang menunggu di depan tidak sesederhana itu.
To Be Countinue...