Moza merasakan hari pertama magang seperti sebuah bencana karena harus berurusan dengan atasannya. Tugas yang dia terima terkadang tidak masuk akal dan logika membuatnya emosi jiwa. Sadewa, produser Go TV. Dikenal sebagai playboy karena pesonanya membuat banyak wanita berada di sekitar hidupnya.
===
“Jangan suka mengumpat di belakangku, mana tahu besok malah jatuh cinta.” Sadewa Putra Yasa.
=====
Kelanjutan dari Bosku Duda Arogan dan Bosku Perawan Tua.
Follow IG : dtyas-dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 ~ Bertemu Camer (2)
Moza berdiri di beranda rumah saat mobil Dewa memasuki halaman lalu parkir di samping mobil anggota keluarga Bimantara. Setelah memberikan kabar bahwa pria itu dalam perjalanan, ia seakan tidak tenang. Kehadiran Dewa malam ini ingin menemui orang tuanya tanpa memberikan informasi yang jelas akan membicarakan apa membuat Moza mendadak resah dan gelisah.
“Segitu cintanya sampai ditungguin,” ejek Mada yang sudah berdiri di samping Moza.
“Bukan gitu, aku tuh was-was sebenarnya Pak Dewa mau ngapain ketemu Papa.”
“Janjian mancing kali atau mau colab bikin video tik-t0k.”
“Mada!!!!”
Mada mengacak rambut adiknya, membuat gadis itu kembali berteriak lalu meninggalkannya.
“Malam momoy, abang Dewa udah datang nih.” Senyum khas dan kerlingan mata agak-agak mesum dipancarkan dari wajah Dewa.
“Momoy apaan?”
“Moza gemoy. Kamu ‘kan gemoy nya aku, yang paling bisa bikin hati ini senat senut.”
“Idih.”
“Papa kamu sudah pulang ‘kan? Bisa nggak ketemu dengan calon menantunya yang tampan se dunia pernovelan ini.”
Moza rasanya gemas, sangking gemasnya ingin sekali mengetuk kepala Dewa agar pria itu sadar dan bersikap lebih serius seperti ketika di kantor. Ia khawatir kalau pertemuan Dewa dengan Papanya menyampaikan keinginan untuk serius dengan hubungan mereka.
Bukan tidak mau, hanya saja Moza merasa masih terlalu dini dan nanti malah jadi pernikahan dini. Bahkan ucapan cinta dari mulutnya pun belum terucap, tapi Dewa mengatakan kalau cinta perlu bukti bukan deklarasi.
“Pak Dewa, sebenarnya bapak mau ngapain ketemu Papa?” tanya Moza sambil menarik tangan pria itu dan mengajaknya duduk di kursi beranda.
Alih-alih menjawab, Dewa malah menatap tangannya yang digenggam oleh Moza. Hubungan keduanya ternyata ada kemajuan, dimana Moza mulai agresif dengan menyentuhnya.
“Pak Dewa!” pekik Moza menyadarkan lamunan pria itu.
“Eh, sorry. Aku terkejut kamu ternyata se khawatir itu, sampai tanganku kamu genggam begini. Kayaknya nggak bakal aku cuci nih tangan sampai besok.”
“Pak Dewa, aku serius.”
“Aku juga moy. Seribu persen aku serius sama kamu, makanya aku harus bertemu papa dan mama kamu. Ayo, keburu malam. Berduaan sama kamu juga bahaya.”
Ternyata Arya membawa Dewa ke ruang kerjanya, bukan di ruang tamu. Sarah tidak ikut mendampingi dan melarang Moza ikut masuk.
“Ayo, biarkan para pria itu bicara. Kita tunggu saja kabar baiknya.” Sarah mengajak Moza menunggu di ruang keluarga, sudah ada Mada juga di sana.
“Lo kenapa sih, resah banget?” tanya Mada yang bersandar di sofa dan memeluk bantal. “Udah kayak orang bisulan, duduknya nggak tenang.”
“Gimana kalau Pak Dewa sama Papa di dalam berkelahi, terus ….”
“Berkelahi juga nggak apa, nggak akan jadi perang dunia ketiga. Eh, kalau bener mereka berkelahi gue jagoin Papa dan lo Dewa ya.”
“Mada, apaan sih!”
“Kalian ini kenapa sih, berdebat terus.” Sarah menggelengkan kepala melihat kelakuan anak kembarnya.
“Dari masih di perut kita udah akur Mah, jadi wajar kalau sekarang agak-agak tidak akur.”
Sesekali Moza menatap ke pintu ruang kerja Papanya, memasang telinga mencoba mendengarkan percakapan yang terjadi di dalam. Nyatanya hanya celoteh tidak guna dari Mada yang mendominasi.
“Yaelah, perhatian amat. Kalau gue yang ada di posisi Dewa lo baka khawatir nggak?”
“Nggak, biasa aja tuh. Kapan juga kamu bakal ada di posisi Pak Dewa. Menghadapi calon mertua, jomlo akut.”
“Eh, sembarangan ….”
Pintu ruangan pun terbuka, dua pria beda usia dan dengan ketampanan masing-masing keluar dari sana. Tidak terlihat raut wajah emosi apalagi perseteruan.
“Kapan saya dapat kabarnya om?” tanya Dewa.
Arya terkekeh lalu menepuk bahu pria di sampingnya. “Sabar, secepatnya ya.”
“Pah, nggak ada ribut-ribut apa gitu?” tanya Mada lalu menangkap bantal yang dilemparkan Moza.
“Ada, meributkan masa depan,” jawab Arya. “Ayo mah, kita istirahat. Kalian jangan lama-lama, sudah malam. Nanti digrebek warga.” Tentu saja kalimat itu ditujukan untuk Dewa dan Moza.
“Ingat, ada CCTV,” teriak Mada saat Dewa dan Moza menuju beranda rumah.
Moza penasaran jawaban dari Papanya, apalagi raut wajah pria itu tampak biasa saja. Namun, Arya pernah mengutarakan kalau dia ingin semua anaknya menyelesaikan pendidikan dan berkarir sebelum memikirkan berumah tangga.
“Pak Dewa, papa bilang apa?”
“Hm, apa ya. Banyak sih, nggak ingat kalau harus aku ulang.”
“Ish, maksudnya respon papa tuh gimana?”
“Siapa sih yang menolak Dewa,” ujar pria itu sambil menepuk dadanya dengan sombong.
“Jadi, Papa oke aja kalau kita pacaran. Dia nggak marah, aku Pak Dewa bakalan sering kemari dan ….”
“Moy, kamu nggak ada rencana ganti panggilan aku. Aku seperti lagi ngobrol sama anak, bentar-bentar kamu panggil Bapak.”
“Memang pantas jadi Bapak. Udah kebiasaan, terus diganti apa dong?”
“Sayang kek, bebeb, honey, bunny atau Papi juga boleh. Biar nanti terbiasa,” sahut Dewa. “Papa kamu belum bisa kasih jawaban, dia akan bicara dulu dengan kamu. Jadi, semua keputusan ada di kamu.”
Moza menghela pelan, entah jawaban apa yang akan disampaikan pada Arya.
“Tapi Moy, tolonglah jangan jawab aku harus tunggu sampai kamu lulus sarjana apalagi kalau tunggu kamu beres tesis. Bisa karatan dong, kamu akui kalau aku sudah pantas jadi Bapak dan calon ibunya masih labil begini.”
“Paling nggak, tunggu umur aku dua puluh lima. Gimana?”
“Ya ampun Moy, tega amat!!!!”
\=\=\=
Haiii, selamat berpuasa bagi yg menjalankannya.
Dukung terus dewa dan moza yesss 🥰🥰🥰