NovelToon NovelToon
Bayu Dan Batu Kali Ajaib

Bayu Dan Batu Kali Ajaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Bayu hanyalah siswa SMA miskin sebatang kara yang terpaksa memancing di sungai setiap sore agar perutnya bisa diisi makanan.

Nasib malangnya berubah total saat sebuah sambaran petir misterius menyatukan tubuhnya dengan sebuah batu kali yang mendadak berubah menjadi batu giok hijau yang bercahaya.

Batu ajaib itu langsung menjejalkan ribuan pengetahuan tabib dewa dan ilmu pengobatan kuno ke dalam kepalanya, sekaligus memancarkan aura pemikat yang membuat wanita mana pun tak berdaya di dekatnya.

Kini, berbekal ilmu medis di luar nalar dan pesona mematikan, Bayu siap membungkam para murid kaya yang sering menghinanya dan membangun jalan pintas menuju puncak dunia kedokteran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Pil Vitalitas dan Hasrat di Tengah Hujan

Suara gemuruh mesin penghancur beton terdengar memekakkan telinga dari arah Jalan Sudirman.

Bayu berdiri di seberang jalan, menatap ruko tiga lantai miliknya yang kini ditutupi jaring pengaman proyek.

Puluhan pekerja konstruksi berseragam kuning sibuk membongkar fasad bangunan tua itu.

Siska benar-benar menepati janjinya.

Hanya dalam waktu semalam, wanita itu mengerahkan tim terbaiknya untuk merombak ruko tersebut tanpa banyak bertanya.

"Bagus, dengan kecepatan seperti ini, klinikku akan siap beroperasi akhir minggu depan," batin Bayu puas.

Dia tidak menemui Siska pagi ini, karena dia memiliki urusan lain yang jauh lebih mendesak.

Bayu berbalik dan berjalan kaki menuju pasar tradisional yang letaknya tak jauh dari kawasan itu.

Tujuannya adalah sebuah toko jamu dan obat herbal tua yang bau rempahnya sangat menyengat hidung.

Bermodalkan uang beberapa ratus ribu rupiah dari sisa tabungan aslinya, Bayu membeli berbagai macam akar-akaran, daun kering, dan ginseng kualitas rendah.

Pedagang tua di toko itu menatap Bayu keheranan karena campuran bahan yang dibelinya sangat aneh dan tidak biasa.

Namun Bayu tidak mempedulikan tatapan itu, dia langsung membawa kantong plastik besar miliknya kembali ke rumah kontrakannya.

Sesampainya di kamar sempitnya, Bayu menggelar tikar plastik kusam di atas lantai semen.

Dia meletakkan semua bahan herbal itu di depannya.

"Menurut ingatan tabib dewa, kualitas bahan memang penting, tapi yang menentukan keberhasilan obat adalah energi alkeminya," gumam Bayu pelan.

Bayu mengangkat telapak tangan kanannya.

Batu giok hijau yang menyatu dengan telapak tangannya mulai memancarkan cahaya terang.

Hawa panas perlahan menguar dari tangan pemuda itu.

Bayu meletakkan tangannya tepat di atas tumpukan daun kering dan akar ginseng murah tersebut.

Wushh...

Energi hijau mengalir keluar dari giok, menyelimuti bahan-bahan herbal tersebut seperti kobaran api gaib.

Bahan-bahan itu tidak terbakar menjadi abu, melainkan perlahan meleleh dan memadat secara ajaib.

Aroma harum yang sangat menyegarkan langsung memenuhi ruangan sempit yang biasanya berbau apek itu.

Hanya dalam waktu sepuluh menit, tumpukan rempah itu menyusut drastis.

Kini di atas tikar hanya tersisa tiga butir pil berwarna cokelat mengkilap seukuran kelereng.

"Pil Vitalitas Pemulih Energi, berhasil," batin Bayu tersenyum lebar.

Pil ini mampu menyembuhkan luka dalam, memulihkan stamina pria dewasa hingga batas maksimal, dan membuang racun ringan di dalam darah.

Bayu menyimpan ketiga pil itu ke dalam botol kaca kecil, bersiap menggunakannya sebagai produk pertama kliniknya nanti.

...

Jam menunjukkan pukul tujuh pagi saat Bayu memasuki gerbang sekolah.

Suasana hari ini terasa sedikit berbeda dari biasanya.

Banyak murid yang menatapnya sambil berbisik-bisik dari kejauhan, tatapan mereka bercampur antara kasihan dan tatapan meremehkan.

Bayu mengabaikan mereka semua dan terus melangkah santai menuju kelasnya.

Namun, di depan pintu kelas, Natasha sudah berdiri menyandarkan tubuhnya ke dinding.

Gadis primadona itu melipat kedua tangannya di depan dada, wajah cantiknya terlihat sedikit tegang dan gelisah.

Begitu melihat Bayu, Natasha langsung menarik lengan pemuda itu menjauh dari kerumunan.

"Kau dengar rumor yang beredar pagi ini?" tanya Natasha dengan suara berbisik, matanya menatap Bayu lekat-lekat.

"Rumor apa? Aku tidak punya waktu untuk peduli dengan gosip murahan anak-anak," jawab Bayu santai.

Natasha mendecak kesal, geregetan melihat sikap Bayu yang selalu tenang di segala situasi.

"Kevin dan ayahnya sedang menekan komite sekolah dan dinas pendidikan," ucap Natasha cepat.

"Mereka berencana membuatmu dituduh mencuri aset laboratorium agar beasiswamu dicabut paksa hari ini juga."

"Bahkan nilai ujian akhirmu nanti kabarnya sudah diatur oleh mereka agar hancur berantakan."

Bayu mengangkat sebelah alisnya, senyum miring yang khas kembali muncul di bibirnya.

"Lalu? Apa hubungannya denganku? Biarkan saja anjing-anjing itu menggonggong semau mereka," balas Bayu dingin.

Natasha membelalakkan matanya tidak percaya dengan respons tersebut.

"Kau gila ya? Ini menyangkut masa depanmu, Bayu!"

"Kalau kau dikeluarkan dengan tidak hormat, kau tidak akan bisa kuliah kedokteran di mana pun seumur hidupmu!"

Gadis itu tanpa sadar mencengkeram lengan baju Bayu semakin erat.

Rasa khawatir yang tulus tanpa sengaja terpancar jelas dari mata indahnya.

Bayu menatap tangan Natasha yang memeganginya, lalu menatap wajah gadis itu dengan tatapan mematikan.

"Sejak kapan kau begitu peduli pada nasib murid miskin sepertiku, Natasha?" goda Bayu dengan suara beratnya.

Aura pemikat dari tubuh Bayu kembali merembes keluar, langsung menembus pertahanan mental gadis kaya tersebut.

Wajah Natasha seketika berubah merah padam.

Jantungnya berdetak liar, hawa panas merayap perlahan dari leher hingga ke perut bawahnya.

"A-aku tidak peduli padamu! Aku cuma tidak suka melihat Kevin bermain curang di belakang seperti itu," elak Natasha dengan suara gemetar, buru-buru memalingkan wajahnya.

Bayu terkekeh pelan, lalu menepis tangan Natasha dari lengannya dengan lembut.

"Jangan repot-repot mengkhawatirkanku, urus saja dirimu sendiri," ucap Bayu.

"Ayah Kevin bukan tuhan di kota ini, dia hanya badut tua yang sedang bermain api."

Setelah mengatakan hal itu, Bayu berjalan santai masuk ke dalam kelas.

Dia meninggalkan Natasha yang masih mematung di koridor dengan dada berdebar sangat kencang.

Di sudut kelas, Kevin menatap interaksi mereka berdua dari jendela dengan wajah penuh kebencian.

"Nikmati saja sisa waktumu di sini, gembel," batin Kevin tersenyum sangat licik.

Namun Kevin sama sekali tidak tahu, surat rekomendasi mutlak dari Kakek Herman sudah berada di tangan Bayu sejak semalam.

...

Malam hari tiba dengan cepat, membawa hujan rintik-rintik yang membuat udara di pinggiran kota terasa sangat dingin.

Bayu sedang duduk bersila di atas kasurnya yang tipis, memfokuskan aliran energi giok hijau di dalam tubuhnya.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan pelan terdengar dari pintu kayu kontrakannya yang rapuh.

Bayu membuka matanya perlahan.

Pendengarannya yang sangat tajam langsung menangkap suara detak jantung yang berdebar sangat cepat dari balik pintu.

Cklek.

Bayu membuka pintu dan sedikit terkejut melihat sosok wanita yang berdiri di sana.

Bu Rina berdiri dengan tubuh sedikit gemetar menahan hawa dingin malam.

Guru biologi itu tidak mengenakan pakaian kerja rapinya, melainkan celana jins panjang ketat dan sweater tebal berbahan rajut yang ukurannya sedikit kebesaran.

Rambut panjang wanita dewasa itu dibiarkan tergerai dan sedikit basah terkena rintik hujan.

"Bu Rina? Ada apa malam-malam datang ke tempat kumuh ini?" tanya Bayu dengan nada datar.

Bu Rina menelan ludah dengan susah payah, matanya menatap lurus ke arah dada bidang Bayu yang hanya terbalut kaus oblong putih tipis.

"Ibu... ibu dengar rumor soal pencabutan beasiswamu dari grup pesan guru sore tadi," ucap Bu Rina terbata-bata.

"Ibu cuma mau memastikan keadaanmu baik-baik saja, Bayu."

Bayu tersenyum tipis mendengarnya.

Dia tahu alasan itu hanyalah kebohongan belaka yang dibuat-buat oleh guru cantiknya ini.

Mata yang sayu, wajah memerah, dan napas berat wanita itu menceritakan hal yang jauh berbeda dari kata-katanya.

"Masuklah, di luar sangat dingin," ucap Bayu sambil menggeser tubuhnya dari ambang pintu.

Bu Rina melangkah masuk ke dalam kamar yang hanya berukuran tiga kali tiga meter itu.

Begitu pintu kayu ditutup rapat, aroma maskulin Bayu langsung mendominasi ruangan sempit tersebut, bercampur dengan wangi air hujan.

Aura pemikat giok yang selalu bereaksi maksimal di ruang tertutup langsung menghantam sisa-sisa kewarasan Bu Rina.

Tubuh guru muda itu seketika terasa sangat lemas.

Hawa panas yang menyiksanya tanpa henti sejak kemarin pagi kini meledak tak tertahankan di perut bagian bawahnya.

Kedua kakinya merapat refleks, mencoba menahan cairan licin yang mulai merembes membasahi celana dalamnya.

"Tempatku sangat sempit, tidak ada kursi, jadi duduklah di kasur," ucap Bayu santai seolah tidak terjadi apa-apa.

Bu Rina berjalan perlahan dan duduk di tepi kasur tipis itu dengan canggung.

Bayu ikut duduk di sampingnya, jarak mereka kini hanya terpisah beberapa sentimeter saja.

Suhu tubuh Bayu terasa sangat panas, memancar kuat hingga menghangatkan kulit Bu Rina.

"Jadi, apa yang sebenarnya Ibu cari malam-malam begini disini?" bisik Bayu dengan suara rendah, tepat di samping telinga wanita itu.

Bulu kuduk Bu Rina meremang hebat hingga ke tulang belakang.

Pertahanan terakhirnya sebagai seorang wanita dewasa dan pendidik hancur berkeping-keping detik itu juga.

Tanpa menjawab pertanyaan itu, Bu Rina langsung menubrukkan tubuhnya ke dada Bayu.

Kedua lengan wanita itu melingkar erat di leher pemuda tersebut.

"Bayu... tolong Ibu," racau Bu Rina dengan sebulir air mata yang menetes di sudut matanya karena tidak tahan lagi dengan siksaan hasrat ini.

"Sejak kemarin di ruang persiapan... di dalam sini rasanya seperti mau meledak."

Bu Rina mendongak, mempertemukan bibir merahnya dengan bibir Bayu secara agresif dan putus asa.

Ciuman itu terjadi dengan sangat brutal, memabukkan, dan penuh rakus.

Mmhhh!

Bayu membalas ciuman itu dengan dominasi yang lebih kuat, perlahan membaringkan tubuh Bu Rina ke atas kasurnya.

Tangan Bayu menyusup kasar ke balik sweater rajut wanita itu, menyentuh kulit perutnya yang putih dan hangat.

Eughhh... Bayu...

Desahan panjang lolos dari sela-sela ciuman Bu Rina saat tangan Bayu terus bergerak naik.

Bayu meremas gundukan sintal guru biologinya dengan kuat dari balik pakaian dalam yang membalutnya.

Suhu di dalam kamar sempit itu seolah meningkat drastis hingga membuat keduanya berkeringat.

Napas mereka saling beradu kencang, memburu mencari oksigen di udara yang semakin panas.

Bu Rina menggesekkan pinggulnya ke arah pusat tubuh Bayu, mencari tekanan yang bisa meredakan rasa gatal di bagian kewanitaannya.

"Tolong, Bayu... di bawah sini sudah basah sekali," isak Bu Rina dengan wajah memerah padam, membuang seluruh rasa malunya jauh-jauh.

Tangan wanita itu bergerak liar, berusaha melepaskan kaus oblong putih yang dikenakan Bayu.

Bayu menurutinya, membiarkan wanita itu menelanjangi setengah badan atasnya.

Otot perut dan dada Bayu yang terbentuk sempurna akibat energi giok membuat mata Bu Rina semakin berkabut oleh gairah.

Bu Rina menghujani rahang, leher, dan dada Bayu dengan ciuman basah yang bertubi-tubi.

Tangan kanan Bayu meluncur turun kembali ke arah celana jins ketat yang dikenakan Bu Rina.

Dengan satu gerakan cepat, Bayu membuka kancing logam celana wanita itu dan menyelusupkan tangannya masuk ke dalam sana.

Jari panjang Bayu menyentuh bagian paling sensitif dari gurunya yang sudah kebanjiran oleh cairan gairah sejak tadi.

Ahhhh!

Bu Rina menjerit tertahan, punggungnya melengkung ke atas menantang langit-langit kamar.

Jari Bayu mulai memberikan pijatan pada titik saraf kenikmatan di area terlarang itu dengan ritme yang lambat namun mematikan.

Setiap gerakan menekan dari jari Bayu membuat tubuh sintal Bu Rina bergetar hebat.

"Terus... kumohon jangan berhenti," rintih Bu Rina dengan mata terpejam erat, air mata kenikmatan terus mengalir turun membasahi pipinya.

Malam itu, diiringi suara rintik hujan yang jatuh berisik di atas atap seng kontrakan, ruang sempit itu menjadi saksi bisu runtuhnya wibawa seorang guru di hadapan muridnya.

Bayu terus memberikan siksaan kenikmatan luar biasa yang akan membuat Bu Rina tidak akan pernah bisa melupakan sentuhannya seumur hidup.

1
syarif ibrahim
👍👍👍💪
syarif ibrahim
tidak perlu jendral, karena cucumu sdh jadi milikku... 🤣🤣🤣🤣🤣
syarif ibrahim
terbalik bab nya
Yui: Terimakasih atas koreksinya kak😊😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!