NovelToon NovelToon
Transmigrasi : Menjadi Ibu Di Dunia Seribu Pintu

Transmigrasi : Menjadi Ibu Di Dunia Seribu Pintu

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Time Travel / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Identitas Tersembunyi / Keluarga / Romansa / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:302.2k
Nilai: 5
Nama Author: Serigala Kecil

-

Masuk ke dimensi lain, dan menjadi buronan di hari pertama yang menyebabkannya mati. Begitu mati, jiwanya memasuki tubuh lain lagi dan menjadi ibu tiri dari tiga orang anak.

Frustasi dan tertekan yang dirasakan Karina.

Tapi, demi bertahan hidup dan kembali ke dunia aslinya, Karina mau tidak mau harus menjalani kehidupannya di desa kecil seraya menyelesaikan serangkaian misi yang diberikan padanya.

Kuat tidak kuat Karina menjalaninya, ikuti terus kelanjutan ceritanya untuk mengetahui akhir dari perjalanan Karina!

-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serigala Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bersikap Lembut

*

*

Deraga menatap sekeliling dengan tatapan tidak semangat. Hatinya sedikit sedih, ketika melihat sikap Karina barusan. Yah, meski awalnya senang karena ternyata Karina bisa mengkhawatirkan dirinya begitu banyak sampai gemetar, sendirian.

Tetapi, Karina merasa marah. Lalu ia mengabaikan Deraga. Dan Deraga sedih atas sikap tersebut. Bukan yang benar-benar mengabaikan, ia tetap perhatian dengan membuat Deraga nyaman dan beristirahat dengan baik, tetapi rasanya ada yang membuat perasaan Deraga janggal.

Dan perasaan tersebut bukan semata-mata ia rasakan tanpa ada sebab, karena Karina memang merasa marah di dalam hatinya. Ia tetap memperlakukan Deraga dengan baik, tetapi rasa marahnya tidak sepenuhnya ia pendam, dan secara tak sengaja dirasakan oleh Deraga.

Amarah yang dirasakan Karina sendiri, sebetulnya adalah amarah pada dirinya sendiri. Kecewa karena meninggalkan dua anak kecil di sisi sungai, ia merasa bodoh karena membiarkan keduanya sendiri dan berakhir kecelakaan menimpa Deraga.

Karina terlena, melihat sikap bijaksana dua anak laki-laki selama ini yang bersikap baik dan dewasa. Alhasil, ia dengan percaya diri meninggalkan keduanya. Tetapi inilah hasilnya. Ia benar-benar melupakan jika keduanya masih anak kecil, yang sewaktu-waktu bisa saja ceroboh.

Perasaannya menjadi tidak terkendali, karena selain amarah, rasa takut juga memenuhi hatinya. Akhirnya, ia malah secara tidak sengaja membentak Deraga saat itu.

"Kau tidur?" Ucap Karina seraya memasuki kamarnya, di tangan ia membawa nampan kayu dengan 2 mangkuk dan 1 gelas air minum.

"Eung, tidak." Balas Deraga seraya mendudukkan dirinya tanpa melihat wajah Karina.

"Bagaimana perasaanmu? Merasa lebih baik? Apa perlu memanggil dokter di desa untuk memeriksamu?" Tanya Karina, sedikit bingung. Karena sebelumnya ia terlihat sudah tidak apa-apa tetapi kini terlihat sangat lemas.

"Tidak perlu. Aku merasa baik." Balas Deraga lagi seraya menggelengkan kepalanya.

Karina menatap Deraga yang enggan menatapnya dan malah menundukkan kepala, ia kemudian menghela nafas. Tidak bicara lagi dan langsung menyuruh Deraga makan lalu minum obat agar besok tidak sakit.

Selama Deraga makan dan minum obat, Karina sama sekali tidak meninggalkannya dan terus mengawasi. Sampai akhirnya, terlintas di otaknya perihal ia yang membentak Deraga sebelumnya dan berpikir, mungkinkah Deraga kembali menutup hati padanya setelah ia membentaknya tadi?

Karina berpikir keras, sampai tidak sadar jika Deraga telah menyelesaikan semua yang disuruh Karina. Deraga berdehem singkat dan membuat Karina kembali mendapatkan kesadarannya.

"Aku sangat ketakutan tadi, jadi secara tidak sadar memarahimu begitu kau membuka mata." Ucap Karina, tangannya terulur ke kepala Deraga dan mengusapnya lembut. "Aku tidak menyalahkanmu, aku hanya marah pada diriku sendiri karena ceroboh meninggalkan kalian sendirian di sungai." Lanjut Karina, kemudian menghirup nafas dalam-dalam. "Aku menjadi tidak bijak ketika melihat kalian bersikap dewasa dan merasa jika kalian bisa ditinggalkan. Tetapi akhirnya kau jatuh, aku sangat takut sampai aku gemetar, jadi tidak sadar berbicara dengan nada tinggi. Maafkan aku." Lanjut Karina lagi, tangannya tidak pernah berhenti mengusap kepala Deraga.

Sampai Deraga perlahan mengangkat kepalanya usai mendengarkan semua perkataan Karina. Membuat Karina tersenyum lembut menatapnya. "Karena kau sudah lebih baik, aku merasa lega, sekarang tidurlah, kau hanya perlu istirahat dengan baik setelah meminum obat." Ucap Karina lagi.

Terakhir ia menepuk kepala Deraga dua kali, sebelum akhirnya mengambil nampan berisi mangkuk dan gelas kosong, kemudian beranjak pergi meninggalkan Deraga yang menatap punggungnya dengan tatapan rumit.

"Kau benar-benar orang lain." Bisiknya tertahan. "Dia, tidak mungkin mau meminta maaf." Lanjutnya, kemudian menurunkan tatapan, dan menatap Karina dengan sendu. Karena hal ini, pembatas terakhir di hati Deraga akhirnya runtuh.

*

"Ibu, bagaimana kakak?" Tanya Ganika ketika Karina keluar, membuat Karina mengulum senyum merasa lucu. Terlebih, Serena juga terus mengekorinya, dengan binar mata ingin tahu. Apalagi, di wajah keduanya tercetak jelas rasa khawatir.

Karina merasa aliran hangat mengaliri hatinya. Melihat dua anak yang begitu khawatir pada kakaknya, sangat menyentuh hati.

Karina tidak langsung menjawab, tetapi berjalan ke dapur dan menyimpan nampan, dua anak terus mengikuti sampai akhirnya Karina menyejajarkan tingginya dengan keduanya.

Karina mengusap kepala keduanya dan tersenyum lembut. "Tidak apa-apa, kakak Deraga hanya butuh tidur saja. Nanti malam, sudah bisa makan malam bersama lagi dengan kita." Ucap Karina.

Keduanya berbinar, rasa khawatir hilang dalam sekejap dan kembali ceria, membuat Karina tertawa kecil. "Nah, kalian lapar, kan? Sekarang bantu aku mencuci beberapa sayur, boleh? Mari buat roti kukus isi sayur dan daging untuk makan siang. " Ucap Karina seraya berdiri dan mengambil beberapa sayur untuk di cuci keduanya setelah keduanya bersorak dan mengatakan ya dengan lantang.

Karina sendiri beralih pada tepung dan mulai membuat adonan. Sampai adonan diuleni dengan baik, ia menyisihkannya ke samping, beralih pada daging ayam pegar yang di asapi. Mengambil beberapa potong dan mencincangnya halus.

Tetapi karena kering, sebelum dicincang, Karina memasaknya dulu di atas air mendidih agar bisa lebih mudah dicincang.

Kemudian kedua anak datang dengan sodoran sayur di tangan keduanya. Karina tersenyum dan mengambilnya. Mengucapkan terimakasih, kemudian mulai memotongnya kecil-kecil.

Ganika dan Serena sendiri menonton pembuatannya, tidak beranjak sama sekali setelah menyodorkan sayur pada Karina. Karina juga tidak keberatan, lagipula keduanya bersikap baik dan hanya menonton, tidak mengganggu sama sekali.

"Ibu, ayo tambah satu hidangan, seperti um... sup ikan?" Ucap Ganika dengan raut ragu.

"Eum? Kau mau sup ikan?" Tanya Karina.

Ganika menganggukkan kepalanya, kemudian tersenyum malu-malu, membuat Karina tertawa kecil begitu melihat respon menggemaskannya.

"Baiklah, mari buat sup ikan!" Serunya dengan semangat, membuat Ganika melompat kecil dengan anggukkan semangat. Serena di sampingnya bertepuk tangan dengan semangat, mendukung Ganika. Yang lagi-lagi membuat Karina tertawa.

Sepertinya, ia mulai menikmati kehidupan di dunia baru. Ah, maksudnya, mulai merasa nyaman dan menerima nasibnya. Anggap saja ini hukuman untuk dirinya karena tidak mendengarkan nasihat ibu dan kakaknya.

Apalagi setelah melihat ketiga anak, rasa nyamannya menjadi bertambah. Karina sendiri mulai sayang pada ketiganya, bahkan ketika Deraga jatuh, jantungnya benar-benar tidak karuan, ketakutan besar menghampirinya kala itu.

Tapi setelah berbicara dengannya sebelumnya, hatinya akhirnya sedikit lega. Baru sedikit, sebab Deraga belum menunjukkan respon yang benar untuk menanggapi ucapannya sebelumnya.

Yah, meski ia tidak berharap banyak, tetapi alangkah baiknya jika bisa mendengar balasan yang positif dari anak sulung yang keras kepala dan dingin satu itu.

"Makanan sudah siap! Ayo, ayo, bantu aku membawanya ke depan." Pekik Karina membuat Ganika dan Serena datang ke hadapannya. Tetapi Karina hanya memberi keduanya masing-masing piring berisi roti kukus, yang dibagi menjadi dua wadah. Sedangkan sisanya Karina bawa sendiri karena takut melukai keduanya dengan kuah panas.

*

*

1
Mine
gak ada bonchap kah ka??, bersatu kembaliii
Bunda Katrina
suka
Gezza
BAGUSSSS
Gezza
open ending ya jadinya, tpi gapapa udah memuaskan😭🔥
rina indriyani
good
PHSNR👾
pantesan langsung kaya jual ikan doang 😅
PHSNR👾
🤣😂😂, jurus jitu pura pura gak dengar
my favorit
BAGUSSS
Windy
Luar biasa
Mearly Early Mey
👍💯
Siti S
Luar biasa
Nur Lela
luar biasa
Bintang Juing
Luar biasa
lee zha
bagusss banget thor.....tapi kenapa sad ending??? kan pengin nya happy end. tapi nda apa2 lah...sesuai dengan kehidupan ada sedih, haru, tawa dan bahagia juga air mata 👍👍👍👍
Liana Simon
Keren ceritanya walaupun sad ending
andrea Kezia
Luar biasa
Sri Wahyuni
mengapa endingnya bikin mewek Thor,,, 😭😭😭,,, 👍👍👍💪💪💪💪🌹🌹🌹
Sri Wahyuni
apa yang terjadi... 🤔🤔🤔😲😲😲
Sri Wahyuni
👍👍👍🌹🌹🌹💪💪💪
Ana_Exo
200 peraknya kemana?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!