NovelToon NovelToon
Mr.Possessive

Mr.Possessive

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Biqy fitri S

Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Degup Jantung di butik Mba Yola

Ting…

Ponsel Levin berdering. Nama Bunda terpampang di layar. Ia menghela napas sebentar lalu mengangkat.

Wina:

“Vin, jangan lupa ya… nanti siang kamu jemput Jingga ke butik Mbak Yola.”

Levin (mendecak pelan):

“Hm… iya, Bun. Tapi gimana caranya aku janjian sama dia? Nomor HP-nya aja aku nggak punya.”

Wina (terdengar terkekeh kecil di seberang):

“Oh iya, Bunda lupa. Tunggu sebentar ya, Bunda minta dulu ke Rika.”

Sambungan pun terputus. Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk di ponsel Levin—kontak dengan nama Jingga sudah terkirim.

Siang hari tiba. Sesuai perjanjian, Levin melajukan mobilnya menuju kantor Jingga. Setibanya di sana, ia menelpon tanpa basa-basi.

Levin:

“Hallo.”

Jingga:

“Ini siapa?”

Levin (mendengus):

“Aku udah di depan kantormu. Cepat turun.”

Jingga menatap layar ponselnya, melihat foto yang terpampang. Deg!

Jingga:

“Ngapain lo di sini?”

Levin:

“Bukannya hari ini kita mau ke butik Mbak Yola?”

“Oh iya, ternyata dia inget juga…” batin Jingga.

Jingga:

“Tunggu, bentar lagi gue turun.”

Tanpa salam penutup, Jingga langsung menutup telepon. Levin mengangkat alisnya.

“Dasar nggak sopan. Siapa yang nelepon, siapa yang nutup,” gumamnya kesal sambil memasukkan ponselnya ke saku.

Karena bosan menunggu di mobil, Levin keluar dan berjalan masuk ke lobi kantor.

Sepanjang jalan bisik-bisik terdengar dari para karyawan yang melihat sosoknya.

“Waaah… ganteng banget, siapa itu?”

“Tampan sekali… pegawai baru, ya?”

“Sumpah, keren banget dia!”

Levin sama sekali tidak menggubris, langkahnya tetap tenang dan dingin menuju lift.

Pintu lift terbuka, dan di sana berdiri Jingga bersama sahabatnya, Arin.

Jingga (melangkah keluar, mendekat sedikit dengan wajah kesal):

“Lo ! Ngapain ke sini?"

Levin (datar):

“Kamu yang lama. Seenaknya nyuruh aku nunggu.”

Arin, yang berdiri di samping Jingga, hanya bisa ternganga. Tatapannya tidak lepas dari sosok pria tinggi dengan jas rapi itu.

“Buset… ini sih pangeran dari kayangan. Mana ada culun-culunnya? Ulala… gagah banget ini cowok!” batin Arin sambil menahan diri agar tidak berkomentar blak-blakan.

Jingga (menarik napas, berusaha mengalihkan):

“Maaf, tadi ada urusan sebentar.”

Mereka pun pergi meninggalkan Arin menuju parkiran. Arin hanya bisa berdiri terpaku di depan lift, matanya masih mengikuti punggung dua orang itu.

Arin (batin):

“Gila… Ji ternyata benar apa yang pernah ceritakan, kalau bocil culun itu udah berubah seganteng ini. Dan sekarang mereka jalan bareng? Wah, ini sih drama banget.”

Sementara itu, di parkiran, langkah Jingga terdengar terburu-buru. Ia berjalan di samping Levin, mencoba menjaga jarak, tapi anehnya orang-orang yang melihat malah mengira mereka pasangan yang serasi. Beberapa pegawai bahkan berbisik-bisik sambil melirik iri.

Pegawai A (berbisik):

“Cocok banget ya mereka.”

Pegawai B:

“Iya, kayak couple drama Korea gitu.”

Jingga yang mendengar bisikan itu langsung menoleh tajam pada Levin.

“Lihat tuh! Gara-gara lo, orang-orang jadi salah paham.”

Levin hanya mengangkat alis, membuka pintu mobil untuknya dengan santai.

“Memangnya salah kalau mereka salah paham?”

Jingga:

“Tentu aja salah! Gue nggak ada hubungan apa-apa sama lo .”

Levin (tersenyum miring):

“Belum ada hubungan… atau kamu yang nggak mau ngaku?”

Jingga terdiam, wajahnya merah padam. Ia buru-buru masuk ke dalam mobil, sementara Levin menutup pintu dengan tenang seolah menikmati setiap detik kebingungan Jingga.

Saat Levin masuk dan menyalakan mesin, Jingga melirik ke arahnya sekilas.

“Kenapa sih dia jadi begini? Nyebelin… tapi kok bikin deg-degan?” batinnya sambil menggenggam erat tas di pangkuannya.

Suasana di dalam mobil begitu hening. Hanya suara mesin dan alunan musik pelan yang terdengar. Jingga duduk di kursi penumpang dengan tangan meremas tas kecilnya, sementara Levin fokus menatap jalan dengan wajah dingin seperti biasanya.

Tidak ada sepatah kata pun keluar. Sesekali Jingga melirik ke arahnya, tapi buru-buru memalingkan wajah begitu tatapan mereka hampir bertemu.

----

Butik Mbak Yola

Bel berbunyi ketika Levin dan Jingga masuk ke butik mewah itu. Rak-rak berisi gaun elegan dan jas formal tersusun rapi, aroma parfum lembut langsung menyambut keduanya.

“Hai, Mbak,” sapa Jingga ramah begitu melihat Yola sedang berbincang dengan kliennya.

“Oh, Jingga. Ada apa kamu kemari?” tanya Yola sambil menoleh.

“Ini, Mbak. Aku nganter dia buat bikin baju acara lamaran Kak Moza,” jawab Jingga, menunjuk Levin yang berdiri tenang di belakangnya.

Yola sedikit terkejut. “Loh, bukannya ini Levin, anaknya Mbak Wina? Wah, sudah lama sekali nggak ketemu. Katanya kamu tinggal di Jerman, ya?”

Levin tersenyum sopan. “Iya, Mbak. Mungkin terakhir ke sini pas nganter Bunda tahun lalu. Sekarang saya sudah menetap tinggal

di sini.”

“Pantesan… Tapi kok kalian barengan?” tanya Yola, kali ini dengan tatapan penasaran.

Tanpa ragu, Levin merangkul Jingga dari samping. “Iya, Mbak. Jingga ini calon istri saya.”

Jingga terkejut setengah mati, tapi wajahnya hanya bisa kaku dengan senyum tipis. Astaga, orang ini suka banget bikin pengumuman sepihak!

“Wah, selamat ya! Semoga cepat nyusul Moza,” ucap Yola ikut senang.

“Amin, Mbak. Doakan ya, kita otw,” jawab Levin dengan senyum menawan.

Setelah proses pengukuran, Levin duduk santai menunggu di kursi. Sementara itu, Yola menghampiri Jingga.

“Oh iya, Ji. Coba kamu cobain dulu gaun punya kamu. Walaupun belum jadi, mbak pengen lihat sudah pas di badanmu atau belum.”

“Iya, Mbak. Siap,” jawab Jingga, lalu masuk ke ruang ganti.

Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Jingga keluar dengan balutan kebaya warna peach-silver. Gaun itu jatuh dengan indah, membuatnya terlihat begitu anggun.

Levin  yang melihatnya langsung tercekat. Kebaya itu membalut tubuh Jingga dengan begitu pas, membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas. Ia buru-buru menelan ludah, tapi pandangannya tetap saja tertahan di sana.

“Ya ampun… gila, dia seksi banget. D*da itu… bamper itu… semuanya asli, alami, dan sekarang ada di depan gue,” batin Levin, jantungnya berdegup keras.

Tangannya refleks melonggarkan dasi yang tiba-tiba terasa mencekik. Napasnya berat, dan matanya tak bisa lepas dari tubuh Jingga.

Sementara Jingga melirik sekilas, menangkap tatapan Alvin yang panas. Bibirnya melengkung nakal.

“Cih… dasar mesum, tapi malah jadi kelihatan ganteng kalau lagi salah tingkah begitu,” gumamnya dalam hati, pipinya merona merah.

“Wah, cantik banget, Ji. Menurut Mbak, ini udah pas banget. Iya, kan, Vin?” kata Yola sambil melirik Levin.

levin langsung berdeham, berusaha menutupi rasa kikuknya. “Ehem… iya… cantik,” jawabnya singkat.

Levin bangkit dari kursinya, langkahnya pelan mendekat ke arah Jingga yang masih berdiri di depan cermin butik. Tatapannya tak bisa berpaling, seolah tubuh Jingga sedang menahannya di tempat.

“Ji…” suaranya berat, nyaris serak. “Kamu sadar nggak… kalau kamu cantik banget sampai bikin gue gila begini?”

Jingga terdiam, jantungnya berdetak tak karuan. Matanya menatap Levin yang kini hanya berdiri sejengkal darinya. Nafas hangat Levin terasa di kulitnya, membuatnya merinding.

“Cih… jangan ngaco, Vin,” ucap Jingga pelan, mencoba menutupi wajahnya yang sudah panas.

Tapi Levin hanya terkekeh kecil, lalu menunduk sedikit, bibirnya hampir menyentuh telinga Jingga.

“Aku serius, Sayang… kebaya ini terlalu berbahaya kalau dipakai sama kamu. Semua lekuk kamu kelihatan jelas. Rasanya… pengen gue peluk erat sekarang juga.”

Jingga spontan mendorong dada Levin, meski tak terlalu keras. “Dasar, mesum! Ini butik, Vin…” bisiknya dengan suara bergetar.

Levin hanya tersenyum tipis, tatapannya dalam, penuh gairah yang sulit ditutupi.

“Tenang aja… aku bisa tahan. Tapi ingat, Jingga… kalau kita berdua nanti, gue nggak akan cuma sekedar liat doang.”

Wajah Jingga semakin memerah, jari-jarinya meremas kain kebayanya sendiri. Antara malu, kesal, tapi juga… ada getaran aneh yang membuatnya tak bisa mengelak.

Mba Yola hanya tersenyum geli melihat tingkah keduanya. “Aduh, kalian ini kayak drama Korea aja. Udah, Ji… kamu ganti dulu bajunya, biar nggak bikin Levin salah tingkah lebih lama.”

Akhirnya, setelah semua urusan mereka di butik selesai, Levin dan Ji keluar dari butik tersebut. Udara malam yang sejuk menyambut mereka, dan lampu jalan memantulkan cahaya lembut di wajah Ji.

Levin membuka pintu mobil untuk Ji, senyumnya hangat. “Naik dulu, Ji. Aku antar pulang,” katanya. Ji tersenyum kecil dan masuk ke mobil.

Di perjalanan, suasana hening tapi nyaman. Sesekali Ji menatap Levin, dan senyumannya selalu dibalas dengan pandangan hangat.

1
csgym
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!