Kisah perjuangan Hesti untuk mendapatkan kasih sayang dari orang orang yang dia sayangi. Terutama mamanya.
Hesti terlahir tanpa ayah. Hesti adalah anak yang dilahirkan dari hasil pemerkosaan. Karena itulah mamanya sangat membencinya.
"Kenapa mama sangat membenciku, ma?" Tanya Hesti pada Riana.
"Kamu mau tahu? Nih dengar baik baik, buka telinga kamu lebar lebar.."
Riana menjewer telinga Hesti sangat kuat, lalu dia mendekatkan mulutnya kelubang telinga Hesti.
"Kamu itu anak dari pria yang menghancurkan masa depanku! Aku membencinya, dan aku juga sangat membenci kamu..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Mobil Gala berhenti tepat di depan gerbang rumah yang megah dengan halaman yang luas hampir seperti rumah papanya.
"Ini rumah CEO Klin grup." Ujar Gala mengatakan pada Hesti yang terdiam menatap ternyata pria yang dicarinya bukanlah sembarangan orang.
"Tidak mungkin pria kaya raya ini memperkosa gadis seperti mama. Bukankah orang kaya bisa membayar wanita untuk memuaskan hasrat biologisnya." Pikir Hesti dalam hatinya.
Usianya memang masih terbilang muda. Tapi Hesti tidak sepolos itu untuk mengerti hal hal seperti itu.
"Pasti ada yang salah. Tidak mungkin dia ayah biologisku." Sahut Hesti.
"Kamu ingin mencari tahu kebenarannya?" tanya Gala.
Hesti menoleh untuk menatap wajah serius Gala, lalu kemudian dia mengangguk setuju dengan pertanyaan Gala.
"Butuh bantuanku?"
"Iya. Aku butuh bantuan kak Gala." Sahut Hesti cepat.
"Kalau begitu, tunggulah disini."
"Kak Gala mau kemana?"
"Masuk ke rumah itu untuk mencari dna Deril."
"Tapi, kak..."
Gala tidak menghiraukan Hesti, dia langsung turun dari mobil melangkah masuk ke perkarangan rumah orang kaya itu dengan mudah. Dia bahkan masuk kerumah itu seperti seorang penyusup profesional.
Saat sudah masuk di rumah itu rupanya rumah itu kosong sehingga memudahkan Gala mencari sesuatu yang berkaitan dengan dna Deril.
"Ketemu!"
Gala berhasil menemukan sikat gigi milik Deril di kamar mandinya. Dan sebenarnya Gala sudah menyelidiki Deril sejak seminggu terakhir karena dia juga penasaran, siapa Hesti sebenarnya hingga dibawa oleh papanya untuk tinggal dirumahnya. Makanya Gala bisa masuk dengan mudah dan dia juga sudah tahu dimana kamar si CEO Klin grup itu.
Langkahnya sangat pasti saat membawa apa yang di temukannya untuk diperlihatkan pada Hesti.
"Aku berhasil menemukan apa yang kita butuhkan. Sekarang aku butuh sehelai rambutmu." Ujar Gala saat sudah kembali kemobilnya.
"Kak Gala menemukan dna pria itu semudah ini?!"
"yup." Sahut Gala bangga pada dirinya sendiri.
Hesti menatap Gala dengan tatapan haru.
"Aku kenapa selalu merasa terharu setiap diperlakukan dengan baik oleh seseorang? Apa aku sebutuh itu dengan kasih sayang dan perhatian yang tidak bisa aku dapatkan dari mama?!" Pikir Hesti.
"Kita antarkan dna ini untuk mendapatkan hasil apakah Deril benar benar ayahmu atau bukan." Ucap Gala yang mulai melajukan mobilnya menuju laboratorium.
Sementara itu di Bram grup, Gilang sedang mengamuk di dalam ruangannya. Dia bahkan sampai membanting laptop miliknya dan beberapa file penting lainnya.
"Aaarrrggg..."
Buuuggg
Suara saat tangannya menghantam meja kerjanya dengan kuat.
Kemarahannya tentu saja karena papanya memberikan saham untuk Gala yang diterima dengan senang hati oleh adik yang sangat dibencinya itu.
"Aku tidak akan pernah menyerahkan posisiku pada Gala." Gertaknya sambil mengeratkan kepalan tangannya.
Tidak jauh berbeda dengan Gilang, Merlin juga tersulut emosi. Saat ini dia sudah berada di sekolah. Namun dia tidak peduli saat para majelis guru menatapnya dengan tatapan aneh melihatnya yang marah marah sendiri bahkan sampai membanting apa saja yang ada dihadapannya.
"Apa?? Aku harus memperlakukannya dengan baik? Cuih.. kurang hajar. Anak sama ibu sama saja. Mereka merampas semua milikku." celoteh Merlin mengomel sendiri.
Tok
Tok
Pintu ruangannya diketuk oleh seseorang, membuat Merlin mencoba menahan emosinya dan kembali merapikan penampilannya.
"Masuk!" Serunya saat merasa sudah siap.
Seorang siswa masuk ke ruangannya. Rupanya dia adalah Elsa.
"Maaf saya mengganggu, ibu Merlin." Ujar Elsa.
"Ada apa Elsa?"
"Begini buk, saya takut Hesti mengadukan tentang apa yang terjadi padanya kemarin sama kak Gala dan kak Gilang." Tutur Elsa.
Sebentar Merlin menghela napas. Sebenarnya dia malas meladeni permasalahan siswa nya. Tapi, masalah ini menyangkut posisinya sebagai kepala sekolah. Jadi, mau tidak mau dia harus ikut serta didalam permasalahan ini.
"Kamu memilihnya menjadi target untuk kamu buli?" Tanya Merlin.
"Iya, buk."
"Apa alasannya?"
"Mmm, karena dia hanya orang miskin yang merasa diratukan karena diperlakukan baik oleh om Herman, kak Gilang sama kak Gala." Sahutnya.
"Kalau begitu lakukan dengan rapi. Jangan sampai si Hesti itu buka mulut."
"Karena itulah saya butuh bantuan ibu."
"Butuh bantuan saya?!"
"Iya, buk."
Lagi lagi Merlin menghela napas kasar. "Bantuan seperti apa?"
"Mmm, ibu hanya perlu sedikit mengancam Hesti agar dia tidak mengadu pada kak Gilang dan kak Gala." Ucap Elsa dengan raut wajah penuh harap.
"Baik. Itu perkara gampang. Kamu tidak usah khawatir soal itu."
"Terimakasih buk."
"Ya sudah sana, tinggalkan ruagan ini."
"Baik buk."
Elsa langsung keluar dari ruangan itu dengan perasaan lega dan juga merasa bahagia karena misinya berhasil.
"Tante Merlin memang yang terbaik deh pokoknya. Tunggu saja Hesti, kamu akan merasa seperti di neraka selama kamu masih bersekolah disini." Gumam Elsa merasa puas dan merasa bahwa dia telah menang.
untungnya Hesti sdh pergi. Biarkan Hesti bahagia thor dengan ayahnya meskipun hidup sederhana...
Biarkan Riana mendapatkan balasan atas kekejaman nya selama ini terhadap Hesti. Hidup itu hukum tabur tuai. siapa yg menanam maka dia yg akan menuai hasilnya. .. ☺
sebegitunya bencinya Gilang pada, Gala. Semoga Hesti bisa mbantu memperbaiki hub mereka..