NovelToon NovelToon
JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.

Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.

Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.

Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: PUNCAK GUNUNG TIANJIAN

Angin dingin membeku menderu kencang menyapu puncak-puncak karang yang menjulang menembus lautan awan. Di atas Puncak Gunung Tianjian—markas besar dari perguruan pembasmi iblis paling disegani di benua ini—suasana duka yang bercampur dengan ketegangan ganjil terasa menghimpit udara.

Bangunan-bangunan istana kayu cendana berukir naga emas berdiri megah di atas pelataran batu pualam putih. Bendera-bendera perunggu bersimbol matahari suci berkibar perkasa, ditiup oleh badai salju tipis yang tak pernah reda di ketinggian sepuluh ribu zhang. Namun, di balik kemegahan yang tampak seperti kediaman para dewa tersebut, tersembunyi hawa pembunuhan yang amat pekat.

Hari ini adalah hari ke-48 sejak kebangkitan esensi Ular Putih di Gunung Wuyin.

Bulan purnama yang menjadi penanda batas waktu takdir akan terbit sempurna esok malam. Di seluruh penjuru pelataran utama Paviliun Tianjian, ratusan murid berpakaian tempur putih-abu-abu berbaris rapi dalam formasi tempur melingkar. Pedang-pedang baja perunggu terhunus di tangan mereka, memancarkan kilatan esensi energi yang diarahkan lurus ke arah gerbang batu raksasa di ujung tangga seribu tingkatan.

Di atas altar tertinggi yang menghadap ke arah lembah awan, berdiri seorang pria tua dalam balutan jubah keagungan berwarna putih bersulam benang emas. Rambut peraknya yang panjang terurai bebas, ditiup angin pegunungan. Wajahnya tampak tenang, memancarkan wibawa dan kesucian yang tak tergoyahkan. Dialah Guru Xuan He, Pemimpin Paviliun Tianjian yang dipuja sebagai pelindung utama alam manusia dari ancaman makhluk mistis.

Namun, di balik sepasang mata kelam milik Guru Xuan He, tersimpan ketamakan yang teramat dingin—sebuah kecemasan atas rahasia kekuasaannya yang terancam runtuh.

Brakkk!

Sebuah ledakan spiritual murni mendadak mengguncang dasar tangga seribu tingkatan. Gerbang batu raksasa berukir mantra suci yang membatasi perbatasan Paviliun Tianjian seketika hancur berkeping-keping, melemparkan serpihan batu dan gelombang asap ke udara.

Langkah kaki yang teratur dan tegap bergema di atas ubin pualam putih yang berselimut salju tipis.

Shen Rui melangkah menembus gulungan asap hancurnya gerbang utama. Pria itu tidak lagi mengenakan penyamaran buronan atau pakaian kain kusam; ia mengenakan jubah hitam bersulam garis perak murni yang melambangkan kebebasannya dari ikatan perguruan. Di punggungnya, Pedang Zhaoyang terhunus telanjang di tangan kanan—bilah perunggunya kini memancarkan lidah api perak keemasan yang berkilat terang bagai kristal es di bawah sinar matahari siang.

Di samping kanan Shen Rui, Lian Yue berjalan dengan keanggunan yang tak tertandingi. Gaun sutra putihnya berkibar ditiup angin badai salju, sementara mata peraknya memancarkan pendar keagungan Ular Putih Seribu Tahun yang telah pulih sempurna. Di sebelah kirinya, Qing Luo berjalan memegang belati beracun, sepasang mata zamrudnya menyapu barisan ratusan murid Tianjian dengan kepahitan yang menyala-nyala.

Mereka bertiga tidak melarikan diri ke perbatasan gurun atau bersembunyi di dalam gua Lembah Racun. Mereka melangkah naik langsung ke jantung markas besar musuh mereka, menantang takdir berdarah di tempat di mana kebohongan itu pertama kali diukir.

Bisik-bisik ketakutan meletup di antara barisan ratusan murid Paviliun Tianjian.

"Shen Rui... Murid Utama betul-betul kembali!"

"Lihat pedangnya! Mengapa energi Pedang Zhaoyang bersinar seperti itu? Mengapa hawa pembasmi iblisnya tidak menyerang siluman ular di sebelahnya?"

"Apakah benar berita bahwa Murid Utama mengkhianati perguruan demi siluman itu?"

Shen Rui menghentikan langkah kakinya tepat sepuluh tindak di depan barisan depan para murid. Tatapan matanya yang tajam melintasi kerumunan prajurit, terkunci rapat pada sosok Guru Xuan He yang berdiri anggun di atas altar tertinggi.

"Shen Rui," suara Guru Xuan He bergema rendah, merdu, dan penuh karisma keayahan yang selama ini membuai batin Shen Rui. "Kau akhirnya pulang, Muridku. Aku mengira kau telah tersesat sepenuhnya oleh bisikan sihir siluman ular itu. Letakkan pedangmu, serahkan inti jiwa siluman di sampingmu, dan aku akan mengampuni dosa pengkhianatanmu."

Shen Rui mendengus dingin—sebuah tawa pahit yang memecah kewibawaan palsu sang Gurunya.

"Pulang?" kata Shen Rui dengan suara rendah yang begitu tebal hingga sanggup melintasi gemuruh badai salju di atas puncak. "Aku datang ke tempat ini bukan untuk pulang sebagai muridmu yang patuh, Xuan He. Aku datang untuk menuntut jawaban atas darah tiga kehidupan yang kau tumpahkan dari jemari tanganku!"

Keheningan yang mematikan seketika menyelimuti seluruh pelataran Puncak Tianjian.

Wajah Guru Xuan He yang tadinya penuh kelembutan perlahan membeku. Senyuman sucinya memudar, digantikan oleh pendar mata kelam yang penuh kebuasan dingin.

"Kau sudah tahu rupanya..." bisik Guru Xuan He, suaranya kini tak lagi memancarkan kedamaian, melainkan kekejaman abadi yang tersembunyi selama seribu tahun. "Jika begitu, sangat disayangkan. Kau adalah wadah pedang terbaik yang pernah kuciptakan, Shen Rui. Tapi jika kau memilih menjadi batu penghalang bagi keabadian Paviliun Tianjian... maka jiwamu harus dimusnahkan bersama makhluk itu malam ini."

Guru Xuan He mengibaskan lengan jubah emasnya.

Brakkk!

Bumi di bawah Puncak Tianjian bergetar hebat. Dari empat penjuru pelataran pualam, empat pilar batu raksasa bersurat mantra berdarah menyambar bangkit dari dalam tanah, menciptakan Array Segel Pembantai Langit yang mengurung Shen Rui, Lian Yue, dan Qing Luo di tengah pelataran. Ratusan murid Tianjian melompat maju serentak dengan pedang terhunus, memicu benturan perang besar di atas puncak pegunungan di hari ke-48 takdir mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!