Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.
Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.
Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Pagi itu mereka tampak sedang bersarapan. Rey menghangatkan kembali masakan yang semalam dibawakan oleh bunda Raina. Karena semalam banyak yang tidak habis, sisanya ia taruh di kulkas lalu pagi itu dihangatkan di microwave.
“Lo beneran mau ke kampus? Apa udah nggak sakit?” tanya Rey.
“Ya masa gue harus bolos, kan mau presentasi. Tugas masih numpuk. Udah nggak sesakit semalam sih, emang kalau hari pertama suka gitu. Sorry ya gue ngerepotin,” ucap Emily pelan.
“Ngga masalah lah, gue suami lo. Orang tua lo udah nitipin lo ke gue, jadi apapun tentang lo semua tanggung jawab gue. Terlepas dari itu, lo juga istri gue. Tapi menurut gue tugas masih ada beberapa hari lagi. Kalau lo masih belum kuat, lo libur aja dulu,” ucap Rey serius.
“Ngga bisa, Rei. Malah mendingan ke kampus ,kalau gue diem di apartemen sendirian doang, yang ada nanti gue bad mood. Kalau di kampus kan banyak temen-temen gue,” jawab Emily.
“Lo mau bawa motor?” tanya Rey.
“Iyaa dong,” jawab Emily santai.
“Lagi PMS gitu, perut sakit. Di mobil aja bareng gue,” ucap Rey.
“Nanti kalau orang lain lihat gimana. Gue masih belum siap publis,” ucap Emily gelisah.
“Lo nyari alasan gimana kek. Kalau mau jujur tentang hubungan kita, gue mah fine-fine aja,” ucap Rey cuek.
“Lo mikir nggak sih, Rei. Bukan cuma masalah pacar gue si Alex, tapi kita juga sama-sama musuhan sama geng WK. Harusnya gue juga kan musuhan sama lo, tapi kan nggak sebengis geng WK yang curang. Kalau mereka tahu kita satu kubu atau punya hubungan, apa yang akan terjadi?” ucap Emily agak sewot.
“Itu malah lebih mudah, dia harus lawan dua geng secara bersamaan,” jawab Rey santai.
“Kita nggak tahu rencana licik dia apa. Ucap emiky
Lo pandai bela diri, kan?” tanya Rey.
“Tentu. Tapi bukan berarti gue nggak bisa lengah. Seandainya hubungan kita udah tercium publik, gue takut aja dimanfaatin sama dia yang berniat jahat,” jawab Emily
“Tergantung kitanya aja. Kalau sama-sama bisa jaga diri kan nggak mungkin juga. Lagian gue nggak takut sama geng WK. Geng gue lebih banyak anggotanya daripada dia,” ucap Rey yakin.
“Lho emang lo nggak takut fans-fans lo nyerang gue?” ucap Emily jutek.
“Lo juga banyak fansnya, Ily. Apalagi lo punya pacar,” ucap Rey ketawa kecil.
“Ya gue bukan cuma masalah itu, Rey. Masih ribet aja,” ucap Emily cemberut.
“Kalau gue publish gimana?” ucap Rey tiba-tiba.
“Maksud lo?” Emily melirik.
“Ya biar gue yang ngaku punya pacar. Meskipun nggak bilang istri, ya bilang pacar. Gimana?” ucap Rey.
“Maksudnya gue dikenalin sebagai pacar lo gitu?” tanya Emily.
“Mau gue akui sebagai istri?” Rey menyeringai.
“Ya nggak gitu juga,” ucap Emily sewot.
“Lagian lo nyangka terus gue punya hubungan sama Elea. Nyatanya gue nggak ada apa-apa sama dia. Suka aja kagak,” ucap Rey.
“Terus maksud lo gimana?” tanya Emily.
“Ya jalanin aja. Lo mau sembunyi-sembunyi ya oke. Kalau gue mah fine-fine aja. Mau orang lihat juga gue nggak masalah. Gue nggak bawa cewek lain juga kan,” ucap Rey datar.
“Tapi itu nggak mudah, Rey. Ya udahlah, nanti gue pikirin. Sekarang gue ikut lo aja di mobil, tapi turunin gue di depan gerbang aja,” ucap Emily.
“Ngga usah depan gerbang, gue parkir di basement fakultas,” jawab Rey.
“Ya udah kalau ada yang nanya gue bilang numpang sama lo gitu aja. Lagian kita sekelas kan. Gue lagi nggak mood deh sumpah,” ucap Emily.
“Oke itu lebih baik. Apa yang bikin mood lo baik lagi? Perlu cipokan?” ucap Rey meledek.
“Anjirr lo Rey!” ucap Emily sewot.
“Siapa tahu mood lo naik,” ucap Rey tertawa kecil.
“Gila emang. Ayoo lah kita berangkat,” ucap
Emily.
“Let’s go, beby,” ucap Rey sambil mengambil kunci mobil.
Mereka sudah di perjalanan. Jadwal kelas masih satu jam lagi, tapi jalanan padat merayap. Emily sibuk merogoh pouch kecilnya lalu mengoleskan lipstik di kaca spion mobil.
“Lo make up?” tanya Rey sambil melirik.
“Cuman pakai lipstik. Bibir gue pucat banget, yang lainnya tadi udah di apart sebelum sarapan,” jawab Emily santai.
“Make yang nude aja. Nggak usah yang glossy gitu, apalagi merah. Norak ah,” ucap Rey nyolot.
“Apaansih. Tau apa lo soal lipstik,” ucap Emily mendengus.
“Hapus, Emily. Bibir lo menggoda banget kalau pakai lipstik kayak gitu. Lo mau godain siapa… pacar lo?” ucap Rey sambil mengangkat alis.
“Mulai deh lo. Ini gue suka aja warnanya, nggak terlalu mencolok kok. Cuma glossy aja,” jawab Emily sewot.
Lampu merah menyala. Tanpa aba-aba Rey langsung meraih tengkuk Emily lalu menyapu bibirnya dengan lidah.
“Mmmppptt… heuh, Rey!” Emily kaget.
“Cup… cup…” Rey mencium bibirnya lagi.
“Rey! Lo apaan sih?!” Emily dorong dada Rey.
Rey cepat-cepat mengambil tisu, mengelap jejak lipstik yang masih menempel.
“Kalau gue bilang hapus ya hapus. Bibir lo mencolok banget, bikin gue pengen nempel terus. Kalau lo nggak lagi sama gue, trus kayak gitu, mau godain siapa? Pacar lo? Iya kan?” Rey mendesah berat.
“Pikiran lo gitu mulu. Gue bilang suka ya suka,” ucap Emily sewot sambil manyun.
“Hapus!” bentak Rey singkat.
“Iya iya. Lagian udah kehapus kok… sama bibir lo,” ucap Emily cemberut. “Gue
re-touch lagi pake yang nude.”
“Ketimbang nurut doang apa susahnya sih, Ilyy?” ucap Rey sambil melirik sekilas.
“Iya ya, gue nurut…” sahut Emily malas.
“Putusin pacar lo, nurut napa.”
“Iya… nanti gue putusin,” jawab Emily pelan.
“Kapan??” Rey menekankan nada suaranya.
“Kalo lo udah cinta sama gue!” balas Emily cepat.
Rey hanya tersenyum tipis. “Emang menikahi lo belum cukup bukti kalau gue serius sama lo?”
“Itu kan pernikahan karena keinginan orang tua kita. Dan lo nggak pernah ngungkapin kalau lo cinta atau sayang sama gue…” lirih Emily.
“Dasar cewek,” gumam Rey sambil geleng.
“Iyaa lah. Selain kata, cewek juga butuh pembuktian,” balas Emily cepat.
“Mau gue perawanin dulu baru lo percaya?” Rey sengaja menantang.
“Itu mah maunya lo doang. Cowo kalo soal iclik kayanya nggak perlu cinta. Orang sewa LC aja bisa gonta-ganti cewe, bisa nge-play tanpa harus mencintai. Beda sama cewe, harus dengan perasaan. Kadang udah ada perasaan pun… nggak bisa begitu aja,” ucap Emily lirih sambil menatap ke luar jendela.
Rey mendengus pelan. “Hhh… ribet bener lo ga semua cowo begitu .ga pernah tuh gue main LC .”
Emily manyun. “Emang ribet, biar lo tau rasanya dan gue ga percaya.”