Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Mobil BMW Seri 4 Coupé berwarna merah itu membelah kegelapan malam dengan kecepatan luar biasa.
Anton menatap lurus ke depan, jarum spedometer di panel instrumen terus naik melewati angka seratus empat puluh kilometer per jam.
Jalanan kota yang sepi menjelang tengah malam menjadi panggung balapan tunggal bagi Anton.
"Sistem, tampilkan peta dan rute tercepat ke apartemen Siska," perintah Anton di dalam hati.
[Menampilkan rute navigasi optimal menuju Apartemen Green Garden.]
Peta digital sederhana langsung terbayang di dalam pikiran Anton, memperlihatkan rute terbaik menghindari beberapa persimpangan yang rawan kemacetan.
Anton memutar kemudi dengan sangat cepat saat melewati belokan tajam di depan gedung perkantoran.
Ciiiit.
Suara decitan ban mobil beradu keras dengan aspal jalanan yang dingin.
"Semoga dia masih sempat mengunci pintunya," bisik Anton dengan nada penuh kekhawatiran.
Tangan kirinya meraih ponsel di atas dasbor dan mencoba memanggil nomor Siska sekali lagi.
Tuut... Tuut...
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi, harap coba..."
Anton langsung mematikan panggilan sebelum suara mesin pemanggil otomatis selesai berbicara.
Perasaan tidak tenang semakin menghimpit dadanya.
Sepuluh menit kemudian, mobil BMW merah milik Anton akhirnya tiba di kawasan Apartemen Green Garden.
Apartemen ini adalah hunian kelas menengah, tidak selengkap dan seketat Apartemen Grand Royal tempat Anton tinggal.
Anton langsung menerobos portal pintu masuk parkir tanpa mengambil kartu akses, membuat petugas keamanan pos depan berteriak kaget.
"Heh! Berhenti kamu!" teriak petugas keamanan dari dalam pos.
Brumm.
Anton tidak mempedulikan teriakan itu dan langsung memarkirkan mobilnya secara sembarangan di depan lobi utama gedung.
Dia melompat keluar dari mobil, meninggalkan pintu kemudi yang masih terbuka lebar.
Anton berlari kencang menuju pintu kaca lobi apartemen.
Seorang petugas keamanan di lobi mencoba menghadangnya dengan wajah bingung.
"Maaf Pak, Anda tidak bisa masuk tanpa..."
Anton tidak punya waktu untuk berdebat atau menjelaskan situasi.
Dia menggeser tubuh petugas itu ke samping dengan dorongan tangan kanan yang cukup kuat.
Brak.
Petugas itu terdorong hingga menabrak meja resepsionis di belakangnya.
"Maaf, ini darurat," ucap Anton singkat sambil terus berlari menuju tangga darurat.
Anton memilih menggunakan tangga darurat daripada menunggu lift yang posisinya sedang berada di lantai atas.
Lantai empat adalah tujuan Anton.
Dia menaiki anak tangga dua sampai tiga pijakan sekaligus dengan kemampuan fisiknya yang kuat.
Nafas Anton tetap stabil meskipun dia berlari naik dengan sangat cepat.
Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, Anton sudah sampai di lantai empat.
Dia membuka pintu besi tangga darurat dengan dorongan keras.
Brak.
Anton melangkah keluar ke lorong koridor lantai empat yang sepi.
Dia berjalan cepat mencari unit nomor 408 tempat tinggal Siska.
Saat mendekati ujung lorong, Anton melihat pintu unit 408 sudah terbuka sedikit.
Gagang pintunya tampak rusak parah akibat didobrak paksa dari luar.
Di dekat ambang pintu, ada sebuah tas wanita kulit hitam tergeletak di lantai dengan isinya yang berserakan.
Itu adalah tas milik Siska yang dibawanya saat di pameran tadi siang.
Darah Anton terasa mendidih seketika melihat pemandangan di depannya.
"Aku terlambat sedikit," batin Anton dengan rasa bersalah yang menusuk dada.
Dia memfokuskan pikirannya dan mengaktifkan kemampuan matanya.
[Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 1 diaktifkan.]
Pandangan Anton langsung menembus dinding dan pintu unit 408.
Di dalam ruang tamu yang berantakan, Siska sedang terduduk di lantai sambil memegangi sudut bibirnya yang berdarah.
Rambut hitamnya yang rapi kini berantakan, dan wajah cantiknya dipenuhi rasa takut serta air mata.
Di sekeliling Siska, ada empat orang pria berbadan besar dengan pakaian serba hitam.
Salah satu dari mereka, seorang pria bertubuh pendek dan gempal dengan kepala plontos, berdiri tepat di depan Siska.
Pria gempal itu memegang sebuah berkas folder milik Siska sambil menginjak-injak meja kaca hingga pecah.
"Cuma dokumen ini yang ada di rumahmu?" bentak pria gempal itu dengan suara parau.
"I-iya, cuma itu data yang aku punya..." jawab Siska dengan suara bergetar dan terisak pelan.
"Jangan bohong kamu wanita sialan!" teriak pria gempal itu sambil mengangkat tangan kanannya, bersiap menampar wajah Siska lagi.
Siska memejamkan matanya rapat-rapat, merapatkan tubuhnya ke dinding sambil gemetar ketakutan.
Brak!
Pintu depan unit apartemen itu tiba-tiba hancur berantakan akibat tendangan keras dari luar.
Kepingan kayu pintu melayang ke dalam ruangan, mengejutkan keempat preman di dalam.
Pria gempal yang hendak menampar Siska langsung menghentikan tangannya di udara dan menoleh kaget.
Anton melangkah masuk melewati reruntuhan pintu dengan wajah yang sangat dingin tanpa ekspresi.
Kedua matanya menatap lurus ke arah pria gempal yang baru saja mengangkat tangan pada Siska.
"Siapa yang memberimu izin menyentuh wanitaku?" suara berat Anton menggema pelan di dalam ruangan yang mendadak hening itu.
Siska perlahan membuka matanya dan tertegun melihat sosok yang berdiri di ambang pintu.
"P-Pak Anton?" bisik Siska tidak percaya dengan air mata yang menetes semakin deras dari pipinya.