NovelToon NovelToon
PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action
Popularitas:719
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.

Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".

Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah

"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Bayang yang Tak Hilang dan Satu Langkah Lebih Dekat

Suasana di kantor perlahan kembali tenang. Kabar yang tadi mencekam mulai pudar digantikan kepercayaan yang tumbuh lagi — klien tetap datang, telepon berdering bukan karena keraguan, melainkan urusan kerja sama baru. Vanesha memimpin dengan tenang dan tegas, dan semua orang bisa melihat — perusahaan ini makin kokoh, bukan makin rapuh.

Tapi Dika tahu satu hal: Raka belum pergi.

Sudah tiga hari sejak pertemuan itu, tak ada kabar apa pun dari Raka. Tak ada pesan, tak ada telepon, tak ada kedatangan tiba-tiba. Keheningan ini justru yang bikin Dika gelisah — seperti badai yang diam di kejauhan, mengumpulkan tenaga sebelum menerjang.

Pagi itu, saat Dika berdiri di posnya di lobi, Vanesha keluar dari lift tepat pukul delapan. Wajahnya cerah, senyumnya lebar — beda dari hari-hari sebelumnya. Langkahnya ringan, seakan beban berat yang dipikulnya sudah terangkat sebagian.

"Pagi, Dika!" ucap Vanesha ceria, berhenti tepat di depannya.

"Pagi, Nona Bos!" ucap Dika sambil memberi hormat kecil. "Nona Bos kelihatan cerah banget hari ini."

Vanesha tertawa kecil. "Karena semuanya mulai berjalan baik. Tiga hari sudah lewat, tak ada gangguan, tak ada ancaman. Mungkin... mungkin dia sadar dan pergi," ucap Vanesha pelan, walau matanya sedikit ragu.

"Mungkin. Tapi saya nggak akan lengah dulu," ucap Dika jujur. "Orang yang menyerang diam-diam biasanya nggak menyerah begitu saja saat kalah di depan umum."

Vanesha mengangguk pelan. "Kamu benar. Aku tahu. Tapi aku ingin percaya ada baiknya juga di akhir semuanya," ucap Vanesha lembut. Dia menatap Dika lekat-lekat. "Terima kasih sudah tetap waspada. Aku merasa lebih tenang tahu ada kamu di sini."

"Itu tugas saya. Dan janji itu janji," ucap Dika sambil senyum miring. "Nggak akan tidur nyenyak sebelum yakin Nona Bos benar-benar aman sepenuhnya."

Vanesha tersenyum hangat, lalu melangkah menuju ruangannya. "Bekerja dengan baik ya, Dika," ucap Vanesha sebelum pintu lift tertutup.

Siang harinya, saat kantor sedang sibuk-sibuknya, telepon di meja resepsionis berdering. Dika yang kebetulan lewat melihat wajah gadis resepsionis berubah pucat. Dia menaruh gagang telepon perlahan, lalu menatap Dika dengan mata cemas.

"Dika... itu peneleponnya bilang... katanya ada surat untuk Nona Bos. Ditaruh di pos satpam depan," ucap gadis itu pelan. "Tulisannya sama... seperti surat ancaman dulu."

Dika langsung bergegas ke pos satpam. Di sana, di atas meja, tergeletak amplop cokelat tanpa nama pengirim — persis seperti yang dulu. Tangan Dika mengepal erat, lalu diambilnya amplop itu, berjalan cepat menuju ruangan Vanesha.

Sesampainya di depan pintu, Dika mengetuk pelan. "Permisi, Nona Bos," ucap Dika masuk.

Vanesha mendongak dari tumpukan berkas di mejanya. Wajahnya masih cerah, tapi melihat amplop di tangan Dika, senyumnya perlahan memudar. "Apa itu?" tanya Vanesha pelan.

"Datang dari pos satpam. Tanpa nama pengirim," ucap Dika sambil meletakkan amplop itu di meja dengan hati-hati.

Vanesha menatapnya lama, lalu menarik napas panjang. Dia membukanya perlahan, mengeluarkan selembar kertas — tulisan tangan kasar yang sama persis. Matanya menyapu baris demi baris, dan wajahnya perlahan berubah dingin.

"Apa isinya?" tanya Dika pelan tapi tegas.

"Dia nggak menyerah," ucap Vanesha pelan, suaranya dingin. "Katanya... kalau aku tidak menemui dia sendiri di tempat rahasia besok malam, dia akan menyebarkan dokumen yang bisa merusak nama baik perusahaan selamanya."

"Tempat rahasia?" tanya Dika cepat. "Di mana?"

"Belum ditulis. Katanya lokasi dikirim nanti. Katanya aku harus datang sendirian," ucap Vanesha menunduk, tangannya meremas kertas itu pelan. "Kalau aku bawa siapa pun... katanya dia akan sebarkan semuanya."

Dika terdiam sejenak, lalu melangkah mendekat. "Nona Bos nggak akan pergi sendirian," ucap Dika tegas. "Itu jebakan. Saya tahu dia."

"Tapi kalau aku tidak datang... bagaimana kalau dia benar-benar merusak semuanya?" tanya Vanesha pelan, matanya berkaca. "Sudah susah payah membangun kepercayaan kembali... aku takut semuanya hancur lagi."

Dika berdiri di depannya, menatap lurus ke mata Vanesha. "Dengar ya — Nona Bos pergi sendirian itu bukan berani, itu ceroboh. Kalau dia berani bicara jujur, kenapa minta tempat rahasia? Kenapa nggak datang ke sini lagi? Itu tanda dia takut ketahuan," ucap Dika mantap. "Dan dokumen yang dia pegang — belum tentu benar. Bisa jadi dipalsukan."

Vanesha diam, memikirkan kata-kata Dika. Perlahan dia mengangguk. "Kamu benar. Dia memang licik dari dulu," ucap Vanesha pelan. "Tapi kalau aku tidak datang... dia bisa melakukan apa saja."

"Kita cari cara lain. Kita pikirkan bersama," ucap Dika lembut tapi tegas. "Saya ikut — entah bagaimana caranya. Nggak akan biarkan Nona Bos menghadapi dia sendirian."

Vanesha menatap Dika lama sekali, lalu perlahan tersenyum — senyum yang penuh percaya. Dia mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Dika di atas meja. "Kamu selalu ada di saat aku paling bingung, ya?" ucap Vanesha pelan. "Baik. Kita pikirkan bersama. Tapi janji — jangan melakukan hal nekat sendirian."

"Janji," ucap Dika mantap. "Sama seperti Nona Bos jangan pergi sendirian."

Sore itu mereka duduk berdua di ruangan itu, menyusun rencana — dari cara melacak lokasi, siapa yang tahu tempat itu, sampai kemungkinan dokumen yang dimaksud. Vanesha teringat satu hal: Raka pernah menyebut sebuah rumah tua milik keluarga di pinggir kota — tempat yang sepi, jarang dikunjungi, dan cocok sekali untuk pertemuan semacam ini.

"Itu mungkin tempatnya," ucap Vanesha pelan sambil menunjuk peta di layar ponselnya. "Rumah keluarga kami yang lama. Sudah kosong bertahun-tahun."

Dika mengangguk mantap. "Kalau itu tempatnya... kita datang. Tapi bukan sendirian," ucap Dika tegas. "Saya ikut, atau saya panggil bantuan lain. Pilih salah satu."

Vanesha tersenyum tipis. "Kamu saja. Aku lebih tenang kalau kamu yang ada di dekatku," ucap Vanesha lembut. "Tapi janji — tetap aman ya?"

"Janji," ucap Dika tulus. "Saya lindungi Nona Bos, dan saya jaga diri sendiri. Dua-duanya."

Matahari mulai terbenam, menyisakan cahaya jingga yang lembut di jendela ruangan. Vanesha menatap Dika, lalu perlahan menggenggam tangannya — erat, hangat, dan penuh keyakinan.

"Terima kasih, Dika. Aku takut sekali sebenarnya," ucap Vanesha berbisik. "Tapi dengan kamu di samping... rasanya aku bisa menghadapi apa saja."

Dika tersenyum tulus, membalas genggaman itu lembut. "Nggak perlu takut. Kita hadapi bareng-bareng. Besok malam, semuanya akan selesai — satu atau lain cara," ucap Dika pelan. "Dan setelah itu... kita bisa tenang beneran."

Vanesha mengangguk, melepaskan genggamannya perlahan. "Pulanglah, Dika. Istirahat. Besok butuh tenaga penuh," ucap Vanesha lembut.

"Nona Bos juga. Tidur nyenyak, jangan pikirkan Raka," ucap Dika sebelum melangkah keluar.

Sesampainya di luar, Dika menoleh sekali lagi — Vanesha masih berdiri di tempatnya, menatap pintu. Hatinya berdebar kencang — bukan karena takut, tapi karena tekad yang makin kuat. Besok malam adalah pertemuan terakhir, dan apa pun yang terjadi, dia akan memastikan Vanesha pulang dengan selamat.

Langit malam mulai gelap, bintang-bintang muncul satu per satu. Di kejauhan, bayang-bayang ancaman masih menunggu — tapi di antara dua hati yang saling percaya, ada cahaya yang tak bisa dipadamkan siapa pun.

1
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!