Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mendekat untuk menjauh
Napas Jungkook tertahan di tenggorokan. Sentuhan lembut jemari Mira di garis rahangnya terasa menyengat, membakar seluruh pertahanan diri yang selama ini ia bangun demi menjaga jarak.
Dari jarak serapat ini, Jungkook bisa melihat betapa rapuhnya gadis di bawahnya. Tidak ada lagi raut dingin atau benteng formalitas yang biasa Mira tunjukkan di kampus maupun di kafe. Yang tersisa hanyalah Mira yang terluka—seorang gadis yang lelah karena terus-menerus diguncang oleh kesalahpahaman dan kecemburuannya di masa lalu.
"Mira-ya..." bisik Jungkook parau, suaranya bergetar menahan gejolak emosi yang meluap di dadanya.
Ia mencengkeram sprei di sisi kepala Mira erat-erat, menahan berat tubuhnya sendiri agar tidak sepenuhnya menindih gadis itu. Hatinya mencelos mendengarkan racauan pilu yang terus meluncur dari bibir Mira.
"Kenapa kau tidak biarkan aku tenang...?" racau Mira lagi, mata sayunya mulai berkaca-kaca oleh genangan air mata yang memantulkan cahaya remang kamar. "Aku sudah berusaha keras... aku sudah berdiri sendiri... tapi kenapa kau selalu ada..."
Setetes air mata akhirnya lolos menetes di pelipis Mira.
Melihat lelehan bening itu, kepedihan dan rasa suka yang membuncah berbaur menjadi satu rasa yang menyesakkan dada. Jungkook mengusap air mata itu dengan ibu jarinya secara teramat lembut.
"Maafkan aku..." bisik Jungkook lirih, suaranya serak. "Maafkan aku, Mira-ya... Seandainya kamu belum memiliki kekasih..seandainya aku tidak terlambat"
Mira bergerak gelisah, namun sentuhan hangat telapak tangan Jungkook di pipinya justru membuat gadis itu makin menyandarkan wajahnya, mencari kenyamanan yang tak ia sadari. Tatapan Jungkook mengunci bibir dan kelopak mata Mira yang perlahan mulai terpejam rapat.
Perasaan sukanya begitu dalam, namun rasa hormatnya jauh lebih besar. Jungkook tahu Mira sedang dipengaruhi alkohol; mengambil kesempatan dalam situasi ini akan merusak kesucian perasaan yang baru saja ia sadari.
Dengan hembusan napas berat, Jungkook perlahan melepaskan tangannya dan menggeser tubuhnya mundur dari atas tempat tidur. Ia membiarkan Mira tertidur lelap, lalu merapikan selimut tebal hingga membungkus tubuh gadis itu dengan hangat.
Jungkook memindahkan sepasang sepatu tumit tinggi milik Mira ke rak depan, lalu kembali ke kamar. Pria itu menolak untuk tidur di sofa. Ia memilih duduk bersandar di lantai tepat di samping ranjang Mira, menyandarkan kepalanya di tepi kasur.
Di dalam kegelapan malam Paris, Jungkook terus memandangi wajah tidur Mira. Kehadiran gadis ini memberi rasa tenang yang luarbiasa—sebuah ketenangan yang membuat Jungkook yakin, betapa pun sulitnya jalan di depan, ia siap menjaga dan menyukai wanita ini dengan cara yang paling tulus dan dewasa.
Untuk pertama kalinya, sebuah kesadaran menghantam benaknya dengan begitu telanjang dan telak: dia benar-benar menyukai wanita ini.
Mira bukan lagi sekadar adik dari sahabatnya, bukan lagi sosok yang hadir karena kewajiban atau utang budi. Wanita yang belum lama ia kenal ini telah merayap masuk ke sudut terdalam hatinya tanpa ia sadari. Hanya dengan menatap wajah tidur Mira yang tenang dari dekat seperti ini, seluruh kelelahan, beban pikiran, dan kekacauan di hidup Jungkook mendadak menguap. Ada sensasi kedamaian yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar, menyinari wajah Mira yang perlahan mulai terbangun. Kepalanya terasa berat dan pening akibat sisa alkohol semalam.
Mira memegang pelipisnya, berusaha mengumpulkan kesadaran yang terkumpul samar-samar. Bayangan tentang kejadian semalam melintas kacau di pikirannya: bar, rasa pusing yang hebat, sentuhan hangat, dan... bayangan wajah Jungkook yang teramat dekat.
Apakah itu cuma mimpi? batin Mira cemas.
Gadis itu menyibakkan selimutnya yang rapi, menyadari bahwa ia sudah mengenakan pakaian yang nyaman dan sepatunya telah dilepas. Dengan langkah perlahan dan sedikit limbung, Mira membuka pintu kamar dan berjalan menuju area tengah apartemennya.
Bau aroma sup hangat dan aroma kopi segar yang merebak di udara seketika menyambut indra penciumannya.
Mira membeku di ujung koridor.
Di balik kitchen island apartemennya yang minimalis, berdiri sosok Jungkook. Pria itu sudah melepas jasnya, hanya mengenakan kemeja putih yang lengan bagian bawahnya digulung hingga siku. Dengan gerakan telaten dan tenang, Jungkook sedang mengaduk sup pereda mabuk (haejangguk) di atas kompor listrik milik Mira.
Suara dentang pelan sendok yang beradu dengan panci memecah keheningan pagi itu.
Jungkook yang mendengar langkah kaki halus refleks menoleh. Pandangan mereka bertubrukan. Di bawah sorotan hangat cahaya pagi Paris, raut wajah Jungkook tampak begitu teduh dan tenang—sangat berbeda dengan tatapan penuh beban atau dominasi dingin yang pernah Mira kenal dulu.
Jungkook mematikan kompor listrik, lalu mengulas senyum tipis yang amat lembut.
"Kau sudah bangun?" sapa Jungkook dengan suara baritonnya yang hangat dan rendah. "Pasti kepalamu sangat sakit. Aku membuatkan sup hangat dan teh chamomile untuk meredakan mualmu."
Mira mematung di tempatnya berdiri, lidahnya terasa kelu. Kehadiran Jungkook di dapurnya—memasak dengan begitu telaten dan memperlakukannya dengan penuh perhatian tanpa menuntut apa pun—membuat jantung Mira berdetak tak menentu di balik dadanya.
Melihat Mira yang masih berdiri membeku di dekat koridor dapur, Jungkook perlahan melepaskan celemek yang terpasang di tubuhnya dan meletakkannya dengan rapi di atas kursi.
"Maaf kalau kehadiranku di sini membuatmu terkejut, Mira-ya," ujar Jungkook pelan dengan suara yang teratur dan lembut. "Semalam Taehyung harus berangkat ke luar kota secara mendadak untuk urusan klien krusial. Kau sedang mabuk berat di bar, dan Taehyung tidak tega meninggalkanmu sendirian di apartemen tanpa ada yang memastikan kondisimu. Dialah yang memintaku untuk membantumu pulang dan menjagamu."
Penjelasan yang disampaikan dengan jujur dan penuh kesopanan itu perlahan mencairkan kepanikan kecil di benak Mira. Ingatan samar semalam mulai tersusun kembali—rasa aman dalam dekapan seseorang dan sentuhan hangat di pipinya yang ternyata memang nyata, bukan sekadar mimpi.
Mira menunduk pelan, menghindari kontak mata langsung seraya meremas jemari tangannya sendiri. Wajahnya merona halus, berbaur antara rasa malu akibat pengaruh alkohol semalam dan kecanggungan mendalam yang mendadak menyeruak.
"Terima kasih... Jungkook-ssi," tutur Mira halus, berusaha keras menguasai nadanya agar tetap tenang. "Terima kasih sudah mengantarku dan... membuatkan sarapan ini."
Jungkook tersenyum tipis, mengangguk menghargai ucapan tersebut. "Minumlah supnya selagi hangat, itu akan meredakan peningmu."
Namun, keheningan yang menyusul setelahnya terasa begitu pekat dan kikuk. Mira bergerak gelisah di tempatnya, matanya bergerak melirik ke arah pintu keluar dan meja makan secara bergantian. Ia sangat menghargai kebaikan Jungkook pagi ini, tetapi berada di satu ruangan yang sama dalam suasana seintim ini membuat pertahanan diri dan ketenangan jiwanya kembali terancam.
Mira menarik napas panjang, mencoba mencari alasan yang tepat agar situasi ini tidak berlarut-larut.
"Tapi... sepertinya sebaiknya Anda pergi sekarang, Jungkook-ssi," potong Mira dengan suara yang sedikit terbata dan serba salah. Ia meremas bajunya, matanya menatap lantai saat melontarkan alasan yang sengaja ia buat demi memberi sekat tegas. "Aku... aku tidak ingin membuat James salah paham jika dia tiba-tiba datang berkunjung. Aku tidak mau menyakiti perasaan kekasihku."
Mendengar nama James tersebut terlontar dari bibir Mira, gerakan tangan Jungkook yang sedang merapikan cangkir mendadak terhenti.
Dada Jungkook berdenyut nyeri, sebuah rasa sakit yang tajam menghantam kesadarannya yang baru saja merekah. Namun, mengingat senyum tenang dan kebahagiaan yang pantas didapatkan Mira saat ini, Jungkook menelan pahit itu dalam-dalam tanpa menunjukkan amarah sedikit pun.
Jungkook meraih mantel hitamnya yang terlipat rapi di sofa, menyampirhkannya di lengan. Pria itu menatap Mira dengan sorot mata yang teramat teduh dan penuh pengertian.
"Aku mengerti," jawab Jungkook parau namun sangat tulus. "Aku tidak akan membuatmu berada di posisi yang sulit."
Jungkook melangkah menuju pintu keluar. Sebelum memutar knop pintu, ia berbalik sejenak dan memberikan anggukan kepala yang sangat sopan.
"Jaga dirimu baik-baik, Mira-ya."
Pintu kayu apartemen itu tertutup dengan bunyi klik yang pelan.
Mira tersandar di dinding dapur, menghembuskan napas panjang yang terasa sangat berat. Di atas meja, asap tipis dari sup hangat buatan Jungkook masih membumbung ke udara—meninggalkan ruangan yang kini kembali hening, berbaur dengan sisa rasa bersalah dan benteng pertahanan yang terus Mira pertahankan rapat-rapat.