NovelToon NovelToon
Mama Untuk Papa

Mama Untuk Papa

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Anak Genius / Tamat
Popularitas:3.7M
Nilai: 4.8
Nama Author: Buna Seta

Menikah muda bukan pilihan Arumi karena ia masih ingin menyelesaikan kuliah yang tinggal selangkah lagi. Namun, pertemuannya dengan Adeline anak kecil di mana Arumi bekerja membuat keduanya jatuh hati. Adeline tidak mau perpisah dengan Arumi bahkan minta untuk menjadi ibunya. Menjadi ibu Adeline berarti Arumi harus menikah dengan Davin pemilik perusahaan.

Bagaimana kisah selanjutnya? Kita ikuti yuk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Saat sedang tegang, klakson mobil di luar terdengar nyaring, seketika semua diam. Beberapa detik kemudian, handphone Malika bergetar. Namun, tidak dia angkat. Setelah mengecek siapa si penelpon, Malika pun melengos pergi sambil menarik koper. Ia masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu di pinggir jalan, entah mobil milik siapa. Sebab, ketika Arumi dengan Davin keluar mobil tersebut sudah jauh.

"Astagfirullah..." Arumi hanya Istigfar.

"Sudah... biarkan saja" Davin memeluk pundak Arumi lalu mengajaknya ke dalam.

Setelah kepergian Malika, hati Rumi tidak tenang. Tentu memikirkan mertua khawatir percaya dengan aduan Malika yang memutar balik fakta.

Hingga beberapa hari kemudian. "Mas Davin sudah tahu kemana perginya Malika?" Tanya Arumi hanya ingin memastikan bahwa Malika baik-baik saja.

"Kamu ini, Malika sudah jahat sama kamu, tapi masih juga kamu pikirkan" Davin geleng-geleng kepala. Hati istrinya lembut hingga tidak tegaan.

"Kalau Dia jahat, lantas aku ikutan jahat. Sama saja dong, dengan Malika" Arumi ingin hidup tenang maka tidak ingin mempunyai musuh.

"Dia pulang ke rumah orang tuanya" Davin sebenarnya ingin cerita jika Malika pulang ke negara A, tetapi belum sampai bicara, Arumi sudah bertanya.

"Syukurlah..." Arumi menarik napas lega, karena Malika tinggal bersama orang tuanya sendiri.

"Setelah ini kita jalan-jalan ya" Davin ingin mengajak anak istrinya jalan selagi tidak banyak pekerjaan.

"Kemana Mas"

"Ya... kemana gitu, hari ini kita habiskan waktu bertiga" Davin merasa bersalah karena akhir-akhir ini terlalu sibuk di kantor hingga tidak ada waktu untuk keluarga.

"Ya deh, aku siap-siap dulu" Arumi lalu memberi tahu Adel.

"Holee... kita jalan-jalan" seru Adel, anak itu lompat-lompat kegirangan. Arumi terkikik memperhatikan.

Pagi itu mereka pun pergi di antar Derman, hingga tiba di salah satu wisata di Jakarta. Arumi bersama Davin mengajak Adel ke taman yang merupakan rangkuman kebudayaan Indonesia. Tujuan Arumi agar Adel yang terlahir bukan dari orang Indonesia itu mengenal tradisi dan budaya bangsa.

Di atas kereta gantung, keluarga kecil itu tengah menikmati pemandangan alam tentu saja Adel yang paling senang. Davin mengabadikan momen tersebut dengan foto maupun video. Mereka melupakan Derman entah sedang apa asisten Davin itu di bawah sana.

Setelah turun, Arumi mengajak Adel melihat tari-tarian tradisional dari berbagai daerah. Puas mengelilingi tempat-tempat wisata, Davin mengajak mencari tempat makan.

"Makan di restoran tradisional saja Mas" Arumi mengajak makan di tempat itu bukan hanya karena dia menyukai makanan tersebut. Mulut Arumi menerima apa saja makanan yang ia makan, tetapi Arumi ingin anak suaminya itu merasakan lebih banyak lagi makanan khas daerah.

Satu bulan menjandi istri Davin, Arumi senang karena anak dan suaminya sudah menyukai tempe tahu. Padahal ketika belum menikah, Adel dengan Davin hanya makan makanan ala barat

"Kita ikut kata Mama saja ya Del" ujar Davin yang tengah menggendong Adeline karena sudah lelah berjalan.

"Mas, sebaiknya telepon Bang Derman dulu" Arumi tentu kasihan mungkin saja saat ini Derman menjadi bujang kesepian.

"Ya, kalau sudah di restoran aku telepon Derman"

"Makanan tladio... tladisio... aah... susah" Adel akan menyebut kata tradisional nampak lucu mengundang tawa. Begitulah Adel selalu ingin tahu apa yang orang ucapkan..

"Tradisional" Arumi membenarkan.

"Tladisional itu apa Ma" Adel akhirnya bisa menyebut juga walapun cadel.

"Makanan tradisional itu, hidangan yang diwariskan para Nenek moyang kita dulu" Arumi menjelaskan.

Adel hanya manggut-manggut lalu diturunkan dari gendongan Davin ketika sudah tiba di rumah makan.

Deeerrtt... Deeerrtt... Deeerrtt...

Ketika sedang makan ada pengganggu, yaitu handphone Davin. Davin pun segera mengangkat karena yang telepon adalah Rose.

"Sebentar ya" Davin izin menjauh sebentar hendak menjawab telepon karena tidak mau mengganggu makan anak dan istrinya itu. Setelah Arumi mengangguk Davin menjauh.

"Rum... Mama minta aku pulang dulu ke negara A" ucap Davin ketika sudah kembali.

"Ada apa Mas... Masalah Malika?" Cecar Arumi panik.

"Kamu Benar, Rum" Davin mengatakan jika Malika berbicara dengan orang tuanya yang tidak-tidak. Lalu Rose minta, Davin meluruskan kepada orang tuanya.

Arumi menyeruput teh jahe hangat, sudah ia duga jika masalah Lika tidak akan selesai sampai di sini.

"Tidak apa-apa kan Rum" Davin tahu jika Arumi sepertinya keberatan.

"Berangkat saja, Mas" Arumi tidak mau egois. Jika Davin pulang tentu akan melepas kangen kepada mama dan papa, menjenguk Oma Davin yang sedang sakit, sekaligus meluruskan masalahnya kepada orang tua Malika.

"Terus kapan berangkat Mas?"

"Besok pagi-pagi saja" Davin ingin cepat urusannya selesai.

"Tapi awas loh, jika di sana nanti Mas mau dijodohkan dengan Malika" Arumi merisaukan hal itu.

"Ciee... cemburu..." Davin terkekeh, lalu merangkul pundak Rumi. Ia senang jika benar Arumi cemburu, tentu sudah ada cinta di hati Rumi untuknya.

"Hais, nggak boleh peluk-peluk Mas, ini tempat umum" Arumi tersipu malu melirik sekitar, ternyata beberapa orang tengah memperhatikan dirinya. Apalagi Derman senyum-senyum menggoda Arumi.

Arumi lantas beralih menatap sebelahnya, karena Adeline tidak ada suara. Rupanya anak itu menahan keseimbangan kepala karena ngelenggut mengantuk, padahal di tangan masih memegang sendok.

"Sebaiknya kita pulang saja Mas" Arumi meletakkan kepala Adel di lengan setelah mendudukan di pangkuan.

"Adel biar aku gendong" Davin mengangkat tubuh putrinya kemudian kembali pulang.

*******

Pagi harinya, Arumi mengeringkan kepala dengan handuk, karena baru saja mandi basah. Tadi malam itu Davin menggempurnya karena beberapa hari nanti tidak akan bertemu dengannya.

Setelah subuh, Arumi menyiapkan pakaian Davin untuk beberapa hari di negara A. Walaupun sebenarnya ia berat melepas kepergian suaminya itu. Namun, Arumi hanya berdoa semoga suaminya lancar dalam perjalanan.

"Tidak usah banyak-banyak sayang... baju aku di rumah Mama banyak kok" Davin yang baru keluar dari kamar mandi berucap.

"Yah... sudah aku siapkan untuk seminggu Mas" Arumi memandangi koper yang sudah penuh.

"Nggak apa-apa" Davin tidak mempersoalkan itu. Ia lalu mengenakan pakaian yang sudah disiapkan Arumi.

"Kalau sudah tiba di sana jangan lupa telepon Mas" pesan Arumi ketika sedang membantu Davin berpakaian.

Cup.

"Belum juga aku pergi sudah kangen saja" Davin mengecup bibir istrinya itu lalu tersenyum lebar.

"Bukan begitu maksudnya Mas" Arumi masih malu mengakui bahwa yang dikatakan Davin adalah benar. Entah sejak kapan Arumi mulai jatuh cinta pada suami itu, yang jelas hati Arumi merasa berat ditinggal Davin.

"Tentu saja aku akan menghubungi istriku" pungkas Davin. Pagi itu Arumi mengantar ke bandara bersama Derman dan juga Adel.

Dua hari sudah kepergian Davin, Arumi mulai gelisah, karena janji Davin untuk telepon hingga kini belum dia tepati. Bukan hanya itu, Arumi juga sudah berkali-kali telepon Davin, tapi handphone nya tidak aktif.

...~Bersambung~...

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙠𝙡𝙤 𝙇𝘼 𝙙𝙞 𝙐𝙎𝘼 𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙗𝙚𝙙𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙙𝙤𝙣𝙜 𝙠𝙡𝙤 𝙤𝙩𝙝𝙤𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙣𝙮𝙚𝙗𝙪𝙩 𝙀𝙧𝙤𝙥𝙖 😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙙𝙨𝙧 𝙠𝙚𝙙𝙚𝙡𝙖𝙞 𝙝𝙞𝙩𝙖𝙢 𝙪𝙡𝙚𝙩 𝙗𝙪𝙡𝙪 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙩𝙮𝙥𝙤 𝙝𝙚𝙝𝙚𝙝𝙚𝙝𝙚 𝙙𝙞𝙠𝙞𝙩 𝙨𝙞𝙝 😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙙𝙨𝙧 𝙠𝙚𝙙𝙚𝙡𝙖𝙞 𝙝𝙞𝙩𝙖𝙢 "𝙢𝙖𝙡𝙞𝙠𝙖" 𝙮𝙜 𝙢𝙤 𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙨𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙜 𝙨𝙚𝙬𝙤𝙩 𝙨𝙞𝙖𝙥𝙖?? 🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙢𝙖𝙢𝙥𝙞𝙧 𝙩𝙝𝙤𝙧
Dinatha
maaf Thor.
kenapa ceritanya isinya prasangka terus, salah faham..
ketika akan dialog tapi gagal karena ciuman terus?
Buna Seta: ❤❤❤🙏🙏🙏
total 1 replies
Dinatha
Di Semarang sepertinya sudah umum dengan panggilan Mas bukan Abang..
beda sama Jakarta dan Sumatera
Dinatha
Kaya raya..
sayang nggak punya cctv di tiap sudut.🤣
Dinatha
dari Alaska aja nggak sela ini vin..
🤣🤣🤣
Dinatha
Ya iyalah susah signal
kan lahan perkebunan kedelai hitam Malika jauh di atas pegunungan 🤣🤣🤣
Buna Seta: Eh, jeniusi Akak /Heart/
total 1 replies
Dinatha
Aura mu, aura wanita penjaja kenikmatan Malika..
yang mau ya cuma pria nggak bener..
Dinatha
Dalam Islam sudah jelas..
jangan ada alasan apapun untuk mengakali Perintah Allah.
Sah
. berarti adahak dan kewajiban..
jika tidak siap.. maka tunda dulu akad nikah
Dinatha
Lahhh... Jangan merasa ketinggian kamu Malika..
pake sederajat saja...😁
Kamu memang dibesarkan penuh kasih sayang di keluarga kaya..
tapi ingat.. bila tiba saatnya kamu akan dijual oleh keluarga yang anggap kamu seperti keluarga..
untuk dijadikan kecap bego😁
Sania
❤️
Meris
Hrs ya thor di perjelas kali kuburan islam..
tulis aja pemakaman....anehhh
Dandelion
😢😢😢😭😭😭😭😭
Hasna Nursyafah
Aamiin...
😁😁😁
Hasna Nursyafah
ku tunggu bucin mu pak boss 😁
Dandelion
semangat rumi 💪😁
Syilvi Hesty
GK apalah Secra org kaya paling cuman mikir ngurusnya aja kalo untuk kebutuhan aman sentosa.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!